Pengikut

Sabtu, 07 Maret 2026

Ternyata Jadi Manusia Itu Melelahkan

 

Ternyata jadi manusia itu melelahkan.

Dan bukan karena kita kerja keras. Tapi karena kita terlalu sadar bahwa kita kerja keras.

Kamis malam, jam setengah sebelas, saya sedang tiduran di kasur sambil menatap langit-langit kamar.

Tidak ada yang menarik dari langit-langit itu. Cat putihnya sudah mulai menguning di sudut kanan. Ada retakan kecil yang menyerupai peta sungai entah di negara mana. Sebuah nyamuk sesekali lewat, lalu pergi, lalu kembali lagi seolah dia juga tidak tahu mau ke mana.

Tapi saya tetap menatapnya.

Bukan karena langit-langit itu menarik. Tapi karena kepala saya sedang penuh dengan pertanyaan yang tidak ada jawabnya.

Hidup ini sebenarnya untuk apa, ya?

Dan yang lebih menyebalkan: pertanyaan itu bukan muncul karena ada kejadian dramatis. Tidak ada putus cinta, tidak ada dipecat dari kerja, tidak ada anggota keluarga yang meninggal. Semua baik-baik saja. Tapi otak saya tetap saja memilih Kamis malam jam setengah sebelas untuk mengadakan sidang pleno tentang makna eksistensi.

Seekor kucing di luar kamar, saya yakin, tidak pernah mengalami hal seperti ini.

Saya punya tetangga yang memelihara kucing belang. Nama kucingnya Kopi. Setiap pagi Kopi duduk di atas pagar beton, menatap jalanan dengan ekspresi yang bisa saya deskripsikan hanya dengan satu kata: hadir.

Kopi tidak sedang memikirkan apakah hidupnya bermakna. Kopi tidak membandingkan dirinya dengan kucing lain yang kelihatannya lebih bahagia di Instagram. Kopi tidak menyesal kemarin terlalu banyak tidur atau kurang produktif. Kopi tidak punya daftar resolusi tahun baru yang belum satu pun terlaksana di bulan Maret.

Kopi hanya duduk. Merasakan angin. Sesekali menguap.

Dan dalam kekosongan itu, Kopi tampak sempurna.

Sementara saya, manusia dengan gelar pendidikan dan akses ke seluruh perpustakaan pengetahuan umat manusia, justru duduk di pinggir kasur sambil scroll media sosial untuk melihat orang lain menikmati hidupnya. Kemudian merasa tidak cukup, menyalahkan diri, berjanji akan berubah, ketiduran. Kemudian besok pagi mengulanginya lagi.

Ada yang salah dengan desain kita.

Dalam serial True Detective, ada seorang detektif bernama Rust Cohle yang dimainkan oleh Matthew McConaughey. Cohle adalah tipe manusia yang paling menyebalkan untuk diajak ngobrol di pesta: dia serius, dia nihilistik, dan dia punya kecenderungan untuk mengucapkan hal-hal yang membuat orang di sekitarnya kehilangan selera makan.

Suatu hari, di dalam mobil, Cohle berkata kepada rekan kerjanya, Marty Hart:

"I think human consciousness is a tragic misstep in evolution."

Marty yang merupakan representasi dari kita semua yang hanya ingin hidup normal tanpa pertanyaan besar tampak bingung. Bagaimana mungkin kesadaran, yang selama ini kita anggap sebagai mahkota evolusi manusia, justru disebut sebagai kesalahan?

Tapi Cohle melanjutkan. Katanya, manusia menjadi terlalu sadar diri. Alam menciptakan aspek dari dirinya yang justru terpisah dari dirinya sendiri. Kita adalah makhluk yang seharusnya tidak ada menurut hukum alam.

Dan kemudian kalimat yang paling telak: kita hidup di bawah ilusi memiliki diri.

Saya pertama kali menonton adegan itu di usia dua puluh tiga, dan reaksi pertama saya adalah mengangguk pelan sambil merasa cerdas karena mengangguk.

Reaksi kedua saya, beberapa menit kemudian, adalah merasa tidak nyaman.

Karena ada bagian dari kalimat Cohle yang benar.

Coba bayangkan begini.

Seekor rusa di padang savana hidupnya sederhana. Ada predator, lari. Lapar, cari makan. Mengantuk, tidur. Musim kawin, kawin. Mati, ya mati.

Tidak ada rusa yang tidak bisa tidur malam karena memikirkan apakah pilihan karirnya sudah tepat. Tidak ada rusa yang bangun pagi dengan perasaan hampa tanpa tahu sebabnya. Tidak ada rusa yang scroll timeline sambil membandingkan padang rumputnya dengan padang rumput milik rusa lain di akun Instagram dengan seribu pengikut.

Rusa hidup. Titik.

Tapi kita? Kita tidak hanya hidup. Kita tahu bahwa kita hidup. Dan dari pengetahuan itulah semua masalah bermula.

Kita tahu bahwa kita akan mati dan itu mengerikan. Kita tahu bahwa hidup bisa berakhir kapan saja dan itu membuat setiap hari terasa sekaligus berharga dan sia-sia. Kita tahu bahwa pilihan-pilihan yang kita ambil hari ini akan membentuk siapa kita di masa depan dan itu membuat setiap keputusan kecil terasa seperti menanggung beban peradaban.

Nasi goreng atau mie ayam untuk makan siang bisa menjadi pertanyaan eksistensial kalau kita biarkan kepala kita bekerja terlalu keras.

Dan kebanyakan dari kita memang membiarkan kepala kita bekerja terlalu keras.

Sekarang, di sinilah lucunya.

Dari satu sisi, kita punya Rust Cohle yang bilang bahwa kesadaran adalah kutukan, bahwa menjadi terlalu sadar diri adalah kesalahan evolusi, bahwa lebih baik kita tidak ada.

Dari sisi lain, kita punya Socrates filsuf Yunani yang jauh lebih tua dari True Detective yang justru berkata sebaliknya: "Know thyself." Kenali dirimu. Jadilah lebih sadar, bukan kurang.

Socrates percaya bahwa hidup yang tidak diperiksa bukanlah hidup yang layak dijalani. Artinya, justru dengan menjadi lebih sadar. Sadar akan diri sendiri, sadar akan nilai-nilai, sadar akan tujuan kita bisa hidup lebih baik dan lebih bermakna.

Dua posisi yang bertolak belakang.

Dan yang menarik: keduanya benar dalam caranya masing-masing.

Cohle benar bahwa kesadaran membawa beban yang tidak dimiliki makhluk lain. Manusia adalah satu-satunya spesies yang bisa menderita bukan karena ada ancaman nyata, tapi karena memikirkan kemungkinan ancaman di masa depan yang bahkan belum tentu terjadi. Kita bisa cemas tentang hal yang belum ada. Kita bisa berduka atas kehilangan yang belum terjadi. Kita bisa merasa gagal sebelum mencoba, karena kita sudah lebih dulu membayangkan kemungkinan kegagalannya.

Tapi Socrates juga benar bahwa justru dari kesadaran itulah muncul kemungkinan untuk memilih. Untuk bertanya. Untuk menolak. Untuk memutuskan bahwa hidup bisa dijalani dengan cara yang berbeda.

Seekor rusa tidak punya pilihan selain menjadi rusa. Saya, setidaknya secara teori, punya pilihan untuk menjadi lebih dari sekadar versi kemarin dari diri saya sendiri.

Tapi ada satu hal yang Cohle singgung yang lebih mengganggu dari sekadar soal beban psikologis: soal ilusi tentang "aku".

Kita semua hidup dengan keyakinan bahwa ada sesuatu yang disebut "diri kita". Ada seorang "saya" yang konsisten, yang unik, yang berbeda dari orang lain, yang merupakan pusat dari segala pengalaman.

Tapi coba diperiksa lebih dalam.

"Aku" yang ada sekarang adalah hasil dari akumulasi pengalaman yang sebagian besar bukan berasal dari pilihan sadar. Saya berbicara dalam bahasa Indonesia bukan karena saya memilihnya saya lahir dalam lingkungan yang menggunakan bahasa itu. Nilai-nilai yang saya pegang sebagian besar adalah warisan dari keluarga, sekolah, teman-teman, dan konten yang saya konsumsi. Bahkan kecenderungan saya untuk tidur larut malam atau bangun pagi sangat mungkin dipengaruhi oleh genetika yang bukan saya pilih.

Lalu yang mana bagian dari "aku" yang benar-benar milik saya?

Pertanyaan ini bukan untuk membuat kita nihilistik. Tapi untuk membuat kita jujur.

Karena kalau kita jujur, banyak dari apa yang kita klaim sebagai identitas sejati kita sebenarnya adalah kostum yang kita kenakan tanpa sadar. Dan kesadaran ironisnya adalah alat untuk melihat kostum itu.

Saya tahu ada yang akan bilang: "Ah, ini terlalu berat. Kenapa harus dipikirin? Nikmati aja hidup."

Dan saya tidak sepenuhnya tidak setuju.

Tapi ada alasan kenapa pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul di Kamis malam jam setengah sebelas tanpa diundang. Ada alasan kenapa generasi sekarang yang katanya punya akses ke segala kemudahan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya justru semakin banyak yang merasa hampa, lelah, dan tidak tahu arah.

Kita hidup di zaman di mana kita dipaksa untuk terus aware. Sadar tentang isu sosial. Sadar tentang jejak karbon. Sadar tentang privilege. Sadar tentang mental health. Sadar tentang produktivitas. Sadar tentang tabungan pensiun. Sadar tentang kesehatan fisik. Sadar tentang apakah kita sudah cukup bahagia atau belum.

Kesadaran tidak pernah selesai. Selalu ada satu lapis lagi yang harus kita perhatikan.

Dan di titik tertentu, otak manusia yang kapasitasnya terbatas itu mulai kewalahan.

Bukan karena kita lemah. Tapi karena memang ini terlalu banyak untuk ditanggung.

Saya mau kembali ke Rust Cohle sebentar, untuk memberikan kritik yang adil.

Cohle menyimpulkan bahwa karena kesadaran adalah beban, maka hal yang paling terhormat untuk dilakukan spesies kita adalah berjalan bersama menuju kepunahan. Berhenti berkembang biak. Memilih untuk tidak ada.

Dan di sinilah Cohle, menurut saya, melakukan lompatan logika yang terlalu jauh.

Karena dari premis "kesadaran membawa penderitaan" tidak otomatis kita bisa menyimpulkan bahwa "ketiadaan lebih baik dari keberadaan".

Ini seperti mengatakan bahwa karena berlari itu melelahkan, maka lebih baik kita tidak punya kaki sama sekali.

Kesadaran memang membawa penderitaan. Tapi kesadaran juga membawa hal-hal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika evolusi: kemampuan untuk merasakan keindahan, untuk mencintai secara sadar dan sukarela, untuk menciptakan makna di tengah ketidakbermaknaan, untuk memilih tetap ada meskipun tahu bahwa pada akhirnya semua akan pergi.

Justru karena kita sadar bahwa hidup ini sementara, sebuah sore yang biasa saja matahari tenggelam, kopi masih hangat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan bisa terasa seperti anugerah yang luar biasa.

Seekor rusa tidak bisa merasakan itu.

Jadi, di mana kita sekarang?

Kesadaran adalah kutukan. Sekaligus mahkota. Ia membebani kita dengan pertanyaan yang tidak ada jawabnya, tapi juga memberi kita kemampuan untuk memilih bagaimana kita bersikap terhadap pertanyaan itu.

Kita tidak bisa menjadi seperti Kopi, kucing belang tetangga saya, yang duduk di pagar dan hadir tanpa beban. Kita sudah terlanjur sadar. Tidak ada jalan kembali.

Tapi mungkin itulah tepatnya mengapa jadi manusia itu menarik meskipun melelahkan.

Kita adalah satu-satunya makhluk yang bisa tahu bahwa hidupnya mungkin tidak bermakna, lalu memilih untuk menciptakan makna itu sendiri. Kita adalah satu-satunya spesies yang bisa melihat keterbatasan dirinya, lalu tetap memilih untuk mencoba.

Itu bukan kelemahan. Itu sesuatu yang jauh lebih aneh dan lebih indah dari sekadar keunggulan evolusi.

Itu adalah kondisi manusia.

Kamis malam itu, akhirnya saya tertidur tanpa menjawab pertanyaan yang tadi mengganggu.

Langit-langit kamar masih sama. Retak kecil berbentuk peta sungai itu masih ada. Nyamuk itu atau mungkin nyamuk yang berbeda, saya tidak bisa memastikan masih terbang di suatu tempat.

Tapi entah mengapa, sebelum mata saya terpejam, saya sempat tersenyum.

Bukan karena saya menemukan jawaban.

Tapi karena saya akhirnya berhenti sebentar dari mencarinya.


30 Hari Menulis Buruk

Hari Ke-17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar