Bagi beberapa pihak, perang itu membawa berkah. Meski dibayar dengan anak-anak yang kehilangan orang tuanya.
Perang adalah wajah paling kelam dari kemanusiaan.
Ia bukan sekadar pertempuran fisik antara dua pihak bersenjata. Perang adalah kehancuran sistematis atas segala hal yang dibangun manusia dengan susah payah rumah, keluarga, impian, dan masa depan. Ia meninggalkan bekas yang tidak pernah benar-benar sembuh, bahkan ketika senapan telah lama bungkam.
Namun ada paradoks gelap yang jarang dibicarakan secara terbuka. Jika sudut pandang moral disisihkan sejenak dan diganti dengan kacamata ekonomi yang dingin dan rasional, perang dapat disebut sebuah bisnis berskala raksasa salah satu yang paling menguntungkan dalam sejarah peradaban manusia.
Di balik puing dan penderitaan, ada laporan keuangan yang justru hijau tumbuh positif. Di balik tangis para janda dan yatim piatu, ada pesta champagne di ruang rapat mewah. Di balik setiap jasad yang ditarik dari reruntuhan, ada transaksi miliaran dolar yang berpindah tangan dengan mulus.
Saat konflik meledak, selalu ada pihak-pihak tertentu yang diam-diam meraih keuntungan besar seolah mereka telah lama menunggu momen itu tiba.
Kompleks Industri Militer, yang sering dijuluki The Merchants of Death, adalah pihak yang paling nyata dan paling terang-terangan diuntungkan dari perang.
Ketika negara merasa terancam atau terlibat konflik, anggaran pertahanan langsung melonjak drastis. Pemerintah yang biasanya pelit dalam mengalokasikan dana untuk pendidikan atau kesehatan, tiba-tiba menjadi sangat dermawan ketika urusan senjata. Dana mengalir deras, kontrak ditandatangani dengan tergesa, dan perusahaan pertahanan diguyur hujan uang dalam sekejap.
Kontraktor senjata seperti produsen jet tempur, rudal, amunisi, hingga drone kebanjiran pesanan dari berbagai penjuru. Setiap persenjataan yang dipakai di medan perang harus diganti, setiap roket yang ditembakkan harus diisi ulang, setiap kendaraan lapis baja yang dihancurkan harus digantikan. Ini menciptakan siklus kontrak berulang dan jangka panjang yang menguntungkan sebuah langganan bisnis yang dijamin oleh kekerasan itu sendiri.
Perusahaan-perusahaan seperti Lockheed Martin, Raytheon, BAE Systems, dan lusinan nama lainnya mencatat rekor pendapatan di saat-saat ketika dunia sedang paling berduka. Saham mereka naik ketika berita konflik merebak, seolah pasar modal memiliki naluri tersendiri untuk merayakan tragedi kemanusiaan.
Di saat yang sama, perang berubah menjadi laboratorium nyata untuk menguji dan menyempurnakan teknologi militer terbaru. Tidak ada uji coba yang lebih efektif dibanding medan perang sesungguhnya. Teknologi yang berhasil diuji dalam konflik nyata kemudian dipatenkan, dikembangkan, dan dijual ke negara-negara lain yang ingin memperkuat arsenal mereka sebuah siklus yang terus berputar tanpa henti.
Anggaran riset dan pengembangan yang dianggap mahal tiba-tiba terasa murah ketika hasilnya bisa dijual ke puluhan negara sekaligus.
Namun kompleks industri militer hanyalah satu lapisan dari ekosistem keuntungan yang lebih luas.
Di lapis berikutnya, ada industri rekonstruksi. Ketika perang usai atau bahkan sebelum usai perusahaan-perusahaan konstruksi besar sudah antre untuk mendapatkan kontrak pembangunan kembali. Jembatan yang dihancurkan bom harus dibangun ulang. Gedung yang rata dengan tanah harus didirikan kembali. Infrastruktur yang luluh lantak harus dipulihkan. Dan semua itu membutuhkan uang dalam jumlah yang tidak kalah besarnya dengan biaya menghancurkannya.
Ironi paling pahit dari perang adalah ini: perusahaan yang sama, atau setidaknya berafiliasi dengan pihak yang sama, kadang terlibat dalam kedua sisi mata uang itu menghancurkan dan membangun ulang. Keuntungan berlipat ganda, sementara yang membayar harganya adalah rakyat biasa yang rumahnya menjadi abu.
Lapis ketiga adalah pasar energi. Banyak konflik berskala besar jika ditelusuri akarnya dengan jujur bersinggungan langsung dengan sumber daya alam, terutama minyak dan gas. Ketika kawasan penghasil energi bergolak, harga komoditas global melonjak. Dan siapa yang diuntungkan? Negara-negara eksportir energi yang tidak terlibat konflik, perusahaan energi multinasional yang memiliki cadangan di tempat lain, serta spekulan pasar yang sudah memasang posisi jauh sebelum perang benar-benar meletus.
Perang, bukan sekadar tragedi. Ia adalah instrumen pengatur ulang harga dan kekuasaan global.
30 Hari Menulis Buruk
Hari Ke-15

Tidak ada komentar:
Posting Komentar