Pengikut

Rabu, 11 Maret 2026

Perang dan Mimpi Anak di Bawah Reruntuhan

Pagi itu ia bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena ada yang menyuruh. Bukan karena alarm. Tapi karena ada sesuatu yang menggelegak di dadanya sesuatu yang belum punya nama, sesuatu yang ia yakini akan ia temukan nanti, suatu hari, ketika ia sudah cukup besar untuk memahami dunia yang lebih lebar dari gang sempit di depan rumahnya. Ia memakai sepatu sendiri. Tali kirinya masih miring. Tapi ia bangga. Kemarin ibunya yang mengikat. Hari ini, ia.

Di buku tulisnya ada gambar roket.

Bukan roket yang benar-benar mirip roket lebih menyerupai wortel raksasa dengan api di bawahnya. Tapi di sampingnya ada tulisan kecil-kecil, hurufnya masih oleng ke kanan, "suatu hari aku akan pergi ke sana."

Ke mana sana, belum ia tahu pasti.

Ke langit mungkin. Ke tempat bintang-bintang tidak kelihatan kecil. Ke ruang di mana gravitasi tidak berlaku dan air mengambang seperti gelembung sabun karena gurunya pernah bilang begitu dan ia tidak berhenti memikirkannya selama tiga hari berturut-turut.

Ia jenis anak yang tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu.

Kenapa langit biru?

Kenapa api panas?

Kenapa orang mati tidak bisa kembali?

Pertanyaan terakhir itu pernah ia tanyakan kepada neneknya, dua minggu setelah kakeknya pergi. Neneknya menangis. Ia tidak mengerti kenapa. Ia hanya ingin tahu.

Ia selalu hanya ingin tahu.

Tapi dunia tidak selalu ramah pada anak-anak yang ingin tahu.

Dunia kadang menjawab pertanyaan dengan ledakan.

Dunia kadang menutup mulut kecil itu, sebelum sempat membentuk huruf vokal pertama, dari pertanyaan berikutnya.

Seminggu sebelum semuanya terjadi, ia bertanya kepada ayahnya:

"Ayah, ilmuwan itu kerjaannya apa?"

Ayahnya, yang pulang malam dengan punggung lelah dan tangan kapalan, berhenti sejenak. Menaruh tasnya. Lalu duduk di lantai, di sebelah anaknya, seolah pertanyaan itu layak dijawab dengan sepenuh tubuh.

"Ilmuwan itu mencari tahu," kata ayahnya.

"Mencari tahu apa?"

"Mencari tahu segalanya. Kenapa ini begini. Kenapa itu begitu. Kenapa dunia berjalan seperti ini dan bukan seperti itu."

Anaknya diam sebentar.

Lalu matanya menyala seperti kompor dinyalakan, seperti lampu yang tiba-tiba menemukan arusnya.

"Berarti aku sudah jadi ilmuwan," katanya.

"Kenapa?"

"Karena aku juga selalu ingin tahu."

Ayahnya tertawa. Tertawa sungguhan, bukan tawa basa-basi orang dewasa yang terlalu lelah untuk benar-benar hadir. Tawa itu nyata. Tawa itu hangat. Tawa itu adalah salah satu dari sedikit hal yang kemudian ia simpan rapat-rapat di sisa hidupnya, karena tidak ada yang tahu bahwa sisa hidup itu tidak akan panjang.

Tidak ada yang tahu.

Anak itu tidak tahu.

Ayahnya tidak tahu.

Ibunya yang pagi itu menciumnya dua kali di dahi sekali karena sayang, sekali karena entah kenapa tidak bisa berhenti tidak tahu.

Kalau tahu, mungkin ciuman itu akan menjadi tiga kali.

Empat.

Tidak akan berhenti sampai anak itu protes dan menggeliatkan kepalanya dan bilang "Ibu, sudah, aku terlambat."

Tapi tidak ada yang tahu.

Maka pagi itu berjalan seperti pagi-pagi lain.

Pintu ditutup.

Langkah kaki mengecil di ujung gang.

Dan ibu kembali ke dapur dengan perasaan biasa.

Biasa yang kemudian ia sesali seumur hidup, karena ia ingin sekali merasakan bahwa pagi itu berbeda, bahwa ada tanda, bahwa semesta memberinya petunjuk, agar setidaknya ia punya waktu untuk berlari menyusul, untuk memeluk lebih lama, untuk mengatakan hal-hal yang selama ini ia tunda karena pikir masih ada waktu, masih ada waktu, selalu masih ada waktu, sampai tiba-tiba tidak ada.

Ada yang perlu kita bicarakan tentang cara kehilangan.

Ia tidak datang sekaligus. Ia tidak sopan. Ia tidak memberi aba-aba atau ketukan pintu atau surat peringatan tiga hari sebelumnya. Kehilangan datang seperti tagihan yang tidak pernah kamu sadari menumpuk dan tiba-tiba, di satu pagi yang kelihatannya biasa, semuanya jatuh tempo sekaligus dan kamu tidak punya apa-apa untuk membayarnya.

Ibu itu tidak langsung menangis.

Ini yang jarang diceritakan orang.

Bahwa ada jeda. Ada momen di mana tubuh menerima kabar tapi pikiran menolak memprosesnya. Ada beberapa detik atau menit, atau jam, berbeda-beda pada tiap orang, di mana seseorang berdiri di tengah ruangan dan merasakan bahwa sesuatu telah berubah secara permanen tapi belum sepenuhnya mengerti apa.

Ibu itu masih berdiri di dapur.

Kompor masih menyala.

Air masih mendidih.

Dan ia masih mengaduk sesuatu di panci

sambil otaknya perlahan-lahan, dengan sangat pelan dan sangat kejam, mulai menyusun kembali apa yang baru saja ia dengar menjadi sebuah kenyataan yang tidak bisa ia kembalikan.

Lalu tangannya berhenti mengaduk.

Dan air di panci terus mendidih, terus berputar, terus bergerak seolah dunia tidak peduli bahwa baru saja ada sesuatu yang runtuh di ruangan itu.

Gelang itu berwarna biru.

Dibeli di pasar, harganya tidak seberapa, tapi ia minta dibelikan dengan cara yang tidak bisa ditolak bukan merengek, bukan memaksa, tapi dengan cara berkata "itu bagus ya, Bu" sambil matanya tidak beranjak dari etalase, dan ibunya tahu, dan ibunya beli, dan ia pakai sejak hari itu dan tidak pernah lepas bahkan ketika tidur bahkan ketika mandi bahkan ketika berlari-larian di halaman sekolah bahkan ketika tidur siang di lantai dengan pipi menempel di ubin yang dingin.

Bahkan ketika semuanya terjadi.

Gelang biru itu tetap di tempatnya.

Seolah ada sesuatu dalam dirinya atau dalam gelang itu, atau dalam semesta yang kadang-kadang, di tengah semua kekacauannya, masih menyisakan satu hal kecil yang utuh yang memastikan bahwa ada yang bisa dikenali. Bahwa ada yang bisa membawa pulang.

Ayahnya menemukannya bukan dari wajah.

Wajah itu sudah tidak bisa dikenali.

Ayahnya menemukannya dari gelang biru itu, yang masih melingkar di pergelangan, yang masih utuh di antara semua yang tidak utuh, seolah ada sesuatu dalam diri semesta yang ingin memastikan bahwa ada yang tersisa, bahwa ada yang bisa membawa pulang, bahwa ayah ini tidak perlu pulang dengan tangan kosong dan pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab tentang di mana anaknya, di mana anaknya, di mana anaknya.

Ia menemukannya.

Tapi apa artinya menemukan, ketika yang ditemukan adalah bukti kehilangan?

Ayah itu berlutut lama sekali.

Di tanah yang masih berbau asap. Di antara orang-orang lain yang juga sedang mencari. Di bawah langit yang tidak peduli langit yang biru, langit yang sama birunya dengan gelang di pergelangan tangan anaknya, langit yang dulu selalu anaknya tunjuk dan tanyakan "Ayah, kenapa warnanya itu? Kenapa tidak hijau? Kenapa tidak merah?"

Langit yang tidak pernah menjawab.

Langit yang hari itu juga tidak menjawab.

Ayah itu tidak berteriak. Tidak meraung. Mungkin karena kesedihan yang terlalu besar tidak lagi punya suara. Mungkin karena tubuhnya memutuskan bahwa untuk menanggung ini, ia harus diam. Ia harus sangat, sangat diam. Seperti orang yang sedang membawa sesuatu yang sangat berat dan sangat rapuh dan tahu bahwa satu gerakan salah, satu teriakan, satu kehilangan keseimbangan, dan semuanya akan pecah.

Dan ia tidak mampu menanggung kepecahan yang lebih dari ini.

Maka ia diam.

Dan ia mengangkat tangan kecil itu dengan kedua tangannya.

Dengan hati-hati. Dengan sangat hati-hati. Seperti pertama kali ia menggendong bayi itu dulu di rumah sakit takut salah pegang, takut terlalu keras, takut melukai sesuatu yang begitu kecil dan begitu berharga.

Tidak ada bedanya hari itu.

Ia masih takut melukai.

Ia masih memegang seperti memegang sesuatu yang paling berharga di dunia.

Karena memang itu yang ia pegang.

Malam itu, di sudut rumah yang terlalu sunyi,

ayahnya membuka buku tulis dengan gambar roket yang mirip wortel.

Ia baca pelan-pelan, meskipun hanya beberapa kata. Ia baca berulang-ulang, meskipun sudah hafal. Ia baca seolah dengan membacanya, ia bisa memundurkan waktu kembali ke malam di mana anak itu masih duduk di lantai, masih menggambar dengan pensil yang terlalu keras digenggam, masih hidup dan hangat dan penuh pertanyaan.

"Suatu hari aku akan pergi ke sana."

Ke sana.

Ke langit.

Ayahnya menutup buku itu. Lalu membukanya lagi. Lalu menutupnya. Seperti orang yang tidak tahu mau meletakkan tangannya di mana. Seperti orang yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan tubuhnya sendiri sekarang.

Di luar, langit malam penuh bintang.

Bintang-bintang yang dulu kelihatan kecil dari sini. Bintang-bintang yang anaknya ingin kunjungi. Bintang-bintang yang tidak tahu bahwa ada seseorang yang sangat ingin datang dan sekarang tidak akan pernah bisa.

Dan untuk pertama kalinya, ayahnya benar-benar tidak punya jawaban.

Ia, yang selalu punya jawaban.

Ia, yang malam itu di lantai menjelaskan dengan sepenuh tubuh bahwa ilmuwan adalah orang yang mencari tahu.

Ia, yang percaya bahwa setiap pertanyaan layak dijawab.

Kini ia tidak tahu.

Tidak tahu atas dosa apa.

Tidak tahu atas logika apa.

Tidak tahu dengan bahasa apa ia harus menjelaskan kepada dirinya sendiri bahwa anaknya, anaknya yang hanya ingin tahu kenapa langit biru, anaknya yang sudah bisa mengikat tali sepatu sendiri, anaknya yang tertawa waktu bilang "berarti aku sudah jadi ilmuwan" pergi.

Sebelum sempat menemukan satu pun jawaban dari semua pertanyaannya.

Kita sering bicara tentang angka.

Berapa yang meninggal. Berapa yang luka. Berapa bangunan yang rata. Berapa lama konflik berlangsung. Berapa resolusi yang gagal disepakati. Berapa pemimpin yang berpidato dengan wajah sedih tapi tangan yang tetap menandatangani.

Angka itu penting.

Tapi angka tidak memakai gelang biru.

Angka tidak menggambar roket yang mirip wortel.

Angka tidak bertanya kenapa langit biru kepada ayahnya di lantai ruang tamu pada suatu malam yang seharusnya biasa.

Angka tidak punya nama.

Dan anak itu punya nama.

Ia punya nama yang dipilih dengan susah payah oleh kedua orang tuanya nama yang diucapkan pertama kali dengan suara bergetar di ruang bersalin, nama yang kemudian ditulis di akta kelahiran dengan tinta hitam yang sekarang terasa seperti ironi, nama yang dipanggil ibunya setiap pagi dengan nada tertentu yang berbeda untuk hari sekolah dan hari libur, nama yang ditulis di sampul buku tulis bergambar roket.

Nama yang sekarang diukir di tempat yang berbeda.

Di tempat yang tidak pernah ada dalam rencana siapapun.

Dunia terus berputar.

Ini yang paling kejam dari semuanya.

Bahwa setelah semua yang terjadi, matahari masih terbit. Pasar masih buka. Di suatu sudut kota lain, anak-anak lain masih berlari-larian dan bertanya kenapa dan bagaimana dan apa itu dengan mata yang berbinar persis seperti matanya dulu persis, benar-benar persis, sampai kadang-kadang ayahnya tidak tahan melihat anak kecil di jalanan karena ada yang serupa dan ada yang menyayat.

Burung-burung masih bernyanyi.

Ini yang kedua paling kejam.

Bahwa alam tidak berduka. Bahwa pohon tidak patah untuk menghormati. Bahwa hujan turun bukan sebagai ungkapan simpati tapi semata-mata karena memang giliran hujan. Bahwa semesta bekerja dengan cara yang sangat efisien dan sangat dingin dan tidak terganggu sama sekali oleh kenyataan bahwa seseorang yang ingin menjelajahinya tidak lagi ada.

Dan kita manusia yang katanya beradab, manusia yang katanya punya hati nurani, manusia yang bisa membedakan benar dan salah dan memilih untuk tetap melanjutkan yang salah kita harus memilih.

Apakah kita akan membiarkan dunia ini terus menjadi tempat di mana pertanyaan anak kecil dijawab dengan ledakan.

Di mana mimpi-mimpi kecil yang belum sempat tumbuh dipadamkan sebelum sempat menyala.

Di mana gelang biru menjadi satu-satunya cara seorang ayah mengenali anaknya.

Atau kita akan dengan sekuat apapun yang kita punya, dengan sekecil apapun kapasitas kita, dari sudut manapun kita berdiri memastikan bahwa setiap anak yang bangun pagi dengan sesuatu yang menggelegak di dadanya, sesuatu yang belum punya nama, sesuatu yang berbinar di matanya ketika ia bertanya tentang bintang dan roket dan kenapa langit biru, bisa pulang malam harinya.

Bisa menceritakannya.

Bisa tidur dengan tali sepatu yang sudah ia ikat sendiri hari itu, dengan bangga yang kecil tapi nyata, dengan hari esok yang masih ada, dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih menunggu jawaban, dengan gelang biru yang ia pakai bukan karena harus dikenali, tapi karena memang ia suka warna biru.

Sesederhana itu.

Ia hanya ingin tahu namanya sendiri nama besar yang kelak akan ia sandang, ilmuwan, penjelajah, penemu, orang yang mencari tahu kenapa langit berwarna biru dan menemukan jawabannya dan menulis jawabannya di buku tulis dengan sampul bergambar roket mirip wortel dengan huruf yang masih oleng ke kanan. Tapi dunia memutuskan ia tidak perlu nama itu. Cukup nama kecilnya saja. Yang diukir di batu. Yang diucapkan ibunya setiap malam, sebelum tidur, bukan sebagai panggilan, tapi sebagai doa yang tidak tahu harus meminta apa lagi, selain: semoga di mana pun kamu sekarang, ada yang mau menjawab, semua pertanyaanmu. Semoga langit di sana juga biru.

Dan semoga kamu akhirnya tahu kenapa.


30 Hari Menulis Buruk 

Hari Ke-21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar