Ada negara yang bertahan karena kekuatan militernya. Ada yang kukuh karena ketahanan ekonominya. Tetapi Iran sering dipahami berbeda: ia bertahan karena keyakinan. Sejak awal kelahirannya sebagai republik pascarevolusi, negara ini tidak dibangun semata sebagai sistem administrasi pemerintahan, melainkan sebagai sikap politik terhadap dunia. Ada pandangan ideologis yang menjadi fondasi, bahwa kemerdekaan sejati hanya mungkin jika tidak tunduk pada tekanan kekuatan besar.
Peristiwa Revolusi Iran 1979 menjadi titik balik yang menentukan arah tersebut. Sejak saat itu, Iran memproklamasikan diri sebagai republik dengan corak ideologis yang kuat. Dalam kerangka berpikir ini, tunduk pada dominasi global dianggap sama dengan mengorbankan martabat sejarah. Karena itu, politik luar negeri Iran jarang berada dalam posisi netral; ia hampir selalu memuat nada perlawanan dan penegasan kedaulatan.
Dalam sistem politik Iran, legitimasi kekuasaan tidak hanya bertumpu pada mekanisme elektoral atau performa ekonomi. Ada narasi besar tentang “perlawanan” yang terus dipelihara. Retorika anti-Israel, misalnya, tidak hanya diarahkan ke luar, tetapi juga berfungsi memperkuat kohesi domestik dan menempatkan Iran sebagai simbol perlawanan di sebagian dunia Muslim. Dari sudut pandang ini, sikap keras terhadap musuh eksternal menjadi bagian dari stabilitas internal. Jika Iran tiba-tiba berubah akomodatif terhadap Barat, sebagian legitimasi ideologisnya justru bisa tergerus.
Secara kelembagaan, Iran bukan demokrasi liberal dalam pengertian umum. Sistemnya sering disebut sebagai teokrasi republik, di mana otoritas tertinggi berada di tangan Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi. Di samping itu, institusi seperti Islamic Revolutionary Guard Corps (Garda Revolusi) memainkan peran signifikan, bukan hanya di bidang militer, tetapi juga dalam ekonomi dan politik domestik. Artinya, arah kebijakan negara banyak ditentukan oleh struktur elite ideologis yang mapan, bukan semata-mata oleh opini publik.
Selama puluhan tahun, Iran hidup dalam bayang-bayang sanksi ekonomi dan tekanan militer. Kondisi tersebut mendorong negara ini mengembangkan strategi bertahan: memperkuat kemitraan dengan Rusia dan China, mengurangi ketergantungan pada Barat, serta membangun jaringan sekutu regional. Pergeseran orientasi ke arah blok Timur bukanlah langkah spontan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menegaskan kemandirian di tengah tekanan.
Sejarah juga membentuk mentalitas nasional Iran. Pengalaman panjang seperti Perang Iran-Irak meninggalkan ingatan kolektif tentang pengorbanan dan ketahanan. Dalam tradisi Syiah, simbolisme Karbala kerap dijadikan metafora perlawanan terhadap kekuatan besar. Narasi ini memperkuat identitas bahwa bertahan di tengah tekanan adalah bagian dari harga diri bangsa.
Karena itu, ketika dunia luar bertanya mengapa Iran tampak berani menantang kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan sekutunya, jawabannya tidak tunggal. Ia merupakan gabungan antara sejarah luka, ideologi perlawanan, struktur kekuasaan yang terinstitusionalisasi, strategi geopolitik yang terukur, serta identitas kolektif yang terbentuk selama puluhan tahun. Bagi sebagian pihak, sikap tersebut mungkin terlihat keras kepala. Namun dari dalam, ia dipahami sebagai konsistensi atas prinsip yang diyakini sejak awal berdirinya republik itu.
30 Hari Menulis Buruk
Hari Ke-12

Tidak ada komentar:
Posting Komentar