Pengikut

Jumat, 20 Maret 2026

Idealisme


 

Di sekolah, di kantor, di rumah… Kita sering ditanya pertanyaan yang sama: "Kamu udah sampai mana?"

Seolah hidup itu lomba lari. Dan semua orang harus finish di waktu yang sama. Realita. Yang cepat dibilang: "Beruntung. Pasti ada koneksi." Yang lambat dibilang: "Kurang usaha. Kurang ambisius." Dua-duanya kena. Dua-duanya nggak pernah cukup. Padahal masalahnya bukan di cepat atau lambatnya. Tapi di obsesi kita membandingkan.

Kita hidup di zaman di mana pencapaian orang lain bisa masuk ke layar kita setiap detik. Teman kuliah udah S2 di luar negeri. Teman SMA udah punya rumah. Teman main udah nikah, punya anak. Dan kamu? Masih mencari. Masih meraba. Masih bertanya-tanya.

Lalu muncul suara itu, "Aku tertinggal." "Aku nggak cukup baik." "Aku salah jalan." Suara yang pelan, tapi merusak. Suara yang nggak teriak, tapi menggerogoti. Tapi coba berhenti sebentar.

Siapa yang bikin aturan bahwa umur 25 harus sudah ini? Siapa yang bikin standar bahwa umur 30 harus sudah itu? Masyarakat? Media sosial? Tetangga yang suka nyinyir di arisan? Kamu bukan mereka. Dan mereka bukan kamu.

Jalur hidup itu bukan jalan tol yang lurus satu arah. Jalur hidup itu lebih seperti sungai. Kadang lebar, kadang sempit. Kadang deras, kadang tenang. Kadang lurus, kadang berkelok sampai kamu nggak tahu arah.

Tapi sungai selalu bergerak. Dan selama kamu masih bergerak, kamu nggak tertinggal. Masalah kita bukan soal kecepatan. Masalah kita adalah kebiasaan mengukur diri dengan penggaris orang lain.

Kamu pakai penggaris teman untuk ngukur hidupmu. Lalu heran kenapa hasilnya selalu kurang. Ya karena memang bukan penggarismu. Setiap orang punya titik mulai yang beda. Punya beban yang beda. Punya luka yang beda. Punya privilege yang beda.

Yang satu mulai dari garis start. Yang lain mulai dari belakang garis start sambil gendong beban. Lalu kamu bilang ini lomba yang adil? Ada yang umur 22 udah jadi CEO. Ada yang umur 40 baru nemu passion-nya.

Ada yang lulus kuliah tepat waktu. Ada yang nggak lulus tapi bikin sesuatu yang luar biasa. Ada yang karirnya meroket di usia muda. Ada yang butuh bertahun-tahun gagal sebelum akhirnya menemukan tempatnya. Semua valid. Semua sah.

Karena hidup bukan soal siapa duluan sampai. Tapi soal siapa yang tetap jalan meski nggak tahu kapan sampai. Kita terlalu sering meromantisasi kecepatan. Cepat lulus. Hebat. Cepat kaya. Sukses. Cepat nikah. Mapan.

Tapi nggak ada yang nanya. "Kamu bahagia nggak?" "Kamu sehat nggak?" "Kamu masih kenal dirimu sendiri nggak?" Karena ternyata banyak yang cepat sampai, tapi nggak tahu kenapa dia di sana. Banyak yang sudah di puncak, tapi merasa kosong.

Banyak yang terlihat punya segalanya, tapi diam-diam bertanya: ini yang aku mau? Kecepatan tanpa kesadaran itu berbahaya. Seperti naik mobil 200 km/jam tapi nggak tahu tujuannya ke mana. Cepat? Iya. Sampai? Mungkin. Ke tempat yang benar? Belum tentu.

Jadi buat kamu yang hari ini merasa lambat. Yang ngerasa ketinggalan. Yang ngerasa semua orang udah maju dan kamu masih di sini. Lambat bukan berarti gagal. Diam bukan berarti berhenti. Belum bukan berarti tidak akan.

Kamu yang hari ini masih belajar itu kemajuan. Kamu yang hari ini masih mencoba itu keberanian. Kamu yang hari ini masih bertahan itu kekuatan. Jangan remehkan proses hanya karena hasilnya belum terlihat. Pohon yang akarnya paling dalam butuh waktu paling lama untuk tumbuh. Tapi ketika tumbuh, dia yang paling kuat menghadapi badai.

Dan satu hal lagi. Berhenti minta validasi dari orang yang nggak pernah tahu ceritamu dari awal. Mereka cuma lihat hasilmu. Nggak pernah lihat prosesmu. Mereka cuma lihat posisimu sekarang. Nggak pernah lihat berapa kali kamu jatuh untuk sampai di situ.

Mereka cuma lihat apa yang kamu tunjukkan. Nggak pernah lihat apa yang kamu sembunyikan. Jadi buat apa harga dirimu ditentukan oleh orang yang cuma baca satu halaman dari buku hidupmu?

Hidup ini bukan kompetisi. Kalau pun iya, satu-satunya lawan yang layak adalah dirimu yang kemarin. Bukan tetangga. Bukan teman kuliah. Bukan mantan. Bukan orang di Instagram yang hidupnya terlihat sempurna. Karena yang kamu lihat di layar. Bukan cerita lengkapnya. Itu cuma highlight reel. Bukan behind the scenes.


30 Hari Menulis Buruk

Hari Ke-30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar