Saya ingat betul
bagaimana suara pagi itu terdengar berbeda. Bukan karena ada yang berubah di
luar, tapi karena sesuatu di dalam diri saya sedang belajar mengenali
kehilangan yang belum punya nama. Saya duduk di sudut kos yang sempit, di depan
meja yang terlalu besar untuk satu orang, menghadapi sepiring nasi yang saya
masak sendiri tengah malam karena tidak bisa tidur. Di luar, hujan turun dengan
cara yang tidak dramatis pelan, tekun, tanpa petir, tanpa angin. Hanya air yang
jatuh dengan sabar ke atas atap seng.
Waktu itu saya baru
beberapa bulan di kota orang. Orang bilang, kamu akan terbiasa. Dan memang
akhirnya terbiasa. Masalahnya, terbiasa dan baik-baik saja adalah dua hal yang
sering kita tukar tanpa sadar.
Saya tumbuh di rumah
yang tidak besar, tapi selalu penuh suara. Bapak bangun paling awal dan
biasanya langsung ke dapur untuk merebus air. Suara panci diangkat, suara
sendok diaduk, suara radio kecil yang volumenya tidak pernah benar-benar pas terlalu
keras untuk diangap latar belakang, terlalu pelan untuk sungguh-sungguh
didengar. Ibu menyusul tidak lama kemudian, membuka jendela dengan gerakan yang
sama setiap pagi, seperti tubuhnya sudah hafal di luar kepala. Lalu adik-adik
saya, dengan wajah masih kusut dan langkah yang belum sepenuhnya sadar,
menyeret kursi ke meja makan.
Kami tidak selalu
bicara. Kadang-kadang sarapan berlangsung dalam diam yang bukan sunyi semacam keheningan yang hidup, yang terisi
oleh suara kunyahan, suara gelas diletakkan, suara halaman koran yang dibalik.
Saya tidak pernah menganggapnya istimewa. Bagi saya itu hanya pagi, sama
seperti setiap pagi lainnya, sama membosankannya, sama pastinya.
Tidak ada yang
memberitahu saya bahwa suara-suara itu akan jadi sesuatu yang paling saya
rindukan bertahun-tahun kemudian.
Di kota baru, rutinitas
pagi saya berubah drastis. Alarm berbunyi, saya matikan, lalu berbaring
sebentar di langit-langit yang diam. Tidak ada suara dari luar kamar kecuali
kadang langkah penghuni kos lain yang terburu-buru. Sarapan, kalau saya sempat,
biasanya roti tawar dan kopi yang dibuat dengan air tidak cukup panas. Semuanya
berlangsung di depan layar, sambil membaca berita atau sekadar menggulir media
sosial tanpa tujuan.
Efisien. Begitu kata
orang-orang yang mengagumi hidup mandiri. Dan memang efisien. Tidak ada yang
perlu menunggu siapa pun. Tidak ada yang perlu menyesuaikan jadwal. Saya bisa
makan kapan saja, tidur kapan saja, pulang jam berapa pun tanpa perlu
menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
Tapi efisiensi punya
bayangan. Dan bayangan itu panjang.
Suatu malam, saya
menelepon ibu hanya karena tidak tahu harus melakukan apa. Bukan karena ada
masalah. Bukan karena ada berita penting. Saya hanya ingin mendengar suaranya,
dan saya malu mengakui itu bahkan kepada diri sendiri, jadi saya mengawali
percakapan dengan pura-pura bertanya soal tagihan listrik rumah.
Ibu menjawab dengan
detail yang tidak perlu, dan saya mendengarkan semuanya. Lalu pembicaraan
mengalir ke hal-hal lain: tetangga yang baru punya cucu, pohon mangga di
halaman belakang yang berbuah lebih lebat dari tahun lalu, kucing yang entah
dari mana tiba-tiba sering duduk di depan pintu.
Saya tidak ingat berapa
lama kami bicara. Yang saya ingat adalah perasaan setelah telepon ditutup. Ada
kehangatan sebentar, seperti seseorang menyalakan kompor kecil di ruang yang
dingin. Tapi kehangatan itu tidak bertahan lama. Ruangan itu tetap sama. Saya
tetap sendirian di dalamnya.
Ada hal aneh yang
terjadi ketika kita pergi dari rumah untuk waktu yang lama. Kita tidak hanya
meninggalkan tempat kita meninggalkan versi diri kita yang terbentuk di tempat
itu. Dan ketika kita kembali, kita menyadari bahwa versi itu tidak ikut pergi
bersama kita. Ia tetap di sana, menempel di dinding, di sudut meja belajar, di
bau lemari kayu yang selalu sedikit lembab.
Saya pernah pulang
setelah hampir dua tahun di luar kota. Rumah terasa lebih kecil dari yang saya
ingat bukan karena menyusut, tentu saja, tapi karena saya yang sudah terbiasa
dengan ruang yang berbeda. Saya duduk di kursi lama saya di meja makan, dan ada
momen aneh ketika saya sadar bahwa saya tidak tahu lagi bagaimana menjadi anak
di rumah ini. Saya sudah terlalu lama belajar menjadi orang dewasa yang berdiri
sendiri, sehingga ketika seseorang mengambilkan piring untuk saya, saya hampir
merasa tidak pantas menerimanya.
Kata "rindu"
terlalu sering dipakai untuk hal-hal yang besar. Rindu seseorang yang pergi.
Rindu tempat yang jauh. Rindu masa lalu yang terasa lebih cerah dari yang
sebenarnya. Tapi ada kerinduan yang lebih kecil dan lebih jujur kerinduan pada
hal-hal yang tidak kita sadari sedang kita miliki.
Saya rindu cara ibu
memanggil nama saya dari dapur ketika makanan sudah siap. Bukan dengan nada
penting, bukan darurat, hanya nama saya diucapkan dengan santai ke arah ruang
tengah, tahu bahwa saya pasti mendengar. Saya rindu cara bapak tidak bicara
tentang apa pun yang penting, tapi selalu ada di kursi itu, membaca atau
menonton sesuatu, menciptakan kehadiran yang tidak menuntut apa-apa.
Saya rindu tidur di
rumah dan tahu bahwa ketika saya bangun, akan ada suara. Bukan suara yang perlu
saya ciptakan sendiri.
Seorang teman pernah bercerita tentang
ibunya yang mulai memasak terlalu banyak sejak anak-anaknya semua pergi dari
rumah. Bukan karena lupa, tapi karena tangan mereka sudah terlanjur terlatih
memasak untuk banyak orang. Jadi setiap kali memasak, selalu ada lebih. Sisa
yang kemudian dibagi ke tetangga, ke asisten rumah tangga, ke siapa saja yang
kebetulan lewat.
"Ibu gue bilang biar dapurnya nggak
sepi," kata teman saya.
Saya tidak tertawa,
meski kalimat itu terdengar lucu kalau dibacakan cepat. Saya justru diam
sebentar, karena kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama saya pahami
tapi belum pernah berhasil saya ucapkan.
Ada orang-orang yang
mengisi kekosongan dengan produktivitas. Ada yang mengisinya dengan keramaian.
Ada yang mengisinya dengan berpura-pura bahwa kosong adalah pilihan, bukan
kondisi. Dan ada ibu-ibu yang mengisinya dengan terus memasak, karena itu
adalah bahasa paling fasih yang mereka tahu untuk mengatakan bahwa mereka masih
ada, masih dibutuhkan, masih punya alasan untuk menyalakan kompor setiap pagi.
Saya pernah bertanya
kepada diri sendiri, kapan persisnya seseorang menjadi orang dewasa. Bukan
dalam arti legal atau administratif, tapi dalam arti yang lebih dalam kapan
seseorang benar-benar beranjak dari menjadi anak menjadi bukan anak lagi.
Dulu saya mengira
jawabannya ada di pencapaian. Ketika kamu bisa menghidupi dirimu sendiri.
Ketika kamu tidak lagi perlu meminta izin. Ketika kamu membuat keputusan besar
tanpa berkonsultasi.
Tapi sekarang saya
tidak yakin. Saya pikir mungkin seseorang menjadi dewasa bukan ketika ia bisa
hidup tanpa orang tuanya, tapi ketika ia mulai bisa melihat orang tuanya
sebagai manusia yang juga punya rasa takut, rasa lelah, dan ruang-ruang kosong
yang tidak selalu bisa mereka isi sendiri.
Saya menjadi dewasa,
mungkin, di momen saya menyadari bahwa bapak juga pernah tidak tahu apa yang
harus dilakukan. Bahwa ibu juga pernah menangis di tempat yang tidak dilihat
siapa pun. Bahwa mereka berdua, di balik semua kebiasaan dan keteraturan yang
tampak kokoh itu, juga sedang belajar, belajar menjadi orang tua, belajar
melepaskan, belajar hidup di rumah yang semakin sering sunyi.
Beberapa minggu lalu,
saya pulang untuk sebuah alasan kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat
telepon. Tapi saya memilih pulang. Saya sampai sore, dan ibu sudah ada di
dapur.
Saya duduk di kursi
lama saya, dan kami tidak banyak bicara. Saya hanya menonton ibu memasak memperhatikan
gerakan tangannya yang sudah sangat hafal, cara ia mengaduk tanpa benar-benar
melihat panci, cara ia mencicipi dengan ujung sendok lalu diam sebentar seperti
sedang berkonsultasi dengan sesuatu di dalam dirinya.
Tidak ada yang
istimewa. Semuanya biasa saja. Dan justru karena biasa, semuanya terasa seperti
sesuatu yang ingin saya simpan dengan sangat hati-hati.
Kita tidak diajari cara
merindukan hal-hal yang belum hilang. Kita tidak diajari untuk berhenti sejenak
di tengah momen yang biasa dan menyadari bahwa inilah yang kelak akan kita
cari-cari. Kita terlalu sibuk menjalani sampai lupa bahwa menjalani itu sendiri
adalah hadiah.
Saya tidak tahu sampai
kapan saya akan bisa terus pulang seperti ini. Tidak tahu berapa banyak lagi
pagi yang tersisa di mana suara dari dapur masih akan terdengar ketika saya
bangun. Waktu bergerak dengan cara yang tidak pernah benar-benar meminta izin,
dan kita baru menyadari ia sudah berjalan jauh ketika kita menoleh ke belakang.
Yang saya tahu hanyalah
ini: ada hal-hal yang tidak pernah kita minta hadir dalam hidup kita suara
panci di pagi hari, nama kita dipanggil dari ruang lain, kehadiran yang tidak
menuntut apa-apa. Hal-hal itu datang begitu saja, seperti udara, seperti
cahaya, seperti sesuatu yang begitu ada sampai terasa tidak perlu diperhatikan.
Dan mungkin tugas kita,
sebelum semuanya berubah, adalah belajar memperhatikan.
30 Hari Menulis Buruk
Hari Ke-24
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar