Pengikut

Sabtu, 14 Maret 2026

Puasa, Rumah, dan Hal-Hal yang Tidak Pernah Kita Minta

 

Saya ingat betul bagaimana suara pagi itu terdengar berbeda. Bukan karena ada yang berubah di luar, tapi karena sesuatu di dalam diri saya sedang belajar mengenali kehilangan yang belum punya nama. Saya duduk di sudut kos yang sempit, di depan meja yang terlalu besar untuk satu orang, menghadapi sepiring nasi yang saya masak sendiri tengah malam karena tidak bisa tidur. Di luar, hujan turun dengan cara yang tidak dramatis pelan, tekun, tanpa petir, tanpa angin. Hanya air yang jatuh dengan sabar ke atas atap seng.

Waktu itu saya baru beberapa bulan di kota orang. Orang bilang, kamu akan terbiasa. Dan memang akhirnya terbiasa. Masalahnya, terbiasa dan baik-baik saja adalah dua hal yang sering kita tukar tanpa sadar.

Saya tumbuh di rumah yang tidak besar, tapi selalu penuh suara. Bapak bangun paling awal dan biasanya langsung ke dapur untuk merebus air. Suara panci diangkat, suara sendok diaduk, suara radio kecil yang volumenya tidak pernah benar-benar pas terlalu keras untuk diangap latar belakang, terlalu pelan untuk sungguh-sungguh didengar. Ibu menyusul tidak lama kemudian, membuka jendela dengan gerakan yang sama setiap pagi, seperti tubuhnya sudah hafal di luar kepala. Lalu adik-adik saya, dengan wajah masih kusut dan langkah yang belum sepenuhnya sadar, menyeret kursi ke meja makan.

Kami tidak selalu bicara. Kadang-kadang sarapan berlangsung dalam diam yang bukan sunyi  semacam keheningan yang hidup, yang terisi oleh suara kunyahan, suara gelas diletakkan, suara halaman koran yang dibalik. Saya tidak pernah menganggapnya istimewa. Bagi saya itu hanya pagi, sama seperti setiap pagi lainnya, sama membosankannya, sama pastinya.

Tidak ada yang memberitahu saya bahwa suara-suara itu akan jadi sesuatu yang paling saya rindukan bertahun-tahun kemudian.

Di kota baru, rutinitas pagi saya berubah drastis. Alarm berbunyi, saya matikan, lalu berbaring sebentar di langit-langit yang diam. Tidak ada suara dari luar kamar kecuali kadang langkah penghuni kos lain yang terburu-buru. Sarapan, kalau saya sempat, biasanya roti tawar dan kopi yang dibuat dengan air tidak cukup panas. Semuanya berlangsung di depan layar, sambil membaca berita atau sekadar menggulir media sosial tanpa tujuan.

Efisien. Begitu kata orang-orang yang mengagumi hidup mandiri. Dan memang efisien. Tidak ada yang perlu menunggu siapa pun. Tidak ada yang perlu menyesuaikan jadwal. Saya bisa makan kapan saja, tidur kapan saja, pulang jam berapa pun tanpa perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun.

Tapi efisiensi punya bayangan. Dan bayangan itu panjang.

Suatu malam, saya menelepon ibu hanya karena tidak tahu harus melakukan apa. Bukan karena ada masalah. Bukan karena ada berita penting. Saya hanya ingin mendengar suaranya, dan saya malu mengakui itu bahkan kepada diri sendiri, jadi saya mengawali percakapan dengan pura-pura bertanya soal tagihan listrik rumah.

Ibu menjawab dengan detail yang tidak perlu, dan saya mendengarkan semuanya. Lalu pembicaraan mengalir ke hal-hal lain: tetangga yang baru punya cucu, pohon mangga di halaman belakang yang berbuah lebih lebat dari tahun lalu, kucing yang entah dari mana tiba-tiba sering duduk di depan pintu.

Saya tidak ingat berapa lama kami bicara. Yang saya ingat adalah perasaan setelah telepon ditutup. Ada kehangatan sebentar, seperti seseorang menyalakan kompor kecil di ruang yang dingin. Tapi kehangatan itu tidak bertahan lama. Ruangan itu tetap sama. Saya tetap sendirian di dalamnya.

Ada hal aneh yang terjadi ketika kita pergi dari rumah untuk waktu yang lama. Kita tidak hanya meninggalkan tempat kita meninggalkan versi diri kita yang terbentuk di tempat itu. Dan ketika kita kembali, kita menyadari bahwa versi itu tidak ikut pergi bersama kita. Ia tetap di sana, menempel di dinding, di sudut meja belajar, di bau lemari kayu yang selalu sedikit lembab.

Saya pernah pulang setelah hampir dua tahun di luar kota. Rumah terasa lebih kecil dari yang saya ingat bukan karena menyusut, tentu saja, tapi karena saya yang sudah terbiasa dengan ruang yang berbeda. Saya duduk di kursi lama saya di meja makan, dan ada momen aneh ketika saya sadar bahwa saya tidak tahu lagi bagaimana menjadi anak di rumah ini. Saya sudah terlalu lama belajar menjadi orang dewasa yang berdiri sendiri, sehingga ketika seseorang mengambilkan piring untuk saya, saya hampir merasa tidak pantas menerimanya.

Kata "rindu" terlalu sering dipakai untuk hal-hal yang besar. Rindu seseorang yang pergi. Rindu tempat yang jauh. Rindu masa lalu yang terasa lebih cerah dari yang sebenarnya. Tapi ada kerinduan yang lebih kecil dan lebih jujur kerinduan pada hal-hal yang tidak kita sadari sedang kita miliki.

Saya rindu cara ibu memanggil nama saya dari dapur ketika makanan sudah siap. Bukan dengan nada penting, bukan darurat, hanya nama saya diucapkan dengan santai ke arah ruang tengah, tahu bahwa saya pasti mendengar. Saya rindu cara bapak tidak bicara tentang apa pun yang penting, tapi selalu ada di kursi itu, membaca atau menonton sesuatu, menciptakan kehadiran yang tidak menuntut apa-apa.

Saya rindu tidur di rumah dan tahu bahwa ketika saya bangun, akan ada suara. Bukan suara yang perlu saya ciptakan sendiri.

Seorang teman pernah bercerita tentang ibunya yang mulai memasak terlalu banyak sejak anak-anaknya semua pergi dari rumah. Bukan karena lupa, tapi karena tangan mereka sudah terlanjur terlatih memasak untuk banyak orang. Jadi setiap kali memasak, selalu ada lebih. Sisa yang kemudian dibagi ke tetangga, ke asisten rumah tangga, ke siapa saja yang kebetulan lewat.

"Ibu gue bilang biar dapurnya nggak sepi," kata teman saya.

Saya tidak tertawa, meski kalimat itu terdengar lucu kalau dibacakan cepat. Saya justru diam sebentar, karena kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama saya pahami tapi belum pernah berhasil saya ucapkan.

Ada orang-orang yang mengisi kekosongan dengan produktivitas. Ada yang mengisinya dengan keramaian. Ada yang mengisinya dengan berpura-pura bahwa kosong adalah pilihan, bukan kondisi. Dan ada ibu-ibu yang mengisinya dengan terus memasak, karena itu adalah bahasa paling fasih yang mereka tahu untuk mengatakan bahwa mereka masih ada, masih dibutuhkan, masih punya alasan untuk menyalakan kompor setiap pagi.

Saya pernah bertanya kepada diri sendiri, kapan persisnya seseorang menjadi orang dewasa. Bukan dalam arti legal atau administratif, tapi dalam arti yang lebih dalam kapan seseorang benar-benar beranjak dari menjadi anak menjadi bukan anak lagi.

Dulu saya mengira jawabannya ada di pencapaian. Ketika kamu bisa menghidupi dirimu sendiri. Ketika kamu tidak lagi perlu meminta izin. Ketika kamu membuat keputusan besar tanpa berkonsultasi.

Tapi sekarang saya tidak yakin. Saya pikir mungkin seseorang menjadi dewasa bukan ketika ia bisa hidup tanpa orang tuanya, tapi ketika ia mulai bisa melihat orang tuanya sebagai manusia yang juga punya rasa takut, rasa lelah, dan ruang-ruang kosong yang tidak selalu bisa mereka isi sendiri.

Saya menjadi dewasa, mungkin, di momen saya menyadari bahwa bapak juga pernah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bahwa ibu juga pernah menangis di tempat yang tidak dilihat siapa pun. Bahwa mereka berdua, di balik semua kebiasaan dan keteraturan yang tampak kokoh itu, juga sedang belajar, belajar menjadi orang tua, belajar melepaskan, belajar hidup di rumah yang semakin sering sunyi.

Beberapa minggu lalu, saya pulang untuk sebuah alasan kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat telepon. Tapi saya memilih pulang. Saya sampai sore, dan ibu sudah ada di dapur.

Saya duduk di kursi lama saya, dan kami tidak banyak bicara. Saya hanya menonton ibu memasak memperhatikan gerakan tangannya yang sudah sangat hafal, cara ia mengaduk tanpa benar-benar melihat panci, cara ia mencicipi dengan ujung sendok lalu diam sebentar seperti sedang berkonsultasi dengan sesuatu di dalam dirinya.

Tidak ada yang istimewa. Semuanya biasa saja. Dan justru karena biasa, semuanya terasa seperti sesuatu yang ingin saya simpan dengan sangat hati-hati.

Kita tidak diajari cara merindukan hal-hal yang belum hilang. Kita tidak diajari untuk berhenti sejenak di tengah momen yang biasa dan menyadari bahwa inilah yang kelak akan kita cari-cari. Kita terlalu sibuk menjalani sampai lupa bahwa menjalani itu sendiri adalah hadiah.

Saya tidak tahu sampai kapan saya akan bisa terus pulang seperti ini. Tidak tahu berapa banyak lagi pagi yang tersisa di mana suara dari dapur masih akan terdengar ketika saya bangun. Waktu bergerak dengan cara yang tidak pernah benar-benar meminta izin, dan kita baru menyadari ia sudah berjalan jauh ketika kita menoleh ke belakang.

Yang saya tahu hanyalah ini: ada hal-hal yang tidak pernah kita minta hadir dalam hidup kita suara panci di pagi hari, nama kita dipanggil dari ruang lain, kehadiran yang tidak menuntut apa-apa. Hal-hal itu datang begitu saja, seperti udara, seperti cahaya, seperti sesuatu yang begitu ada sampai terasa tidak perlu diperhatikan.

Dan mungkin tugas kita, sebelum semuanya berubah, adalah belajar memperhatikan.

 

30 Hari Menulis Buruk

Hari Ke-24

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar