Sebelum mulai, satu hal perlu ditegaskan dulu.
Tulisan ini tidak sedang membela siapapun yang salah. Tidak sedang meromantisasi kejahatan. Tidak sedang mengajak kamu bersimpati kepada hal-hal yang memang layak dikecam.
Tulisan ini hanya mengajak kamu melihat satu hal yang sangat jarang kita sadari tapi sangat sering kita lakukan.
Yaitu ini: kita semua punya standar moral yang doyan pilah-pilih penampilan.
Mari jujur sejenak.
Ketika kamu melihat berita kriminal, reaksi pertamamu bukan langsung menganalisis kasusnya. Reaksi pertamamu adalah melihat fotonya dulu.
Dan dari situ segalanya berubah.
Kalau pelakunya punya wajah yang simetris, rahang yang tegas, atau mata yang dalam, tiba-tiba muncul komentar-komentar seperti:
"Kok ganteng gini bisa jahat sih?"
"Sayang banget, padahal keliatannya baik."
"Kasian, pasti ada yang salah di masa lalunya."
Tapi kalau pelakunya punya wajah yang, katakanlah, kurang beruntung secara estetika? Komentar berubah drastis:
"Emang keliatan dari mukanya."
"Dasar, tampangnya aja udah kayak penjahat."
"Pantas."
Kasus yang sama. Tindakan yang sama. Tingkat kesalahan yang sama.
Tapi perlakuan moral kita? Berbeda seratus delapan puluh derajat.
Para psikolog menyebutnya Halo Effect, sebuah bias kognitif di mana kesan positif terhadap satu aspek seseorang, dalam hal ini penampilan fisik, secara otomatis menciptakan asumsi positif terhadap aspek lainnya seperti karakter, niat, dan kelayakan mendapat belas kasihan.
Singkatnya: otak kita secara tidak sadar percaya bahwa orang yang menarik adalah orang yang baik.
Dan kebalikannya juga berlaku. Orang yang tidak menarik secara visual dianggap lebih pantas menerima hal buruk, lebih sedikit mendapat pembelaan, dan lebih cepat divonis bersalah sebelum diadili.
Ini bukan teori pinggiran. Ini sudah diteliti berkali-kali.
Dalam berbagai studi, terdakwa yang dinilai lebih menarik secara fisik cenderung mendapat hukuman lebih ringan. Pengemis yang berpenampilan lebih rapi dan bersih mendapat lebih banyak uang. Anak-anak yang dianggap "lucu" mendapat lebih banyak perhatian dari guru. Kandidat kerja yang lebih menarik lebih sering dipanggil wawancara meski kualifikasi sama.
Kita hidup dalam dunia di mana ketampanan adalah mata uang sosial yang diam-diam berlaku di semua sektor kehidupan, termasuk di meja pengadilan moral kita sendiri.
Ambil contoh sederhana yang kita semua pernah alami.
Kamu sedang berjalan di pusat kota. Ada dua pengemis duduk bersebelahan di trotoar.
Pengemis pertama: seorang wanita muda, wajahnya bersih, matanya sendu, pakaiannya lusuh tapi entah kenapa tetap ada aura memelas yang menyentuh. Rambutnya berantakan tapi tidak acak-acakan. Ada sesuatu yang... fotogenik dari penderitaannya.
Pengemis kedua: seorang pria tua, kulitnya gelap dan keriput, giginya ompong, bajunya kotor berlapis-lapis, dan bau tubuhnya terasa dari jarak dua meter.
Sekarang tanya dirimu sendiri dengan jujur: siapa yang lebih mungkin kamu beri uang?
Kalau jawabanmu adalah yang pertama, kamu tidak sendirian. Hampir semua orang akan melakukan hal yang sama. Dan ini bukan karena kamu jahat. Ini karena otakmu bekerja persis seperti yang sudah diprogramkan oleh evolusi dan budaya selama ribuan tahun: respons empati kita lebih mudah terpicu oleh hal-hal yang secara visual kita anggap menarik atau tidak mengancam.
Tapi coba pikir lagi.
Pria tua itu mungkin punya kisah yang jauh lebih berat. Mungkin dia mantan buruh yang tangannya sudah tidak kuat lagi bekerja. Mungkin dia tidak punya keluarga. Mungkin kebutuhannya jauh lebih mendesak dari wanita muda tadi.
Tapi kita tidak sampai ke sana. Karena mata kita sudah memutuskan lebih dulu sebelum hati sempat berbicara.
Yang lebih menarik, dan lebih menggelisahkan, adalah betapa konsistennya standar ganda ini berlaku di hampir semua lini.
Di media sosial: konten yang sama, engagement berbeda, tergantung seberapa menarik wajah yang ada di thumbnail-nya.
Di tempat kerja: kesalahan yang sama, konsekuensi berbeda, tergantung siapa yang melakukannya dan bagaimana penampilannya.
Di pengadilan publik Twitter atau Instagram: orang yang sama-sama melakukan kesalahan akan mendapat tsunami hate yang berbeda volumenya, bergantung pada seberapa "layak dibenci" tampang mereka menurut selera massa.
Di kehidupan romantis: kita sering berkata ingin pasangan yang baik hati, jujur, dan setia. Tapi ketika orang baik hati itu tidak memenuhi standar estetika kita, tiba-tiba semua kualitas itu tidak terasa cukup.
Kita bilang kita menilai dari dalam. Tapi perilaku kita berkata sebaliknya.
Inilah yang paling mengkhawatirkan dari semua ini.
Ketika moralitas kita hanya aktif untuk orang-orang yang enak dipandang, maka moralitas itu bukan lagi prinsip. Ia hanya menjadi aksesori sosial. Sesuatu yang kita pakai saat konteksnya menguntungkan, dan kita tanggalkan saat objeknya tidak memenuhi selera kita.
Kita marah pada ketidakadilan, tapi hanya kalau korbannya cantik.
Kita membela yang lemah, tapi hanya kalau yang lemah itu fotogenik.
Kita mengutuk pelaku kejahatan, tapi kekuatan kutukan kita naik turun mengikuti skala ketampanan si pelaku.
Ini bukan moralitas. Ini estetika yang menyamar sebagai moralitas.
Dan yang paling berbahaya adalah kita jarang sekali menyadarinya. Karena bias ini bekerja di bawah permukaan, di lapisan bawah sadar yang tidak terjangkau oleh introspeksi biasa.
Bukan bermaksud menggurui. Tapi ada beberapa pertanyaan yang mungkin worth untuk kita tanyakan ke diri sendiri sesekali:
Satu. Sebelum bereaksi terhadap seseorang, baik itu simpati maupun kemarahan, tanya dulu: apakah reaksimu ini akan sama jika orangnya berbeda penampilan?
Dua. Ketika kamu merasa iba, tanya: apakah ibamu ini karena kondisi mereka yang memang menyedihkan, atau karena mereka terlihat menyedihkan dengan cara yang estetik?
Tiga. Ketika kamu marah pada seseorang, tanya: apakah kemarahanmu ini proporsional dengan kesalahannya, atau dengan tampangnya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak akan langsung mengubah bias yang sudah tertanam bertahun-tahun. Tapi setidaknya, mereka bisa membuat kita sedikit lebih jujur tentang cara kerja hati kita sendiri.
30 Hari Menulis Buruk
Hari Ke-26

Tidak ada komentar:
Posting Komentar