Pengikut

Rabu, 04 Maret 2026

LELUCON PARA KORUPTOR


 Di negeri ini, ada satu profesi yang tidak pernah sepi peminat: koruptor. Bukan karena gajinya besar meskipun itu memang salah satu bonusnya tetapi karena ia menawarkan sesuatu yang lebih berharga dari uang: rasa aman. Koruptor yang tertangkap pun masih sempat senyum-senyum di depan kamera. Koruptor yang masuk bui masih bisa pesan rendang. Koruptor yang sudah bebas, masih bisa nyaleg. Sungguh profesi yang luar biasa ketahanannya.

Dan kita rakyat jelata yang tiap hari antre bayar pajak, tilang, dan BPJS tertawa. Kita tertawa karena kalau tidak tertawa, kita akan menangis. Dan kalau kita menangis terus, nanti dikira cengeng.

Inilah kisah-kisah dari balik tirai lelucon itu.

Korupsi adalah seni. Dan seperti seni pada umumnya, ia butuh nama yang indah.

Koruptor kelas teri menyebutnya "uang lelah." Koruptor kelas menengah menyebutnya "fee koordinasi." Koruptor kelas kakap menyebutnya "biaya operasional yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara administratif namun sangat diperlukan demi kelancaran pelayanan publik." Panjang memang. Tapi itulah yang disebut kalimat eufemisme tingkat tinggi semakin panjang kalimatnya, semakin besar kemungkinan perbuatannya.

Ada seorang pejabat yang pernah dengan bangganya berkata dalam sebuah rapat terbatas: "Saya tidak pernah korupsi. Saya hanya mengoptimalkan alokasi anggaran untuk kepentingan pribadi yang secara tidak langsung berdampak pada stabilitas ekonomi keluarga saya, yang sebagaimana diketahui, merupakan unit terkecil dari masyarakat bangsa ini."

Semua yang hadir diam. Bukan karena tidak setuju. Tapi karena kagum. Betapa briliannya cara berpikir manusia ini. Mungkin ia seharusnya jadi filsuf, bukan pejabat.

Di negeri ini, bahasa adalah senjata paling ampuh. Bukan senjata api, bukan suap karena suap itu kasar bunyinya tetapi bahasa. Dengan bahasa yang tepat, seorang pencuri bisa menjadi korban sistem. Dengan bahasa yang tepat, penjara bisa terasa seperti retret spiritual.

Saya pernah bertemu seorang bapak tua yang wajahnya teduh, suaranya lembut, dan tangannya ternyata cukup lincah memindahkan dana negara ke rekening pribadi. Ia adalah mantan kepala dinas yang sudah pensiun dengan tenang, tinggal di rumah berlantai tiga, dan rajin mengisi pengajian setiap Jumat.

"Mas," katanya sambil menyeruput teh, "korupsi itu seperti makan nasi. Wajar. Yang tidak wajar itu kalau kamu makan nasi dua karung sehari. Itu namanya serakah. Saya dulu hanya ambil secukupnya. Ambil yang tidak terlalu kelihatan. Tidak sampai bikin rakyat lapar. Paling-paling cuma bikin mereka sedikit kurang kenyang."

Saya mengangguk pura-pura mengerti. Padahal dalam hati saya bertanya: siapa yang menentukan batas "secukupnya" itu? Apakah ada takaran resmi? Apakah KPK mengeluarkan timbangan untuk ini?

"Yang paling penting," lanjutnya dengan wajah bijak, "jangan sampai ketahuan. Bukan karena malu-malu itu untuk orang lain tapi karena kalau ketahuan, kamu tidak bisa lagi berbuat baik untuk masyarakat. Bayangkan kalau semua pejabat yang korupsi masuk penjara. Siapa yang akan mengurus negara ini? Tentu saja pejabat yang belum korupsi. Dan itu artinya mereka baru akan mulai korupsi. Jadi sistemnya sama saja, hanya pemainnya yang ganti."

Ada logika aneh yang membuat kepala saya pening. Tapi saya tidak bisa membantah. Karena di negeri ini, yang pening sering kali kalah debat dengan yang percaya diri.

Ada satu ritual yang tidak boleh dilewatkan ketika seorang koruptor masuk pengadilan: menangis.

Bukan sembarang tangis. Ini adalah tangis yang terlatih, terstruktur, dan punya narasi. Tangis koruptor adalah sebuah pertunjukan seni tersendiri, dan seperti semua pertunjukan, ia punya elemen-elemen dramatik yang wajib ada.

Pertama, ada tangis penyesalan umum. Ini biasanya muncul di awal sidang. Terdakwa menunduk, bahu berguncang, menyeka mata dengan tisu-tisu yang harganya lebih mahal dari UMR mingguan buruh pabrik. "Saya menyesal," katanya lirih. Menyesal apa? Menyesal korupsi, atau menyesal ketahuan? Itu tidak pernah dijelaskan lebih lanjut.

Kedua, ada tangis keluarga. Ini adalah jurus paling ampuh. "Saya tidak memikirkan diri sendiri. Saya melakukan ini demi anak-anak saya, demi masa depan mereka." Luar biasa. Anak-anak yang dimaksud, sebagaimana tertera dalam berkas kasus, adalah mereka yang sudah kuliah di luar negeri, naik mobil mewah, dan liburan ke Eropa tiga kali setahun. Masa depan memang harus direncanakan sejak dini.

Ketiga dan ini yang paling spektakuler adalah tangis pengabdian. "Saya sudah puluhan tahun mengabdi untuk negara ini. Saya berkorban. Gaji saya tidak cukup untuk menghidupi keluarga." Negara mendengar ini. Rakyat mendengar ini. Dan rakyat yang gajinya sepertiga gaji sang pejabat pun duduk diam, karena entah mengapa, air mata koruptor selalu terasa lebih meyakinkan dari air mata mereka yang benar-benar miskin.

Pertunjukan selesai. Hakim mengetuk palu. Vonis dijatuhkan biasanya lebih ringan dari yang dituntut jaksa dan sang koruptor meninggalkan ruang sidang dengan wajah yang sudah kering airmatanya, melangkah tenang menuju sel yang, kata beberapa laporan, dilengkapi dengan kasur empuk, kulkas kecil, dan kadang-kadang, koneksi internet.

Kalau ada yang bertanya kepada seorang koruptor, "Apa yang paling kamu takuti dari penjara?" maka jawabannya bukan: kesepian, kekerasan, atau hilangnya kebebasan. Jawabannya adalah: "Tidak ada WiFi yang stabil."

Di negeri ini, penjara bagi koruptor adalah sebuah institusi yang penuh ambiguitas. Ia adalah hukuman, ya. Tapi ia juga adalah bagaimana menyebutnya liburan yang agak tidak menyenangkan. Bukan menyiksa, hanya sedikit merepotkan.

Ada koruptor yang di dalam penjara masih bisa menjalankan bisnis. Ada yang masih bisa menerima tamu layaknya kantor. Ada yang rambutnya lebih terawat di dalam bui daripada kebanyakan orang di luar. Penjara, bagi mereka, adalah tempat pensiun dini yang tidak terlalu buruk hanya lokasinya saja yang kurang strategis.

Seorang mantan narapidana korupsi pernah bercerita dengan santai: "Di dalam, saya justru bisa mikir dengan tenang. Tidak ada rapat, tidak ada deadline proyek, tidak ada wartawan yang ngejar-ngejar. Damai sekali. Saya sampai sempat nulis buku."

Bukunya laris. Judulnya: Perjalanan Hidup Seorang Abdi Negara yang Terzalimi. Blurbnya ditulis oleh beberapa tokoh nasional yang dengan bangga menyebutnya sebagai "kisah inspiratif tentang keteguhan iman di tengah cobaan." Buku itu, tentu saja, tidak menyebut-nyebut soal dana yang raib, jembatan yang tidak jadi dibangun, atau anak-anak sekolah yang selama bertahun-tahun belajar di gedung yang hampir roboh.

Yang paling mengagumkan dari koruptor di negeri ini adalah kemampuan regenerasinya. Seperti tokek yang ekornya putus dan tumbuh kembali, koruptor yang sudah dihukum pun bisa kembali kembali ke panggung, kembali ke jabatan, kembali ke lingkaran kekuasaan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Bebas dari penjara. Disambut dengan bunga. Foto bersama keluarga dengan senyum lebar. Wawancara eksklusif. "Saya sudah menjalani hukuman. Saya sudah tobat. Saya siap mengabdi kembali untuk bangsa."

Dan anehnya, bangsa menerima. Dengan berbagai dalih: "Dia sudah berubah." "Manusia bisa berubah." "Dia punya pengalaman." "Lebih baik yang sudah tahu cara kerjanya daripada yang baru belajar."

Ya, pengalaman. Betul sekali. Pengalaman korupsi adalah salah satu kualifikasi tidak tertulis yang paling berharga di negeri ini. Ia membuktikan bahwa yang bersangkutan punya jaringan, punya nyali, dan yang paling penting punya kemampuan untuk bertahan dari sistem.

Maka ia pun mencalonkan diri lagi. Kampanye. Spanduk. Bagi-bagi sembako. Dan rakyat yang dulu menjadi korbannya yang jembatannya tidak jadi dibangun, yang sekolahnya masih bocor, yang puskesmasnya masih kekurangan obat datang mengantri dengan senyum, menerima amplop, dan mencoblos namanya.

Ini bukan tragedi. Ini komedi. Komedi gelap, tapi komedi.

Ada satu hal yang sangat menarik dari koruptor: mereka punya kode etik sendiri. Dan mereka sangat tersinggung kalau kode etik itu dilanggar.

Seorang koruptor senior pernah marah besar ketika juniornya ketahuan mengambil uang proyek terlalu banyak hingga proyek benar-benar tidak bisa berjalan. "Ini tidak profesional!" hardiknya. "Kalau proyeknya tidak jalan, nanti kita semua ketahuan. Ambil secukupnya, jangan ambisius!"

Ada juga koruptor yang sangat menjunjung tinggi satu nilai: loyalitas. Ia tidak akan pernah berkhianat terhadap rekan korupsinya. Ia bisa saja mengambil uang negara, tapi ia tidak akan pernah mengambil jatah teman. "Saya memang koruptor," katanya dengan wibawa, "tapi saya bukan pengkhianat."

Sungguh mulia. Di negeri ini, ada koruptor yang lebih setia kawan dari kebanyakan orang jujur.

Dan yang paling konyol: ada koruptor yang sangat anti terhadap korupsi kecil-kecilan. "Saya paling tidak suka lihat orang nyogok polisi lima puluh ribu. Tidak punya harga diri. Kalau mau korupsi, yang serius. Jangan malu-maluin!"

Di suatu daerah, saya mendengar cerita dari seorang guru tua yang mengajar di sebuah sekolah dasar. Ia bercerita tentang muridnya yang dengan polos menjawab pertanyaan di kelas:

"Apa cita-citamu?"

"Mau jadi pejabat, Bu."

"Bagus. Pejabat apa?"

"Yang bisa korupsi sedikit-sedikit, Bu. Biar tidak ketahuan."

Guru itu tidak tahu harus marah atau tertawa. Ia memilih diam. Karena dari mana anak itu belajar, kalau bukan dari dunia yang ia lihat setiap hari?

Korupsi di negeri ini bukan hanya soal uang. Ia sudah menjadi cara pandang. Cara pandang bahwa kekuasaan adalah kesempatan. Bahwa jabatan adalah investasi. Bahwa aturan adalah hambatan yang bisa disiasati dengan harga yang tepat. Dan cara pandang ini, seperti bahasa ibu, diwariskan dari generasi ke generasi bukan dengan diajarkan, melainkan dengan dipertontonkan.

Anak yang tumbuh melihat ayahnya pulang membawa uang dari proyek fiktif. Anak yang tumbuh melihat ibunya menitipkan amplop untuk memperlancar urusan. Anak yang tumbuh di lingkungan di mana yang kaya adalah yang pandai bermain bukan yang pandai bekerja. Anak itu akan tumbuh dan berpikir: begitulah cara dunia bekerja.

Maka kembalilah kita pada tawa.

Kita tertawa pada lelucon-lelucon koruptor. Kita share meme tentang pejabat yang terpidana tapi masih bisa pesan catering mewah di lapas. Kita bikin jokes tentang vonis yang terasa lebih seperti hadiah liburan. Kita tertawa di Twitter, di grup WhatsApp, di warung kopi tawa kita riuh, ramai, dan kadang-kadang sangat lucu.

Tapi kalau tawa itu berhenti, apa yang tersisa?

Yang tersisa adalah sekolah yang atapnya bocor karena dana renovasi disunat. Yang tersisa adalah jalan desa yang berlubang-lubang karena kontraktor main mata dengan pejabat. Yang tersisa adalah ibu yang anaknya tidak bisa berobat karena obat-obatan di puskesmas entah ke mana. Yang tersisa adalah petani yang tidak dapat pupuk bersubsidi karena subsidinya sudah berubah wujud menjadi villa di Bali.

Korupsi bukan lelucon. Tapi kita membutuhkan lelucon untuk bisa membicarakannya. Humor adalah cara manusia menghadapi hal-hal yang terlalu menyakitkan untuk dihadapi secara langsung. Seperti anak kecil yang menertawakan setan karena takut gelap, kita menertawakan koruptor karena takut pada kenyataan bahwa mereka dan sistem yang melindungi mereka lebih kuat dari kita.

Kita tertawa. Dan dalam tawa itu, tersimpan rasa malu yang tidak kita akui: bahwa kita juga bagian dari sistem ini. Bahwa kita yang diam ketika melihat ketidakadilan, kita yang memilih pragmatis daripada benar, kita yang beralasan "sudah dari dulu begini" dan "mau bagaimana lagi" kita pun adalah bagian dari cerita ini.


30 Hari Menulis Buruk 

Hari ke-14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar