Pengikut

Rabu, 18 Maret 2026

Saat Uang Melunasi Rindu yang Tak Pernah Ada


 Ada sebuah ironi yang setiap tahun terasa seperti luka lama yang dibuka kembali tepat di hari-hari menjelang Lebaran. Bukan soal macet di jalan tol, bukan soal harga tiket yang mencekik, dan bukan pula soal kelelahan fisik setelah bekerja keras sepanjang tahun. Ironi itu berbentuk sebuah pesan singkat, masuk di sela-sela notifikasi pekerjaan yang belum selesai: "Eh, THR-nya kapan dikirim?"

Pesan itu datang dari nomor yang sudah lama tidak muncul di layar. Dari nama yang terakhir kali menghubungi mungkin setahun lalu dan itu pun hanya untuk urusan yang sama. Dan yang paling menyakitkan, selama dua belas bulan penuh sebelumnya, tidak satu pun pesan dari nomor yang sama berbunyi: "Kamu sehat?" atau "Gimana kerjaan di sana?" atau bahkan sekadar "Lagi ngapain?"

Menjadi perantau bukan sekadar perkara pindah kota. Ia adalah sebuah proses panjang belajar menjadi asing di tempat baru maupun, secara perlahan, di rumah lama. Kamu bangun pagi di kamar kos yang langit-langitnya mengelupas. Kamu masak nasi di rice cooker yang dibeli dari tabungan dua minggu. Kamu berangkat kerja dengan angkot yang penuh, atau motor yang hujan-hujanan, atau kereta yang berjejal seperti sarden. Kamu pulang malam, makan sisa, dan tidur dengan alarm yang sudah disetel untuk besok pagi yang sama.

Selama itu, tidak ada yang benar-benar menanyakan bagaimana rasanya. Tidak ada yang tahu bahwa kamu sempat demam tiga hari dan pergi ke klinik sendirian. Tidak ada yang tahu bahwa atasanmu minggu lalu memarahimu di depan rekan kerja dan kamu menangis di toilet. Tidak ada yang tahu bahwa kamu sudah menolak beberapa ajakan teman karena budget makan siang saja sudah tipis.

Tapi mereka tahu satu hal: lebaran sudah dekat.

Dalam kultur kita, Tunjangan Hari Raya bukan sekadar kewajiban hukum antara karyawan dan perusahaan. Ia telah berubah menjadi semacam lembaga sosial sebuah ekspektasi tak tertulis bahwa siapa pun yang bekerja di kota wajib membawa pulang "rezeki berlebih" untuk keluarga di kampung. Dan di sinilah persoalannya bukan lagi tentang uang, melainkan tentang bagaimana uang itu diminta.

Ketika seseorang yang dua belas bulan absen dari hidupmu tiba-tiba muncul hanya demi menagih sesuatu, ada rasa yang sulit dijelaskan. Bukan murka, bukan benci tapi sesuatu yang lebih pelan dan lebih dalam. Semacam kesedihan yang dingin. Perasaan bahwa keberadaanmu di mata mereka hanya relevan sejauh kemampuanmu mengisi amplop.

Dalam kultur kita, Tunjangan Hari Raya bukan sekadar kewajiban hukum antara karyawan dan perusahaan. Ia telah berubah menjadi semacam lembaga sosial sebuah ekspektasi tak tertulis bahwa siapa pun yang bekerja di kota wajib membawa pulang "rezeki berlebih" untuk keluarga di kampung. Dan di sinilah persoalannya bukan lagi tentang uang, melainkan tentang bagaimana uang itu diminta.

Ketika seseorang yang dua belas bulan absen dari hidupmu tiba-tiba muncul hanya demi menagih sesuatu, ada rasa yang sulit dijelaskan. Bukan murka, bukan benci tapi sesuatu yang lebih pelan dan lebih dalam. Semacam kesedihan yang dingin. Perasaan bahwa keberadaanmu di mata mereka hanya relevan sejauh kemampuanmu mengisi amplop.

Pertanyaan ini pasti muncul: kenapa tidak pernah menelepon duluan? Kenapa tidak lebih rajin menghubungi? Pertanyaan yang adil tapi yang sering lupa dipertimbangkan adalah: komunikasi itu dua arah. Seorang perantau yang bekerja enam hari seminggu, yang kelelahan ketika pulang, yang kadang-kadang tidak punya kuota, yang juga punya kesepian dan beban yang tidak bisa diceritakan begitu saja ia juga manusia yang butuh diinisiasi. Butuh ditanya duluan.

Bukan karena manja. Tapi karena ada kalanya yang paling butuh dukungan justru adalah orang yang terlihat paling "pergi mengejar mimpi." Dan ketika tidak ada yang menanyakan, perantau belajar menelan segalanya sendiri. Ia tidak mengeluh karena tidak ada yang bertanya. Ia tidak bercerita karena tidak ada yang membuka ruang. Dan ironisnya, ketika ia diam selama sebelas bulan, itu dianggap tanda bahwa ia baik-baik saja padahal bisa jadi ia hanya tidak mau merepotkan.

Perlu ada kejujuran di sini: tidak semua keluarga tahu cara menunjukkan perhatian. Banyak yang tumbuh dalam budaya di mana perasaan tidak diucapkan dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan dan kadang, perbuatan itu pun salah arah. Ada yang mengekspresikan kepedulian dengan mengontrol, ada yang menunjukkan sayang dengan mengkritik, dan ada yang membuktikan bahwa kamu "masih diingat" dengan cara menagih sesuatu dari kamu.

Ini bukan pembenaran. Ini hanya konteks. Karena memahami sesuatu tidak berarti menerimanya begitu saja tanpa rasa sakit.

Yang menyakitkan tetaplah menyakitkan. Bahwa kamu bisa mengerti alasannya, tidak membuat dadamu terasa lebih lapang ketika membaca pesan itu di layar. Kamu tetap berhak merasa lelah. Kamu tetap berhak merasa sedih.

Ada sebuah dilema yang berdiam di setiap perantau yang pernah mengalami ini: apakah aku tetap memberi?

Sebagian besar memilih iya bukan karena takut, bukan karena tertekan, tapi karena jauh di dalam sana, mereka masih menyayangi. Karena bagaimanapun, ikatan darah tidak bisa diselesaikan dengan logika semata. Dan memberi dalam kondisi seperti ini justru adalah bentuk cinta yang paling matang cinta yang sudah melewati kekecewaan, yang sudah kenal wajah asli seseorang, tapi tetap memilih untuk peduli.

Tapi ada juga yang perlu diingat: memberi bukan berarti kamu tidak berhak bersuara. Kamu boleh, suatu saat, ketika momen terasa tepat, mengatakan dengan lembut: "Aku rindu ditanya kabar, bukan cuma kabar transferan." Bukan untuk menyalahkan. Tapi karena hubungan yang sehat dibangun di atas komunikasi, bukan asumsi.

Jika kamu sedang membaca ini sambil menatap layar ponsel yang menampilkan pesan semacam itu kamu tidak sendiri. Jutaan orang di kota-kota besar di seluruh negeri merasakan hal yang persis sama. Mereka yang bekerja jauh dari rumah, yang mengorbankan waktu dan energi, yang sudah belajar berdiri sendiri karena tidak ada pilihan lain dan di ujung tahun, harus menelan kenyataan pahit bahwa untuk sebagian orang, nilai mereka diukur dari seberapa tebal amplop yang mereka bawa.

Kamu tidak harus berpura-pura bahagia. Kamu tidak harus langsung memaafkan. Tapi kamu juga tidak harus menyimpan kepahitan itu selamanya. Beri dirimu waktu untuk merasa dan kemudian, pelan-pelan, pilih jalan yang paling damai untukmu dan untuk hubungan itu.


30 Hari Menulis Buruk

Hari Ke-28

Tidak ada komentar:

Posting Komentar