Ketika kita melihat sejarah dunia modern, pola yang sama terus berulang: negara-negara paling berkuasa di dunia justru sering menjadi pelaku tindakan yang paling tidak bermoral di panggung global. Amerika Serikat dan Israel adalah dua studi kasus yang sempurna untuk membedah pertanyaan ini secara jujur dan utuh.Bukan karena rakyatnya jahat. Bukan karena setiap individu di dalamnya adalah monster. Tapi karena sistem kekuasaan memiliki logikanya sendiri, dan logika itu hampir selalu menghasilkan kesimpulan yang sama: yang bertahan di puncak adalah mereka yang paling rela menginjak orang lain untuk naik.
Amerika Serikat membangun identitasnya di atas narasi yang sangat kuat: the land of the free, pelindung demokrasi, cahaya bagi dunia yang gelap. Tapi di balik narasi itu, terdapat arsitektur kekuasaan yang bekerja dengan logika Frank Underwood yang pernah kita kenal dari House of Cards.
Frank pernah berkata, "The road to power is paved with hypocrisy, and casualties." Tidak ada kalimat yang lebih tepat untuk menggambarkan kebijakan luar negeri Amerika sepanjang abad ke-20 dan ke-21.
Ambil satu contoh: Amerika mengklaim dirinya sebagai penjaga demokrasi global. Tapi pada saat yang sama, CIA-nya menggulingkan Mohammad Mosaddegh di Iran tahun 1953, seorang pemimpin demokratis yang terpilih secara sah, hanya karena dia berani menasionalisasi minyak yang selama ini dinikmati oleh perusahaan-perusahaan Barat. Hasilnya? Syah Iran yang otoriter didudukkan kembali di singgasananya. Rakyat Iran menderita. Dan Amerika mendapatkan minyaknya.
Inilah virtù ala Machiavelli yang bekerja di skala negara.
Machiavelli menulis bahwa seorang penguasa harus bisa menjadi singa untuk menakut-nakuti musuh, dan rubah untuk menghindari perangkap. Amerika secara sempurna mempraktikkan keduanya. Menjadi singa melalui kekuatan militer yang tak tertandingi, dengan anggaran pertahanan yang melampaui gabungan sepuluh negara berikutnya. Menjadi rubah melalui lembaga-lembaga seperti IMF, World Bank, dan perjanjian dagang yang dirancang sedemikian rupa sehingga keuntungannya selalu mengalir ke utara.
Perang Vietnam membunuh lebih dari tiga juta orang Vietnam. Invasi Irak tahun 2003 yang didasarkan pada kebohongan soal weapons of mass destruction yang tidak pernah ditemukan, menewaskan ratusan ribu warga sipil dan menciptakan kondisi yang kemudian melahirkan ISIS. Afghanistan ditinggalkan begitu saja setelah dua dekade perang, meninggalkan negara yang lebih hancur dari sebelumnya.
Setiap kali Amerika melakukan ini, mesin narasi raksasanya langsung bekerja. Media dikontrol, framing diputar: ini bukan pembunuhan massal, ini collateral damage. Ini bukan imperialisme, ini nation building. Ini bukan eksploitasi sumber daya, ini spreading freedom.
Frank Underwood akan bangga.
Orang-orang yang duduk di puncak kekuasaan Amerika bukan orang-orang naif yang tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka tahu. Mereka memilih untuk tetap melakukannya karena di dalam logika sistem kekuasaan yang mereka operasikan, empati adalah kemewahan yang tidak bisa mereka bayar. Yang tersisa di puncak adalah mereka yang sudah lama meninggalkan kemewahan itu di bawah tangga menuju kekuasaan.
30 Hari Menulis Buruk
Hari ke-11

Tidak ada komentar:
Posting Komentar