Kita semua pernah mendengar petuah ini, entah dari nenek yang sedang mengupas singkong di teras rumah, entah dari ustad di pengajian malam Jumat, entah dari teman kantor yang tiba-tiba jadi filsuf setelah nonton video TikTok berdurasi 30 detik. Katanya begini: "Hati-hati, kalau kamu berbuat jahat, di kehidupan selanjutnya bisa terlahir jadi anjing." Kalimat ini biasanya diucapkan dengan nada serius, mata sedikit memicing, dan jari telunjuk teracung ke depan seolah-olah si penutur sedang memegang ijazah dari universitas akhirat.
Saya tidak tahu persis dari mana doktrin ini berasal. Apakah dari kitab suci tertentu, dari ajaran spiritual kuno, atau dari curhatan seseorang yang pernah bermimpi jadi Golden Retriever dan terbangun dengan perasaan campur aduk. Tapi yang jelas, narasi "berbuat jahat sama dengan jadi anjing" ini sudah menancap begitu dalam di benak masyarakat kita. Begitu dalamnya, sampai-sampai setiap kali ada anjing liar lewat di depan warung, pasti ada saja yang bergumam, "Kasihan, dulu mungkin dia koruptor."
Dalam berbagai tradisi spiritual, karma kurang lebih berfungsi seperti sistem poin loyalitas di supermarket, hanya saja jauh lebih serius dan tidak bisa ditukarkan dengan piring cantik. Setiap perbuatan baik menambah poin, setiap perbuatan buruk menguranginya. Di akhir "permainan" alias kehidupan ini poin-poin tersebut dihitung, dijumlahkan, mungkin diaudit oleh semacam BPK kosmis, dan hasilnya menentukan posisi Anda di kehidupan selanjutnya.
Kalau poin Anda bagus? Selamat, Anda bisa terlahir kembali sebagai manusia, mungkin dengan bonus berupa wajah tampan, keluarga kaya, atau minimal lahir di negara yang cuacanya tidak bikin gerah sepanjang tahun. Tapi kalau poin Anda jeblok? Bersiaplah. Anda mungkin kembali sebagai seekor anjing. Atau kambing. Atau, kalau perbuatan Anda benar-benar keterlaluan, mungkin nyamuk yang umurnya cuma dua minggu.
Bayangkan betapa brutalnya sistem ini kalau benar adanya. Tidak ada banding. Tidak ada pengacara karma. Tidak ada proses mediasi di mana Anda bisa bilang, "Pak Hakim Semesta, saya memang pernah mencuri ayam tetangga, tapi itu karena saya lapar, dan ayamnya juga sudah tua, kakinya pincang, dagingnya pasti alot." Tidak. Karma bekerja otomatis, tanpa ampun, seperti tilang elektronik di jalan tol.
Karma itu seperti internet tidak pernah lupa. Kamu bisa hapus riwayat browser, tapi alam semesta punya screenshot-nya.
Kenapa anjing? Dari sekian banyak makhluk hidup di muka bumi ini dari cacing tanah sampai elang botak, dari kutu busuk sampai paus biru kenapa reinkarnasi versi "hukuman" selalu identik dengan jadi anjing?
Kalau dipikir-pikir, jadi anjing itu tidak seburuk yang dibayangkan, terutama kalau Anda terlahir sebagai anjing ras di rumah orang kaya Jakarta Selatan. Tidur di sofa empuk, makan makanan organik yang harganya lebih mahal dari makan siang pegawai kantoran, jalan-jalan sore di taman kota sambil pakai baju rajut yang di custom. Bahkan beberapa anjing punya akun Instagram dengan followers lebih banyak dari akun Anda. Itu hukuman dari mananya?
Masalahnya, tentu saja, narasi ini tidak membayangkan Anda terlahir sebagai Pomeranian manja di penthouse Sudirman. Yang dibayangkan adalah anjing kampung. Yang kurus. Yang tidur di kolong pos ronda. Yang dikejar-kejar tukang sate karena dituduh mencuri tusuk sate padahal belum tentu, mungkin dia cuma penasaran. Anjing jenis inilah yang konon merupakan jelmaan manusia-manusia berdosa di kehidupan sebelumnya.
Dan di sinilah ironi pertama muncul. Jika kita benar-benar percaya bahwa anjing-anjing kampung itu adalah mantan manusia berdosa, maka seharusnya kita memperlakukan mereka dengan lebih baik, bukan? Karena secara teknis, mereka sedang menjalani hukuman. Mereka sudah menderita. Melempar batu ke anjing kampung yang sedang mencari makan di tempat sampah itu sama saja dengan menambah hukuman orang yang sudah dipenjara. Kejam sekali.
Jika anjing kampung benar-benar mantan koruptor, maka setiap kali kamu kasih sisa nasi bungkus ke mereka, secara tidak langsung kamu sedang melakukan program rehabilitasi kosmis. Kamu adalah LSM akhirat.
Yang membuat teori reinkarnasi ini semakin menarik dan semakin absurd adalah ketika orang mulai membuat katalog lengkap: dosa jenis apa menghasilkan binatang jenis apa. Ini seperti menu restoran, tapi untuk neraka biologis.
Koruptor? Jadi anjing. Tukang tipu? Jadi ular. Orang yang suka bergosip? Jadi burung beo selamanya mengulangi kata-kata tanpa makna. Orang yang malas? Jadi koala, tidur 22 jam sehari, yang mana sejujurnya terdengar seperti hadiah, bukan hukuman. Orang yang serakah? Jadi babi. Orang yang sombong? Jadi merak terlihat indah dari luar tapi suaranya menyebalkan.
Saya tidak tahu siapa yang menyusun katalog ini. Mungkin ada semacam komite lintas alam yang rapat setiap akhir pekan untuk memutuskan kategori-kategori baru. "Untuk orang yang double parking, kita jadikan apa?" "Kecoak. Final." "Oke, meeting selesai."
Tapi serius, kalau kita mengikuti logika ini sampai tuntas, maka seluruh kerajaan hewan pada dasarnya adalah penjara raksasa. Setiap burung pipit yang bertengger di kabel listrik punya backstory. Setiap cacing yang keluar setelah hujan adalah mantan seseorang. Setiap kucing yang menatapmu dengan tatapan dingin dan menghakimi mungkin dulunya adalah mantan atasanmu yang pernah menolak cuti tahunanmu tanpa alasan jelas.
Kalau semua binatang adalah mantan manusia berdosa, maka kebun binatang pada dasarnya adalah Lapas kelas kosmik dengan tiket masuk.
Bayangkan Anda benar-benar terlahir kembali sebagai anjing. Anda membuka mata, dan hal pertama yang Anda lihat adalah selokan. Bau got menyergap hidung Anda yang sekarang seribu kali lebih sensitif dari sebelumnya. Anda mencoba berdiri dan menyadari bahwa Anda punya empat kaki. Empat. Kaki. Anda bahkan belum pernah bisa mengkoordinasikan dua kaki dengan baik saat joget di pesta kantor, dan sekarang harus pakai empat.
Perlahan, ingatan kehidupan lalu mulai pudar. Anda lupa nama Anda, lupa password WiFi, lupa siapa yang menang Piala Dunia terakhir. Yang tersisa hanya naluri dasar: lapar, haus, dan keinginan yang tak tertahankan untuk mengejar kucing. Anda tidak tahu kenapa harus mengejar kucing. Tidak ada alasan logis. Tapi setiap kali kucing lewat, tubuh Anda bergerak sendiri. Mungkin ini bagian dari hukumannya.
Hari-hari berlalu. Anda belajar bertahan hidup. Makan nasi basi dari tempat sampah warung nasi Padang sudah terasa seperti fine dining. Anda berteman dengan anjing-anjing lain di kompleks mungkin mereka juga mantan manusia? Mungkin anjing cokelat yang suka tidur di depan minimarket itu dulunya seorang akuntan yang menggelapkan pajak. Mungkin anjing hitam yang galak di ujung gang itu mantan preman terminal. Tapi kalian tidak bisa saling bercerita karena, ya, kalian anjing. Komunikasi terbatas pada gonggongan dan kibasan ekor.
Dan yang paling menyiksa: Anda harus melihat manusia setiap hari. Manusia yang berjalan tegak, yang punya jempol oposabel, yang bisa membuka pintu tanpa harus menggonggong minta tolong. Anda melihat mereka makan bakso di warung dan Anda hanya bisa duduk di luar, menatap dengan mata basah, berharap ada sisa kuah yang ditumpahkan. Kalau ini bukan definisi dari neraka, saya tidak tahu apa lagi.
Kalau orang jahat jadi anjing, pertanyaan selanjutnya yang wajar adalah: orang baik jadi apa? Logikanya, kalau hierarki karma membentang dari cacing (paling berdosa) sampai manusia (paling beruntung), maka orang baik seharusnya terlahir kembali sebagai manusia yang lebih baik lagi. Atau mungkin naik tingkat menjadi makhluk yang lebih tinggi malaikat, dewa, atau minimal influencer dengan engagement rate tinggi.
Tapi ada teori informal yang beredar di kalangan emak-emak arisan bahwa orang baik bisa terlahir sebagai kucing. Kenapa kucing? Karena kucing hidupnya enak. Dijaga, dimanja, dikasih makan teratur, dan ini yang paling penting tidak pernah disuruh kerja. Kucing tidak punya KPI. Kucing tidak harus rapat Zoom jam delapan pagi. Kucing bisa tidur seharian dan tidak ada yang bilang dia pemalas. Kucing bisa menatap Anda dengan penuh penghinaan dan Anda justru merasa tersanjung.
Kalau teori ini benar, maka kucing pada dasarnya adalah level VIP dari reinkarnasi. Surga versi berbulu. Dan setiap kali Anda melihat kucing tidur dengan damai di atas bantal sambil terkena cahaya matahari sore, Anda sedang menyaksikan seseorang yang di kehidupan sebelumnya mungkin rutin sedekah, rajin membantu tetangga, dan tidak pernah sekalipun membuang sampah dari jendela mobil.
30 Hari Menulis Buruk
Hari Ke-29

Tidak ada komentar:
Posting Komentar