Pengikut

Jumat, 20 Maret 2026

Idealisme


 

Di sekolah, di kantor, di rumah… Kita sering ditanya pertanyaan yang sama: "Kamu udah sampai mana?"

Seolah hidup itu lomba lari. Dan semua orang harus finish di waktu yang sama. Realita. Yang cepat dibilang: "Beruntung. Pasti ada koneksi." Yang lambat dibilang: "Kurang usaha. Kurang ambisius." Dua-duanya kena. Dua-duanya nggak pernah cukup. Padahal masalahnya bukan di cepat atau lambatnya. Tapi di obsesi kita membandingkan.

Kita hidup di zaman di mana pencapaian orang lain bisa masuk ke layar kita setiap detik. Teman kuliah udah S2 di luar negeri. Teman SMA udah punya rumah. Teman main udah nikah, punya anak. Dan kamu? Masih mencari. Masih meraba. Masih bertanya-tanya.

Lalu muncul suara itu, "Aku tertinggal." "Aku nggak cukup baik." "Aku salah jalan." Suara yang pelan, tapi merusak. Suara yang nggak teriak, tapi menggerogoti. Tapi coba berhenti sebentar.

Siapa yang bikin aturan bahwa umur 25 harus sudah ini? Siapa yang bikin standar bahwa umur 30 harus sudah itu? Masyarakat? Media sosial? Tetangga yang suka nyinyir di arisan? Kamu bukan mereka. Dan mereka bukan kamu.

Jalur hidup itu bukan jalan tol yang lurus satu arah. Jalur hidup itu lebih seperti sungai. Kadang lebar, kadang sempit. Kadang deras, kadang tenang. Kadang lurus, kadang berkelok sampai kamu nggak tahu arah.

Tapi sungai selalu bergerak. Dan selama kamu masih bergerak, kamu nggak tertinggal. Masalah kita bukan soal kecepatan. Masalah kita adalah kebiasaan mengukur diri dengan penggaris orang lain.

Kamu pakai penggaris teman untuk ngukur hidupmu. Lalu heran kenapa hasilnya selalu kurang. Ya karena memang bukan penggarismu. Setiap orang punya titik mulai yang beda. Punya beban yang beda. Punya luka yang beda. Punya privilege yang beda.

Yang satu mulai dari garis start. Yang lain mulai dari belakang garis start sambil gendong beban. Lalu kamu bilang ini lomba yang adil? Ada yang umur 22 udah jadi CEO. Ada yang umur 40 baru nemu passion-nya.

Ada yang lulus kuliah tepat waktu. Ada yang nggak lulus tapi bikin sesuatu yang luar biasa. Ada yang karirnya meroket di usia muda. Ada yang butuh bertahun-tahun gagal sebelum akhirnya menemukan tempatnya. Semua valid. Semua sah.

Karena hidup bukan soal siapa duluan sampai. Tapi soal siapa yang tetap jalan meski nggak tahu kapan sampai. Kita terlalu sering meromantisasi kecepatan. Cepat lulus. Hebat. Cepat kaya. Sukses. Cepat nikah. Mapan.

Tapi nggak ada yang nanya. "Kamu bahagia nggak?" "Kamu sehat nggak?" "Kamu masih kenal dirimu sendiri nggak?" Karena ternyata banyak yang cepat sampai, tapi nggak tahu kenapa dia di sana. Banyak yang sudah di puncak, tapi merasa kosong.

Banyak yang terlihat punya segalanya, tapi diam-diam bertanya: ini yang aku mau? Kecepatan tanpa kesadaran itu berbahaya. Seperti naik mobil 200 km/jam tapi nggak tahu tujuannya ke mana. Cepat? Iya. Sampai? Mungkin. Ke tempat yang benar? Belum tentu.

Jadi buat kamu yang hari ini merasa lambat. Yang ngerasa ketinggalan. Yang ngerasa semua orang udah maju dan kamu masih di sini. Lambat bukan berarti gagal. Diam bukan berarti berhenti. Belum bukan berarti tidak akan.

Kamu yang hari ini masih belajar itu kemajuan. Kamu yang hari ini masih mencoba itu keberanian. Kamu yang hari ini masih bertahan itu kekuatan. Jangan remehkan proses hanya karena hasilnya belum terlihat. Pohon yang akarnya paling dalam butuh waktu paling lama untuk tumbuh. Tapi ketika tumbuh, dia yang paling kuat menghadapi badai.

Dan satu hal lagi. Berhenti minta validasi dari orang yang nggak pernah tahu ceritamu dari awal. Mereka cuma lihat hasilmu. Nggak pernah lihat prosesmu. Mereka cuma lihat posisimu sekarang. Nggak pernah lihat berapa kali kamu jatuh untuk sampai di situ.

Mereka cuma lihat apa yang kamu tunjukkan. Nggak pernah lihat apa yang kamu sembunyikan. Jadi buat apa harga dirimu ditentukan oleh orang yang cuma baca satu halaman dari buku hidupmu?

Hidup ini bukan kompetisi. Kalau pun iya, satu-satunya lawan yang layak adalah dirimu yang kemarin. Bukan tetangga. Bukan teman kuliah. Bukan mantan. Bukan orang di Instagram yang hidupnya terlihat sempurna. Karena yang kamu lihat di layar. Bukan cerita lengkapnya. Itu cuma highlight reel. Bukan behind the scenes.


30 Hari Menulis Buruk

Hari Ke-30

Kamis, 19 Maret 2026

Jahat Jadi Anjing

Kita semua pernah mendengar petuah ini, entah dari nenek yang sedang mengupas singkong di teras rumah, entah dari ustad di pengajian malam Jumat, entah dari teman kantor yang tiba-tiba jadi filsuf setelah nonton video TikTok berdurasi 30 detik. Katanya begini: "Hati-hati, kalau kamu berbuat jahat, di kehidupan selanjutnya bisa terlahir jadi anjing." Kalimat ini biasanya diucapkan dengan nada serius, mata sedikit memicing, dan jari telunjuk teracung ke depan seolah-olah si penutur sedang memegang ijazah dari universitas akhirat.

Saya tidak tahu persis dari mana doktrin ini berasal. Apakah dari kitab suci tertentu, dari ajaran spiritual kuno, atau dari curhatan seseorang yang pernah bermimpi jadi Golden Retriever dan terbangun dengan perasaan campur aduk. Tapi yang jelas, narasi "berbuat jahat sama dengan jadi anjing" ini sudah menancap begitu dalam di benak masyarakat kita. Begitu dalamnya, sampai-sampai setiap kali ada anjing liar lewat di depan warung, pasti ada saja yang bergumam, "Kasihan, dulu mungkin dia koruptor."

Dalam berbagai tradisi spiritual, karma kurang lebih berfungsi seperti sistem poin loyalitas di supermarket, hanya saja jauh lebih serius dan tidak bisa ditukarkan dengan piring cantik. Setiap perbuatan baik menambah poin, setiap perbuatan buruk menguranginya. Di akhir "permainan" alias kehidupan ini poin-poin tersebut dihitung, dijumlahkan, mungkin diaudit oleh semacam BPK kosmis, dan hasilnya menentukan posisi Anda di kehidupan selanjutnya.

Kalau poin Anda bagus? Selamat, Anda bisa terlahir kembali sebagai manusia, mungkin dengan bonus berupa wajah tampan, keluarga kaya, atau minimal lahir di negara yang cuacanya tidak bikin gerah sepanjang tahun. Tapi kalau poin Anda jeblok? Bersiaplah. Anda mungkin kembali sebagai seekor anjing. Atau kambing. Atau, kalau perbuatan Anda benar-benar keterlaluan, mungkin nyamuk yang umurnya cuma dua minggu.

Bayangkan betapa brutalnya sistem ini kalau benar adanya. Tidak ada banding. Tidak ada pengacara karma. Tidak ada proses mediasi di mana Anda bisa bilang, "Pak Hakim Semesta, saya memang pernah mencuri ayam tetangga, tapi itu karena saya lapar, dan ayamnya juga sudah tua, kakinya pincang, dagingnya pasti alot." Tidak. Karma bekerja otomatis, tanpa ampun, seperti tilang elektronik di jalan tol.

Karma itu seperti internet tidak pernah lupa. Kamu bisa hapus riwayat browser, tapi alam semesta punya screenshot-nya.

Kenapa anjing? Dari sekian banyak makhluk hidup di muka bumi ini dari cacing tanah sampai elang botak, dari kutu busuk sampai paus biru kenapa reinkarnasi versi "hukuman" selalu identik dengan jadi anjing?

Kalau dipikir-pikir, jadi anjing itu tidak seburuk yang dibayangkan, terutama kalau Anda terlahir sebagai anjing ras di rumah orang kaya Jakarta Selatan. Tidur di sofa empuk, makan makanan organik yang harganya lebih mahal dari makan siang pegawai kantoran, jalan-jalan sore di taman kota sambil pakai baju rajut yang di custom. Bahkan beberapa anjing punya akun Instagram dengan followers lebih banyak dari akun Anda. Itu hukuman dari mananya?

Masalahnya, tentu saja, narasi ini tidak membayangkan Anda terlahir sebagai Pomeranian manja di penthouse Sudirman. Yang dibayangkan adalah anjing kampung. Yang kurus. Yang tidur di kolong pos ronda. Yang dikejar-kejar tukang sate karena dituduh mencuri tusuk sate padahal belum tentu, mungkin dia cuma penasaran. Anjing jenis inilah yang konon merupakan jelmaan manusia-manusia berdosa di kehidupan sebelumnya.

Dan di sinilah ironi pertama muncul. Jika kita benar-benar percaya bahwa anjing-anjing kampung itu adalah mantan manusia berdosa, maka seharusnya kita memperlakukan mereka dengan lebih baik, bukan? Karena secara teknis, mereka sedang menjalani hukuman. Mereka sudah menderita. Melempar batu ke anjing kampung yang sedang mencari makan di tempat sampah itu sama saja dengan menambah hukuman orang yang sudah dipenjara. Kejam sekali.

Jika anjing kampung benar-benar mantan koruptor, maka setiap kali kamu kasih sisa nasi bungkus ke mereka, secara tidak langsung kamu sedang melakukan program rehabilitasi kosmis. Kamu adalah LSM akhirat.

Yang membuat teori reinkarnasi ini semakin menarik dan semakin absurd adalah ketika orang mulai membuat katalog lengkap: dosa jenis apa menghasilkan binatang jenis apa. Ini seperti menu restoran, tapi untuk neraka biologis.

Koruptor? Jadi anjing. Tukang tipu? Jadi ular. Orang yang suka bergosip? Jadi burung beo selamanya mengulangi kata-kata tanpa makna. Orang yang malas? Jadi koala, tidur 22 jam sehari, yang mana sejujurnya terdengar seperti hadiah, bukan hukuman. Orang yang serakah? Jadi babi. Orang yang sombong? Jadi merak terlihat indah dari luar tapi suaranya menyebalkan.

Saya tidak tahu siapa yang menyusun katalog ini. Mungkin ada semacam komite lintas alam yang rapat setiap akhir pekan untuk memutuskan kategori-kategori baru. "Untuk orang yang double parking, kita jadikan apa?" "Kecoak. Final." "Oke, meeting selesai."

Tapi serius, kalau kita mengikuti logika ini sampai tuntas, maka seluruh kerajaan hewan pada dasarnya adalah penjara raksasa. Setiap burung pipit yang bertengger di kabel listrik punya backstory. Setiap cacing yang keluar setelah hujan adalah mantan seseorang. Setiap kucing yang menatapmu dengan tatapan dingin dan menghakimi mungkin dulunya adalah mantan atasanmu yang pernah menolak cuti tahunanmu tanpa alasan jelas.

Kalau semua binatang adalah mantan manusia berdosa, maka kebun binatang pada dasarnya adalah Lapas kelas kosmik dengan tiket masuk.

Bayangkan Anda benar-benar terlahir kembali sebagai anjing. Anda membuka mata, dan hal pertama yang Anda lihat adalah selokan. Bau got menyergap hidung Anda yang sekarang seribu kali lebih sensitif dari sebelumnya. Anda mencoba berdiri dan menyadari bahwa Anda punya empat kaki. Empat. Kaki. Anda bahkan belum pernah bisa mengkoordinasikan dua kaki dengan baik saat joget di pesta kantor, dan sekarang harus pakai empat.

Perlahan, ingatan kehidupan lalu mulai pudar. Anda lupa nama Anda, lupa password WiFi, lupa siapa yang menang Piala Dunia terakhir. Yang tersisa hanya naluri dasar: lapar, haus, dan keinginan yang tak tertahankan untuk mengejar kucing. Anda tidak tahu kenapa harus mengejar kucing. Tidak ada alasan logis. Tapi setiap kali kucing lewat, tubuh Anda bergerak sendiri. Mungkin ini bagian dari hukumannya.

Hari-hari berlalu. Anda belajar bertahan hidup. Makan nasi basi dari tempat sampah warung nasi Padang sudah terasa seperti fine dining. Anda berteman dengan anjing-anjing lain di kompleks mungkin mereka juga mantan manusia? Mungkin anjing cokelat yang suka tidur di depan minimarket itu dulunya seorang akuntan yang menggelapkan pajak. Mungkin anjing hitam yang galak di ujung gang itu mantan preman terminal. Tapi kalian tidak bisa saling bercerita karena, ya, kalian anjing. Komunikasi terbatas pada gonggongan dan kibasan ekor.

Dan yang paling menyiksa: Anda harus melihat manusia setiap hari. Manusia yang berjalan tegak, yang punya jempol oposabel, yang bisa membuka pintu tanpa harus menggonggong minta tolong. Anda melihat mereka makan bakso di warung dan Anda hanya bisa duduk di luar, menatap dengan mata basah, berharap ada sisa kuah yang ditumpahkan. Kalau ini bukan definisi dari neraka, saya tidak tahu apa lagi.

Kalau orang jahat jadi anjing, pertanyaan selanjutnya yang wajar adalah: orang baik jadi apa? Logikanya, kalau hierarki karma membentang dari cacing (paling berdosa) sampai manusia (paling beruntung), maka orang baik seharusnya terlahir kembali sebagai manusia yang lebih baik lagi. Atau mungkin naik tingkat menjadi makhluk yang lebih tinggi malaikat, dewa, atau minimal influencer dengan engagement rate tinggi.

Tapi ada teori informal yang beredar di kalangan emak-emak arisan bahwa orang baik bisa terlahir sebagai kucing. Kenapa kucing? Karena kucing hidupnya enak. Dijaga, dimanja, dikasih makan teratur, dan ini yang paling penting tidak pernah disuruh kerja. Kucing tidak punya KPI. Kucing tidak harus rapat Zoom jam delapan pagi. Kucing bisa tidur seharian dan tidak ada yang bilang dia pemalas. Kucing bisa menatap Anda dengan penuh penghinaan dan Anda justru merasa tersanjung.

Kalau teori ini benar, maka kucing pada dasarnya adalah level VIP dari reinkarnasi. Surga versi berbulu. Dan setiap kali Anda melihat kucing tidur dengan damai di atas bantal sambil terkena cahaya matahari sore, Anda sedang menyaksikan seseorang yang di kehidupan sebelumnya mungkin rutin sedekah, rajin membantu tetangga, dan tidak pernah sekalipun membuang sampah dari jendela mobil.

30 Hari Menulis Buruk 

Hari Ke-29

Rabu, 18 Maret 2026

Saat Uang Melunasi Rindu yang Tak Pernah Ada


 Ada sebuah ironi yang setiap tahun terasa seperti luka lama yang dibuka kembali tepat di hari-hari menjelang Lebaran. Bukan soal macet di jalan tol, bukan soal harga tiket yang mencekik, dan bukan pula soal kelelahan fisik setelah bekerja keras sepanjang tahun. Ironi itu berbentuk sebuah pesan singkat, masuk di sela-sela notifikasi pekerjaan yang belum selesai: "Eh, THR-nya kapan dikirim?"

Pesan itu datang dari nomor yang sudah lama tidak muncul di layar. Dari nama yang terakhir kali menghubungi mungkin setahun lalu dan itu pun hanya untuk urusan yang sama. Dan yang paling menyakitkan, selama dua belas bulan penuh sebelumnya, tidak satu pun pesan dari nomor yang sama berbunyi: "Kamu sehat?" atau "Gimana kerjaan di sana?" atau bahkan sekadar "Lagi ngapain?"

Menjadi perantau bukan sekadar perkara pindah kota. Ia adalah sebuah proses panjang belajar menjadi asing di tempat baru maupun, secara perlahan, di rumah lama. Kamu bangun pagi di kamar kos yang langit-langitnya mengelupas. Kamu masak nasi di rice cooker yang dibeli dari tabungan dua minggu. Kamu berangkat kerja dengan angkot yang penuh, atau motor yang hujan-hujanan, atau kereta yang berjejal seperti sarden. Kamu pulang malam, makan sisa, dan tidur dengan alarm yang sudah disetel untuk besok pagi yang sama.

Selama itu, tidak ada yang benar-benar menanyakan bagaimana rasanya. Tidak ada yang tahu bahwa kamu sempat demam tiga hari dan pergi ke klinik sendirian. Tidak ada yang tahu bahwa atasanmu minggu lalu memarahimu di depan rekan kerja dan kamu menangis di toilet. Tidak ada yang tahu bahwa kamu sudah menolak beberapa ajakan teman karena budget makan siang saja sudah tipis.

Tapi mereka tahu satu hal: lebaran sudah dekat.

Dalam kultur kita, Tunjangan Hari Raya bukan sekadar kewajiban hukum antara karyawan dan perusahaan. Ia telah berubah menjadi semacam lembaga sosial sebuah ekspektasi tak tertulis bahwa siapa pun yang bekerja di kota wajib membawa pulang "rezeki berlebih" untuk keluarga di kampung. Dan di sinilah persoalannya bukan lagi tentang uang, melainkan tentang bagaimana uang itu diminta.

Ketika seseorang yang dua belas bulan absen dari hidupmu tiba-tiba muncul hanya demi menagih sesuatu, ada rasa yang sulit dijelaskan. Bukan murka, bukan benci tapi sesuatu yang lebih pelan dan lebih dalam. Semacam kesedihan yang dingin. Perasaan bahwa keberadaanmu di mata mereka hanya relevan sejauh kemampuanmu mengisi amplop.

Dalam kultur kita, Tunjangan Hari Raya bukan sekadar kewajiban hukum antara karyawan dan perusahaan. Ia telah berubah menjadi semacam lembaga sosial sebuah ekspektasi tak tertulis bahwa siapa pun yang bekerja di kota wajib membawa pulang "rezeki berlebih" untuk keluarga di kampung. Dan di sinilah persoalannya bukan lagi tentang uang, melainkan tentang bagaimana uang itu diminta.

Ketika seseorang yang dua belas bulan absen dari hidupmu tiba-tiba muncul hanya demi menagih sesuatu, ada rasa yang sulit dijelaskan. Bukan murka, bukan benci tapi sesuatu yang lebih pelan dan lebih dalam. Semacam kesedihan yang dingin. Perasaan bahwa keberadaanmu di mata mereka hanya relevan sejauh kemampuanmu mengisi amplop.

Pertanyaan ini pasti muncul: kenapa tidak pernah menelepon duluan? Kenapa tidak lebih rajin menghubungi? Pertanyaan yang adil tapi yang sering lupa dipertimbangkan adalah: komunikasi itu dua arah. Seorang perantau yang bekerja enam hari seminggu, yang kelelahan ketika pulang, yang kadang-kadang tidak punya kuota, yang juga punya kesepian dan beban yang tidak bisa diceritakan begitu saja ia juga manusia yang butuh diinisiasi. Butuh ditanya duluan.

Bukan karena manja. Tapi karena ada kalanya yang paling butuh dukungan justru adalah orang yang terlihat paling "pergi mengejar mimpi." Dan ketika tidak ada yang menanyakan, perantau belajar menelan segalanya sendiri. Ia tidak mengeluh karena tidak ada yang bertanya. Ia tidak bercerita karena tidak ada yang membuka ruang. Dan ironisnya, ketika ia diam selama sebelas bulan, itu dianggap tanda bahwa ia baik-baik saja padahal bisa jadi ia hanya tidak mau merepotkan.

Perlu ada kejujuran di sini: tidak semua keluarga tahu cara menunjukkan perhatian. Banyak yang tumbuh dalam budaya di mana perasaan tidak diucapkan dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan dan kadang, perbuatan itu pun salah arah. Ada yang mengekspresikan kepedulian dengan mengontrol, ada yang menunjukkan sayang dengan mengkritik, dan ada yang membuktikan bahwa kamu "masih diingat" dengan cara menagih sesuatu dari kamu.

Ini bukan pembenaran. Ini hanya konteks. Karena memahami sesuatu tidak berarti menerimanya begitu saja tanpa rasa sakit.

Yang menyakitkan tetaplah menyakitkan. Bahwa kamu bisa mengerti alasannya, tidak membuat dadamu terasa lebih lapang ketika membaca pesan itu di layar. Kamu tetap berhak merasa lelah. Kamu tetap berhak merasa sedih.

Ada sebuah dilema yang berdiam di setiap perantau yang pernah mengalami ini: apakah aku tetap memberi?

Sebagian besar memilih iya bukan karena takut, bukan karena tertekan, tapi karena jauh di dalam sana, mereka masih menyayangi. Karena bagaimanapun, ikatan darah tidak bisa diselesaikan dengan logika semata. Dan memberi dalam kondisi seperti ini justru adalah bentuk cinta yang paling matang cinta yang sudah melewati kekecewaan, yang sudah kenal wajah asli seseorang, tapi tetap memilih untuk peduli.

Tapi ada juga yang perlu diingat: memberi bukan berarti kamu tidak berhak bersuara. Kamu boleh, suatu saat, ketika momen terasa tepat, mengatakan dengan lembut: "Aku rindu ditanya kabar, bukan cuma kabar transferan." Bukan untuk menyalahkan. Tapi karena hubungan yang sehat dibangun di atas komunikasi, bukan asumsi.

Jika kamu sedang membaca ini sambil menatap layar ponsel yang menampilkan pesan semacam itu kamu tidak sendiri. Jutaan orang di kota-kota besar di seluruh negeri merasakan hal yang persis sama. Mereka yang bekerja jauh dari rumah, yang mengorbankan waktu dan energi, yang sudah belajar berdiri sendiri karena tidak ada pilihan lain dan di ujung tahun, harus menelan kenyataan pahit bahwa untuk sebagian orang, nilai mereka diukur dari seberapa tebal amplop yang mereka bawa.

Kamu tidak harus berpura-pura bahagia. Kamu tidak harus langsung memaafkan. Tapi kamu juga tidak harus menyimpan kepahitan itu selamanya. Beri dirimu waktu untuk merasa dan kemudian, pelan-pelan, pilih jalan yang paling damai untukmu dan untuk hubungan itu.


30 Hari Menulis Buruk

Hari Ke-28

Selasa, 17 Maret 2026

BAHASA SEBAGAI ALAT PENGUASA

 

Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana seseorang yang baru masuk ruangan langsung berubah cara bicaranya?

Suara merendah. Kalimat memendek. Kata-kata dipilih dengan hati-hati bukan karena ingin jelas, tapi karena takut salah.

Itulah bahasa dalam genggaman kuasa.

Bahasa bukan cermin realitas. Ia adalah konstruksi realitas. Siapa yang mengendalikan bahasa, mengendalikan cara orang lain berpikir, merasa, dan akhirnya tunduk.

Ini yang paling sering kita lupakan.

Kita berpikir bahasa adalah alat komunikasi yang polos kamu bicara, aku mendengar, pesan tersampaikan. Selesai.

Tapi tidak sesederhana itu.

Setiap pilihan kata membawa muatan kekuasaan. Setiap struktur kalimat menyimpan asumsi tentang siapa yang berhak berbicara dan siapa yang wajib mendengarkan.

Filsuf Michel Foucault menyebutnya discourse wacana. Wacana bukan sekadar percakapan. Ia adalah sistem pengetahuan yang menentukan apa yang boleh dikatakan, oleh siapa, dalam konteks apa, dan dengan konsekuensi apa.

Penguasa yang cerdas tidak hanya menguasai tentara dan senjata.

Penguasa yang cerdas menguasai kosakata.

Ketika Belanda menguasai Nusantara selama lebih dari tiga abad, salah satu alat paling efektif bukan meriam melainkan bahasa.

Bahasa Belanda menjadi bahasa administrasi, hukum, dan pendidikan. Artinya: kalau kamu tidak berbicara dalam bahasa penguasa, kamu tidak punya akses ke kekuasaan. Kamu tidak bisa membaca kontrak yang merampas tanahmu. Kamu tidak bisa membela dirimu di pengadilan. Kamu tidak bisa memahami undang-undang yang mengatur hidupmu.

Bahasa lokal dengan segala kekayaan filsafat, etika, dan pengetahuannya dianggap bahasa orang rendah. Bahasa dapur. Bahasa kampung.

Ini bukan kebetulan. Ini strategi.

Merendahkan bahasa adalah cara merendahkan pikiran, dan merendahkan pikiran adalah cara menjinakkan perlawanan.

Indonesia punya contoh yang sangat dekat dan sangat nyata.

Di era Soeharto, bahasa Indonesia tidak hanya dikembangkan ia direkayasa. Pemerintah menetapkan kosakata "resmi" untuk menggantikan kata-kata yang dianggap berbahaya.

Kata "rakyat" yang memiliki konotasi perjuangan dan kolektivitas perlahan digantikan dengan "masyarakat" yang lebih pasif, lebih mudah diatur, lebih terkesan sebagai objek pembangunan daripada subjek kekuasaan.

"Petani" yang berkonotasi kelas dan perjuangan agraria digantikan dengan "warga desa" yang lebih jinak.

Kata "pemberontakan" digantikan "pengacauan keamanan". Kata "protes" menjadi "provokasi". Kata "aktivis" menjadi "subversif".

Dengan menggeser kosakata, pemerintah menggeser kerangka pikir.

Kalau tidak ada kata untuk menyebut penindasan, orang akan kesulitan mengenali penindasan itu sendiri.

Inilah yang disebut ahli linguistik kritis sebagai language planning as power perencanaan bahasa sebagai instrumen kekuasaan.

Ada fenomena yang belakangan semakin mencolok di Indonesia.

Kata-kata seperti "izin", "siap", "laksanakan", "lapor", "mohon izin bertanya" semakin sering terdengar bukan di barak militer, bukan di apel pagi TNI, tapi di rapat kantor, forum diskusi, bahkan di media sosial.

Ini bukan sekadar gaya bicara yang menular. Ini adalah infiltrasi mentalitas.

Bahasa militer dibangun di atas fondasi yang sangat spesifik:

Hierarki yang kaku. Ada yang di atas, ada yang di bawah. Tidak ada ruang abu-abu. Perintah mengalir satu arah: dari atas ke bawah.

Kepatuhan sebagai kebajikan tertinggi. Prajurit yang baik adalah prajurit yang tidak bertanya. Keraguan dianggap kelemahan. Ketidaksetujuan dianggap pengkhianatan.

Bahasa sebagai penanda posisi. Cara bicara menunjukkan pangkat. "Izin komandan" bukan hanya kalimat ia adalah pengakuan bahwa kamu berada di bawah, dan orang di hadapanmu berada di atas.

Ketika logika ini merayap ke ruang sipil, yang terjadi bukan hanya perubahan cara bicara. Yang terjadi adalah pergeseran relasi kuasa.

Dari partisipasi menjadi kepatuhan.

Dari warga menjadi bawahan.

Dari forum menjadi apel.

Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah: kenapa kita membiarkannya?

Jawabannya ada di konsep yang disebut Antonio Gramsci sebagai hegemoni.

Hegemoni bukan kekuasaan yang dipaksakan dengan kekerasan. Hegemoni adalah kekuasaan yang disetujui bahkan diinginkan oleh yang dikuasai.

Ketika kita berkata "siap laksanakan" di rapat kantor dan merasa itu sopan, profesional, bahkan keren kita sedang menghegemoni diri sendiri. Kita sedang secara sukarela mengadopsi bahasa yang menempatkan kita sebagai bawahan.

Ini terjadi karena beberapa alasan:

Normalisasi bertahap. Bahasa berubah pelan-pelan, sehingga kita tidak menyadari kapan ruang sipil mulai berbicara seperti barak.

Asosiasi positif yang sengaja dibangun. Bahasa militer sering dikaitkan dengan efisiensi, kedisiplinan, dan profesionalisme. Siapa yang tidak mau terlihat profesional?

Ketiadaan alternatif yang dibiasakan. Kalau sejak kecil kita tidak pernah melihat model komunikasi yang egaliter yang memungkinkan pertanyaan, keberatan, dan negosiasi kita tidak tahu bahwa alternatif itu ada.

Militerisme bukan satu-satunya bentuk bahasa kuasa yang perlu kita waspadai.

Ada satu varian yang lebih halus, lebih menggoda, dan justru karena itu lebih berbahaya: bahasa korporat.

"Kita adalah satu tim besar."

"Kamu bukan karyawan, kamu adalah talent."

"Ini bukan gaji, ini package."

"Kita tidak punya atasan-bawahan di sini, semua adalah partner."

Terdengar maju. Terdengar egaliter. Tapi coba perhatikan lebih dalam.

Kata-kata itu menyembunyikan relasi kuasa, bukan menghapusnya.

Kamu tetap bisa dipecat. Kamu tetap tidak punya akses ke keputusan strategis. Kamu tetap harus menurut pada kebijakan yang dibuat tanpa melibatkanmu.

Tapi karena bahasanya terasa setara, kamu merasa bersalah kalau protes. "Kan kita satu tim, kenapa kamu tidak kooperatif?"

Ini adalah hegemoni dalam setelan rapi. Kekuasaan yang berwajah ramah.

Ahli linguistik Norman Fairclough menyebut ini synthetic personalization personalisasi palsu yang membuat relasi impersonal dan hierarkis terasa personal dan setara, dengan tujuan mengaburkan ketidaksetaraan yang sesungguhnya.

Ada satu lagi instrumen bahasa yang sangat efektif dan sangat sensitif untuk dibicarakan.

Bahasa moral dan agama.

Ketika penguasa menggunakan kosakata keagamaan atau moralitas untuk melegitimasi kebijakannya, ia tidak sekadar membuat argumen ia membuat keberatan menjadi dosa.

"Ini demi kebaikan bersama."

"Yang menolak berarti tidak patriotik."

"Kebijakan ini sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa."

"Mereka yang kritis tidak bersyukur."

Perhatikan bagaimana kalimat-kalimat ini tidak mengajak berpikir mereka mengajak tunduk. Mereka menempatkan kritik bukan sebagai hak demokratis, melainkan sebagai kelakuan buruk yang patut dipermalukan.

Bahasa moral digunakan bukan untuk membuka diskusi, tapi untuk menutupnya.

Dimensi lain dari bahasa sebagai alat kuasa adalah dimensi gender.

Dalam banyak budaya termasuk budaya Indonesia ada hierarki tidak tertulis tentang suara siapa yang "layak didengar".

Perempuan yang berbicara tegas disebut "judes" atau "sok tahu."

Laki-laki yang berbicara dengan nada yang sama disebut "tegas" dan "berprinsip."

Perempuan yang mengajukan pertanyaan kritis dicap "terlalu emosional."

Laki-laki yang sama dicap "kritis dan analitis."

Ini adalah double bind linguistik jebakan ganda. Perempuan harus memilih: bicara sesuai stereotip feminin (lembut, tidak langsung, selalu menurut) dan tidak diambil serius, atau bicara di luar stereotip itu dan dikritik karena tidak "tahu diri."

Kata "mansplaining" lahir bukan tanpa alasan. Ia menamai fenomena yang sudah terjadi sangat lama ketika laki-laki merasa memiliki otoritas lebih untuk menjelaskan sesuatu, bahkan kepada perempuan yang lebih ahli di bidangnya.

Bahasa kuasa bekerja tidak hanya di ranah politik dan ekonomi. Ia bekerja juga di meja makan, di ruang rapat, di kolom komentar.

Apakah internet membebaskan kita dari bahasa kuasa?

Tidak semudah itu.

Internet memang mendemokratisasi akses berbicara. Semua orang bisa punya platform. Semua orang bisa mempublikasikan pendapatnya.

Tapi internet juga menciptakan mekanisme baru untuk membungkam.

Dogpiling ketika satu orang dikepung oleh ratusan atau ribuan akun yang menyerang adalah bentuk intimidasi berbasis bahasa yang sangat efektif. Target tidak perlu diancam secara fisik. Cukup dibanjiri komentar negatif sampai ia memilih diam.

Concern trolling pura-pura peduli sambil merusak argumen adalah cara mengerdilkan gagasan tanpa terlihat agresif.

Dan tentu saja: algoritma adalah otoritas linguistik baru. Ia menentukan suara siapa yang diperkuat dan suara siapa yang tenggelam. Platform tidak netral. Mereka punya kepentingan, dan kepentingan itu tercermin dalam bahasa yang mereka promosikan.

Tapi ini bukan cerita tentang kekalahan.

Sepanjang sejarah, bahasa juga menjadi senjata perlawanan.

Sumpah Pemuda 1928 adalah tindakan linguistik yang revolusioner mendeklarasikan satu bahasa sebagai bahasa persatuan, menggeser hegemoni bahasa kolonial.

Pergerakan feminis merebut kembali kata-kata yang digunakan untuk merendahkan perempuan dan mengisinya dengan makna baru yang penuh daya.

Gerakan hak sipil di Amerika mengubah "Black" dari kata yang digunakan untuk menghina menjadi deklarasi identitas dan kebanggaan.

Di Indonesia, kata "rakyat" yang coba dimatikan oleh Orde Baru bangkit kembali setelah Reformasi 1998, membawa kembali konotasi agen, kekuatan, dan hak.


30 Hari Menulis Buruk 

Hari Ke-27

Senin, 16 Maret 2026

MENGAPA KEADILAN KITA HANYA BERLAKU UNTUK YANG ENAK DIPANDANG


 Sebelum mulai, satu hal perlu ditegaskan dulu.

Tulisan ini tidak sedang membela siapapun yang salah. Tidak sedang meromantisasi kejahatan. Tidak sedang mengajak kamu bersimpati kepada hal-hal yang memang layak dikecam.

Tulisan ini hanya mengajak kamu melihat satu hal yang sangat jarang kita sadari tapi sangat sering kita lakukan.

Yaitu ini: kita semua punya standar moral yang doyan pilah-pilih penampilan.

Mari jujur sejenak.

Ketika kamu melihat berita kriminal, reaksi pertamamu bukan langsung menganalisis kasusnya. Reaksi pertamamu adalah melihat fotonya dulu.

Dan dari situ segalanya berubah.

Kalau pelakunya punya wajah yang simetris, rahang yang tegas, atau mata yang dalam, tiba-tiba muncul komentar-komentar seperti:

"Kok ganteng gini bisa jahat sih?"

"Sayang banget, padahal keliatannya baik."

"Kasian, pasti ada yang salah di masa lalunya."

Tapi kalau pelakunya punya wajah yang, katakanlah, kurang beruntung secara estetika? Komentar berubah drastis:

"Emang keliatan dari mukanya."

"Dasar, tampangnya aja udah kayak penjahat."

"Pantas."

Kasus yang sama. Tindakan yang sama. Tingkat kesalahan yang sama.

Tapi perlakuan moral kita? Berbeda seratus delapan puluh derajat.

Para psikolog menyebutnya Halo Effect, sebuah bias kognitif di mana kesan positif terhadap satu aspek seseorang, dalam hal ini penampilan fisik, secara otomatis menciptakan asumsi positif terhadap aspek lainnya seperti karakter, niat, dan kelayakan mendapat belas kasihan.

Singkatnya: otak kita secara tidak sadar percaya bahwa orang yang menarik adalah orang yang baik.

Dan kebalikannya juga berlaku. Orang yang tidak menarik secara visual dianggap lebih pantas menerima hal buruk, lebih sedikit mendapat pembelaan, dan lebih cepat divonis bersalah sebelum diadili.

Ini bukan teori pinggiran. Ini sudah diteliti berkali-kali.

Dalam berbagai studi, terdakwa yang dinilai lebih menarik secara fisik cenderung mendapat hukuman lebih ringan. Pengemis yang berpenampilan lebih rapi dan bersih mendapat lebih banyak uang. Anak-anak yang dianggap "lucu" mendapat lebih banyak perhatian dari guru. Kandidat kerja yang lebih menarik lebih sering dipanggil wawancara meski kualifikasi sama.

Kita hidup dalam dunia di mana ketampanan adalah mata uang sosial yang diam-diam berlaku di semua sektor kehidupan, termasuk di meja pengadilan moral kita sendiri.

Ambil contoh sederhana yang kita semua pernah alami.

Kamu sedang berjalan di pusat kota. Ada dua pengemis duduk bersebelahan di trotoar.

Pengemis pertama: seorang wanita muda, wajahnya bersih, matanya sendu, pakaiannya lusuh tapi entah kenapa tetap ada aura memelas yang menyentuh. Rambutnya berantakan tapi tidak acak-acakan. Ada sesuatu yang... fotogenik dari penderitaannya.

Pengemis kedua: seorang pria tua, kulitnya gelap dan keriput, giginya ompong, bajunya kotor berlapis-lapis, dan bau tubuhnya terasa dari jarak dua meter.

Sekarang tanya dirimu sendiri dengan jujur: siapa yang lebih mungkin kamu beri uang?

Kalau jawabanmu adalah yang pertama, kamu tidak sendirian. Hampir semua orang akan melakukan hal yang sama. Dan ini bukan karena kamu jahat. Ini karena otakmu bekerja persis seperti yang sudah diprogramkan oleh evolusi dan budaya selama ribuan tahun: respons empati kita lebih mudah terpicu oleh hal-hal yang secara visual kita anggap menarik atau tidak mengancam.

Tapi coba pikir lagi.

Pria tua itu mungkin punya kisah yang jauh lebih berat. Mungkin dia mantan buruh yang tangannya sudah tidak kuat lagi bekerja. Mungkin dia tidak punya keluarga. Mungkin kebutuhannya jauh lebih mendesak dari wanita muda tadi.

Tapi kita tidak sampai ke sana. Karena mata kita sudah memutuskan lebih dulu sebelum hati sempat berbicara.

Yang lebih menarik, dan lebih menggelisahkan, adalah betapa konsistennya standar ganda ini berlaku di hampir semua lini.

Di media sosial: konten yang sama, engagement berbeda, tergantung seberapa menarik wajah yang ada di thumbnail-nya.

Di tempat kerja: kesalahan yang sama, konsekuensi berbeda, tergantung siapa yang melakukannya dan bagaimana penampilannya.

Di pengadilan publik Twitter atau Instagram: orang yang sama-sama melakukan kesalahan akan mendapat tsunami hate yang berbeda volumenya, bergantung pada seberapa "layak dibenci" tampang mereka menurut selera massa.

Di kehidupan romantis: kita sering berkata ingin pasangan yang baik hati, jujur, dan setia. Tapi ketika orang baik hati itu tidak memenuhi standar estetika kita, tiba-tiba semua kualitas itu tidak terasa cukup.

Kita bilang kita menilai dari dalam. Tapi perilaku kita berkata sebaliknya.

Inilah yang paling mengkhawatirkan dari semua ini.

Ketika moralitas kita hanya aktif untuk orang-orang yang enak dipandang, maka moralitas itu bukan lagi prinsip. Ia hanya menjadi aksesori sosial. Sesuatu yang kita pakai saat konteksnya menguntungkan, dan kita tanggalkan saat objeknya tidak memenuhi selera kita.

Kita marah pada ketidakadilan, tapi hanya kalau korbannya cantik.

Kita membela yang lemah, tapi hanya kalau yang lemah itu fotogenik.

Kita mengutuk pelaku kejahatan, tapi kekuatan kutukan kita naik turun mengikuti skala ketampanan si pelaku.

Ini bukan moralitas. Ini estetika yang menyamar sebagai moralitas.

Dan yang paling berbahaya adalah kita jarang sekali menyadarinya. Karena bias ini bekerja di bawah permukaan, di lapisan bawah sadar yang tidak terjangkau oleh introspeksi biasa.

Bukan bermaksud menggurui. Tapi ada beberapa pertanyaan yang mungkin worth untuk kita tanyakan ke diri sendiri sesekali:

Satu. Sebelum bereaksi terhadap seseorang, baik itu simpati maupun kemarahan, tanya dulu: apakah reaksimu ini akan sama jika orangnya berbeda penampilan?

Dua. Ketika kamu merasa iba, tanya: apakah ibamu ini karena kondisi mereka yang memang menyedihkan, atau karena mereka terlihat menyedihkan dengan cara yang estetik?

Tiga. Ketika kamu marah pada seseorang, tanya: apakah kemarahanmu ini proporsional dengan kesalahannya, atau dengan tampangnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak akan langsung mengubah bias yang sudah tertanam bertahun-tahun. Tapi setidaknya, mereka bisa membuat kita sedikit lebih jujur tentang cara kerja hati kita sendiri.


30 Hari Menulis Buruk

Hari Ke-26

Minggu, 15 Maret 2026

BUKAN PENDENDAM TAPI PENGINGAT YANG BAIK

 

Ada manusia di muka bumi ini yang jantungnya pernah diledakkan dari dalam bukan oleh bom, bukan oleh peluru, melainkan oleh kata-kata, pengkhianatan, dan luka yang datang dari orang yang paling ia percaya. Dan di antara reruntuhan itu, ia berdiri, mengumpulkan serpihan dirinya satu per satu, lalu berkata pelan kepada dirinya sendiri: "Aku memaafkan."

Tapi dunia salah memahami kalimat itu. Dunia mengira memaafkan berarti menghapus. Bahwa begitu seseorang mengucapkan "aku memaafkan," semua luka itu tiba-tiba menguap seperti embun pagi yang terkena sinar matahari sepuluh detik. Bahwa si pengampun lantas berdiri di medan kehidupan dengan jiwa sepanjang lautan, selebar langit, dan sebening kaca jendela yang baru dilap.

Tidak. Seratus juta kali tidak.

Ingatan bukan musuh. Ingatan adalah arsip terpanjang yang pernah dibangun manusia lebih kokoh dari Tembok Besar China, lebih abadi dari tulisan di prasasti batu, lebih setia dari anjing terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. Dan ingatan tentang luka bukan berarti dendam yang dipelihara seperti tanaman karnivora di dalam pot.

Ingatan adalah kompas.

Bayangkan seseorang yang pernah ditipu oleh sahabatnya dikhianati dengan cara yang begitu artistik, begitu terstruktur, begitu sempurna dalam kekejamannya hingga bahkan komposer opera pun tidak sanggup menuliskan skornya. Ia memaafkan. Sungguh. Air matanya sudah kering. Dadanya sudah tidak sesak nafas seperti ketika pertama kali mengetahui. Ia bisa menyebut nama si pengkhianat tanpa suaranya gemetar.

Tapi apakah ia kemudian wajib menutup matanya, memori itu, dan dengan sukarela melangkah kembali ke dalam perangkap yang sama?

Tidak. Dan seribu kali tidak.

Memaafkan tidak pernah bahkan dalam satu buku filsafat mana pun, dalam satu kitab suci agama apa pun, dalam satu terapi psikologi paling mutakhir sekalipun berarti kewajiban untuk melupakan pelajaran yang sudah dibeli dengan harga yang sangat mahal: harga berupa kepercayaan yang patah, tidur yang hilang, dan tahun-tahun yang terasa berat seperti memikul gunung di punggung seorang diri.

Ini adalah kebenaran yang sering tenggelam dalam kebisingan nasihat-nasihat berbunga di media sosial nasihat yang ditulis dengan huruf cantik di atas foto awan senja, seolah kebenaran bisa dikemas sebagai konten estetis.

Memaafkan bukan pemberian yang kamu berikan kepada orang yang menyakitimu. Memaafkan adalah pembebasan yang kamu berikan kepada dirimu sendiri pembebasan dari racun amarah yang, jika tidak dikeluarkan, akan membakar pemiliknya dari dalam seperti api yang tidak punya pintu keluar.

Dendam yang dipelihara itu berat. Jauh lebih berat dari yang diakui orang. Ia memakan energi sebesar ribuan kuda pacu yang berlari tanpa henti. Ia mengambil porsi perhatianmu di setiap momen indah yang seharusnya menjadi milikmu sepenuhnya. Ia duduk di mejamu saat kamu makan. Ia tidur di ranjangmu saat kamu mencoba beristirahat. Ia berdiri di belakangmu saat kamu mencoba mencintai orang baru.

Maka memaafkan adalah mengusir tamu tidak diundang itu dari rumahmu. Bukan karena si tamu layak diusir dengan sopan. Tapi karena rumahmu terlalu berharga untuk ia tempati lebih lama.

Di sinilah letak kesalahpahaman terbesar yang pernah menghuni peradaban manusia sejak zaman Adam hingga hari ini.

Ketika seseorang berbuat salah kepadamu bukan salah kecil seperti terlambat datang ke janji makan siang, melainkan salah yang besar, salah yang mengguncang fondasi kepercayaanmu, salah yang mengubah cara kamu memandang dunia ada dua hal yang kemudian terjadi bersamaan:

Pertama, kamu berhak memaafkan. Kamu berhak melepaskan amarah itu demi kesehatan jiwamu sendiri. Kamu berhak untuk tidak lagi membawa beban itu ke mana-mana seperti koper tua yang berat isinya tapi tidak berguna isinya.

Kedua, membebaskan mereka dari rasa bersalah? Itu bukan bagian dari paket memaafkan. Itu dua produk berbeda yang dijual di toko berbeda, di kota berbeda, bahkan mungkin di benua berbeda.

Rasa bersalah adalah mekanisme alam yang diberikan kepada manusia bukan untuk menjadi siksaan abadi, melainkan sebagai pengingat moral kompas etika yang mengatakan kepada seseorang: "Apa yang kamu lakukan itu salah. Pelajari ini. Jangan ulangi." Jika kamu terburu-buru membebaskan seseorang dari rasa bersalah sebelum mereka sungguh-sungguh memahami apa yang mereka lakukan, kamu tidak sedang berbuat baik kepada mereka. Kamu sedang merebut kesempatan mereka untuk tumbuh.

Ini bukan kekejaman. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap proses pertumbuhan manusia.

Menjadi pengingat artinya: kamu telah memaafkan, tapi kamu tidak berpura-pura bahwa sejarah tidak pernah terjadi.

Kamu tetap ingat bahwa si A pernah berbohong kepadamu, bukan untuk menyimpan dendam, melainkan untuk tidak memberikan posisi kepercayaan yang sama kepadanya di masa depan karena kamu telah belajar dengan cara yang paling mahal bahwa kepercayaan itu bukan barang yang bisa diobral.

Kamu tetap ingat bahwa si B pernah meninggalkanmu di saat paling gelap, bukan untuk memendam kebencian, melainkan untuk mengetahui bahwa di padang gurun kehidupan yang paling mengerikan, namanya tidak akan ada dalam daftar orang yang kamu hubungi.

Kamu tetap ingat cara luka itu terasa, bukan untuk menyiksa diri sendiri setiap malam, melainkan agar kamu bisa mengenali tanda-tandanya sejak dini jika ia datang lagi dengan wajah berbeda, nama berbeda, tapi watak yang sama persis.

Ini bukan dendam. Dendam ingin melihat orang lain hancur. Dendam berharap kehidupan menghukum mereka dengan cara yang setimpal bahkan melebihi rasa sakitmu. Dendam membangun benteng kebencian yang semakin hari semakin tinggi sampai cahaya tidak bisa masuk sama sekali ke dalam rumahmu.

Pengingat tidak menginginkan kehancuran mereka. Pengingat hanya menolak untuk amnesia.

Akan ada orang-orang yang marah padamu karena kamu masih ingat. Yang mengatakan bahwa kamu belum benar-benar memaafkan karena kamu masih membawa ingatan itu. Yang menyebutmu pendendam karena kamu memilih untuk tidak lagi menaruh kepercayaan di tempat yang sama.

Biarkan mereka berbicara.

Karena sesungguhnya, amarah mereka atas ingatanmu itu sendiri adalah konfirmasi bahwa mereka belum selesai dengan rasa bersalah mereka sendiri. Orang yang sungguh-sungguh telah berdamai dengan kesalahannya tidak akan pernah memintamu untuk melupakan. Mereka justru akan menghormati ingatanmu, karena ingatan itulah yang menjaga supaya masa depan tidak mengulangi bab yang paling menyakitkan dari sejarah kalian berdua.

Mereka yang memintamu melupakan biasanya adalah mereka yang ingin melupakan bukan demi kenyamananmu, melainkan demi kenyamanan mereka sendiri.

Tempat yang paling jujur adalah tempat di mana kamu bisa mengatakan dengan tenang, tanpa air mata, tanpa gemetar:

"Aku tidak membenci kamu. Aku bahkan mendoakan hal-hal baik untukmu. Tapi aku ingat. Dan karena aku ingat, aku tahu sekarang bagaimana cara menjaga diriku sendiri."

Itu bukan kelemahan. Itu bukan kepahitan. Itu adalah kedewasaan yang paling mahal, yang paling langka, dan yang paling indah.

Sebab manusia yang paling kuat bukanlah yang tidak pernah dilukai. Manusia yang paling kuat adalah yang telah dilukai lebih dalam dari yang sanggup dibayangkan dan dari reruntuhan luka itu, ia membangun kembali dirinya. Bukan persis seperti semula, karena semula itu sudah tidak ada lagi. Melainkan sesuatu yang lebih bijaksana. Lebih waspada. Lebih tahu di mana harus menaruh kepercayaan, dan lebih mengerti bahwa tidak semua orang layak mendapat akses penuh ke wilayah jiwanya yang paling dalam.

30 Hari Menulis Buruk 

Hari Ke-25

Sabtu, 14 Maret 2026

Puasa, Rumah, dan Hal-Hal yang Tidak Pernah Kita Minta

 

Saya ingat betul bagaimana suara pagi itu terdengar berbeda. Bukan karena ada yang berubah di luar, tapi karena sesuatu di dalam diri saya sedang belajar mengenali kehilangan yang belum punya nama. Saya duduk di sudut kos yang sempit, di depan meja yang terlalu besar untuk satu orang, menghadapi sepiring nasi yang saya masak sendiri tengah malam karena tidak bisa tidur. Di luar, hujan turun dengan cara yang tidak dramatis pelan, tekun, tanpa petir, tanpa angin. Hanya air yang jatuh dengan sabar ke atas atap seng.

Waktu itu saya baru beberapa bulan di kota orang. Orang bilang, kamu akan terbiasa. Dan memang akhirnya terbiasa. Masalahnya, terbiasa dan baik-baik saja adalah dua hal yang sering kita tukar tanpa sadar.

Saya tumbuh di rumah yang tidak besar, tapi selalu penuh suara. Bapak bangun paling awal dan biasanya langsung ke dapur untuk merebus air. Suara panci diangkat, suara sendok diaduk, suara radio kecil yang volumenya tidak pernah benar-benar pas terlalu keras untuk diangap latar belakang, terlalu pelan untuk sungguh-sungguh didengar. Ibu menyusul tidak lama kemudian, membuka jendela dengan gerakan yang sama setiap pagi, seperti tubuhnya sudah hafal di luar kepala. Lalu adik-adik saya, dengan wajah masih kusut dan langkah yang belum sepenuhnya sadar, menyeret kursi ke meja makan.

Kami tidak selalu bicara. Kadang-kadang sarapan berlangsung dalam diam yang bukan sunyi  semacam keheningan yang hidup, yang terisi oleh suara kunyahan, suara gelas diletakkan, suara halaman koran yang dibalik. Saya tidak pernah menganggapnya istimewa. Bagi saya itu hanya pagi, sama seperti setiap pagi lainnya, sama membosankannya, sama pastinya.

Tidak ada yang memberitahu saya bahwa suara-suara itu akan jadi sesuatu yang paling saya rindukan bertahun-tahun kemudian.

Di kota baru, rutinitas pagi saya berubah drastis. Alarm berbunyi, saya matikan, lalu berbaring sebentar di langit-langit yang diam. Tidak ada suara dari luar kamar kecuali kadang langkah penghuni kos lain yang terburu-buru. Sarapan, kalau saya sempat, biasanya roti tawar dan kopi yang dibuat dengan air tidak cukup panas. Semuanya berlangsung di depan layar, sambil membaca berita atau sekadar menggulir media sosial tanpa tujuan.

Efisien. Begitu kata orang-orang yang mengagumi hidup mandiri. Dan memang efisien. Tidak ada yang perlu menunggu siapa pun. Tidak ada yang perlu menyesuaikan jadwal. Saya bisa makan kapan saja, tidur kapan saja, pulang jam berapa pun tanpa perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun.

Tapi efisiensi punya bayangan. Dan bayangan itu panjang.

Suatu malam, saya menelepon ibu hanya karena tidak tahu harus melakukan apa. Bukan karena ada masalah. Bukan karena ada berita penting. Saya hanya ingin mendengar suaranya, dan saya malu mengakui itu bahkan kepada diri sendiri, jadi saya mengawali percakapan dengan pura-pura bertanya soal tagihan listrik rumah.

Ibu menjawab dengan detail yang tidak perlu, dan saya mendengarkan semuanya. Lalu pembicaraan mengalir ke hal-hal lain: tetangga yang baru punya cucu, pohon mangga di halaman belakang yang berbuah lebih lebat dari tahun lalu, kucing yang entah dari mana tiba-tiba sering duduk di depan pintu.

Saya tidak ingat berapa lama kami bicara. Yang saya ingat adalah perasaan setelah telepon ditutup. Ada kehangatan sebentar, seperti seseorang menyalakan kompor kecil di ruang yang dingin. Tapi kehangatan itu tidak bertahan lama. Ruangan itu tetap sama. Saya tetap sendirian di dalamnya.

Ada hal aneh yang terjadi ketika kita pergi dari rumah untuk waktu yang lama. Kita tidak hanya meninggalkan tempat kita meninggalkan versi diri kita yang terbentuk di tempat itu. Dan ketika kita kembali, kita menyadari bahwa versi itu tidak ikut pergi bersama kita. Ia tetap di sana, menempel di dinding, di sudut meja belajar, di bau lemari kayu yang selalu sedikit lembab.

Saya pernah pulang setelah hampir dua tahun di luar kota. Rumah terasa lebih kecil dari yang saya ingat bukan karena menyusut, tentu saja, tapi karena saya yang sudah terbiasa dengan ruang yang berbeda. Saya duduk di kursi lama saya di meja makan, dan ada momen aneh ketika saya sadar bahwa saya tidak tahu lagi bagaimana menjadi anak di rumah ini. Saya sudah terlalu lama belajar menjadi orang dewasa yang berdiri sendiri, sehingga ketika seseorang mengambilkan piring untuk saya, saya hampir merasa tidak pantas menerimanya.

Kata "rindu" terlalu sering dipakai untuk hal-hal yang besar. Rindu seseorang yang pergi. Rindu tempat yang jauh. Rindu masa lalu yang terasa lebih cerah dari yang sebenarnya. Tapi ada kerinduan yang lebih kecil dan lebih jujur kerinduan pada hal-hal yang tidak kita sadari sedang kita miliki.

Saya rindu cara ibu memanggil nama saya dari dapur ketika makanan sudah siap. Bukan dengan nada penting, bukan darurat, hanya nama saya diucapkan dengan santai ke arah ruang tengah, tahu bahwa saya pasti mendengar. Saya rindu cara bapak tidak bicara tentang apa pun yang penting, tapi selalu ada di kursi itu, membaca atau menonton sesuatu, menciptakan kehadiran yang tidak menuntut apa-apa.

Saya rindu tidur di rumah dan tahu bahwa ketika saya bangun, akan ada suara. Bukan suara yang perlu saya ciptakan sendiri.

Seorang teman pernah bercerita tentang ibunya yang mulai memasak terlalu banyak sejak anak-anaknya semua pergi dari rumah. Bukan karena lupa, tapi karena tangan mereka sudah terlanjur terlatih memasak untuk banyak orang. Jadi setiap kali memasak, selalu ada lebih. Sisa yang kemudian dibagi ke tetangga, ke asisten rumah tangga, ke siapa saja yang kebetulan lewat.

"Ibu gue bilang biar dapurnya nggak sepi," kata teman saya.

Saya tidak tertawa, meski kalimat itu terdengar lucu kalau dibacakan cepat. Saya justru diam sebentar, karena kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama saya pahami tapi belum pernah berhasil saya ucapkan.

Ada orang-orang yang mengisi kekosongan dengan produktivitas. Ada yang mengisinya dengan keramaian. Ada yang mengisinya dengan berpura-pura bahwa kosong adalah pilihan, bukan kondisi. Dan ada ibu-ibu yang mengisinya dengan terus memasak, karena itu adalah bahasa paling fasih yang mereka tahu untuk mengatakan bahwa mereka masih ada, masih dibutuhkan, masih punya alasan untuk menyalakan kompor setiap pagi.

Saya pernah bertanya kepada diri sendiri, kapan persisnya seseorang menjadi orang dewasa. Bukan dalam arti legal atau administratif, tapi dalam arti yang lebih dalam kapan seseorang benar-benar beranjak dari menjadi anak menjadi bukan anak lagi.

Dulu saya mengira jawabannya ada di pencapaian. Ketika kamu bisa menghidupi dirimu sendiri. Ketika kamu tidak lagi perlu meminta izin. Ketika kamu membuat keputusan besar tanpa berkonsultasi.

Tapi sekarang saya tidak yakin. Saya pikir mungkin seseorang menjadi dewasa bukan ketika ia bisa hidup tanpa orang tuanya, tapi ketika ia mulai bisa melihat orang tuanya sebagai manusia yang juga punya rasa takut, rasa lelah, dan ruang-ruang kosong yang tidak selalu bisa mereka isi sendiri.

Saya menjadi dewasa, mungkin, di momen saya menyadari bahwa bapak juga pernah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bahwa ibu juga pernah menangis di tempat yang tidak dilihat siapa pun. Bahwa mereka berdua, di balik semua kebiasaan dan keteraturan yang tampak kokoh itu, juga sedang belajar, belajar menjadi orang tua, belajar melepaskan, belajar hidup di rumah yang semakin sering sunyi.

Beberapa minggu lalu, saya pulang untuk sebuah alasan kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat telepon. Tapi saya memilih pulang. Saya sampai sore, dan ibu sudah ada di dapur.

Saya duduk di kursi lama saya, dan kami tidak banyak bicara. Saya hanya menonton ibu memasak memperhatikan gerakan tangannya yang sudah sangat hafal, cara ia mengaduk tanpa benar-benar melihat panci, cara ia mencicipi dengan ujung sendok lalu diam sebentar seperti sedang berkonsultasi dengan sesuatu di dalam dirinya.

Tidak ada yang istimewa. Semuanya biasa saja. Dan justru karena biasa, semuanya terasa seperti sesuatu yang ingin saya simpan dengan sangat hati-hati.

Kita tidak diajari cara merindukan hal-hal yang belum hilang. Kita tidak diajari untuk berhenti sejenak di tengah momen yang biasa dan menyadari bahwa inilah yang kelak akan kita cari-cari. Kita terlalu sibuk menjalani sampai lupa bahwa menjalani itu sendiri adalah hadiah.

Saya tidak tahu sampai kapan saya akan bisa terus pulang seperti ini. Tidak tahu berapa banyak lagi pagi yang tersisa di mana suara dari dapur masih akan terdengar ketika saya bangun. Waktu bergerak dengan cara yang tidak pernah benar-benar meminta izin, dan kita baru menyadari ia sudah berjalan jauh ketika kita menoleh ke belakang.

Yang saya tahu hanyalah ini: ada hal-hal yang tidak pernah kita minta hadir dalam hidup kita suara panci di pagi hari, nama kita dipanggil dari ruang lain, kehadiran yang tidak menuntut apa-apa. Hal-hal itu datang begitu saja, seperti udara, seperti cahaya, seperti sesuatu yang begitu ada sampai terasa tidak perlu diperhatikan.

Dan mungkin tugas kita, sebelum semuanya berubah, adalah belajar memperhatikan.

 

30 Hari Menulis Buruk

Hari Ke-24

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 13 Maret 2026

YANG JAUH LEBIH BERBAHAYA DARIPADA NAFSU MAKAN DAN MINUM ADALAH NAFSU BERKUASA

 Saya pernah bertanya kepada seorang kiai sepuh yang sudah menghabiskan lebih dari lima puluh tahun hidupnya untuk mengajarkan ilmu agama. Pertanyaan saya sederhana saja: "Kiai, mana yang lebih sulit, puasa dari makanan atau puasa dari kekuasaan?"Beliau terdiam cukup lama. Lalu tersenyum. Kemudian berkata, "Nak, yang kedua itu bahkan tidak ada dalam kurikulum pesantren mana pun di negeri ini."Dan itulah masalahnya.

Kita hidup di sebuah negeri yang rajin sekali berpuasa dari makanan. Setiap tahun, dengan penuh semangat dan kebanggaan, ratusan juta manusia menahan lapar dan dahaga dari subuh hingga maghrib. Restoran-restoran tutup di siang hari. Warung-warung makan menurunkan tirainya. Bahkan orang yang tidak berpuasa pun merasa perlu untuk makan sembunyi-sembunyi, seolah-olah mempertontonkan sepiring nasi di depan umum adalah kejahatan yang lebih keji dari korupsi.Tapi cobalah tanyakan kepada bangsa yang alim ini: sudahkah kita juga berpuasa dari kekuasaan?Jawabannya akan lebih panjang dari ceramah tarawih, dan lebih berliku dari jalan menuju surga yang selalu dikhotbahkan itu.

Nafsu makan dan minum adalah nafsu yang paling jujur di antara segala nafsu yang ada pada diri manusia. Ia datang tepat waktu, setiap pagi, siang, dan malam. Ia tidak pura-pura. Ia tidak berceramah. Ia tidak memakai peci dan tidak mengepalkan tangan di atas podium sambil berteriak tentang keadilan. Perut lapar adalah perut lapar, titik. Ia tidak akan mengaku kenyang sambil diam-diam menggerogoti cadangan beras milik tetangga. Tidak seperti nafsu berkuasa. Nafsu berkuasa adalah nafsu yang paling munafik dari segala jenis nafsu yang pernah diciptakan Tuhan untuk menguji manusia. Ia datang dengan wajah yang sudah dirias sedemikian rupa: kadang berparas patriot, kadang berwajah ulama, kadang bermuka teknokrat reformis yang membawa segepok data dan presentasi berwarna-warni tentang masa depan bangsa yang gemilang. Ia tidak pernah mengaku sebagai nafsu. Ia selalu menyebut dirinya dengan nama-nama yang lebih terhormat: pengabdian, panggilan, amanah, tanggung jawab sejarah.

Perut lapar tidak pernah menyebut dirinya sebagai "tanggung jawab sejarah."

Di negeri ini, kita sudah menyaksikan begitu banyak babak dari sandiwara yang selalu berulang dengan pemain yang berganti tapi naskah yang sama. Orang-orang yang dulu berteriak dari luar pagar istana, yang dulu mengacungkan kepalan tangan di depan kerumunan mahasiswa, yang dulu menulis artikel-artikel berapi-api tentang tirani dan kesewenang-wenangan, begitu pintu gerbang itu terbuka untuk mereka, sesuatu yang aneh terjadi.

Mereka masuk. Dan pintu itu ditutup dari dalam.

Kemudian dari balik tembok yang sama, dengan intonasi yang hanya sedikit berbeda, mereka mulai bicara tentang stabilitas, tentang proses, tentang pentingnya tidak terburu-buru, tentang kompleksitas yang tidak dipahami oleh orang-orang di luar. Orang-orang yang dulu berdiri bersama mereka di luar pagar kini dianggap tidak cukup dewasa untuk memahami realita.

Begitulah kekuasaan bekerja. Ia tidak perlu mengubah orangnya. Ia cukup mengubah di mana orang itu berdiri.

Yang lebih mengherankan lagi adalah fenomena partai-partai politik kita yang tampaknya telah kehilangan salah satu fungsi paling fundamental dalam demokrasi: menjadi oposisi.

Oposisi, dalam tradisi demokrasi yang sehat, bukanlah musuh negara. Ia adalah cermin. Ia adalah pengingat. Ia adalah suara yang secara struktural ditempatkan untuk berkata "tidak" ketika yang lain semuanya berlomba untuk berkata "ya, Pak, benar, Pak, luar biasa, Pak."

Tapi rupanya, di negeri ini, menjadi oposisi terasa seperti hukuman. Seperti diasingkan ke pulau terpencil tanpa sinyal internet. Maka satu per satu, dengan berbagai alasan yang selalu terdengar sangat masuk akal, partai-partai itu berduyun-duyun masuk ke dalam koalisi, menyerahkan kartu truf mereka dengan senyum lebar, lalu duduk manis di meja yang sudah disiapkan untuk mereka.

Meja yang tidak terlalu besar, memang. Tapi cukuplah untuk mendapat remahan.

Dan remahan, rupanya, sudah lebih dari cukup. Asalkan masih bisa disebut bagian dari kekuasaan. Asalkan ada embel-embel jabatan yang bisa ditempelkan di kartu nama. Asalkan masih bisa hadir di acara-acara kenegaraan dan berfoto dengan latar belakang yang bergengsi.

Demokrasi kita, dengan demikian, berjalan seperti orkestra yang semua pemainnya memainkan nada yang sama. Mungkin indah untuk telinga penguasa. Tapi itu bukan musik. Itu adalah kesunyian yang diberi kostum.

Tapi barangkali tidak ada yang lebih menyedihkan dalam seluruh panorama kekuasaan di negeri ini daripada nasib para ulama dan pemimpin agama yang terseret ke dalam pusaran yang sama.

Saya tidak sedang bicara tentang ulama sebagai kelas sosial yang monolitik. Di negeri ini, seperti halnya di mana pun di dunia, selalu ada mereka yang memilih jalan yang sunyi: mengajar di surau-surau kecil, mendampingi orang-orang yang tidak punya akses ke apa pun, berkata benar meskipun tidak ada yang mau mendengar. Mereka adalah garam bumi yang sesungguhnya, dan mereka hampir tidak pernah muncul di layar kaca.

Yang muncul di layar kaca, yang duduk di barisan depan acara pelantikan, yang fotonya beredar di media sosial bersama para pejabat dengan jabat tangan dan senyum yang sudah diperhitungkan, adalah mereka yang telah menemukan bahwa agama, apabila dikelola dengan baik, bisa menjadi komoditas yang sangat menguntungkan dalam pasar kekuasaan.

Fatwa bisa menjadi mata uang. Ceramah bisa menjadi lobi. Massa yang taat bisa menjadi kartu tawar yang sangat berharga di meja negosiasi yang tidak pernah diliput kamera.

Dan maka terjadilah sesuatu yang ironis luar biasa: orang-orang yang sepanjang kariernya mengajarkan tentang zuhud, tentang tidak cinta dunia, tentang bahaya kemewahan dan keserakahan, ternyata juga bisa sangat lapar. Hanya saja yang mereka lapar bukan nasi atau rendang. Yang mereka lapar adalah pengaruh, akses, dan legitimasi dari mereka yang berkuasa.

Ramadhan datang setiap tahun dengan mengusung tema yang sama: pengendalian diri. Sahur sebelum fajar, buka saat adzan, jaga lisan, jaga mata, jaga hati.

Tapi sejauh yang bisa saya amati, seluruh aparatus rohani yang kita kerahkan setiap Ramadhan itu senantiasa diarahkan ke dalam, ke nafsu-nafsu yang bersifat biologis dan personal. Nafsu makan, nafsu minum, nafsu seksual, nafsu marah.

Jarang sekali, nyaris tidak pernah, ada yang mengarahkan lensa itu ke nafsu yang jauh lebih destruktif dalam konteks kehidupan berbangsa: nafsu untuk terus berkuasa, nafsu untuk tidak pernah melepaskan, nafsu untuk memastikan bahwa bahkan setelah jabatan berakhir, pengaruh tetap lestari melalui orang-orang yang dipasang di berbagai posisi strategis.

Nafsu makan yang tidak terkendali paling jauh akan membuat seseorang kegemukan dan sakit diabetes.

Nafsu berkuasa yang tidak terkendali bisa menghancurkan institusi, merusak demokrasi, memiskinkan rakyat, dan mewariskan kepada generasi berikutnya sebuah negara yang sudah digerogoti dari dalam oleh mereka yang seharusnya menjaganya.

Perbandingan bahayanya tidak sebanding. Tapi energi rohani yang kita curahkan untuk melawannya sangat tidak proporsional.

Puasa kuasa. Saya ingin membayangkan seperti apa jadinya apabila konsep ini benar-benar dihayati.

Seorang pemimpin yang puasa kuasa adalah pemimpin yang sadar bahwa jabatannya bukan miliknya. Bahwa kursinya adalah titipan, bukan warisan. Bahwa ia dipilih untuk melayani, bukan untuk dilayani. Bahwa ada masanya untuk memegang dan ada masanya untuk melepas, dan bahwa melepas dengan anggun adalah juga sebuah bentuk kebesaran, bukan kekalahan.

Sebuah partai yang puasa kuasa adalah partai yang sanggup berdiri di luar koalisi tanpa merasa bahwa dunia telah berakhir. Yang mengerti bahwa kemenangan jangka panjang sebuah demokrasi lebih penting daripada jatah kursi menteri yang bisa dinikmati hari ini.

Seorang ulama yang puasa kuasa adalah ulama yang fatwanya tidak bergeser mengikuti arah angin istana. Yang berani berkata tidak kepada yang berkuasa, bukan karena ingin populer di kalangan oposisi, tapi karena memang itulah yang benar.

Ketiganya mungkin terdengar seperti dongeng. Tapi setiap tatanan yang baik pernah dimulai dari seseorang yang pertama kali memutuskan untuk serius menjalankan apa yang selama ini hanya diucapkan.

Seorang kaisar Tiongkok kuno bertanya kepada penasihatnya: "Apa yang paling sulit dalam memerintah?"

Sang penasihat menjawab: "Yang paling sulit adalah berhenti."

Kaisar tersinggung. "Berhenti? Tidakkah memulai yang lebih sulit?"

"Tuanku," kata penasihat itu dengan hati-hati, "memulai hanya butuh keberanian. Berhenti butuh kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan, sayangnya, jauh lebih langka daripada keberanian."

Saya tidak tahu apakah kisah itu benar atau hanya karang-karangan. Tapi kebenarannya terasa hidup di mana-mana, termasuk dan terutama di negeri kita yang setiap harinya memproduksi bukti-bukti baru bahwa berhenti adalah hal yang paling tidak ingin dilakukan oleh siapa pun yang pernah merasakan nikmatnya duduk di atas kursi kekuasaan.

30 Hari Menulis Buruk

Hari Ke-23

Kamis, 12 Maret 2026

Gubernur Tidak Perlu Dipilih Langsung

 

Ada sebuah kelaziman yang sudah lama kita anggap biasa: setiap lima tahun sekali, seluruh bangsa ini diajak berpesta pesta yang hingar, pesta yang bising, pesta yang menghabiskan uang negara dengan begitu ringannya seolah-olah kas negara adalah lautan tanpa tepi. Kita memilih gubernur. Kita berteriak-teriak di lapangan. Kita memasang spanduk di pohon-pohon yang tak pernah minta dipasangi. Kita berdebat di warung kopi sampai kopi itu dingin dan tak ada yang meminumnya. Dan setelah semua keriuhan itu reda, setelah semua suara dihitung dan pemenang diumumkan, kita pun bertanya walaupun dalam hati saja sebenarnya gubernur yang baru kita pilih itu akan mengurus apa?

Pertanyaan itu, bukan pertanyaan yang lahir dari kebodohan. Justru ia lahir dari kejernihan. Sebab jika kita mau membuka Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dengan mata terbuka dan kepala tidak sedang panas, kita akan menemukan satu kenyataan yang cukup menggelitik: Gubernur adalah makhluk hukum yang menanggung dua beban identitas sekaligus. Di satu sisi, ia adalah Kepala Daerah Otonom. Di sisi lain, ia adalah Wakil Pemerintah Pusat di Daerah. Dua topi di satu kepala. Dan siapa pun yang pernah mencoba memakai dua topi sekaligus tahu betul: hasilnya tidak pernah elegan.

Dalam tradisi hukum tata negara, dualisme fungsi seperti ini bukanlah sesuatu yang tak dikenal. Ia memiliki akar yang dalam pada konsep medebewind yang dalam bahasa hukum kita sering diterjemahkan sebagai "tugas pembantuan" di mana suatu organ pemerintahan menjalankan tugas yang bukan semata-mata urusannya sendiri, melainkan juga urusan pemerintah yang lebih tinggi. Gubernur, dalam bingkai ini, adalah perpanjangan tangan Presiden di daerah. Ia bukan berdiri sendiri seperti raja kecil yang merdeka penuh, melainkan terikat pada garis komando yang memanjang dari Istana Negara hingga ke ujung-ujung kepulauan. Namun inilah paradoksnya yang menggelikan: jika ia adalah wakil Presiden, mengapa rakyat yang memilihnya, bukan Presiden?

Mari kita bicara dengan jujur tentang apa yang sesungguhnya dikerjakan seorang Gubernur. Kalau ada atap rumah Anda yang bocor karena jalan kabupaten tidak memiliki drainase yang baik, Anda tidak akan menelepon Gubernur. Kalau Puskesmas di kecamatan kekurangan obat, yang pertama kali kena semprot adalah Bupati atau Walikota, bukan Gubernur. Kalau izin mendirikan bangunan rumah Anda terkatung-katung entah di meja siapa, percayalah, meja itu ada di kantor kota atau kabupaten, bukan di kantor gubernur. Urusan yang betul-betul bersentuhan dengan denyut nadi keseharian rakyat itulah wilayah kewenangan Bupati dan Walikota. Gubernur, dalam konstruksi hukum otonomi daerah kita, lebih banyak berperan sebagai koordinator dan pengawas. Jabatan yang mulia, memang. Tapi jabatan yang sering disalahpahami sebagai jabatan eksekutor harian.

Kesalahpahaman ini, ironisnya, bukan semata-mata kesalahan rakyat. Ia adalah buah dari sistem yang kita bangun sendiri dengan tangan kita sendiri. Ketika otonomi daerah digulirkan pasca-Reformasi, ada semangat yang menggebu-gebu untuk mendistribusikan kekuasaan, untuk memberi rakyat di daerah rasa memiliki atas pemerintahan mereka. Semangat itu mulia. Tapi dalam kemuliaan itu, kita sedikit lupa untuk bertanya: apakah setiap jabatan yang ada memerlukan mekanisme pemilihan langsung yang sama? Apakah demokrasi selalu harus berarti semakin banyak kotak suara yang dibuka?

Demokrasi, dalam pengertian yang matang dan tidak kekanak-kanakkan, bukanlah sekadar soal berapa banyak kepala yang dipilih langsung oleh rakyat. Ia adalah soal bagaimana kekuasaan dijalankan secara akuntabel, efisien, dan memberikan manfaat nyata bagi sebanyak-banyaknya orang. Jean-Jacques Rousseau boleh saja berteriak tentang "kehendak umum," tapi bahkan Rousseau pun tahu bahwa kehendak umum itu perlu diterjemahkan menjadi tindakan konkret yang efektif bukan sekadar ritual demokratis yang megah di luarnya namun kosong di dalamnya. Adalah sebuah kekeliruan berpikir yang cukup fatal jika kita menyamakan "semakin banyak pemilihan langsung" dengan "semakin demokratis." Demokrasi yang baik adalah demokrasi yang melahirkan pemerintahan yang baik. Titik.

Sekarang, cobalah bayangkan dan ini bukan imajinasi liar, ini adalah potret nyata yang bisa kita lihat di banyak daerah seorang Bupati yang baru saja memenangkan pilkada dengan suara yang gemilang, bersitegang dengan Gubernurnya yang juga baru saja menang dengan suara yang tak kalah gemilangnya. Keduanya merasa memiliki mandat rakyat. Keduanya merasa berhak untuk didengar dan dituruti. Keduanya punya partai politik di belakang mereka yang masing-masing punya agenda sendiri. Dan di tengah perang diam-diam antara dua pemenang yang sama-sama berlegitimasi itu, koordinasi macet, program terhenti, dan rakyat yang sedang menunggu jembatan dibangun pun akhirnya lelah menunggu.

Inilah yang dalam ilmu hukum tata negara kita sebut sebagai "friksi kelembagaan" kondisi di mana dua organ pemerintahan yang seharusnya bekerja dalam harmoni justru saling bergesekan karena keduanya merasa memiliki legitimasi yang setara. Masalah ini bukan khayalan akademis. Ia adalah realitas yang telah berulang kali terjadi, dari Sabang sampai Merauke, sejak otonomi daerah berjalan. Dan akar masalahnya adalah logika hukum yang cacat sejak awal: bagaimana mungkin seorang atasan yang berfungsi mengkoordinasikan dan mengawasi bawahannya justru mendapatkan legitimasinya dari sumber yang sama dengan legitimasi sang bawahan? Hubungan hierarkis yang sehat mensyaratkan bahwa sumber legitimasi pun mencerminkan hierarki itu.

Hal yang sama berlaku pada hubungan antara Gubernur dengan Pemerintah Pusat. Konstitusi kita memang tidak secara eksplisit mengatur gubernur sebagai "bawahan" Presiden dalam arti komando penuh. Namun secara fungsional, salah satu peran utama Gubernur adalah mewakili kepentingan pemerintah pusat di daerahnya. Ia seharusnya menjadi transmisi kebijakan nasional yang efektif ke tingkat daerah. Tapi bagaimana ia bisa menjadi transmisi yang efektif jika ia terpilih melalui mekanisme yang tidak melibatkan Presiden sama sekali? Bagaimana Presiden bisa memastikan bahwa Gubernur yang bertugas mewakilinya benar-benar menjalankan visi nasional, bukan visi partai, bukan visi kelompok, dan bukan visi pribadinya sendiri yang sedang mempersiapkan diri maju ke kontestasi yang lebih tinggi?

Dan biaya, jangan lupakan soal biaya. Penyelenggaraan Pilkada serentak untuk memilih gubernur di seluruh Indonesia membutuhkan anggaran yang, jika angkanya dituliskan, akan membuat kita terdiam sejenak. Puluhan triliun rupiah. Uang yang sejatinya bisa digunakan untuk membangun ribuan kilometer jalan, membiayai beasiswa jutaan pelajar, atau memperkuat sistem kesehatan yang masih banyak kekurangannya di berbagai penjuru negeri. Semua itu kita habiskan demi memilih seseorang yang dalam tatanan hukum yang ada fungsi utamanya adalah mengkoordinasikan dan mengawasi, bukan mengeksekusi program yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari rakyat. Ada sesuatu yang salah dalam kalkulasi ini, dan kesalahan itu bukan kecil.

Lalu, apa jalan keluarnya? Saya tidak sedang mengajak kita untuk merobohkan demokrasi. Saya tidak sedang memanggil-manggil hantu Orde Baru dari kuburannya. Saya sedang mengajak kita untuk berpikir lebih jernih: bahwa demokrasi yang baik adalah demokrasi yang tepat sasaran. Bupati dan Walikota, yang benar-benar berhadapan langsung dengan kebutuhan sehari-hari warganya, sudah semestinya dipilih langsung oleh rakyat. Mekanisme akuntabilitas langsung antara pemimpin daerah dan konstituennya di tingkat kabupaten/kota adalah sesuatu yang secara hukum maupun secara politik sangat dapat dibenarkan. Di sinilah demokrasi lokal seharusnya paling hidup dan paling bermakna.

Namun untuk jabatan Gubernur kecuali di Daerah Khusus Jakarta yang konstruksi hukumnya memang berbeda karena di sana gubernur adalah eksekutor sesungguhnya dengan walikota-walikota yang berstatus ditunjuk, bukan dipilih ada argumen hukum dan argumen praktikal yang sama-sama kuat untuk mengalihkan mekanisme pemilihannya kepada DPRD Provinsi, dengan pengesahan oleh Presiden. Dengan demikian, kedua fungsi gubernur yang selama ini tumpang tindih itu dapat direkonsiliasi: sebagai kepala daerah otonom, ia bertanggung jawab kepada DPRD; sebagai wakil pemerintah pusat, ia disahkan oleh Presiden. Tidak ada kontradiksi di situ. Yang ada adalah kejernihan logika hukum.

Tentu saja, argumentasi ini tidak akan mudah diterima. Sebagian orang akan berteriak "kemunduran demokrasi!" Sebagian yang lain akan mengkhawatirkan potensi korupsi dalam pemilihan oleh DPRD dan kekhawatiran itu sah, karena sejarah kita memang menyimpan catatan kelam tentang hal tersebut. Tapi kita tidak boleh menolak sebuah ide yang secara prinsip benar hanya karena implementasinya menghadapi risiko. Yang harus kita lakukan adalah merancang mekanisme yang meminimalkan risiko itu transparansi proses, pengawasan yang ketat, sanksi yang tegas. Hukum, pada akhirnya, adalah instrumen rekayasa sosial. Tugasnya adalah membentuk sistem yang bekerja dengan baik, bukan sekadar sistem yang terlihat demokratis dari luar.

Persoalan kita selama ini bukan kekurangan demokrasi. Persoalan kita adalah demokrasi yang tidak dikelola dengan kepala yang dingin dan logika yang lurus. Kita terlalu sering jatuh cinta pada prosedur tanpa bertanya apakah prosedur itu menghasilkan substansi yang kita inginkan. Kita terlalu sering menyembah ritual tanpa memeriksa apakah ritual itu masih bermakna. Dan kita terlalu sering takut untuk merevisi diri sendiri karena revisi terasa seperti kekalahan, padahal dalam tradisi hukum yang baik, revisi adalah tanda kedewasaan.

Jabatan gubernur bukan sesuatu yang harus dipertahankan cara pemilihannya hanya karena kita sudah terbiasa melakukannya dengan cara tertentu. Hukum yang baik bukan hukum yang paling lama berlaku, melainkan hukum yang paling tepat menjawab kebutuhan zamannya. Dan jika kita sepakat bahwa tujuan akhir demokrasi kita adalah pemerintahan yang efektif, akuntabel, dan mensejahterakan rakyat, maka sudah saatnya kita berani bertanya ulang: cara pemilihan seperti apa yang paling efektif mewujudkan tujuan itu? Jawaban atas pertanyaan itulah yang seharusnya memandu kita bukan nostalgia, bukan rasa takut, dan bukan kebiasaan yang kita biarkan mengeras menjadi dogma.


30 Hari Menulis Buruk

Hari ke-22

Rabu, 11 Maret 2026

Perang dan Mimpi Anak di Bawah Reruntuhan

Pagi itu ia bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena ada yang menyuruh. Bukan karena alarm. Tapi karena ada sesuatu yang menggelegak di dadanya sesuatu yang belum punya nama, sesuatu yang ia yakini akan ia temukan nanti, suatu hari, ketika ia sudah cukup besar untuk memahami dunia yang lebih lebar dari gang sempit di depan rumahnya. Ia memakai sepatu sendiri. Tali kirinya masih miring. Tapi ia bangga. Kemarin ibunya yang mengikat. Hari ini, ia.

Di buku tulisnya ada gambar roket.

Bukan roket yang benar-benar mirip roket lebih menyerupai wortel raksasa dengan api di bawahnya. Tapi di sampingnya ada tulisan kecil-kecil, hurufnya masih oleng ke kanan, "suatu hari aku akan pergi ke sana."

Ke mana sana, belum ia tahu pasti.

Ke langit mungkin. Ke tempat bintang-bintang tidak kelihatan kecil. Ke ruang di mana gravitasi tidak berlaku dan air mengambang seperti gelembung sabun karena gurunya pernah bilang begitu dan ia tidak berhenti memikirkannya selama tiga hari berturut-turut.

Ia jenis anak yang tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu.

Kenapa langit biru?

Kenapa api panas?

Kenapa orang mati tidak bisa kembali?

Pertanyaan terakhir itu pernah ia tanyakan kepada neneknya, dua minggu setelah kakeknya pergi. Neneknya menangis. Ia tidak mengerti kenapa. Ia hanya ingin tahu.

Ia selalu hanya ingin tahu.

Tapi dunia tidak selalu ramah pada anak-anak yang ingin tahu.

Dunia kadang menjawab pertanyaan dengan ledakan.

Dunia kadang menutup mulut kecil itu, sebelum sempat membentuk huruf vokal pertama, dari pertanyaan berikutnya.

Seminggu sebelum semuanya terjadi, ia bertanya kepada ayahnya:

"Ayah, ilmuwan itu kerjaannya apa?"

Ayahnya, yang pulang malam dengan punggung lelah dan tangan kapalan, berhenti sejenak. Menaruh tasnya. Lalu duduk di lantai, di sebelah anaknya, seolah pertanyaan itu layak dijawab dengan sepenuh tubuh.

"Ilmuwan itu mencari tahu," kata ayahnya.

"Mencari tahu apa?"

"Mencari tahu segalanya. Kenapa ini begini. Kenapa itu begitu. Kenapa dunia berjalan seperti ini dan bukan seperti itu."

Anaknya diam sebentar.

Lalu matanya menyala seperti kompor dinyalakan, seperti lampu yang tiba-tiba menemukan arusnya.

"Berarti aku sudah jadi ilmuwan," katanya.

"Kenapa?"

"Karena aku juga selalu ingin tahu."

Ayahnya tertawa. Tertawa sungguhan, bukan tawa basa-basi orang dewasa yang terlalu lelah untuk benar-benar hadir. Tawa itu nyata. Tawa itu hangat. Tawa itu adalah salah satu dari sedikit hal yang kemudian ia simpan rapat-rapat di sisa hidupnya, karena tidak ada yang tahu bahwa sisa hidup itu tidak akan panjang.

Tidak ada yang tahu.

Anak itu tidak tahu.

Ayahnya tidak tahu.

Ibunya yang pagi itu menciumnya dua kali di dahi sekali karena sayang, sekali karena entah kenapa tidak bisa berhenti tidak tahu.

Kalau tahu, mungkin ciuman itu akan menjadi tiga kali.

Empat.

Tidak akan berhenti sampai anak itu protes dan menggeliatkan kepalanya dan bilang "Ibu, sudah, aku terlambat."

Tapi tidak ada yang tahu.

Maka pagi itu berjalan seperti pagi-pagi lain.

Pintu ditutup.

Langkah kaki mengecil di ujung gang.

Dan ibu kembali ke dapur dengan perasaan biasa.

Biasa yang kemudian ia sesali seumur hidup, karena ia ingin sekali merasakan bahwa pagi itu berbeda, bahwa ada tanda, bahwa semesta memberinya petunjuk, agar setidaknya ia punya waktu untuk berlari menyusul, untuk memeluk lebih lama, untuk mengatakan hal-hal yang selama ini ia tunda karena pikir masih ada waktu, masih ada waktu, selalu masih ada waktu, sampai tiba-tiba tidak ada.

Ada yang perlu kita bicarakan tentang cara kehilangan.

Ia tidak datang sekaligus. Ia tidak sopan. Ia tidak memberi aba-aba atau ketukan pintu atau surat peringatan tiga hari sebelumnya. Kehilangan datang seperti tagihan yang tidak pernah kamu sadari menumpuk dan tiba-tiba, di satu pagi yang kelihatannya biasa, semuanya jatuh tempo sekaligus dan kamu tidak punya apa-apa untuk membayarnya.

Ibu itu tidak langsung menangis.

Ini yang jarang diceritakan orang.

Bahwa ada jeda. Ada momen di mana tubuh menerima kabar tapi pikiran menolak memprosesnya. Ada beberapa detik atau menit, atau jam, berbeda-beda pada tiap orang, di mana seseorang berdiri di tengah ruangan dan merasakan bahwa sesuatu telah berubah secara permanen tapi belum sepenuhnya mengerti apa.

Ibu itu masih berdiri di dapur.

Kompor masih menyala.

Air masih mendidih.

Dan ia masih mengaduk sesuatu di panci

sambil otaknya perlahan-lahan, dengan sangat pelan dan sangat kejam, mulai menyusun kembali apa yang baru saja ia dengar menjadi sebuah kenyataan yang tidak bisa ia kembalikan.

Lalu tangannya berhenti mengaduk.

Dan air di panci terus mendidih, terus berputar, terus bergerak seolah dunia tidak peduli bahwa baru saja ada sesuatu yang runtuh di ruangan itu.

Gelang itu berwarna biru.

Dibeli di pasar, harganya tidak seberapa, tapi ia minta dibelikan dengan cara yang tidak bisa ditolak bukan merengek, bukan memaksa, tapi dengan cara berkata "itu bagus ya, Bu" sambil matanya tidak beranjak dari etalase, dan ibunya tahu, dan ibunya beli, dan ia pakai sejak hari itu dan tidak pernah lepas bahkan ketika tidur bahkan ketika mandi bahkan ketika berlari-larian di halaman sekolah bahkan ketika tidur siang di lantai dengan pipi menempel di ubin yang dingin.

Bahkan ketika semuanya terjadi.

Gelang biru itu tetap di tempatnya.

Seolah ada sesuatu dalam dirinya atau dalam gelang itu, atau dalam semesta yang kadang-kadang, di tengah semua kekacauannya, masih menyisakan satu hal kecil yang utuh yang memastikan bahwa ada yang bisa dikenali. Bahwa ada yang bisa membawa pulang.

Ayahnya menemukannya bukan dari wajah.

Wajah itu sudah tidak bisa dikenali.

Ayahnya menemukannya dari gelang biru itu, yang masih melingkar di pergelangan, yang masih utuh di antara semua yang tidak utuh, seolah ada sesuatu dalam diri semesta yang ingin memastikan bahwa ada yang tersisa, bahwa ada yang bisa membawa pulang, bahwa ayah ini tidak perlu pulang dengan tangan kosong dan pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab tentang di mana anaknya, di mana anaknya, di mana anaknya.

Ia menemukannya.

Tapi apa artinya menemukan, ketika yang ditemukan adalah bukti kehilangan?

Ayah itu berlutut lama sekali.

Di tanah yang masih berbau asap. Di antara orang-orang lain yang juga sedang mencari. Di bawah langit yang tidak peduli langit yang biru, langit yang sama birunya dengan gelang di pergelangan tangan anaknya, langit yang dulu selalu anaknya tunjuk dan tanyakan "Ayah, kenapa warnanya itu? Kenapa tidak hijau? Kenapa tidak merah?"

Langit yang tidak pernah menjawab.

Langit yang hari itu juga tidak menjawab.

Ayah itu tidak berteriak. Tidak meraung. Mungkin karena kesedihan yang terlalu besar tidak lagi punya suara. Mungkin karena tubuhnya memutuskan bahwa untuk menanggung ini, ia harus diam. Ia harus sangat, sangat diam. Seperti orang yang sedang membawa sesuatu yang sangat berat dan sangat rapuh dan tahu bahwa satu gerakan salah, satu teriakan, satu kehilangan keseimbangan, dan semuanya akan pecah.

Dan ia tidak mampu menanggung kepecahan yang lebih dari ini.

Maka ia diam.

Dan ia mengangkat tangan kecil itu dengan kedua tangannya.

Dengan hati-hati. Dengan sangat hati-hati. Seperti pertama kali ia menggendong bayi itu dulu di rumah sakit takut salah pegang, takut terlalu keras, takut melukai sesuatu yang begitu kecil dan begitu berharga.

Tidak ada bedanya hari itu.

Ia masih takut melukai.

Ia masih memegang seperti memegang sesuatu yang paling berharga di dunia.

Karena memang itu yang ia pegang.

Malam itu, di sudut rumah yang terlalu sunyi,

ayahnya membuka buku tulis dengan gambar roket yang mirip wortel.

Ia baca pelan-pelan, meskipun hanya beberapa kata. Ia baca berulang-ulang, meskipun sudah hafal. Ia baca seolah dengan membacanya, ia bisa memundurkan waktu kembali ke malam di mana anak itu masih duduk di lantai, masih menggambar dengan pensil yang terlalu keras digenggam, masih hidup dan hangat dan penuh pertanyaan.

"Suatu hari aku akan pergi ke sana."

Ke sana.

Ke langit.

Ayahnya menutup buku itu. Lalu membukanya lagi. Lalu menutupnya. Seperti orang yang tidak tahu mau meletakkan tangannya di mana. Seperti orang yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan tubuhnya sendiri sekarang.

Di luar, langit malam penuh bintang.

Bintang-bintang yang dulu kelihatan kecil dari sini. Bintang-bintang yang anaknya ingin kunjungi. Bintang-bintang yang tidak tahu bahwa ada seseorang yang sangat ingin datang dan sekarang tidak akan pernah bisa.

Dan untuk pertama kalinya, ayahnya benar-benar tidak punya jawaban.

Ia, yang selalu punya jawaban.

Ia, yang malam itu di lantai menjelaskan dengan sepenuh tubuh bahwa ilmuwan adalah orang yang mencari tahu.

Ia, yang percaya bahwa setiap pertanyaan layak dijawab.

Kini ia tidak tahu.

Tidak tahu atas dosa apa.

Tidak tahu atas logika apa.

Tidak tahu dengan bahasa apa ia harus menjelaskan kepada dirinya sendiri bahwa anaknya, anaknya yang hanya ingin tahu kenapa langit biru, anaknya yang sudah bisa mengikat tali sepatu sendiri, anaknya yang tertawa waktu bilang "berarti aku sudah jadi ilmuwan" pergi.

Sebelum sempat menemukan satu pun jawaban dari semua pertanyaannya.

Kita sering bicara tentang angka.

Berapa yang meninggal. Berapa yang luka. Berapa bangunan yang rata. Berapa lama konflik berlangsung. Berapa resolusi yang gagal disepakati. Berapa pemimpin yang berpidato dengan wajah sedih tapi tangan yang tetap menandatangani.

Angka itu penting.

Tapi angka tidak memakai gelang biru.

Angka tidak menggambar roket yang mirip wortel.

Angka tidak bertanya kenapa langit biru kepada ayahnya di lantai ruang tamu pada suatu malam yang seharusnya biasa.

Angka tidak punya nama.

Dan anak itu punya nama.

Ia punya nama yang dipilih dengan susah payah oleh kedua orang tuanya nama yang diucapkan pertama kali dengan suara bergetar di ruang bersalin, nama yang kemudian ditulis di akta kelahiran dengan tinta hitam yang sekarang terasa seperti ironi, nama yang dipanggil ibunya setiap pagi dengan nada tertentu yang berbeda untuk hari sekolah dan hari libur, nama yang ditulis di sampul buku tulis bergambar roket.

Nama yang sekarang diukir di tempat yang berbeda.

Di tempat yang tidak pernah ada dalam rencana siapapun.

Dunia terus berputar.

Ini yang paling kejam dari semuanya.

Bahwa setelah semua yang terjadi, matahari masih terbit. Pasar masih buka. Di suatu sudut kota lain, anak-anak lain masih berlari-larian dan bertanya kenapa dan bagaimana dan apa itu dengan mata yang berbinar persis seperti matanya dulu persis, benar-benar persis, sampai kadang-kadang ayahnya tidak tahan melihat anak kecil di jalanan karena ada yang serupa dan ada yang menyayat.

Burung-burung masih bernyanyi.

Ini yang kedua paling kejam.

Bahwa alam tidak berduka. Bahwa pohon tidak patah untuk menghormati. Bahwa hujan turun bukan sebagai ungkapan simpati tapi semata-mata karena memang giliran hujan. Bahwa semesta bekerja dengan cara yang sangat efisien dan sangat dingin dan tidak terganggu sama sekali oleh kenyataan bahwa seseorang yang ingin menjelajahinya tidak lagi ada.

Dan kita manusia yang katanya beradab, manusia yang katanya punya hati nurani, manusia yang bisa membedakan benar dan salah dan memilih untuk tetap melanjutkan yang salah kita harus memilih.

Apakah kita akan membiarkan dunia ini terus menjadi tempat di mana pertanyaan anak kecil dijawab dengan ledakan.

Di mana mimpi-mimpi kecil yang belum sempat tumbuh dipadamkan sebelum sempat menyala.

Di mana gelang biru menjadi satu-satunya cara seorang ayah mengenali anaknya.

Atau kita akan dengan sekuat apapun yang kita punya, dengan sekecil apapun kapasitas kita, dari sudut manapun kita berdiri memastikan bahwa setiap anak yang bangun pagi dengan sesuatu yang menggelegak di dadanya, sesuatu yang belum punya nama, sesuatu yang berbinar di matanya ketika ia bertanya tentang bintang dan roket dan kenapa langit biru, bisa pulang malam harinya.

Bisa menceritakannya.

Bisa tidur dengan tali sepatu yang sudah ia ikat sendiri hari itu, dengan bangga yang kecil tapi nyata, dengan hari esok yang masih ada, dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih menunggu jawaban, dengan gelang biru yang ia pakai bukan karena harus dikenali, tapi karena memang ia suka warna biru.

Sesederhana itu.

Ia hanya ingin tahu namanya sendiri nama besar yang kelak akan ia sandang, ilmuwan, penjelajah, penemu, orang yang mencari tahu kenapa langit berwarna biru dan menemukan jawabannya dan menulis jawabannya di buku tulis dengan sampul bergambar roket mirip wortel dengan huruf yang masih oleng ke kanan. Tapi dunia memutuskan ia tidak perlu nama itu. Cukup nama kecilnya saja. Yang diukir di batu. Yang diucapkan ibunya setiap malam, sebelum tidur, bukan sebagai panggilan, tapi sebagai doa yang tidak tahu harus meminta apa lagi, selain: semoga di mana pun kamu sekarang, ada yang mau menjawab, semua pertanyaanmu. Semoga langit di sana juga biru.

Dan semoga kamu akhirnya tahu kenapa.


30 Hari Menulis Buruk 

Hari Ke-21