"Maaf"
tak pernah bisa dipisahkan dari ingatan, tapi mungkinkah ingatan bisa kekal?
Pertanyaan ini bergema setiap kali ritus tahunan Lebaran tiba. Kita berjabat
tangan, merangkul, dan meminta maaf. Tapi apakah pengampunan yang kita berikan
dan terima benar-benar abadi, atau sekadar formalitas yang memudar seiring
waktu?
Friedrich
Nietzsche pernah berkata, "Tanpa lupa, kita tak dapat hidup." Dan
mungkin itulah paradoks terbesar dari ritual meminta maaf saat Lebaran. Kita
merayakan pengampunan sambil diam-diam menyadari bahwa ingatan kita terhadap
kesalahan orang lain—dan bahkan kesalahan kita sendiri—akan memudar, tersapu
angin perjalanan waktu.
Memori
bukanlah batu prasasti yang abadi. Seperti kata Marcel Proust, "Ingatan
tidak seperti laboratorium tempat kita menyimpan fakta, tapi seperti apotek
tempat kita mencampur resep sesuai dengan keinginan." Kita mengonstruksi
ingatan, mewarnainya dengan emosi, menghapus bagian yang terlalu menyakitkan,
atau justru mempertebal garis-garis yang menggores hati.
Kita
terkecoh ketika menyangka bahwa ingatan bisa kekal. Plato memperingatkan dalam
dialognya bahwa ingatan manusia seperti lilin yang meleleh di bawah teriknya
pengalaman baru. Lebaran datang dengan janji pembersihan jiwa, tapi bukankah
manusia selalu mengulangi kesalahan yang sama? Jacques Derrida mengingatkan
kita bahwa pengampunan sejati hanya berlaku untuk "yang tak
terampunkan." Jika sesuatu bisa dengan mudah dimaafkan, apakah itu
benar-benar membutuhkan pengampunan?
Mungkinkah
kita berbicara tentang "maaf" di luar sejarah? Martin Heidegger
mungkin akan mengatakan tidak. Baginya, manusia adalah
"ada-dalam-waktu"; eksistensi kita terikat pada temporalitas. Maaf
yang kita ucapkan pada Lebaran bukanlah entitas metafisik yang melayang bebas
dari konteks historis. Ia selalu terjebak dalam jaring-jaring sejarah personal
kita dengan orang lain, dalam luka-luka lampau dan harapan masa depan.
Kita
terkecoh mengira kesalahan masa silam bisa dibereskan. Hannah Arendt berkata,
"Memaafkan bukanlah melupakan; justru mengingat dan melepaskan." Tapi
berapa banyak dari kita yang sungguh-sungguh melepaskan? Berapa banyak yang
masih menyimpan luka, meski bibir telah mengucap maaf? Lebaran menjadi panggung
sandiwara di mana kita berperan sebagai orang yang telah melupakan, padahal
seringkali hanya menyembunyikan.
Ritual
Lebaran dengan salam "mohon maaf lahir batin" menciptakan ilusi
penghapusan total, seperti menekan tombol reset. Albert Camus mungkin tersenyum
kecut melihat absurditas ini—bagaimana manusia menciptakan ritual untuk memberi
makna pada sesuatu yang pada akhirnya tak bermakna. Sebab kita tahu, beberapa
bulan setelah Lebaran, perselisihan akan muncul kembali, kesalahpahaman baru
akan tercipta, dan siklus pelanggaran-pengampunan akan berulang.
Pada
akhirnya, dendam dan maaf akan diambil alih oleh lupa. Maurice Halbwachs,
sosiolog Prancis, menjelaskan bahwa ingatan kolektif terbentuk dan bertahan
melalui interaksi sosial. Tanpa pengingat terus-menerus, bahkan luka paling
dalam pun akan mengabur. Lebaran mungkin bukan sekadar tentang memaafkan, tapi
juga tentang mengakui keterbatasan memori kita. Simone de Beauvoir menulis,
"Jika semua manusia abadi, mungkin tak akan ada pengampunan—hanya
pembalasan tanpa akhir."
Lebaran,
dengan segala kemeriahan dan kekhidmatannya, mungkin adalah pengakuan diam-diam
bahwa kita makhluk terbatas—terbatas dalam ingatan, terbatas dalam kemampuan
memaafkan, dan terbatas dalam kapasitas menahan dendam. Walter Benjamin
mengatakan, "Ada saat di mana melepaskan adalah bentuk kekuatan."
Mungkin kebesaran Lebaran bukanlah pada janji pengampunan abadi, tapi pada
momen singkat ketika kita—meski hanya sekejap—bisa melepaskan.
Emmanuel
Levinas mengingatkan kita bahwa hubungan antarmanusia selalu ditandai oleh
tanggung jawab tak terbatas terhadap "yang lain." Lebaran mungkin
adalah saat ketika kita mengakui tanggung jawab itu, meski kita tahu akan gagal
memenuhinya. Kita meminta maaf tidak hanya untuk kesalahan yang kita sadari,
tapi juga untuk semua cara tak terlihat di mana kita telah gagal dalam tanggung
jawab tersebut.
Bukan
kebetulan bahwa Lebaran datang setelah sebulan penuh puasa dan pengendalian
diri. Seperti kata Michel Foucault, praktik disiplin diri adalah bentuk
kekuasaan yang kita terapkan pada diri sendiri. Puasa adalah latihan
mengendalikan hasrat, termasuk hasrat untuk menyimpan dendam. Ketika Lebaran
tiba, kita telah dilatih untuk melepaskan—baik makanan di siang hari maupun
kebencian di hati.
Nostalgia
Lebaran—aroma ketupat, dekapan keluarga, suara takbir—bukanlah sekadar
kerinduan akan masa lalu, tapi kerinduan akan momen transenden ketika kita
percaya bahwa pengampunan sejati mungkin terjadi. Ludwig Wittgenstein mungkin
melihat ini sebagai permainan bahasa khas Lebaran, di mana kata
"maaf" memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar permintaan
pengampunan; ia adalah pengakuan atas ketidaksempurnaan eksistensi manusia.
Setiap
tahun, kita kembali kepada ritual yang sama. Seperti Sisifus dalam mitologi
Yunani, kita mendorong batu pengampunan ke puncak bukit, hanya untuk melihatnya
menggelinding turun lagi. Albert Camus mengatakan kita harus membayangkan
Sisifus bahagia. Mungkin kita juga harus membayangkan diri kita bahagia dalam
pengulangan abadi dari siklus kesalahan dan pengampunan ini.
Maka
Lebaran, dengan segala keterbatasannya, tetap menjadi momen penting. Bukan
karena ia menjanjikan pengampunan abadi, tapi justru karena ia mengingatkan
kita akan ketidakabadian segala hal—termasuk luka dan dendam. Seperti kata John
Paul Sartre, "Kebebasan manusia terletak pada kemampuannya untuk memilih
respons terhadap kondisi eksistensinya." Lebaran memberi kita kesempatan
untuk memilih melepaskan, meski hanya untuk sementara.
Di
tengah hiruk pikuk silaturahmi dan gemerlap lampu hias, ada keheningan mendalam
yang terjadi ketika dua insan saling bertatap mata dan mengucap maaf. Martin
Buber mungkin menyebut ini sebagai momen "Aku-Engkau" yang sejati, di
mana kita tidak memperlakukan orang lain sebagai objek, tapi sebagai subjek
yang setara. Momen inilah—bukan janji pengampunan abadi—yang menjadi jantung
dari Lebaran.
Pada
akhirnya, kita kembali pada pertanyaan awal: mungkinkah ingatan bisa kekal?
Mungkinkah maaf benar-benar menghapus kesalahan? Jawaban filsafat
eksistensialis mungkin "tidak." Tapi justru dari ketidakmungkinan
itulah Lebaran mendapatkan keindahannya. Ada keberanian dalam upaya kita untuk
memaafkan, meski tahu bahwa kesempurnaan tak mungkin tercapai. Ada keindahan
dalam gestur "mohon maaf lahir batin," meski kita sadar akan
keterbatasan kata-kata.
Seperti
kata Søren Kierkegaard, "Hidup harus dipahami ke belakang, tapi harus
dijalani ke depan." Mungkin itulah esensi dari maaf di Lebaran—bukan
penghapusan masa lalu, tapi keberanian untuk melangkah ke masa depan dengan
kesadaran penuh akan ketidaksempurnaan manusiawi kita.
30 hari menulis buruk
Hari ke-23 menulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar