Di antara hembusan angin senja yang menyapu dedaunan kering, aku
sering bertanya-tanya mengapa kita begitu keras kepala melawan sesuatu yang
telah dituliskan. Berdamai dengan takdir bukanlah tanda kekalahan, melainkan
kebijaksanaan tertinggi yang dapat diraih jiwa yang telah lelah berperang.
Seperti yang pernah dikatakan Søren Kierkegaard, "Hidup harus
dipahami ke belakang, tetapi harus dijalani ke depan." Betapa dalam makna
yang tersirat dalam kalimat itu. Kita seringkali terjebak dalam lingkaran
penyesalan, menatap ke belakang dengan mata berkaca-kaca, sembari menggenggam
erat mimpi-mimpi yang tak pernah terwujud.
Dulu, aku juga seperti itu. Mengutuk nasib yang seolah tidak adil,
mempertanyakan mengapa jalan hidupku begitu berbatu dan berliku. Sementara yang
lain berjalan di atas permadani merah, aku tersandung di antara duri dan
kerikil tajam. Malam-malam panjang kuhabiskan dengan memandang langit-langit
kamar, bertanya-tanya mengapa takdir begitu kejam kepadaku.
Albert Camus pernah menuliskan, "Pemberontakan manusia yang
paling mulia adalah menciptakan kebahagiaan dalam hidup yang absurd."
Kata-kata itu menggema dalam benakku pada suatu pagi yang kelabu. Hujan
rintik-rintik mengetuk jendela, seperti jemari takdir yang ingin kuizinkan
masuk ke dalam hidupku.
Pernahkah kau merasa bahwa semua kepedihan yang kau alami
sebenarnya adalah undangan? Undangan untuk melihat hidup dari perspektif yang
lebih dalam? Friedrich Nietzsche berkata, "Apa yang tidak membunuhku,
membuatku lebih kuat." Tapi mungkin ada yang lebih dalam dari sekedar
menjadi kuat. Mungkin kepedihan itu adalah undangan untuk menjadi lebih
bijaksana, lebih lembut, dan lebih peka terhadap penderitaan orang lain.
Langit senja kini memerah di ujung horizon, mengingatkanku pada
berapa banyak matahari terbenam yang telah kulewati dengan hati yang membatu.
Berapa banyak kesempatan untuk menikmati keindahan yang terlewatkan hanya
karena aku terlalu sibuk mengeluhkan takdirku? Jean-Paul Sartre mengingatkan
kita, "Manusia dikutuk untuk bebas; karena sekali dilemparkan ke dunia, ia
bertanggung jawab atas segala yang ia lakukan."
Aku masih ingat hari itu, ketika semua rencana yang telah kubangun
dengan hati-hati runtuh dalam sekejap. Mimpi yang kugantung setinggi bintang
jatuh ke tanah dan pecah berkeping-keping. Aku berlutut di antara
serpihan-serpihan itu, mengumpulkannya dengan tangan berdarah, berharap dapat
menyatukannya kembali. Tapi takdir berkata lain.
"Berpeganglah pada kenangan, tapi lepaskan rasa sakit,"
begitu kata Rumi. Kata-kata yang begitu sederhana namun begitu sulit untuk
dilakukan. Bagaimana mungkin kita memisahkan kenangan dan rasa sakit ketika
keduanya telah terjalin begitu rapat seperti benang dalam kain?
Daun-daun keemasan berguguran di sekitarku saat aku berjalan
menyusuri jalan setapak yang sepi. Aku teringat musim gugur bertahun-tahun
lalu, ketika aku masih begitu muda dan penuh harapan. Waktu itu, segala sesuatu
tampak mungkin. Dunia terbentang luas di hadapanku, penuh dengan kemungkinan
tak terbatas. Aku tidak tahu bahwa beberapa pintu akan tertutup selamanya,
bahwa beberapa jalan tidak akan pernah kutapaki.
Marcus Aurelius, kaisar Romawi dan filsuf Stoik, pernah menuliskan,
"Terimalah dengan tenang apa yang tidak dapat kau ubah." Kata-kata
yang begitu menggugah, tetapi begitu sulit untuk dijalankan. Kita, dengan
kebodohan dan keegoisan kita, sering berpikir bahwa kita dapat mengubah arah
angin takdir dengan kekuatan kemauan semata.
Tapi bagaimana jika berdamai dengan takdir bukan berarti menyerah,
melainkan menemukan keberanian untuk menerima apa yang tidak dapat diubah dan
kebijaksanaan untuk membedakan antara apa yang dapat dan tidak dapat diubah?
Epictetus, seorang budak yang menjadi filsuf, mengatakan, "Kita tidak
terganggu oleh hal-hal, tetapi oleh pandangan kita tentang hal-hal
tersebut."
Mungkin itulah kunci perdamaian dengan takdir. Bukan mengubah apa
yang telah terjadi, tetapi mengubah cara kita memandangnya. Bukan melupakan
luka-luka masa lalu, tetapi membiarkannya menjadi guru yang bijaksana.
Aku duduk di bangku taman, memandangi anak-anak yang bermain dengan
riang. Betapa mereka belum mengenal beratnya hidup, betapa mereka masih percaya
bahwa semua mimpi dapat menjadi kenyataan. Aku tersenyum getir, menyadari bahwa
aku pernah seperti mereka. Dan mungkin, dalam suatu cara yang aneh, aku masih
seperti mereka. Masih berharap, masih bermimpi, meskipun kini harapan dan mimpi
itu telah berubah bentuk.
Simone de Beauvoir pernah menuliskan, "Kehidupan tidak ada
artinya a priori. Sebelum kau hidup, hidup itu tidak ada; terserah padamu untuk
memberinya makna, dan nilai adalah tidak lain dari makna yang kau pilih."
Kata-kata itu menggema dalam benakku, seperti lonceng yang berdentang di
kejauhan.
Ya, mungkin itulah tujuan dari semua penderitaan ini. Bukan untuk
menghancurkan kita, tetapi untuk memaksa kita menemukan makna. Bukan untuk
membuat kita menyerah, tetapi untuk mengajari kita ketabahan. Bukan untuk
memadamkan harapan, tetapi untuk membuat kita menghargai cahaya kecil yang
masih berpendar di tengah kegelapan.
Pada akhirnya, berdamai dengan takdir adalah perjalanan panjang
yang harus ditempuh sendiri. Tidak ada peta atau kompas yang dapat menuntun
kita, hanya keyakinan bahwa di balik setiap badai, ada langit biru yang
menunggu. Di balik setiap malam, ada fajar yang akan terbit.
Viktor Frankl, yang bertahan hidup dari kengerian kamp konsentrasi
Nazi, menuliskan, "Ketika kita tidak lagi mampu mengubah situasi, kita
ditantang untuk mengubah diri kita sendiri." Mungkin itulah inti dari
berdamai dengan takdir. Bukan penyerahan yang pasif, melainkan transformasi
yang aktif.
Malam telah turun saat aku melangkah pulang. Bintang-bintang bermunculan
satu per satu, seperti kenangan-kenangan yang bermunculan dari sudut-sudut
gelap pikiran. Beberapa kenangan masih terasa menyakitkan, yang lain terasa
manis dengan sentuhan nostalgia.
Tapi kini aku tahu bahwa semua itu adalah bagian dari diriku. Setiap
kebahagiaan, setiap kepedihan, setiap kemenangan, setiap kekalahan, telah
membentukku menjadi siapa aku sekarang. Dan mungkin, hanya mungkin, takdir
tidak seburuk yang kubayangkan. Mungkin ia hanya seorang guru yang keras, yang
mengajarkan pelajaran-pelajaran yang tidak akan pernah kita pelajari dengan
cara lain.
Seperti yang dikatakan Heraclitus, "Tidak ada manusia yang
pernah melangkah di sungai yang sama dua kali, karena itu bukan sungai yang
sama dan ia bukan manusia yang sama." Kita terus berubah, begitu pula
takdir kita. Dan dalam perubahan itulah, mungkin, kita menemukan kedamaian.
Bayangkan sebuah kamar tua yang lama tidak dikunjungi. Debu
menyelimuti perabotan, jaring laba-laba menghiasi sudut-sudut ruangan, dan
udara terasa berat oleh beban waktu. Begitulah kadang kenangan lama yang kita
simpan dalam sudut-sudut gelap pikiran kita. Kenangan tentang kesalahan,
penyesalan, dan luka yang tidak pernah sembuh sepenuhnya.
Plato pernah berkata, "Waktu adalah citra bergerak dari
keabadian." Namun mengapa waktu terasa begitu kejam ketika kita menatap ke
belakang? Mengapa kenangan pahit begitu enggan melepaskan cengkeramannya pada
hati kita?
Aku teringat pada suatu hari di musim hujan, ketika air mata langit
turun tanpa henti, membasahi bumi yang kering kerontang. Aku berdiri di depan
jendela, memandang titik-titik air yang menuruni kaca, mengaburkan dunia di
luar sana. Betapa hal itu mengingatkanku pada diriku sendiri: menatap dunia
melalui lensa air mata, melihat segalanya dalam kabut kesedihan.
"Kebebasan sejati adalah ketika kita bebas dari keinginan,
bebas dari ketakutan, dan bebas dari kemarahan," kata Buddha. Tapi
bagaimana kita bisa bebas ketika rantai masa lalu begitu erat melilit?
Bagaimana kita bisa melepaskan diri ketika beban penyesalan begitu berat
menekan?
Aku masih ingat wajahnya, tatapan matanya yang terluka ketika aku
mengucapkan kata-kata yang tak dapat kutarik kembali. Kata-kata yang mungkin
telah mengubah arah hidupnya, dan pastinya telah mengubah arah hidupku.
Bertahun-tahun kemudian, dan aku masih terbangun di tengah malam,
bertanya-tanya bagaimana jika aku memilih kata-kata yang berbeda, jalan yang
berbeda, keputusan yang berbeda.
Arthur Schopenhauer menuliskan, "Hidup kita dapat dipandang
sebagai edisi dari sebuah buku. Orang bodoh membolak-balik halaman dengan
terburu-buru; orang bijak membaca dengan seksama, mengetahui bahwa ia hanya
dapat membacanya sekali." Tapi bagaimana jika buku itu penuh dengan
kesalahan dan kekeliruan? Bagaimana jika halaman-halaman terbaiknya telah
tercabik dan hilang?
Di bawah langit yang sama, di kota yang sama, mungkin ia masih ada
di sana. Mungkin ia telah menemukan kebahagiaannya sendiri, telah memaafkan apa
yang tidak dapat aku maafkan dari diriku sendiri. Atau mungkin ia juga masih
terjebak dalam penjara masa lalu, seperti diriku.
"Penderitaan adalah hal pertama yang kita konfirmasi ketika
lahir, dan hal terakhir yang kita lepaskan sebelum mati," kata Emil
Cioran. Kata-kata yang begitu gelap, namun begitu dekat dengan kebenaran. Kita
semua menderita, dengan cara kita masing-masing. Tapi mungkin penderitaan terbesarku
adalah ketidakmampuanku untuk melepaskan apa yang tidak lagi bisa kuubah.
Cahaya bulan menerobos melalui sela-sela tirai, membentuk pola-pola
cahaya dan bayangan di lantai kamarku. Aku duduk di tepi tempat tidur,
memandangi permainan cahaya itu, teringat bagaimana waktu telah mengubah
segalanya. Waktu yang sama telah mengambil begitu banyak, namun juga telah
memberi begitu banyak.
"Waktu adalah penyair terhebat," kata Baltasar Gracián.
"Ia menuliskan baris-baris indahnya dengan tinta yang tak dapat dihapus."
Terkadang aku bertanya-tanya, baris apa yang telah dituliskan waktu dalam kisah
hidupku? Apakah itu epik kepahlawanan, tragedi yang memilukan, atau komedi
ironis tentang manusia yang terlalu serius menanggapi dirinya sendiri?
Langkah-langkah kaki di atas lantai kayu menggema dalam keheningan
rumah tua ini. Rumah yang telah menyaksikan begitu banyak tawa dan air mata,
begitu banyak awal dan akhir. Berapa banyak pagi yang telah kusambut dengan
penuh harapan? Berapa banyak malam yang telah kuhabiskan dalam penyesalan dan
kesepian?
Blaise Pascal menulis, "Hati memiliki alasan yang tidak
diketahui oleh akal." Mungkin itulah sebabnya aku masih mengingat hal-hal
kecil yang tak berarti: warna jilbabnya saat kami pertama kali bertemu,
bagaimana ia selalu memiringkan kepalanya sedikit ketika berpikir, suara
tawanya yang terdengar seperti lonceng kecil di kejauhan.
Aku berjalan ke luar, ke halaman belakang rumah. Bulan purnama
bersinar terang, memandikan dunia dalam cahaya keperakan. Bunga-bunga malam
merekah, melepaskan wangi yang manis dan memabukkan. Di kejauhan, kukuk burung
hantu memecah keheningan malam. Dunia ini begitu indah, bahkan dalam
kesedihannya.
Martha Graham, seorang penari, pernah berkata, "Tubuh tidak
pernah berbohong." Mungkin itulah sebabnya bahuku masih terasa berat oleh
beban masa lalu, dadaku masih terasa sesak oleh kata-kata yang tak terucapkan,
dan air mataku masih mengalir untuk mimpi-mimpi yang tak pernah menjadi
kenyataan.
Namun bukankah kita semua menari dengan waktu? Bukankah kita semua bergerak
melalui kehidupan ini, kadang dengan anggun, kadang tersandung dan jatuh, tapi
tetap bergerak maju? Mungkin itulah kunci berdamai dengan takdir: memahami
bahwa kita semua adalah penari, bergerak dalam irama kehidupan yang kadang
harmonis, kadang sumbang, tapi selalu bergerak.
"Dalam kehilangan, kita menemukan," kata Sri Nisargadatta
Maharaj. Mungkin dalam kehilangan mimpi-mimpiku yang lama, aku telah menemukan
suatu kebijaksanaan baru. Mungkin dalam kekecewaan terhadap apa yang tidak
terjadi, aku telah belajar menghargai apa yang terjadi.
Pagi merekah dengan keindahan yang tak pernah gagal menakjubkanku.
Embun pagi berkilauan seperti permata di ujung-ujung daun, dan kabut tipis
masih menyelimuti kaki bukit di kejauhan. Ada sesuatu yang begitu sederhana dan
begitu sempurna tentang awal yang baru, tentang kesempatan untuk memulai lagi.
"Harapan adalah bulu-bulu yang indah, yang bertengger dalam
jiwa, dan menyanyikan melodi tanpa kata, dan tidak pernah berhenti sama
sekali," tulis Emily Dickinson. Betapa indah metafora itu, betapa
benarnya. Harapan adalah burung yang tetap bernyanyi bahkan di tengah badai
terdahsyat.
Kini, setelah bertahun-tahun berjuang dengan takdirku, aku mulai
memahami bahwa berdamai dengan takdir tidak berarti menyerah pada keadaan. Ini
lebih tentang menemukan harmoni antara apa yang tidak dapat diubah dan apa yang
masih dapat diubah. Seperti yang dikatakan Reinhold Niebuhr dalam Doa
Ketenangan yang terkenal: "Tuhan, berilah aku ketenangan untuk menerima
hal-hal yang tidak dapat kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat
kuubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya."
Keberanian. Kata yang begitu sering disalahpahami. Kita sering
berpikir bahwa keberanian berarti tidak pernah takut, tapi mungkin keberanian
yang sebenarnya adalah melangkah maju meskipun takut. Melangkah ke dalam
ketidakpastian dengan tangan terbuka, siap menerima apa pun yang akan datang.
"Kita berbohong paling sering kepada diri kita sendiri,"
kata Friedrich Nietzsche. Dan mungkin kebohongan terbesar yang kita katakan
pada diri sendiri adalah bahwa kita tidak memiliki pilihan, bahwa kita adalah
korban dari takdir yang kejam. Tapi bukankah selalu ada pilihan, meskipun hanya
dalam cara kita merespons apa yang terjadi pada kita?
Bunga-bunga liar bermekaran di pinggir jalan setapak yang kulalui
setiap hari. Bunga-bunga kecil yang mungkin tidak akan diperhatikan oleh
kebanyakan orang, tapi bagiku mereka adalah pengingat tentang ketahanan,
tentang keindahan yang dapat tumbuh di tempat-tempat yang paling tidak mungkin.
Gabriel García Márquez menulis dalam "Cinta di Masa
Kolera", "Hati memiliki lebih banyak ruang daripada surga untuk
memaafkan." Entah berapa banyak waktu yang telah kuhabiskan untuk
memaafkan orang lain, tapi mungkin yang paling sulit adalah memaafkan diriku
sendiri. Memaafkan kesalahan-kesalahan yang telah kubuat, kesempatan-kesempatan
yang telah kusia-siakan, dan waktu yang telah kubuang.
Tapi bukankah pemaafan adalah bagian dari berdamai dengan takdir?
Memaafkan diri sendiri atas ketidaksempurnaan, atas kelemahan dan kegagalan.
Memaafkan takdir atas apa yang tidak diberikannya, dan berterima kasih atas apa
yang telah diberikannya.
Kupu-kupu kuning terbang melintas di hadapanku, menari-nari di
udara dengan sayap-sayapnya yang rapuh namun indah. Betapa singkat umur
kupu-kupu, betapa rapuh keberadaannya. Namun betapa indah kehidupan singkat
itu, betapa penuh warna dan gerakan.
Jorge Luis Borges, penulis Argentina, berkata, "Waktu adalah
substansi dari mana aku dibuat. Waktu adalah sungai yang membawaku, tapi aku
adalah sungai itu." Kata-kata yang begitu dalam, mengingatkanku bahwa aku
tidak hanya dibentuk oleh waktu dan takdir, tapi juga membentuknya.
Matahari mulai condong ke barat, memanjangkan bayangan-bayangan dan
mengubah warna langit menjadi jingga keemasan. Aku duduk di bawah pohon ek tua
yang telah berdiri di sini sejak lama sebelum aku lahir, dan mungkin akan terus
berdiri lama setelah aku tiada. Pohon ini telah menyaksikan begitu banyak musim
berganti, begitu banyak badai berlalu, namun ia tetap berdiri, mengulurkan
cabang-cabangnya ke langit seperti lengan yang mendamba.
"Hidup kita adalah apa yang pikiran kita buat," kata
Marcus Aurelius. Kata-kata yang begitu sederhana namun begitu mendalam.
Bukankah begitu banyak penderitaan kita berasal dari cara kita memandang dunia
dan apa yang terjadi pada kita? Bukankah begitu banyak kebahagiaan kita
bergantung pada makna yang kita berikan pada pengalaman kita?
Aku memejamkan mata, membiarkan angin sepoi-sepoi membelai wajahku,
membiarkan suara-suara alam menyelimutiku. Kicauan burung-burung yang bersiap
untuk malam, gemerisik daun-daun yang ditiup angin, dengungan serangga-serangga
malam yang mulai memperdengarkan musik mereka. Ada kedamaian dalam
kesederhanaan momen ini, dalam keberadaan murni tanpa pikiran tentang masa lalu
atau kekhawatiran tentang masa depan.
"Karena kita tidak dapat mengubah realitas, mari kita mengubah
mata yang melihat realitas," kata Nikos Kazantzakis. Dan mungkin itulah
perjalanan tersulit yang pernah kutempuh: perjalanan untuk mengubah cara
pandangku terhadap takdirku. Bukan lagi melihatnya sebagai musuh yang harus
dilawan, melainkan sebagai guru yang harus didengarkan.
Dalam keheningan senja, aku menyadari bahwa berdamai dengan takdir
adalah jalan pulang ke diri sendiri. Pulang ke penerimaan diri yang utuh,
dengan segala kekurangan dan kelebihan. Pulang ke keberanian untuk hidup
sepenuhnya, dengan segala kegembiraan dan kepedihan. Pulang ke kebijaksanaan
untuk mengetahui bahwa hidup, dengan segala kompleksitasnya, adalah hadiah yang
tak ternilai.
"Manusia mencari bukan begitu banyak kebahagiaan melainkan
sebuah alasan untuk bahagia," tulis Fyodor Dostoevsky. Dan mungkin alasan
terbesar untuk bahagia adalah pemahaman bahwa hidup ini, dengan segala
ketidaksempurnaannya, adalah satu-satunya yang kita miliki. Bahwa setiap momen,
setiap nafas, adalah kesempatan untuk memulai lagi, untuk melihat dengan mata
baru, untuk membuka hati pada kemungkinan-kemungkinan baru.
Langit senja kini hampir gelap, dengan hanya sedikit cahaya
keemasan yang tersisa di ufuk barat. Bintang-bintang mulai muncul satu per
satu, seperti pikiran-pikiran baru yang muncul dalam kegelapan. Bintang-bintang
yang telah ada di sana sepanjang hari, tapi baru terlihat ketika kegelapan
datang.
"Akhirnya kita semua mencapai tujuan yang sama, hanya saja
melalui jalan yang berbeda-beda," kata penyair Rumi. Dan mungkin dalam
pencarian untuk berdamai dengan takdir, kita semua menempuh jalan yang berbeda,
namun menuju tujuan yang sama: penerimaan, ketenangan, dan pada akhirnya,
cinta.
Cinta pada kehidupan dengan segala ketidaksempurnaannya. Cinta pada
diri sendiri dengan segala kerapuhannya. Cinta pada takdir dengan segala
misterinya.
Di bawah langit berbintang yang luas, aku merasa begitu kecil namun
begitu terhubung dengan segalanya. Dengan masa lalu dan masa depan, dengan
mimpi-mimpi yang telah pergi dan harapan-harapan yang belum lahir, dengan
kesedihan dan kegembiraan, dengan kesepian dan kebersamaan.
Mungkin inilah makna terdalam dari berdamai dengan takdir: memahami
bahwa kita adalah bagian dari suatu narasi yang lebih besar, suatu tarian
kosmik yang telah berlangsung sejak awal waktu dan akan terus berlangsung
hingga akhir waktu. Dan dalam tarian itu, setiap langkah kita, setiap gerakan
kita, memiliki makna dan tujuan, meskipun kita mungkin tidak selalu dapat
melihatnya.
Malam telah tiba sepenuhnya kini, menyelimuti dunia dalam kegelapan
yang lembut. Aku berdiri, menepuk-nepuk pakaianku yang kotor oleh tanah dan
rumput, dan mulai berjalan pulang. Pulang ke rumah, pulang ke diri, pulang ke
kedamaian dengan takdir yang telah kutemukan.
Seperti yang dikatakan oleh T.S. Eliot, "Kita tidak akan
berhenti menjelajah, dan akhir dari semua penjelajahan kita akan menjadi tiba
di tempat kita mulai dan mengenal tempat itu untuk pertama kalinya."
Dan mungkin itu adalah esensi dari perjalanan untuk berdamai dengan
takdir: kembali ke diri kita sendiri, dan mengenal diri itu untuk pertama
kalinya. Melihat dengan jelas, tanpa distorsi penyesalan atau ketakutan, siapa
kita sebenarnya dan apa tujuan kita sebenarnya.
Dalam damai yang akhirnya kutemukan dengan takdirku, aku menemukan
kebebasan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Kebebasan untuk menerima
masa lalu tanpa penyesalan, untuk menjalani masa kini dengan kesadaran penuh,
dan untuk menghadapi masa depan dengan keberanian dan harapan.
Seperti yang dikatakan oleh John O'Donohue, penyair Irlandia,
"Memberkati adalah cara untuk memberikan kekudusan dan keindahan kembali
pada dunia." Dan mungkin berdamai dengan takdir adalah cara untuk
memberkati kehidupan kita sendiri, untuk mengenali kekudusan dan keindahan
dalam setiap suka dan duka, dalam setiap awal dan akhir, dalam setiap mimpi
yang terwujud dan yang tidak.
Dalam keheningan malam, di bawah keagungan langit berbintang, aku
akhirnya mengerti. Berdamai dengan takdir bukanlah tentang penyerahan,
melainkan tentang penerimaan. Bukan tentang kekalahan, melainkan tentang
pembebasan. Bukan tentang akhir dari harapan, melainkan tentang awal dari
kebijaksanaan.
Dan dalam kebijaksanaan itu, aku menemukan kedamaian yang telah
lama kucari.
30
hari menulis buruk
Hari
ke-14 menulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar