Pengikut

Kamis, 20 Maret 2025

Mengapa Kita Menghancurkan Hal yang Paling Kita Cintai


 

Di bawah langit padang pasir yang luas dan tak berbatas, di mana bintang-bintang bersinar lebih terang dari kota-kota yang pernah kukunjungi, aku menemukan diriku bertanya tentang paradoks terbesar dalam hidup kita. Mengapa kita, makhluk yang begitu mendambakan cinta, justru menjadi perusak terbesar dari hal-hal yang paling kita sayangi?

Para Valkyrie dalam mitologi Norse adalah pemilih yang gugur di medan perang. Mereka membawa jiwa-jiwa pahlawan ke Valhalla. Mereka adalah simbol kecantikan dan kematian yang menyatu. Seperti halnya kisah-kisah yang diceritakan Coelho tentang perjalanan spiritual, para Valkyrie juga mengingatkan kita akan dualitas hidup—bagaimana destruksi dan kreasi adalah dua sisi dari koin yang sama.

"Untuk menghancurkan adalah bagian dari menciptakan," begitu Shiva sang penari kosmik mungkin berkata. Dan bukankah kita semua adalah penari dalam tarian kehidupan yang tak henti-hentinya berputar antara menciptakan dan menghancurkan?

Aku masih ingat ketika pertama kali membaca tentang perjalanan spiritual dalam The Valkyries—bagaimana Paulo mencari malaikatnya di padang pasir Mojave. Pencarian yang mengingatkanku pada pencarianku sendiri akan kedamaian yang seringkali kurusak dengan tanganku sendiri.

Soren Kierkegaard pernah menulis, "Kecemasan adalah pusing kebebasan." Dan mungkin di sinilah letak masalahnya—dalam kebebasan kita untuk mencintai, kita juga memiliki kebebasan untuk menghancurkan. Kita merasa pusing oleh pilihan-pilihan itu, oleh tanggung jawab yang datang dengan cinta sejati.

Aku teringat pada mata yang berkaca-kaca karena kata-kataku yang tajam. Pada hati yang pernah kusakiti karena ketidakmampuanku untuk menerima kasih sayang yang ditawarkan. Pada mimpi bersama yang kupatahkan karena ketakutanku sendiri.

"Setiap manusia memiliki malaikat pelindung," begitu Coelho menulis. Tapi bukankah kita juga yang sering melukai sayap malaikat-malaikat kita dengan keraguan dan ketakutan kita?

Friedrich Nietzsche mungkin akan mengatakan bahwa ini adalah bagian dari pertarungan abadi dalam diri manusia: "Apa yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih kuat." Tapi berapa banyak dari kita yang benar-benar menjadi lebih kuat setelah menghancurkan apa yang kita cintai? Atau apakah kita justru menjadi lebih kosong, lebih terisolasi dalam benteng pertahanan diri yang kita bangun?

Dalam reminisensi tentang hubungan yang telah berlalu, aku melihat pola yang sama berulang kali. Bagaimana cinta yang tulus perlahan berubah menjadi kepemilikan. Bagaimana kepemilikan berubah menjadi ketakutan. Dan bagaimana ketakutan akhirnya menjadi penghancuran.

Di padang pasir kehidupan, kita semua adalah ksatria yang bertarung dengan tradisi, dengan ekspektasi, dengan ketakutan-ketakutan kita sendiri. Seperti Chris dalam The Valkyries yang harus menghadapi diri sendiri sebelum dapat bertemu malaikatnya.

"Perjuangan terbesar dalam hidup," kata Albert Camus, "adalah untuk tetap menjadi diri sendiri dalam dunia yang mencoba mengubahmu menjadi sama dengan yang lain." Dan mungkin inilah alasan kita menghancurkan hal-hal yang kita cintai—karena mereka melihat kita apa adanya, dan kita takut pada kebenaran itu.

Dalam keheningan malam-malam sepi, aku seringkali memikirkan tangan-tangan yang telah kulepaskan, kata-kata cinta yang tidak pernah kuucapkan, dan keberanian yang tidak pernah kumiliki untuk membiarkan diriku benar-benar dicintai.

Seperti para Valkyrie yang memilih siapa yang hidup dan siapa yang mati di medan perang, kita juga memilih apa yang akan bertahan dan apa yang akan binasa dalam hidup kita. Terkadang, tragisnya, kita memilih untuk mengorbankan hal-hal yang sebenarnya paling kita butuhkan—cinta, kebaikan, ketulusan.

"Kita menghancurkan hal-hal indah karena kita takut tidak mampu melindunginya," mungkin begitu Paulo Coelho akan menjelaskannya. Ada paradoks dalam cinta yang terdalam—semakin kita mencintai sesuatu, semakin besar ketakutan kita akan kehilangannya. Dan dalam ketakutan itulah, kita justru mendorong hal itu menjauh.

Simone de Beauvoir pernah menulis, "Cinta sejati seharusnya membuat pencintanya merasa bebas." Tapi berapa banyak dari kita yang benar-benar mampu mencintai tanpa mengekang? Berapa banyak yang mampu menyerahkan kendali dan mempercayai arus kehidupan?

Dalam The Valkyries, Coelho berbicara tentang pertemuan dengan malaikat kita sendiri—bagian diri kita yang terhubung dengan semesta. Mungkin untuk benar-benar berhenti menghancurkan hal-hal yang kita cintai, kita harus terlebih dahulu berdamai dengan malaikat dalam diri kita.

Rumi, penyair Sufi yang sering dikutip Coelho, mengatakan, "Lukamu adalah tempat di mana cahaya masuk ke dalam dirimu." Mungkin lubang-lubang di hati kita akibat cinta yang telah kita hancurkan juga akan menjadi jalan masuk cahaya baru. Mungkin melalui penderitaan itu, kita akan belajar mencintai tanpa menghancurkan.

Aku teringat pada semua kesempatan kedua yang tidak pernah kuambil. Pada maaf yang tidak pernah kuucapkan. Pada cinta yang kubiarkan pergi karena egoku terlalu besar untuk mengakui bahwa aku salah. Bukankah itu juga bentuk penghancuran—ketika kita membiarkan kesempatan untuk penebusan berlalu begitu saja?

Seperti dalam kisah para Valkyrie, terkadang kita harus melalui ritual tertentu untuk menemukan pengampunan—baik dari orang lain maupun dari diri sendiri. Kita perlu menghadapi bayangan kita, mengakui kesalahan kita, dan belajar mencintai dengan cara yang tidak menghancurkan.

Martin Buber berbicara tentang hubungan "Aku-Engkau" di mana kita benar-benar melihat orang lain sebagai subjek, bukan objek yang bisa kita manipulasi. Mungkin inilah kunci untuk tidak menghancurkan hal-hal yang kita cintai—untuk melihat mereka sebagai entitas terpisah yang memiliki jalan mereka sendiri, bukan sebagai perpanjangan dari keinginan dan ketakutan kita.

Dalam perjalanan hidupku, aku telah belajar bahwa mencintai adalah melepaskan. Bahwa untuk benar-benar memiliki, kita harus bersedia untuk kehilangan. Bahwa cinta sejati tidak pernah menggenggam terlalu erat hingga meremukkan apa yang berusaha dipeluknya.

Padang pasir, seperti dalam karya-karya Coelho, adalah tempat di mana kita dihadapkan pada diri kita yang sebenarnya. Tidak ada tempat untuk bersembunyi di hamparan pasir yang luas—hanya kita dan kebenaran telanjang tentang siapa diri kita.

"Hidup ini akan mengajarimu, jika kau bersedia belajar," kata Viktor Frankl. Dan mungkin pelajaran terbesar yang bisa kita pelajari adalah bagaimana mencintai tanpa menghancurkan, bagaimana memegang tanpa mencengkeram, bagaimana memberi tanpa mengharapkan imbalan.

Dalam kesunyian malam-malam sepi, ketika kenangan-kenangan lama kembali menghampiri, aku berdoa semoga aku telah belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu. Semoga aku tidak lagi menjadi Valkyrie yang membawa kematian bagi cinta dalam hidupku. Semoga aku belajar untuk membiarkan hal-hal yang kucintai tumbuh dalam kebebasan mereka sendiri, tanpa ketakutan atau kecemburuan yang menghancurkan.

Seperti Paulo dan Chris yang akhirnya menemukan jalan pulang setelah pertemuan mereka dengan para Valkyrie di padang pasir, kita semua juga sedang dalam perjalanan pulang—kembali ke hati kita yang paling murni, ke versi diri kita yang mampu mencintai tanpa syarat.

Hannah Arendt menulis, "Cinta, menurut definisinya, adalah kekuatan yang menghubungkan dan memisahkan kita." Mungkin dalam paradoks itulah kita menemukan jawaban—bahwa mencintai berarti menerima jarak, menerima keterpisahan, sambil tetap terhubung dalam jiwa.

Dan mungkin, seperti Paulo Coelho, kita juga perlu menghadapi padang pasir kita sendiri, bertemu dengan Valkyrie dalam diri kita, dan belajar bahwa menghancurkan bukanlah jalan untuk melindungi hal-hal yang kita cintai. Bahwa terkadang, tindakan cinta terbesar adalah membiarkan pergi, membiarkan tumbuh, membiarkan menjadi.

Karena pada akhirnya, seperti yang mungkin akan dikatakan Coelho, "Cinta sejati adalah ketika kau memberi seseorang kekuatan untuk menghancurkanmu, tapi kau mempercayai mereka untuk tidak melakukannya." Dan mungkin kita perlu melakukan hal yang sama terhadap diri kita sendiri—mempercayai bahwa kita tidak akan menghancurkan hal-hal yang paling kita cintai, hanya karena kita takut kehilangannya.

 

30 hari menulis buruk

Hari ke-12 menulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar