Di
bawah langit padang pasir yang luas dan tak berbatas, di mana bintang-bintang
bersinar lebih terang dari kota-kota yang pernah kukunjungi, aku menemukan
diriku bertanya tentang paradoks terbesar dalam hidup kita. Mengapa kita,
makhluk yang begitu mendambakan cinta, justru menjadi perusak terbesar dari
hal-hal yang paling kita sayangi?
Para
Valkyrie dalam mitologi Norse adalah pemilih yang gugur di medan perang. Mereka
membawa jiwa-jiwa pahlawan ke Valhalla. Mereka adalah simbol kecantikan dan
kematian yang menyatu. Seperti halnya kisah-kisah yang diceritakan Coelho
tentang perjalanan spiritual, para Valkyrie juga mengingatkan kita akan
dualitas hidup—bagaimana destruksi dan kreasi adalah dua sisi dari koin yang
sama.
"Untuk
menghancurkan adalah bagian dari menciptakan," begitu Shiva sang penari
kosmik mungkin berkata. Dan bukankah kita semua adalah penari dalam tarian
kehidupan yang tak henti-hentinya berputar antara menciptakan dan
menghancurkan?
Aku
masih ingat ketika pertama kali membaca tentang perjalanan spiritual dalam The
Valkyries—bagaimana Paulo mencari malaikatnya di padang pasir Mojave.
Pencarian yang mengingatkanku pada pencarianku sendiri akan kedamaian yang
seringkali kurusak dengan tanganku sendiri.
Soren
Kierkegaard pernah menulis, "Kecemasan adalah pusing kebebasan." Dan
mungkin di sinilah letak masalahnya—dalam kebebasan kita untuk mencintai, kita
juga memiliki kebebasan untuk menghancurkan. Kita merasa pusing oleh
pilihan-pilihan itu, oleh tanggung jawab yang datang dengan cinta sejati.
Aku
teringat pada mata yang berkaca-kaca karena kata-kataku yang tajam. Pada hati
yang pernah kusakiti karena ketidakmampuanku untuk menerima kasih sayang yang
ditawarkan. Pada mimpi bersama yang kupatahkan karena ketakutanku sendiri.
"Setiap
manusia memiliki malaikat pelindung," begitu Coelho menulis. Tapi bukankah
kita juga yang sering melukai sayap malaikat-malaikat kita dengan keraguan dan
ketakutan kita?
Friedrich
Nietzsche mungkin akan mengatakan bahwa ini adalah bagian dari pertarungan
abadi dalam diri manusia: "Apa yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih
kuat." Tapi berapa banyak dari kita yang benar-benar menjadi lebih kuat
setelah menghancurkan apa yang kita cintai? Atau apakah kita justru menjadi
lebih kosong, lebih terisolasi dalam benteng pertahanan diri yang kita bangun?
Dalam
reminisensi tentang hubungan yang telah berlalu, aku melihat pola yang sama
berulang kali. Bagaimana cinta yang tulus perlahan berubah menjadi kepemilikan.
Bagaimana kepemilikan berubah menjadi ketakutan. Dan bagaimana ketakutan
akhirnya menjadi penghancuran.
Di
padang pasir kehidupan, kita semua adalah ksatria yang bertarung dengan
tradisi, dengan ekspektasi, dengan ketakutan-ketakutan kita sendiri. Seperti
Chris dalam The Valkyries yang harus menghadapi diri sendiri sebelum
dapat bertemu malaikatnya.
"Perjuangan
terbesar dalam hidup," kata Albert Camus, "adalah untuk tetap menjadi
diri sendiri dalam dunia yang mencoba mengubahmu menjadi sama dengan yang
lain." Dan mungkin inilah alasan kita menghancurkan hal-hal yang kita
cintai—karena mereka melihat kita apa adanya, dan kita takut pada kebenaran
itu.
Dalam
keheningan malam-malam sepi, aku seringkali memikirkan tangan-tangan yang telah
kulepaskan, kata-kata cinta yang tidak pernah kuucapkan, dan keberanian yang
tidak pernah kumiliki untuk membiarkan diriku benar-benar dicintai.
Seperti
para Valkyrie yang memilih siapa yang hidup dan siapa yang mati di medan
perang, kita juga memilih apa yang akan bertahan dan apa yang akan binasa dalam
hidup kita. Terkadang, tragisnya, kita memilih untuk mengorbankan hal-hal yang
sebenarnya paling kita butuhkan—cinta, kebaikan, ketulusan.
"Kita
menghancurkan hal-hal indah karena kita takut tidak mampu melindunginya,"
mungkin begitu Paulo Coelho akan menjelaskannya. Ada paradoks dalam cinta yang
terdalam—semakin kita mencintai sesuatu, semakin besar ketakutan kita akan
kehilangannya. Dan dalam ketakutan itulah, kita justru mendorong hal itu
menjauh.
Simone
de Beauvoir pernah menulis, "Cinta sejati seharusnya membuat pencintanya
merasa bebas." Tapi berapa banyak dari kita yang benar-benar mampu
mencintai tanpa mengekang? Berapa banyak yang mampu menyerahkan kendali dan
mempercayai arus kehidupan?
Dalam
The Valkyries, Coelho berbicara tentang pertemuan dengan malaikat kita
sendiri—bagian diri kita yang terhubung dengan semesta. Mungkin untuk
benar-benar berhenti menghancurkan hal-hal yang kita cintai, kita harus
terlebih dahulu berdamai dengan malaikat dalam diri kita.
Rumi,
penyair Sufi yang sering dikutip Coelho, mengatakan, "Lukamu adalah tempat
di mana cahaya masuk ke dalam dirimu." Mungkin lubang-lubang di hati kita
akibat cinta yang telah kita hancurkan juga akan menjadi jalan masuk cahaya
baru. Mungkin melalui penderitaan itu, kita akan belajar mencintai tanpa
menghancurkan.
Aku
teringat pada semua kesempatan kedua yang tidak pernah kuambil. Pada maaf yang
tidak pernah kuucapkan. Pada cinta yang kubiarkan pergi karena egoku terlalu
besar untuk mengakui bahwa aku salah. Bukankah itu juga bentuk
penghancuran—ketika kita membiarkan kesempatan untuk penebusan berlalu begitu saja?
Seperti
dalam kisah para Valkyrie, terkadang kita harus melalui ritual tertentu untuk
menemukan pengampunan—baik dari orang lain maupun dari diri sendiri. Kita perlu
menghadapi bayangan kita, mengakui kesalahan kita, dan belajar mencintai dengan
cara yang tidak menghancurkan.
Martin
Buber berbicara tentang hubungan "Aku-Engkau" di mana kita
benar-benar melihat orang lain sebagai subjek, bukan objek yang bisa kita
manipulasi. Mungkin inilah kunci untuk tidak menghancurkan hal-hal yang kita
cintai—untuk melihat mereka sebagai entitas terpisah yang memiliki jalan mereka
sendiri, bukan sebagai perpanjangan dari keinginan dan ketakutan kita.
Dalam
perjalanan hidupku, aku telah belajar bahwa mencintai adalah melepaskan. Bahwa
untuk benar-benar memiliki, kita harus bersedia untuk kehilangan. Bahwa cinta
sejati tidak pernah menggenggam terlalu erat hingga meremukkan apa yang
berusaha dipeluknya.
Padang
pasir, seperti dalam karya-karya Coelho, adalah tempat di mana kita dihadapkan
pada diri kita yang sebenarnya. Tidak ada tempat untuk bersembunyi di hamparan
pasir yang luas—hanya kita dan kebenaran telanjang tentang siapa diri kita.
"Hidup
ini akan mengajarimu, jika kau bersedia belajar," kata Viktor Frankl. Dan
mungkin pelajaran terbesar yang bisa kita pelajari adalah bagaimana mencintai
tanpa menghancurkan, bagaimana memegang tanpa mencengkeram, bagaimana memberi
tanpa mengharapkan imbalan.
Dalam
kesunyian malam-malam sepi, ketika kenangan-kenangan lama kembali menghampiri,
aku berdoa semoga aku telah belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu. Semoga
aku tidak lagi menjadi Valkyrie yang membawa kematian bagi cinta dalam hidupku.
Semoga aku belajar untuk membiarkan hal-hal yang kucintai tumbuh dalam
kebebasan mereka sendiri, tanpa ketakutan atau kecemburuan yang menghancurkan.
Seperti Paulo dan Chris yang akhirnya menemukan
jalan pulang setelah pertemuan mereka dengan para Valkyrie di padang pasir,
kita semua juga sedang dalam perjalanan pulang—kembali ke hati kita yang paling
murni, ke versi diri kita yang mampu mencintai tanpa syarat.
Hannah
Arendt menulis, "Cinta, menurut definisinya, adalah kekuatan yang
menghubungkan dan memisahkan kita." Mungkin dalam paradoks itulah kita
menemukan jawaban—bahwa mencintai berarti menerima jarak, menerima
keterpisahan, sambil tetap terhubung dalam jiwa.
Dan
mungkin, seperti Paulo Coelho, kita juga perlu menghadapi padang pasir kita
sendiri, bertemu dengan Valkyrie dalam diri kita, dan belajar bahwa
menghancurkan bukanlah jalan untuk melindungi hal-hal yang kita cintai. Bahwa
terkadang, tindakan cinta terbesar adalah membiarkan pergi, membiarkan tumbuh,
membiarkan menjadi.
Karena
pada akhirnya, seperti yang mungkin akan dikatakan Coelho, "Cinta sejati
adalah ketika kau memberi seseorang kekuatan untuk menghancurkanmu, tapi kau
mempercayai mereka untuk tidak melakukannya." Dan mungkin kita perlu
melakukan hal yang sama terhadap diri kita sendiri—mempercayai bahwa kita tidak
akan menghancurkan hal-hal yang paling kita cintai, hanya karena kita takut
kehilangannya.
30
hari menulis buruk
Hari
ke-12 menulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar