Di antara bayangan senja yang memanjang dan desah angin yang
menyapu dedaunan kering, aku merenungkan makna puasa dalam kesendirian.
Agustinus, sang pencari yang menemukan kedamaian setelah perjalanan panjang
dalam kegelisahan, pernah berkata bahwa puasa membersihkan jiwa, membangkitkan
pikiran, mengarahkan kedagingan pada roh, membuat kerendahan hati,
menghancurkan nafsu birahi, memadamkan api nafsu, menyalakan cahaya kesucian
sejati dan membawa kita kembali ke dalam diri kita yang terdalam.
Kata-kata itu menggema dalam keheningan hatiku, seperti bisikan
lembut yang hampir-hampir tak terdengar, namun meninggalkan jejak yang tak
terhapuskan.
Terkadang aku berpikir, betapa puasa menyerupai musim gugur yang
panjang — saat daun-daun kesenangan duniawi berguguran satu per satu,
menyisakan ranting-ranting kehidupan yang telanjang. Bukankah dalam
ketelanjangan itulah kita akhirnya melihat bentuk sejati dari diri kita?
Agustinus membagi puasa dalam dua dimensi yang saling memeluk dalam
kesenyapan — asketis dan spiritual. Yang asketis bagaikan langit kelabu yang
menahan hujan, sebuah pengendalian diri yang penuh keperihan dan kerinduan.
Sementara yang spiritual seperti cahaya remang di balik awan mendung, seberkas
harapan yang tak pernah sepenuhnya menghilang meski diselimuti kegelapan.
Ah, tidakkah engkau merasakan betapa setiap detak jantung yang
memompa darah ke tubuh yang lapar adalah pengingat akan kefanaan dan kehampaan
kita? Setiap rasa haus yang membakar tenggorokan adalah simbol dari dahaga jiwa
yang tak pernah terpuaskan oleh air dunia.
Pernahkah kau rasakan betapa puasa menciptakan ruang kosong dalam
dirimu? Kekosongan yang anehnya tidak membuatmu hampa, tetapi justru mengundang
kehadiran sesuatu yang lebih dalam. Seperti kamar yang dibersihkan dari debu
dan perabotan usang, siap menyambut tamu yang telah lama dinantikan.
Dalam puasa, aku menemukan kesunyian yang menggemakan kebenaran.
Saat perut kosong dan bibir kering, pikiran mulai melayang ke tempat-tempat
yang biasanya tersembunyi. Ingatan akan masa lalu yang kelam, kesadaran akan
kesalahan yang tak termaafkan, dan kerinduan akan sesuatu yang tak terkatakan —
semuanya muncul ke permukaan seperti daun-daun mati yang mengapung di kolam air
yang tenang.
Bukankah ada kesedihan manis dalam menyadari betapa sering kita
tersesat dalam hiruk-pikuk kehidupan? Puasa mengantarkan kita pada pertemuan
dengan diri sendiri yang telah lama kita hindari, dengan luka-luka yang
berusaha kita sembunyikan.
Mungkin ada ironi dalam memaksakan puasa pada diri sendiri. Seperti
bunga yang dipaksa mekar sebelum waktunya, ia akan kehilangan keindahan
alaminya. Puasa sejati datang dari kerinduan, bukan dari paksaan — kerinduan
akan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa kenyang.
Aku merenungkan betapa banyak dari kita yang berpuasa dengan motif
yang salah. Ada yang berpuasa karena ingin menurunkan berat badan, sebuah
kesombongan tersembunyi. Ada yang berpuasa karena takut akan hukuman, sebuah
ketaatan tanpa cinta. Ada pula yang berpuasa karena tradisi, sebuah gerakan
kosong tanpa makna.
Namun Agustinus mengajarkan bahwa puasa sejati adalah untuk
membenahi diri. Bukankah ada keindahan dalam pengakuan akan kerusakan kita?
Bukankah ada kelegaan dalam menyerah pada kelemahan kita? Seperti rumah tua
yang dibongkar untuk dibangun kembali, seperti luka yang dibuka untuk
disembuhkan.
Kita semua adalah pengembara yang tersesat, bahkan dalam tubuh kita
sendiri. Kita hidup di permukaan diri kita, takut untuk menyelam lebih dalam.
Puasa adalah undangan untuk pulang, untuk kembali ke dalam diri kita yang
terdalam. Dalam keheningan puasa, aku menemukan diriku yang lain — yang lebih
rapuh tetapi juga lebih sejati, yang lebih sedih tetapi juga lebih damai.
Seperti rumah tua yang berdebu namun menyimpan kenangan-kenangan berharga.
Mungkin inilah inti terdalam dari puasa: perjalanan pulang yang
penuh air mata. Bukan air mata keputusasaan, tetapi air mata pengenalan diri
dan pengakuan akan keterbatasan kita. Dan dalam air mata itulah, barangkali,
kita menemukan refleksi wajah Yang Maha Pengasih yang selama ini kita cari.
Dalam kegelapan puasa, dalam keheningan jiwa yang lapar dan haus,
dalam kesepian yang tak terkatakan — di sanalah, mungkin, kita akhirnya bisa
berbisik: "Aku pulang. Aku telah kembali ke dalam diriku."
30
Hari Menulis Buruk
hari ke-1
Julman
Hente

Tidak ada komentar:
Posting Komentar