Di keheningan malam yang pekat, ketika dunia telah terlelap dan
pikiran mulai mengembara, kita seringkali menemukan bahwa bahkan dalam momen
yang paling sunyi pun, ada bunyi-bunyi samar yang tidak pernah benar-benar
absen. Begitu pula dengan pertimbangan manusia – tidak pernah murni, tidak
pernah absolut, dan selalu dipengaruhi oleh kegaduhan yang tak terhindarkan.
Pernahkah kita bertanya, mengapa keputusan yang sama diambil pada
waktu berbeda menghasilkan hasil yang jauh berbeda? Mengapa intuisi terkadang
membisikkan arah yang tepat, namun di lain kesempatan menuntun kita ke jurang
kesesatan? Jawabannya terletak pada apa yang oleh para filsuf kontemporer
disebut sebagai "noise" – kegaduhan dalam pertimbangan manusia.
Seperti yang dikatakan oleh Blaise Pascal, "Semua kemalangan
manusia berasal dari satu hal: ketidakmampuannya untuk duduk diam dalam sebuah
ruangan." Kegaduhan pikiran kita adalah cerminan dari kegaduhan
eksistensial ini – ketidakmampuan untuk benar-benar tenang dan melihat dengan
jernih.
Pertimbangan manusia bukanlah kristal murni yang merefleksikan
cahaya kebenaran dengan sempurna. Ia lebih menyerupai kolam air yang terus beriak,
permukaan yang tak pernah benar-benar diam, selalu terganggu oleh angin halus
realitas yang berubah-ubah. Bahkan ahli terbaik dalam bidangnya pun tidak kebal
dari fenomena ini.
Friedrich Nietzsche pernah menulis, "Kesalahan bukanlah
kebutaan, kesalahan adalah pengecut." Namun dalam konteks kegaduhan, kita
mungkin dapat menambahkan – kesalahan juga merupakan ketidaktahuan kita akan
kegaduhan yang menyelimuti pikiran kita sendiri.
Hakim yang sama dapat memberikan hukuman berbeda untuk kasus serupa
pada hari yang berbeda. Dokter berpengalaman mungkin memberikan diagnosis yang
berbeda terhadap gejala yang identik tergantung apakah itu pagi atau sore hari.
Bahkan pakar keuangan pun membuat prediksi yang bervariasi terhadap data yang
sama ketika diminta pendapatnya pada kesempatan yang berbeda.
Seperti kata Arthur Schopenhauer, "Setiap manusia mengambil
batas pandangannya sebagai batas dunia." Kegaduhan adalah hasil dari
keterbatasan ini – batas-batas yang bergerak tanpa kita sadari.
Dari manakah datangnya kegaduhan ini? Ia menyusup dari celah-celah
terkecil dalam pikiran kita:
Suasana hati yang berfluktuasi seperti awan di langit musim gugur,
kadang cerah, kadang mendung. Seorang Aristoteles mengingatkan kita,
"Kebahagiaan tergantung pada diri kita sendiri," namun ia tidak
mengatakan bahwa kita selalu mengendalikan suasana hati yang mewarnai
pertimbangan kita.
Kelelahan dan energi yang naik-turun sepanjang hari, seperti air
pasang yang bergantian dengan surut. Ketika energi kita surut, pertimbangan
kita pun terpengaruh. Sebagaimana dikatakan Seneca, "Kelelahan bahkan
membuat singa muda menjadi jinak."
Faktor-faktor lingkungan yang tampak sepele namun memiliki dampak
mendalam: suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan sekitar, bahkan cuaca di luar
jendela. "Manusia adalah anak dari lingkungannya," kata Hippocrates,
dan lingkungan ini membisikkan pengaruhnya ke dalam setiap keputusan kita.
Tekanan sosial dan harapan orang lain yang seperti bayangan, selalu
mengikuti langkah kita. Martin Heidegger menyebutnya sebagai "das
Man" – kecenderungan untuk larut dalam apa yang diharapkan orang lain.
"Keberadaan otentik," katanya, "hanya mungkin jika kita
menyadari dan melawan tekanan untuk menjadi seperti orang lain."
Albert Camus menambahkan dimensi lain ketika ia menulis, "Manusia
adalah satu-satunya makhluk yang menolak untuk menjadi dirinya sendiri."
Dalam penolakan ini, kegaduhan menemukan tanahnya yang subur.
Ada kesedihan mendalam yang muncul ketika kita menyadari betapa
pertimbangan kita rentan terhadap kegaduhan. Bagaimana kita bisa yakin akan
keputusan kita jika dasar-dasarnya begitu mudah terguncang?
Søren Kierkegaard, filsuf yang akrab dengan kegelisahan, menulis
bahwa "kecemasan adalah pusing kebebasan." Kegaduhan dalam
pertimbangan kita adalah bentuk lain dari pusing ini – kemungkinan yang tak
terbatas untuk salah dalam penilaian kita sendiri.
Simone de Beauvoir mengingatkan kita, "Kebenaran adalah satu,
kesalahan itu beragam." Dan dalam keberagaman kesalahan itulah, kegaduhan
menemukan rumahnya yang abadi.
Dalam dunia yang semakin kompleks, kegaduhan semakin sulit
diidentifikasi. Informasi membanjiri kita seperti hujan deras di musim
penghujan, media sosial berteriak untuk mendapatkan perhatian kita, dan
pendapat-pendapat bertebaran seperti daun kering di musim gugur. Di tengah
semua ini, bagaimana kita bisa berharap untuk mencapai kejernihan?
Namun tidak semua harapan hilang dalam kabut kegaduhan ini. Seperti
kata Emmanuel Levinas, "Wajah Orang Lain berbicara kepada kita sebelum
kita berbicara tentangnya." Ada kejernihan yang bisa ditemukan dalam
dialog yang tulus, dalam kesediaan untuk mendengarkan suara-suara di luar ego
kita sendiri.
Sistem dan struktur dapat membantu mengurangi kegaduhan. Prosedur
standar, protokol pemeriksaan, dan metodologi pengambilan keputusan yang ketat
dapat bertindak sebagai jangkar yang menstabilkan kapal pertimbangan kita di
lautan ketidakpastian.
Kesadaran akan kegaduhan itu sendiri adalah langkah pertama menuju
kebebasan dari pengaruhnya. Seperti dikatakan Hannah Arendt, "Berpikir
dimulai ketika perbedaan dirasakan." Mengenali kegaduhan dalam
pertimbangan kita adalah awal dari kemungkinan untuk meredamnya.
Michel Foucault mengingatkan kita bahwa "Kebebasan adalah
praktik." Demikian pula, menjinakkan kegaduhan adalah praktik yang
membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan – sebuah askesis pikiran yang tidak
pernah selesai.
Mungkin tujuan kita bukanlah untuk sepenuhnya menghilangkan
kegaduhan – sebuah tugas yang tampaknya mustahil – melainkan untuk berdamai
dengannya, untuk memahaminya sebagai bagian tak terpisahkan dari kondisi
manusia kita.
Seperti kata Jean-Paul Sartre, "Manusia dikutuk untuk
bebas." Dalam kebebasan itu, kita juga dikutuk untuk menghadapi kegaduhan
yang menyertainya. Tidak ada keputusan yang murni, tidak ada pertimbangan yang
sempurna, dan kita harus menerima ketidaksempurnaan ini sebagai bagian dari
kemanusiaan kita.
Albert Camus berbicara tentang "absurditas" kondisi
manusia – jurang antara kerinduan kita akan kepastian dan dunia yang menolak
memberikannya. Kegaduhan dalam pertimbangan kita adalah manifestasi lain dari
absurditas ini.
Namun dalam penerimaan akan keterbatasan ini, ada keindahan
tersendiri. Seperti yang ditulis oleh Simone Weil, "Perhatian adalah
bentuk tertinggi dari kemurahan hati." Memperhatikan kegaduhan dalam
pikiran kita dengan lembut, tanpa penghakiman yang keras, adalah bentuk kemurahan
hati terhadap diri sendiri dan orang lain.
Di akhir refleksi ini, kita kembali ke keheningan malam. Namun kini
kita mendengarkan dengan cara yang berbeda – bukan mencari kesunyian absolut
yang tak pernah ada, melainkan merangkul bisikan-bisikan halus yang selalu
hadir di latar belakang kesadaran kita.
"Hidup adalah apa yang terjadi ketika kita sedang membuat
rencana lain," kata John Lennon. Demikian pula, kegaduhan adalah apa yang
terjadi ketika kita berusaha membuat pertimbangan yang sempurna.
Dalam lanskap kemanusiaan yang terbentang luas, kegaduhan adalah
fitur, bukan cacat. Ia mengingatkan kita akan keterbatasan dan kerentanan kita.
Ia mengundang kita untuk bersikap rendah hati dalam kepastian kita dan penuh
kasih dalam ketidakpastian kita.
Seperti kata Martin Buber, "Semua kehidupan nyata adalah
perjumpaan." Di dalam perjumpaan dengan kegaduhan dalam diri kita sendiri,
mungkin kita menemukan jalan menuju kehidupan yang lebih nyata, lebih otentik –
kehidupan yang tidak berpura-pura bebas dari kebisingan, melainkan yang
bernyanyi bersama dengannya dalam harmoni yang tidak sempurna namun indah.
Dan mungkin, seperti bisikan Heraclitus dari kejauhan masa lalu,
"Karakter adalah takdir." Cara kita menghadapi kegaduhan dalam
pertimbangan kita menentukan takdir kemanusiaan kita sendiri.
30
hari menulis buruk
Hari
ke-6

Tidak ada komentar:
Posting Komentar