Pengikut

Selasa, 18 Maret 2025

Habitus Politik dan Nostalgia Demokrasi

Di tengah hiruk pikuk kemeriahan warna-warni bendera partai yang berkibar, di antara teriakan-teriakan penuh harap yang menggema di seluruh nusantara, Indonesia kembali menapakkan kaki pada ritual demokrasi yang telah berlangsung sejak reformasi. Bukan sekadar pemilihan biasa, tetapi sebuah refleksi mendalam tentang siapa kita sebagai bangsa. Seperti yang pernah dikatakan Jean-Paul Sartre, "Kita adalah apa yang kita pilih untuk menjadi," dan begitu pula dengan bangsa ini—menjadi apa yang dipilihnya sendiri.

Dulu, ketika demokrasi pertama kali mekar di tanah air, ada sebuah rasa kemurnian dan harapan yang menyeruak di setiap sudut. Para pemilih berbondong-bondong ke TPS dengan mata berbinar, membayangkan fajar baru yang akan segera menyingsing. Namun, seperti kata Walter Benjamin, "Tidak ada dokumen peradaban yang bukan sekaligus merupakan dokumen barbarisme." Kini, setelah beberapa dekade reformasi, demokrasi kita telah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih kompleks, lebih berwarna-warni, namun juga semakin sulit dikenali.

Pierre Bourdieu, seorang filsuf dan sosiolog Prancis yang terkenal dengan konsep habitus, modal, dan arena, mungkin akan melihat pemilu Indonesia sebagai sebuah drama sosial di mana berbagai kelas dan kelompok saling bertarung untuk mendominasi wacana politik. "Seluruh kehidupan sosial adalah sebuah pertarungan untuk memaksakan kategorisasi kita kepada yang lain," begitu ungkapan Bourdieu yang mengiang dalam kepala, menyaksikan bagaimana para kandidat dan pendukung mereka berusaha untuk mendominasi narasi politik nasional.

Di tengah lanskap politik Indonesia yang lebih kompleks sekarang, modal simbolik—baik itu berupa gelar akademis, jabatan masa lalu, atau bahkan garis keturunan—masih memainkan peran yang sangat penting. Para kandidat bersaing untuk mengumpulkan sebanyak mungkin "bendera legitimasi" ini. Ada yang mengandalkan titel doktor mereka, yang lain berpegang pada reputasi sebagai pengusaha sukses, sementara yang lainnya lagi bersandar pada jaringan kepemimpinan agama atau bahkan nostalgia masa lalu.

"Modal simbolik adalah kekuatan magis yang memungkinkan seseorang untuk mendapatkan setara dengan apa yang diperoleh melalui kekuatan fisik atau ekonomi," kata Bourdieu. Kata-kata ini begitu menggema ketika menyaksikan bagaimana seorang kandidat dengan latar belakang militer dapat memobilisasi massa dengan mengingatkan mereka akan "zaman keemasan" yang telah berlalu. Atau bagaimana kandidat lain dengan jaringan ulama dapat menggerakkan jutaan jamaah hanya dengan seruan sederhana.

Saat cahaya senja menyentuh langit Jakarta, ada rasa hampa yang terasa familiar. Seolah kita telah menyaksikan drama ini berkali-kali, namun dengan pemeran yang berbeda. Seperti yang pernah ditulis Hannah Arendt, "Kekuasaan muncul di mana orang berkumpul dan bertindak bersama," namun di Indonesia, sering kali yang kita saksikan adalah "berkumpul karena diarahkan" dan "bertindak karena digerakkan."

Habitus, menurut Bourdieu, adalah sistem disposisi yang melekat dalam diri individu—cara berpikir, berperilaku, dan merasakan yang diperoleh melalui pengalaman hidup mereka dalam struktur sosial tertentu. Dalam konteks politik Indonesia, habitus ini tercermin dalam bagaimana berbagai kelompok meresponss isu-isu politik berdasarkan latar belakang kelas sosial mereka.

Masyarakat kelas menengah urban, misalnya, cenderung memprioritaskan isu-isu seperti reformasi birokrasi, pertumbuhan ekonomi, dan pemberantasan korupsi. Sementara itu, masyarakat pedesaan dan kelas pekerja lebih fokus pada isu-isu kesejahteraan langsung seperti subsidi, bantuan sosial, dan infrastruktur dasar. "Habitus adalah produk sejarah yang menghasilkan praktik-praktik individual dan kolektif," ujar Bourdieu. Dan dalam konteks Indonesia, sejarah ketimpangan ekonomi dan sosial yang panjang telah menghasilkan habitus politik yang sangat berbeda di antara kelas-kelas yang berbeda.

Ada kesedihan mendalam yang menyelimuti ketika menyadari bahwa pilihan politik kita seringkali hanya mereproduksi ketimpangan yang sudah ada. Seperti yang dikatakan oleh Theodor Adorno, "Kehidupan yang salah tidak dapat dijalani dengan benar." Pemilu seharusnya menjadi alat perubahan, namun sering kali hanya menjadi mekanisme untuk mempertahankan status quo.

Jika Bourdieu hidup di era digital Indonesia saat ini, ia mungkin akan terkesima melihat bagaimana media sosial telah menjadi arena pertarungan baru dalam politik. Di sinilah berbagai modal—ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik—berkonvergensi dan saling bertarung untuk mendominasi wacana publik.

Algoritma media sosial yang mengutamakan konten kontroversial dan memicu emosi telah memperkuat polarisasi politik. Mereka yang memiliki modal ekonomi lebih besar dapat mengerahkan "pasukan digital" untuk mendominasi percakapan online. Sementara itu, para influencer dengan modal sosial dan budaya yang kuat dapat membentuk opini publik melalui postingan yang viral.

"Arena adalah tempat di mana agen dan institusi berjuang dengan kekuatan yang tidak setara sesuai dengan aturan yang membentuk ruang tersebut," kata Bourdieu. Di arena media sosial Indonesia, pertarungan ini sangat tidak setara. Ada kandidat dengan tim digital profesional dan dana besar, sementara ada pula kandidat yang hanya mengandalkan jejaring akar rumput dan relawan.

Ketika langit sudah gelap, dan lampu-lampu kota mulai menyala seperti bintang-bintang buatan, rasanya tidak bisa tidak teringat akan kata-kata Michel Foucault: "Di mana ada kekuasaan, ada resistensi." Namun resistensi itu pun sering kali terkooptasi, terserap ke dalam sistem yang justru hendak dilawannya.

Setelah lebih dari dua dekade reformasi, pemilu Indonesia telah berevolusi menjadi ritual politik yang kompleks. Namun pertanyaan fundamental tetap ada: apakah kita benar-benar memilih, atau hanya diberi ilusi pilihan?

Seperti yang akan dikatakan Bourdieu, dominasi simbolik bekerja paling efektif ketika yang didominasi tidak menyadari bahwa mereka sedang didominasi. Manakala para pemilih merasa bebas memilih padahal pilihan mereka telah dibentuk oleh framing media, narasi kampanye, dan habitus kelas mereka sendiri, maka demokrasi pun berubah menjadi sebuah ilusi yang halus.

"Kesadaran adalah kutukan manusia," begitu kata Jean-Paul Sartre. Dan dalam konteks politik Indonesia, kesadaran itu datang bersama kesedihan—ketika menyadari bahwa kendati kotak suara setiap lima tahun sekali, struktur kekuasaan yang mendasar tetap sulit berubah.

Matahari terbenam di horizon Jakarta, menyisakan jejak-jejak oranye di langit yang semakin gelap. Para petugas KPPS mulai menghitung suara di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip. Ada kelelahan di mata mereka, namun juga secercah harapan. Seperti Albert Camus yang pernah menulis, "Di tengah musim dingin, aku akhirnya belajar bahwa ada musim panas yang tak terkalahkan dalam diriku." Mungkin itulah esensi demokrasi Indonesia—sebuah harapan yang tak kunjung padam, kendati berkali-kali dikhianati.

Ketika membicarakan demokrasi Indonesia melalui kacamata Bourdieu, kita sebetulnya sedang menelisik biografi kolektif bangsa ini. Sebuah biografi yang ditulis oleh jutaan tangan, dengan tinta berbeda warna, dan dengan motivasi yang beragam.

Setiap pemilu adalah bab baru dalam biografi itu. Sebagian dari kita membacanya dengan nostalgia, teringat akan janji-janji pemilu pertama pasca-reformasi yang penuh harapan. Sebagian lagi membacanya dengan sinisme, merasa bahwa tidak ada yang benar-benar berubah. Namun kita semua tahu bahwa cerita ini belum selesai.

Seperti kata Walter Benjamin, "Sejarah ditulis oleh para pemenang." Namun Bourdieu mungkin akan menambahkan bahwa sejarah juga dibentuk oleh struktur sosial, habitus kolektif, dan pertarungan antar-kelas yang tidak pernah berhenti. Dan dalam konteks Indonesia, pertarungan itu masih jauh dari usai.

Di tengah hujan yang mulai turun membasahi jalanan Jakarta, terdengar suara radio mengumumkan hasil hitung cepat. Wajah-wajah tegang menunggu, berharap. Seperti Sisifus dalam mitos Yunani yang dikisahkan Albert Camus, kita terus mendorong batu demokrasi ke puncak bukit, meski tahu bahwa batu itu mungkin akan kembali menggelinding turun. Namun kita tetap melakukannya, karena dalam proses itulah kita menemukan makna.

"Kita harus membayangkan Sisifus bahagia," kata Camus. Dan mungkin kita juga harus membayangkan pemilih Indonesia bahagia—bukan karena sistem demokrasi kita sudah sempurna, tetapi karena kita masih memiliki kesempatan untuk terus memperjuangkannya, untuk terus menuliskan biografi kolektif ini, meski dengan pena yang kadang terasa berat.

Ketika malam semakin larut, dan hasil-hasil pemilu mulai terkonsolidasi, ada baiknya kita merenungkan kembali perjalanan demokrasi yang telah kita tempuh. Dari mulai era Sukarno hingga saat ini, Indonesia telah melintasi berbagai fase politik yang masing-masing meninggalkan jejak dalam habitus kolektif bangsa.

Seperti yang dikatakan oleh Bourdieu, "Yang paling pribadi adalah yang paling sosial." Pilihan politik kita yang tampak sangat pribadi sebenarnya merupakan manifestasi dari posisi sosial, sejarah personal, dan struktur kekuasaan yang telah kita internalisasi.

Dan ketika fajar menyingsing keesokan hari, siapapun presiden yang terpilih, perjuangan untuk demokrasi yang lebih substantif tetap harus dilanjutkan. Karena seperti kata Heraclitus, "Tidak ada orang yang pernah melangkah di sungai yang sama dua kali." Demokrasi kita, seperti air sungai itu, terus mengalir, berubah, dan membentuk landskap sosial politik yang baru.

Di bawah langit berbintang Indonesia yang luas, kita semua adalah penulis biografi kolektif ini. Dan meskipun tinta kita mungkin berbeda warna, kertas yang kita tulisi adalah sama—masa depan bangsa yang masih menyimpan begitu banyak potensi dan harapan.

Dalam keremangan senja yang menyapu Jakarta, terdengar bisikan Rumi yang berkata, "Apa yang kau cari ada di luar sana, tetapi juga di dalam dirimu." Demokrasi Indonesia, dengan segala kompleksitas dan kontradiksinya, adalah cermin dari diri kita sendiri sebagai bangsa. Dan dalam cermin itulah kita terus mencari jati diri, sambil perlahan-lahan belajar untuk menjadi lebih baik.

30 hari menulis buruk

Hari ke-10 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar