Pengikut

Rabu, 12 Maret 2025

Kepingan-Kepingan Mimpi Revolusi yang Hanyut di Sungai Kesombongan

 


Dalam kesunyian malam yang menyesakkan, ketika bulan seolah enggan menampakkan wajahnya, aku termenung merenungi fenomena yang kian menjamur di kalangan intelektual urban kita. Mereka yang begitu bangga menyematkan label "pemikir kiri" pada dirinya, namun seringkali hanya sebatas permukaan tanpa benar-benar menyelami kedalaman laut pemikiran yang mereka klaim sebagai identitas.

Seperti yang pernah diungkapkan Jean-Paul Sartre, "Manusia dikutuk untuk bebas; karena sekali terlempar ke dunia, ia bertanggung jawab atas segala yang dilakukannya." Namun ironinya, mereka yang mengklaim dirinya sebagai pewaris tradisi kiri justru seringkali terperangkap dalam penjara konsep yang mereka bangun sendiri, tanpa benar-benar menghayati konsekuensi dari kebebasan yang mereka agung-agungkan.

Di sudut-sudut kafe hipster dengan secangkir kopi seharga upah harian buruh, mereka berdiskusi tentang perjuangan kelas sambil menikmati privilese yang mereka kritik. Bukankah Albert Camus pernah berkata, "Satu-satunya cara untuk menghadapi dunia yang tak bebas adalah menjadi sangat bebas sehingga keberadaan kita sendiri adalah sebuah perlawanan"? Tapi bagaimana mungkin sebuah perlawanan lahir dari kenyamanan dan kemapanan?

Mereka membaca Marx, tapi tidak pernah benar-benar memahami penderitaan proletariat. Mereka mengutip Gramsci, tapi tidak pernah merasakan hegemoni yang sesungguhnya mencekik. Seperti kabut pagi yang menguap di bawah terik matahari, idealisme mereka lenyap ketika berhadapan dengan realitas yang tak seindah teori.

Franz Fanon pernah menuliskan, "Kesadaran bukanlah berpaling dari dunia, melainkan transformasi dunia." Tetapi transformasi macam apa yang bisa diharapkan dari mereka yang sibuk membangun citra revolusioner di media sosial, sementara tangan mereka sendiri bersih dari debu jalanan dan keringat perjuangan?

Di tengah hujan yang mengguyur tanpa ampun, aku teringat pada kata-kata Walter Benjamin, "Bahkan orang mati pun tidak akan aman dari musuh jika ia menang. Dan musuh ini belum berhenti menang." Musuh terbesar dari pemikiran kiri mungkin bukanlah kapitalisme yang melahap segalanya, melainkan pendukungnya sendiri yang terjebak dalam romantisme revolusi tanpa pernah benar-benar mau berkorban.

Simone de Beauvoir mengajarkan bahwa "Seseorang tidak dilahirkan, tetapi menjadi, seorang perempuan." Begitu pula, seseorang tidak dilahirkan sebagai pemikir kiri, tetapi menjadi pemikir kiri melalui proses panjang penyadaran dan perjuangan. Namun, berapa banyak dari mereka yang "sok-sokan paling pemikir kiri" telah melewati proses ini dengan sungguh-sungguh?

Antonio Gramsci, dalam kesunyian selnya, menulis, "Pesimisme intelektual, optimisme kehendak." Tapi kini yang tersisa hanyalah optimisme intelektual yang dangkal, tanpa kehendak yang kuat untuk benar-benar mengubah dunia. Mereka memperdebatkan teori kritis dengan fasih, tetapi memilih bungkam ketika ketidakadilan terjadi di depan mata.

Theodor Adorno mengingatkan bahwa "Kebenaran adalah momen dari praksis yang benar." Tetapi praksis macam apa yang dilakukan oleh mereka yang hanya berkelana dalam ranah abstraksi tanpa pernah benar-benar turun ke lapangan kehidupan yang sesungguhnya?

Di bawah langit yang semakin gelap, dengan gemuruh petir yang seolah merobek langit, aku merenungi kata-kata Louis Althusser, "Sejarah adalah proses tanpa subjek." Namun ironinya, banyak yang mengaku sebagai pemikir kiri justru terjebak dalam narsis subjektifitas, seolah-olah revolusi hanya tentang diri mereka dan bukan tentang transformasi sosial yang lebih besar.

Herbert Marcuse pernah menulis dalam "One-Dimensional Man" bahwa "Masyarakat industri maju menciptakan bentuk-bentuk baru kontrol." Hari ini, kontrol itu hadir dalam bentuk komodifikasi perlawanan itu sendiri. Pemikiran kiri menjadi aksesoris belaka, badge kehormatan untuk dipamerkan di kalangan tertentu tanpa benar-benar menggugat sistem yang ada.

Seperti daun-daun kering yang terombang-ambing tanpa arah, begitulah nasib pemikiran kiri di tangan mereka yang menggunakannya hanya sebagai alat untuk meningkatkan modal sosial. Slavoj Žižek, dengan caranya yang khas, mungkin akan mengatakan bahwa inilah bentuk paling murni dari ideologi—ketika kita mengira telah melampaui ideologi padahal justru terperangkap di dalamnya.

Rosa Luxemburg, di tengah kecamuk revolusi, menulis, "Kebebasan selalu adalah kebebasan bagi mereka yang berpikir berbeda." Tapi berapa banyak dari mereka yang sok-sokan paling kiri justru menjadi paling tidak toleran terhadap perbedaan pendapat, seolah kebenaran telah menjadi monopoli mereka?

Di bawah rintik hujan yang perlahan mereda, aku teringat pada kata-kata Guy Debord, "Dalam masyarakat spektakel, gambar telah menjadi bentuk akhir dari komodifikasi." Dan kini, pemikiran kiri pun telah menjadi spektakel, sebuah pertunjukan untuk dikonsumsi dan bukan lagi api yang membakar untuk perubahan.

Malam semakin larut, dan bayangan-bayangan panjang makin memanjang. Dalam keheningan yang mencekam, suara Frantz Fanon kembali bergema, "Untuk orang tertindas, hari ini selalu ada, selalu hadir dalam kegelapan dan keputusasaan." Tetapi bagi mereka yang "sok-sokan paling pemikir kiri," ketertindasan hanyalah konsep abstrak, bukan realitas hidup yang dihadapi setiap hari.

Mungkin inilah tragedi terbesar dari fenomena "sok-sokan paling pemikir kiri"—transformasi perjuangan kolektif menjadi sekadar identitas personal, pergeseran dari solidaritas menjadi sekadar narsisisme intelektual. Dalam lautan penderitaan manusia, mereka hanyalah buih yang tampak di permukaan, tanpa benar-benar menyentuh kedalaman.

Dan ketika fajar akhirnya menyingsing, membawa secercah harapan di tengah keputusasaan, aku teringat pada kata-kata terakhir Ernst Bloch, "Sesuatu yang hilang masih menunggu untuk ditemukan." Mungkin itulah yang hilang dari mereka yang "sok-sokan paling pemikir kiri"—kesejatian perjuangan yang tidak pernah bisa ditemukan dalam buku-buku teori atau diskusi-diskusi abstrak, melainkan hanya dalam keterlibatan langsung dengan dunia dan penderitaannya.

Di akhir segalanya, seperti yang diungkapkan Sartre, "Apa yang penting bukanlah apa yang mereka lakukan terhadap kita, tetapi apa yang kita lakukan dengan apa yang mereka lakukan terhadap kita." Dan mungkin, itulah pertanyaan yang perlu kita ajukan pada diri sendiri—apa yang telah kita lakukan dengan pemikiran kiri yang kita klaim sebagai milik kita?

30 hari menulis buruk

hari ke-4 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar