Dalam kesunyian malam yang menyesakkan, ketika bulan seolah enggan
menampakkan wajahnya, aku termenung merenungi fenomena yang kian menjamur di
kalangan intelektual urban kita. Mereka yang begitu bangga menyematkan label
"pemikir kiri" pada dirinya, namun seringkali hanya sebatas permukaan
tanpa benar-benar menyelami kedalaman laut pemikiran yang mereka klaim sebagai
identitas.
Seperti yang pernah diungkapkan Jean-Paul Sartre, "Manusia
dikutuk untuk bebas; karena sekali terlempar ke dunia, ia bertanggung jawab
atas segala yang dilakukannya." Namun ironinya, mereka yang mengklaim
dirinya sebagai pewaris tradisi kiri justru seringkali terperangkap dalam
penjara konsep yang mereka bangun sendiri, tanpa benar-benar menghayati
konsekuensi dari kebebasan yang mereka agung-agungkan.
Di sudut-sudut kafe hipster dengan secangkir kopi seharga upah
harian buruh, mereka berdiskusi tentang perjuangan kelas sambil menikmati
privilese yang mereka kritik. Bukankah Albert Camus pernah berkata,
"Satu-satunya cara untuk menghadapi dunia yang tak bebas adalah menjadi
sangat bebas sehingga keberadaan kita sendiri adalah sebuah perlawanan"?
Tapi bagaimana mungkin sebuah perlawanan lahir dari kenyamanan dan kemapanan?
Mereka membaca Marx, tapi tidak pernah benar-benar memahami
penderitaan proletariat. Mereka mengutip Gramsci, tapi tidak pernah merasakan
hegemoni yang sesungguhnya mencekik. Seperti kabut pagi yang menguap di bawah
terik matahari, idealisme mereka lenyap ketika berhadapan dengan realitas yang
tak seindah teori.
Franz Fanon pernah menuliskan, "Kesadaran bukanlah berpaling dari
dunia, melainkan transformasi dunia." Tetapi transformasi macam apa yang
bisa diharapkan dari mereka yang sibuk membangun citra revolusioner di media
sosial, sementara tangan mereka sendiri bersih dari debu jalanan dan keringat
perjuangan?
Di tengah hujan yang mengguyur tanpa ampun, aku teringat pada
kata-kata Walter Benjamin, "Bahkan orang mati pun tidak akan aman dari
musuh jika ia menang. Dan musuh ini belum berhenti menang." Musuh terbesar
dari pemikiran kiri mungkin bukanlah kapitalisme yang melahap segalanya,
melainkan pendukungnya sendiri yang terjebak dalam romantisme revolusi tanpa
pernah benar-benar mau berkorban.
Simone de Beauvoir mengajarkan bahwa "Seseorang tidak
dilahirkan, tetapi menjadi, seorang perempuan." Begitu pula, seseorang
tidak dilahirkan sebagai pemikir kiri, tetapi menjadi pemikir kiri melalui
proses panjang penyadaran dan perjuangan. Namun, berapa banyak dari mereka yang
"sok-sokan paling pemikir kiri" telah melewati proses ini dengan
sungguh-sungguh?
Antonio Gramsci, dalam kesunyian selnya, menulis, "Pesimisme
intelektual, optimisme kehendak." Tapi kini yang tersisa hanyalah
optimisme intelektual yang dangkal, tanpa kehendak yang kuat untuk benar-benar
mengubah dunia. Mereka memperdebatkan teori kritis dengan fasih, tetapi memilih
bungkam ketika ketidakadilan terjadi di depan mata.
Theodor Adorno mengingatkan bahwa "Kebenaran adalah momen dari
praksis yang benar." Tetapi praksis macam apa yang dilakukan oleh mereka
yang hanya berkelana dalam ranah abstraksi tanpa pernah benar-benar turun ke
lapangan kehidupan yang sesungguhnya?
Di bawah langit yang semakin gelap, dengan gemuruh petir yang
seolah merobek langit, aku merenungi kata-kata Louis Althusser, "Sejarah
adalah proses tanpa subjek." Namun ironinya, banyak yang mengaku sebagai
pemikir kiri justru terjebak dalam narsis subjektifitas, seolah-olah revolusi
hanya tentang diri mereka dan bukan tentang transformasi sosial yang lebih
besar.
Herbert Marcuse pernah menulis dalam "One-Dimensional
Man" bahwa "Masyarakat industri maju menciptakan bentuk-bentuk baru
kontrol." Hari ini, kontrol itu hadir dalam bentuk komodifikasi perlawanan
itu sendiri. Pemikiran kiri menjadi aksesoris belaka, badge kehormatan untuk
dipamerkan di kalangan tertentu tanpa benar-benar menggugat sistem yang ada.
Seperti daun-daun kering yang terombang-ambing tanpa arah,
begitulah nasib pemikiran kiri di tangan mereka yang menggunakannya hanya
sebagai alat untuk meningkatkan modal sosial. Slavoj Žižek, dengan caranya yang
khas, mungkin akan mengatakan bahwa inilah bentuk paling murni dari
ideologi—ketika kita mengira telah melampaui ideologi padahal justru
terperangkap di dalamnya.
Rosa Luxemburg, di tengah kecamuk revolusi, menulis,
"Kebebasan selalu adalah kebebasan bagi mereka yang berpikir
berbeda." Tapi berapa banyak dari mereka yang sok-sokan paling kiri justru
menjadi paling tidak toleran terhadap perbedaan pendapat, seolah kebenaran
telah menjadi monopoli mereka?
Di bawah rintik hujan yang perlahan mereda, aku teringat pada
kata-kata Guy Debord, "Dalam masyarakat spektakel, gambar telah menjadi
bentuk akhir dari komodifikasi." Dan kini, pemikiran kiri pun telah
menjadi spektakel, sebuah pertunjukan untuk dikonsumsi dan bukan lagi api yang
membakar untuk perubahan.
Malam semakin larut, dan bayangan-bayangan panjang makin memanjang.
Dalam keheningan yang mencekam, suara Frantz Fanon kembali bergema, "Untuk
orang tertindas, hari ini selalu ada, selalu hadir dalam kegelapan dan
keputusasaan." Tetapi bagi mereka yang "sok-sokan paling pemikir kiri,"
ketertindasan hanyalah konsep abstrak, bukan realitas hidup yang dihadapi
setiap hari.
Mungkin inilah tragedi terbesar dari fenomena "sok-sokan
paling pemikir kiri"—transformasi perjuangan kolektif menjadi sekadar
identitas personal, pergeseran dari solidaritas menjadi sekadar narsisisme
intelektual. Dalam lautan penderitaan manusia, mereka hanyalah buih yang tampak
di permukaan, tanpa benar-benar menyentuh kedalaman.
Dan ketika fajar akhirnya menyingsing, membawa secercah harapan di
tengah keputusasaan, aku teringat pada kata-kata terakhir Ernst Bloch,
"Sesuatu yang hilang masih menunggu untuk ditemukan." Mungkin itulah
yang hilang dari mereka yang "sok-sokan paling pemikir
kiri"—kesejatian perjuangan yang tidak pernah bisa ditemukan dalam
buku-buku teori atau diskusi-diskusi abstrak, melainkan hanya dalam
keterlibatan langsung dengan dunia dan penderitaannya.
Di akhir segalanya, seperti yang diungkapkan Sartre, "Apa yang
penting bukanlah apa yang mereka lakukan terhadap kita, tetapi apa yang kita
lakukan dengan apa yang mereka lakukan terhadap kita." Dan mungkin, itulah
pertanyaan yang perlu kita ajukan pada diri sendiri—apa yang telah kita lakukan
dengan pemikiran kiri yang kita klaim sebagai milik kita?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar