Senja merangkak perlahan di atas Tugu Yogyakarta. Matahari yang
lelah mulai menarik dirinya dari cakrawala, meninggalkan semburat jingga yang
memayungi kota istimewa ini. Di ujung jalan Malioboro, azan magrib
berkumandang, memanggil para pemeluknya untuk berbuka puasa. Seperti kata
Jean-Paul Sartre, "Manusia dikutuk untuk bebas." Namun di bulan
Ramadhan ini, kebebasan itu justru kita temukan dalam ikatan spiritual yang
mengikat jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian.
Keraton Yogyakarta berdiri dengan anggun, menyimpan kenangan akan
masa lalu yang gemilang. Mungkin benar kata Soren Kierkegaard bahwa "Hidup
hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi harus dijalani dengan
melihat ke depan." Di lorong-lorong Keraton yang sepi, puasa terasa
berbeda. Ada keheningan yang menggema, ada kedamaian yang terasa hingga ke
relung hati. Tradisi ngabuburit di sekeliling Alun-alun Kidul menjadi ritual
yang tak pernah mati, diwariskan dari generasi ke generasi.
Para abdi dalem dengan pakaian tradisional mereka bergerak lambat
di antara pilar-pilar tinggi, wajah mereka mencerminkan ketenangan yang sulit
digambarkan. Saat beberapa dari mereka menjalani puasa, ada kekhusyukan yang
terpancar dari setiap gerak tubuh mereka. Puasa di lingkungan Keraton bukanlah
sekadar ritual kosong—ia adalah perjalanan jiwa menuju kebijaksanaan yang lebih
dalam.
Jalanan Malioboro yang biasanya sesak oleh wisatawan terlihat
berbeda di bulan puasa. Aroma makanan dari pedagang kaki lima menggoda
penciuman, menguji kesabaran mereka yang menahan lapar dan dahaga. Albert Camus
pernah berkata, "Dalam kedalaman musim dingin, akhirnya aku belajar bahwa
ada musim panas abadi dalam diriku." Begitu pula dengan puasa di
Malioboro—di balik rasa lapar dan dahaga, ada api spiritual yang tak pernah
padam.
Sore hari, trotoar-trotoar mulai dipadati oleh para pemburu takjil.
Aneka jajanan tradisional seperti kolak pisang, bubur sumsum, dan es kelapa
muda tersusun rapi di atas meja-meja sederhana. Para pedagang dengan sabar
menunggu waktu berbuka, meskipun godaan untuk mencicipi dagangan sendiri begitu
kuat. Di sudut-sudut jalan, anak-anak kecil berlarian dengan wajah ceria, tak
sabar menunggu bedug magrib berbunyi.
Aku masih ingat bagaimana kemarin, aku duduk di salah satu warung
lesehan Malioboro, menanti waktu berbuka dengan secangkir teh yang masih
mengepul. Waktu berlalu begitu cepat, meninggalkan jejak-jejak kenangan yang
kini hanya dapat kujumput dalam laci memori yang semakin usang.
Masjid Gedhe Kauman berdiri dengan megah, menjadi saksi bisu
perjalanan spiritual masyarakat Yogyakarta selama berabad-abad. Di bulan
Ramadhan, masjid ini menjadi pusat kegiatan spiritual yang tak pernah surut.
Dari subuh hingga malam hari, lantunan ayat-ayat suci terus terdengar, menyentuh
setiap hati yang merindu akan ketenangan.
Saat tarawih, suasana begitu khidmat. Barisan jamaah yang rapi,
doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap, dan air mata yang menetes dalam
keheningan—semua berpadu menjadi satu simfoni spiritual yang menyejukkan jiwa.
Imam masjid yang berusia senja membacakan ayat-ayat dengan suara yang bergetar,
mengingatkanku pada ucapan Martin Heidegger: "Bahasa adalah rumah
keberadaan. Dalam tempatnya, manusia berdiam."
Setelah tarawih usai, tadarus Al-Quran dimulai. Para santri dengan
suara merdu membacakan ayat demi ayat, seolah hendak mengisi kekosongan malam
dengan keindahan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Aku duduk di
sudut masjid, meresapi setiap huruf dan harakat yang dibacakan, menemukan
diriku dalam pelukan ketenangan yang sudah lama kurindukan.
Ada sebuah kampung di Yogyakarta yang menjadi ikon selama bulan
Ramadhan—Kampung Jogokaryan. Setiap tahunnya, kampung ini disulap menjadi
"Kampung Ramadhan" yang penuh dengan kegiatan spiritual dan sosial.
Spanduk-spanduk bertuliskan kata-kata mutiara tentang Ramadhan terpasang di
berbagai sudut kampung, mengingatkan setiap orang akan makna sejati dari puasa.
Friedrich Nietzsche pernah berkata, "Dia yang memiliki alasan
untuk hidup dapat menahan segala cara." Di Kampung Jogokaryan, aku
menemukan begitu banyak alasan untuk menjalani puasa dengan penuh keikhlasan.
Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga belajar untuk berbagi
dengan sesama, merasakan penderitaan mereka yang kurang beruntung, dan
menghargai nikmat yang selama ini kita anggap biasa.
Setiap malam, berbagai kegiatan digelar untuk mengisi waktu sebelum
sahur. Dari kajian agama, lomba anak-anak, hingga pertunjukan kesenian
tradisional. Kampung yang biasanya sunyi di malam hari kini berubah menjadi
tempat yang penuh kehidupan. Lampu-lampu warna-warni menerangi jalan-jalan
kecil, menciptakan suasana yang mengingatkanku pada masa kecil dulu, saat
Ramadhan adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu.
Ada kenangan yang tak pernah pudar tentang sahur di angkringan
sekitar Tugu Yogyakarta. Angkringan-angkringan kecil yang biasanya tutup di
tengah malam kini tetap buka hingga waktu sahur tiba. Duduk di bangku kayu yang
sederhana, ditemani secangkir kopi joss yang masih mengepul, aku merenungi
perjalanan hidup yang telah kulalui.
Simone de Beauvoir pernah menulis, "Perubahan tidak membawa
kita jauh dari masa lalu, tetapi membawa kita lebih dekat pada masa
depan." Di angkringan yang sederhana ini, aku merasakan perubahan
itu—bagaimana Ramadhan telah membentuk diriku dari tahun ke tahun, bagaimana
puasa telah mengajarkan padaku arti kesabaran dan keikhlasan.
Para pekerja malam, tukang becak, dan mahasiswa yang begadang
menjadi pelanggan setia angkringan sahur ini. Di tengah kesederhanaan, terjalin
keakraban yang jarang ditemui di tempat lain. Obrolan ringan tentang kehidupan,
gelak tawa yang pecah di keheningan malam, dan cerita-cerita tentang pengalaman
puasa menjadi bumbu yang menyemarakkan suasana sahur.
Alun-alun Kidul atau yang lebih dikenal dengan Alun-alun Selatan
menjadi destinasi populer untuk berbuka puasa bagi masyarakat Yogyakarta. Di
sore hari, area ini dipenuhi oleh keluarga dan kelompok teman yang
membentangkan tikar, menunggu waktu berbuka sambil menikmati suasana yang khas.
Di tengah alun-alun berdiri dua pohon beringin kembar yang konon membawa
keberuntungan bagi mereka yang bisa berjalan di antaranya dengan mata tertutup.
Namun, di bulan Ramadhan, pohon-pohon itu seolah menjadi saksi bagaimana
manusia berusaha untuk menundukkan hawa nafsu, menjaga diri dari godaan
duniawi.
Hannah Arendt pernah berkata, "Cinta adalah satu-satunya cara
untuk memahami keberadaan orang lain dalam keunikannya yang paling dalam."
Di Alun-alun Kidul, aku merasakan cinta itu—cinta kepada Tuhan, cinta kepada
sesama, dan cinta kepada diri sendiri yang berusaha menjadi lebih baik setiap
harinya.
Saat azan magrib berkumandang, semua orang berbuka dengan khidmat.
Ada yang memulai dengan seteguk air putih, ada yang langsung menyantap kurma,
dan ada pula yang mengawali dengan doa yang panjang. Dalam kebersamaan itu, ada
rasa syukur yang mendalam, ada kebahagiaan yang tidak dapat dibeli dengan
harta.
Kali Code, sungai yang membelah kota Yogyakarta, menjadi tempat
yang tepat untuk merenung di sore hari menjelang berbuka. Duduk di tepi sungai,
mengamati aliran air yang tenang, aku teringat kata-kata Heraclitus:
"Tidak ada manusia yang dapat melangkah di sungai yang sama dua kali,
karena bukan sungai yang sama dan bukan manusia yang sama."
Begitu pula dengan puasa di Yogyakarta—setiap tahun terasa berbeda,
setiap Ramadhan membawa pengalaman baru, dan setiap puasa membentuk diriku
menjadi pribadi yang berbeda. Air sungai yang mengalir mengingatkanku pada
waktu yang terus berjalan, tidak pernah berhenti, tidak pernah menunggu. Betapa
banyak Ramadhan yang telah kulewati di kota ini, dan betapa banyak perubahan
yang telah terjadi—baik dalam diriku maupun dalam kota yang kucintai ini.
Kampung-kampung di sepanjang Kali Code yang dulunya kumuh kini
telah berubah menjadi permukiman yang tertata rapi. Di bulan Ramadhan,
kampung-kampung itu dihiasi dengan lampu-lampu kecil dan spanduk-spanduk yang
berisi pesan-pesan Ramadhan. Anak-anak kecil berlarian di jalan-jalan sempit,
bermain dengan riang sebelum waktu berbuka tiba.
Saat Ramadhan hampir berakhir, ada rasa sedih yang menyelinap ke
dalam hati. Seperti kata Rumi, "Kesedihan adalah tamu yang menyapu rumahmu
dari segala sesuatu, untuk mempersiapkan ruang bagi kegembiraan." Aku
sedih karena sebentar lagi akan berpisah dengan bulan yang penuh berkah ini,
tetapi di saat yang sama, ada kegembiraan karena telah berhasil menyelesaikan
ibadah puasa dengan baik.
Yogyakarta di penghujung Ramadhan dipenuhi dengan aktivitas
menjelang Idul Fitri. Pasar-pasar tradisional seperti Pasar Beringharjo sesak
oleh pembeli yang mempersiapkan kebutuhan lebaran. Jalanan Malioboro semakin
ramai oleh para wisatawan yang ingin merasakan suasana lebaran di kota budaya
ini. Hotel-hotel dan rumah-rumah penginapan penuh dengan para pemudik yang
datang dari berbagai kota.
Namun di tengah kesibukan itu, aku masih menyempatkan diri untuk
duduk di sebuah kafe kecil di kawasan Prawirotaman, menyesap kopi hitam yang
mulai mendingin, dan menuliskan kenangan-kenangan selama berpuasa di
Yogyakarta. Seperti kata Jean-Jacques Rousseau, "Kenangan adalah
satu-satunya surga yang tidak dapat diusir darinya."
Berpuasa di Yogyakarta adalah pengalaman yang tidak akan pernah
kulupakan. Setiap sudut kota ini menyimpan cerita, setiap jalan menyimpan
kenangan, dan setiap masjid menyimpan doa-doa yang telah kupanjatkan selama
Ramadhan. Di kota ini, puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi perjalanan
spiritual yang mendalam, pencarian jati diri yang tak pernah usai.
Malam terakhir Ramadhan, aku duduk di teras Masjid Gedhe Kauman,
memandangi bintang-bintang yang bertaburan di langit Yogyakarta. Dalam
keheningan malam, aku berbisik pada diriku sendiri: "Selamat tinggal,
Ramadhan. Sampai jumpa tahun depan, di kota yang sama, dengan jiwa yang
berbeda."
Dan saat fajar menyingsing di ufuk timur, menandakan dimulainya
hari raya Idul Fitri, aku tahu bahwa puasa di Yogyakarta telah membentuk diriku
menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih bersyukur. Seperti kata
Michel Foucault, "Tujuan hidup bukanlah untuk menemukan diri sendiri,
tetapi untuk menciptakan diri sendiri." Dan di bulan Ramadhan ini, di kota
Yogyakarta yang kucintai, aku telah menciptakan versi terbaik dari diriku
sendiri.
30
hari menulis buruk
Hari
ke-16 menulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar