Pengikut

Senin, 24 Maret 2025

Rasa yang Terabadikan dalam Penantian Azan

 


Senja merangkak perlahan di atas Tugu Yogyakarta. Matahari yang lelah mulai menarik dirinya dari cakrawala, meninggalkan semburat jingga yang memayungi kota istimewa ini. Di ujung jalan Malioboro, azan magrib berkumandang, memanggil para pemeluknya untuk berbuka puasa. Seperti kata Jean-Paul Sartre, "Manusia dikutuk untuk bebas." Namun di bulan Ramadhan ini, kebebasan itu justru kita temukan dalam ikatan spiritual yang mengikat jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian.

Keraton Yogyakarta berdiri dengan anggun, menyimpan kenangan akan masa lalu yang gemilang. Mungkin benar kata Soren Kierkegaard bahwa "Hidup hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi harus dijalani dengan melihat ke depan." Di lorong-lorong Keraton yang sepi, puasa terasa berbeda. Ada keheningan yang menggema, ada kedamaian yang terasa hingga ke relung hati. Tradisi ngabuburit di sekeliling Alun-alun Kidul menjadi ritual yang tak pernah mati, diwariskan dari generasi ke generasi.

Para abdi dalem dengan pakaian tradisional mereka bergerak lambat di antara pilar-pilar tinggi, wajah mereka mencerminkan ketenangan yang sulit digambarkan. Saat beberapa dari mereka menjalani puasa, ada kekhusyukan yang terpancar dari setiap gerak tubuh mereka. Puasa di lingkungan Keraton bukanlah sekadar ritual kosong—ia adalah perjalanan jiwa menuju kebijaksanaan yang lebih dalam.

Jalanan Malioboro yang biasanya sesak oleh wisatawan terlihat berbeda di bulan puasa. Aroma makanan dari pedagang kaki lima menggoda penciuman, menguji kesabaran mereka yang menahan lapar dan dahaga. Albert Camus pernah berkata, "Dalam kedalaman musim dingin, akhirnya aku belajar bahwa ada musim panas abadi dalam diriku." Begitu pula dengan puasa di Malioboro—di balik rasa lapar dan dahaga, ada api spiritual yang tak pernah padam.

Sore hari, trotoar-trotoar mulai dipadati oleh para pemburu takjil. Aneka jajanan tradisional seperti kolak pisang, bubur sumsum, dan es kelapa muda tersusun rapi di atas meja-meja sederhana. Para pedagang dengan sabar menunggu waktu berbuka, meskipun godaan untuk mencicipi dagangan sendiri begitu kuat. Di sudut-sudut jalan, anak-anak kecil berlarian dengan wajah ceria, tak sabar menunggu bedug magrib berbunyi.

Aku masih ingat bagaimana kemarin, aku duduk di salah satu warung lesehan Malioboro, menanti waktu berbuka dengan secangkir teh yang masih mengepul. Waktu berlalu begitu cepat, meninggalkan jejak-jejak kenangan yang kini hanya dapat kujumput dalam laci memori yang semakin usang.

Masjid Gedhe Kauman berdiri dengan megah, menjadi saksi bisu perjalanan spiritual masyarakat Yogyakarta selama berabad-abad. Di bulan Ramadhan, masjid ini menjadi pusat kegiatan spiritual yang tak pernah surut. Dari subuh hingga malam hari, lantunan ayat-ayat suci terus terdengar, menyentuh setiap hati yang merindu akan ketenangan.

Saat tarawih, suasana begitu khidmat. Barisan jamaah yang rapi, doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap, dan air mata yang menetes dalam keheningan—semua berpadu menjadi satu simfoni spiritual yang menyejukkan jiwa. Imam masjid yang berusia senja membacakan ayat-ayat dengan suara yang bergetar, mengingatkanku pada ucapan Martin Heidegger: "Bahasa adalah rumah keberadaan. Dalam tempatnya, manusia berdiam."

Setelah tarawih usai, tadarus Al-Quran dimulai. Para santri dengan suara merdu membacakan ayat demi ayat, seolah hendak mengisi kekosongan malam dengan keindahan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Aku duduk di sudut masjid, meresapi setiap huruf dan harakat yang dibacakan, menemukan diriku dalam pelukan ketenangan yang sudah lama kurindukan.

Ada sebuah kampung di Yogyakarta yang menjadi ikon selama bulan Ramadhan—Kampung Jogokaryan. Setiap tahunnya, kampung ini disulap menjadi "Kampung Ramadhan" yang penuh dengan kegiatan spiritual dan sosial. Spanduk-spanduk bertuliskan kata-kata mutiara tentang Ramadhan terpasang di berbagai sudut kampung, mengingatkan setiap orang akan makna sejati dari puasa.

Friedrich Nietzsche pernah berkata, "Dia yang memiliki alasan untuk hidup dapat menahan segala cara." Di Kampung Jogokaryan, aku menemukan begitu banyak alasan untuk menjalani puasa dengan penuh keikhlasan. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga belajar untuk berbagi dengan sesama, merasakan penderitaan mereka yang kurang beruntung, dan menghargai nikmat yang selama ini kita anggap biasa.

Setiap malam, berbagai kegiatan digelar untuk mengisi waktu sebelum sahur. Dari kajian agama, lomba anak-anak, hingga pertunjukan kesenian tradisional. Kampung yang biasanya sunyi di malam hari kini berubah menjadi tempat yang penuh kehidupan. Lampu-lampu warna-warni menerangi jalan-jalan kecil, menciptakan suasana yang mengingatkanku pada masa kecil dulu, saat Ramadhan adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu.

Ada kenangan yang tak pernah pudar tentang sahur di angkringan sekitar Tugu Yogyakarta. Angkringan-angkringan kecil yang biasanya tutup di tengah malam kini tetap buka hingga waktu sahur tiba. Duduk di bangku kayu yang sederhana, ditemani secangkir kopi joss yang masih mengepul, aku merenungi perjalanan hidup yang telah kulalui.

Simone de Beauvoir pernah menulis, "Perubahan tidak membawa kita jauh dari masa lalu, tetapi membawa kita lebih dekat pada masa depan." Di angkringan yang sederhana ini, aku merasakan perubahan itu—bagaimana Ramadhan telah membentuk diriku dari tahun ke tahun, bagaimana puasa telah mengajarkan padaku arti kesabaran dan keikhlasan.

Para pekerja malam, tukang becak, dan mahasiswa yang begadang menjadi pelanggan setia angkringan sahur ini. Di tengah kesederhanaan, terjalin keakraban yang jarang ditemui di tempat lain. Obrolan ringan tentang kehidupan, gelak tawa yang pecah di keheningan malam, dan cerita-cerita tentang pengalaman puasa menjadi bumbu yang menyemarakkan suasana sahur.

Alun-alun Kidul atau yang lebih dikenal dengan Alun-alun Selatan menjadi destinasi populer untuk berbuka puasa bagi masyarakat Yogyakarta. Di sore hari, area ini dipenuhi oleh keluarga dan kelompok teman yang membentangkan tikar, menunggu waktu berbuka sambil menikmati suasana yang khas.

Di tengah alun-alun berdiri dua pohon beringin kembar yang konon membawa keberuntungan bagi mereka yang bisa berjalan di antaranya dengan mata tertutup. Namun, di bulan Ramadhan, pohon-pohon itu seolah menjadi saksi bagaimana manusia berusaha untuk menundukkan hawa nafsu, menjaga diri dari godaan duniawi.

Hannah Arendt pernah berkata, "Cinta adalah satu-satunya cara untuk memahami keberadaan orang lain dalam keunikannya yang paling dalam." Di Alun-alun Kidul, aku merasakan cinta itu—cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama, dan cinta kepada diri sendiri yang berusaha menjadi lebih baik setiap harinya.

Saat azan magrib berkumandang, semua orang berbuka dengan khidmat. Ada yang memulai dengan seteguk air putih, ada yang langsung menyantap kurma, dan ada pula yang mengawali dengan doa yang panjang. Dalam kebersamaan itu, ada rasa syukur yang mendalam, ada kebahagiaan yang tidak dapat dibeli dengan harta.

Kali Code, sungai yang membelah kota Yogyakarta, menjadi tempat yang tepat untuk merenung di sore hari menjelang berbuka. Duduk di tepi sungai, mengamati aliran air yang tenang, aku teringat kata-kata Heraclitus: "Tidak ada manusia yang dapat melangkah di sungai yang sama dua kali, karena bukan sungai yang sama dan bukan manusia yang sama."

Begitu pula dengan puasa di Yogyakarta—setiap tahun terasa berbeda, setiap Ramadhan membawa pengalaman baru, dan setiap puasa membentuk diriku menjadi pribadi yang berbeda. Air sungai yang mengalir mengingatkanku pada waktu yang terus berjalan, tidak pernah berhenti, tidak pernah menunggu. Betapa banyak Ramadhan yang telah kulewati di kota ini, dan betapa banyak perubahan yang telah terjadi—baik dalam diriku maupun dalam kota yang kucintai ini.

Kampung-kampung di sepanjang Kali Code yang dulunya kumuh kini telah berubah menjadi permukiman yang tertata rapi. Di bulan Ramadhan, kampung-kampung itu dihiasi dengan lampu-lampu kecil dan spanduk-spanduk yang berisi pesan-pesan Ramadhan. Anak-anak kecil berlarian di jalan-jalan sempit, bermain dengan riang sebelum waktu berbuka tiba.

Saat Ramadhan hampir berakhir, ada rasa sedih yang menyelinap ke dalam hati. Seperti kata Rumi, "Kesedihan adalah tamu yang menyapu rumahmu dari segala sesuatu, untuk mempersiapkan ruang bagi kegembiraan." Aku sedih karena sebentar lagi akan berpisah dengan bulan yang penuh berkah ini, tetapi di saat yang sama, ada kegembiraan karena telah berhasil menyelesaikan ibadah puasa dengan baik.

Yogyakarta di penghujung Ramadhan dipenuhi dengan aktivitas menjelang Idul Fitri. Pasar-pasar tradisional seperti Pasar Beringharjo sesak oleh pembeli yang mempersiapkan kebutuhan lebaran. Jalanan Malioboro semakin ramai oleh para wisatawan yang ingin merasakan suasana lebaran di kota budaya ini. Hotel-hotel dan rumah-rumah penginapan penuh dengan para pemudik yang datang dari berbagai kota.

Namun di tengah kesibukan itu, aku masih menyempatkan diri untuk duduk di sebuah kafe kecil di kawasan Prawirotaman, menyesap kopi hitam yang mulai mendingin, dan menuliskan kenangan-kenangan selama berpuasa di Yogyakarta. Seperti kata Jean-Jacques Rousseau, "Kenangan adalah satu-satunya surga yang tidak dapat diusir darinya."

Berpuasa di Yogyakarta adalah pengalaman yang tidak akan pernah kulupakan. Setiap sudut kota ini menyimpan cerita, setiap jalan menyimpan kenangan, dan setiap masjid menyimpan doa-doa yang telah kupanjatkan selama Ramadhan. Di kota ini, puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi perjalanan spiritual yang mendalam, pencarian jati diri yang tak pernah usai.

Malam terakhir Ramadhan, aku duduk di teras Masjid Gedhe Kauman, memandangi bintang-bintang yang bertaburan di langit Yogyakarta. Dalam keheningan malam, aku berbisik pada diriku sendiri: "Selamat tinggal, Ramadhan. Sampai jumpa tahun depan, di kota yang sama, dengan jiwa yang berbeda."

Dan saat fajar menyingsing di ufuk timur, menandakan dimulainya hari raya Idul Fitri, aku tahu bahwa puasa di Yogyakarta telah membentuk diriku menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih bersyukur. Seperti kata Michel Foucault, "Tujuan hidup bukanlah untuk menemukan diri sendiri, tetapi untuk menciptakan diri sendiri." Dan di bulan Ramadhan ini, di kota Yogyakarta yang kucintai, aku telah menciptakan versi terbaik dari diriku sendiri.

 

30 hari menulis buruk

Hari ke-16 menulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar