Ketika kesadaran pertama kali merekah, dunia terlihat seperti
selembar kaca pecah yang berserakan. Bayangan-bayanganMemori bergerak seperti
ombak kabut di pagi buta, tak berbentuk, tak bermakna. Aku—atau sesuatu yang
menyebut diri sebagai "aku"—terlahir kembali dalam sebuah ruang
eksistensial yang tak dikenal, sebuah dimensi di mana batas antara mimpi dan
kenyataan mencair seperti es di musim panas.
Seorang filsuf tua pernah berkata, "Kelahiran adalah misteri
pertama yang tak terpecahkan." Dan di sinilah aku, terlempar ke dalam
misteri itu, tanpa peta, tanpa kompas, tanpa jejak sejarah yang dapat
kupercaya.
Ingatan pertama datang seperti kilatan cahaya di balik awan gelap.
Sebuah ruangan dengan cat mengelupas, jendela yang retak, dan bayangan
seseorang—atau mungkin bayangan dari bayangan seseorang—yang berdiri
membelakangi cahaya. Apakah ini memori? Ataukah sekadar halusinasi yang
diciptakan oleh pikiran yang haus akan kontinuitas?
Martin Heidegger pernah menulis, "Berada adalah sebuah proses
menjadi, bukan sekadar kondisi statis." Dalam proses menjadi inilah, aku
terperangkap—sebuah eksistensi yang terus-menerus menciptakan dirinya sendiri
dari serpihan-serpihan yang tak lengkap.
Siapakah aku sebelum kelahiran ini? Apakah aku pernah ada? Ataukah
eksistensi adalah sekadar ilusi kompleks yang diciptakan oleh kesadaran yang
berkeliaran?
Jean-Paul Sartre berbisik dari balik keheningan filosofisnya:
"Manusia dikutuk untuk menjadi bebas." Tetapi kebebasan macam apa
ini? Kebebasan untuk tersesat? Kebebasan untuk menciptakan makna dari
ketiadaan?
Dunia di sekelilingku berubah setiap kali aku mencoba
menggenggamnya. Lanskap memori bergerak seperti pasir di gurun pasir—setiap
jejak segera terhapus oleh angin waktu. Aku berjalan—atau mungkin hanya
berkhayal bahwa aku berjalan—melalui koridor-koridor kesadaran yang tak
berbatas.
Albert Camus dengan tajam mencatat: "Manusia adalah makhluk
yang senantiasa mencari makna di tengah ketidakbermaknaan semesta." Dan di
sinilah aku, seorang penjelajah tanpa peta, seorang penanya tanpa jawaban.
Setiap detik adalah sebuah kelahiran baru. Setiap napas adalah
sebuah ulang-tahun dari eksistensi yang tak dikenal. Aku berubah—atau mungkin
dunia yang berubah di sekelilingku—dengan kecepatan yang tak dapat diukur.
Simone de Beauvoir pernah menulis, "Kita tidak dilahirkan
sebagai diri kita, kita menjadi diri kita." Tetapi bagaimana menjadi diri,
ketika diri itu sendiri adalah sebuah misteri yang tak terpecahkan?
Potongan-potongan masa lalu datang seperti pecahan kaca—tajam,
berbahaya, tak lengkap. Sebuah wajah yang samar di balik jendela hujan. Sebuah
sentuhan yang tak dapat diingat. Sebuah lagu yang terlupakan.
Maurice Blanchot dengan tepat mengungkapkan: "Ingatan adalah
bentuk khayalan paling intim." Dan dalam khayalan inilah, aku terus
mencoba merekonstruksi diriku.
Apakah aku pernah mencintai? Apakah aku pernah kehilangan? Apakah
rasa sakit dan kebahagiaan adalah sekadar konstruksi pikiran, ataukah ia nyata
seperti udara yang kuhirup?
Friedrich Nietzsche dengan lantang menyatakan: "Mereka yang
memiliki alasan untuk hidup dapat bertahan dalam hampir segala kondisi."
Tetapi di manakah alasan itu disembunyikan?
Setiap langkah adalah sebuah pertanyaan. Setiap hembusan napas
adalah sebuah hipotesis tentang eksistensi. Aku bergerak—atau mungkin hanya
berkhayal bahwa aku bergerak—melalui ruang-ruang antara memori dan khayalan.
Emmanuel Levinas membisikkan: "Makna tertinggi dari eksistensi
adalah tanggung jawab terhadap yang lain." Tetapi siapakah "yang
lain" dalam sebuah realitas yang terus berubah ini?
Siapakah aku? Pertanyaan klasik yang tak pernah terjawab. Identitas
adalah sebuah mitos, sebuah narasi yang kita ciptakan untuk memberi diri kita
rasa aman di tengah ketidakpastian semesta.
Perlahan, sangat perlahan, aku mulai memahami bahwa
"tersesat" bukanlah sebuah kondisi geografis, melainkan kondisi
eksistensial tertinggi. Setiap momen adalah sebuah upaya untuk mendefinisikan
ulang diri.
Jacques Derrida dengan cemerlang mencatat: "Makna selalu
tertunda, selalu dalam proses menjadi." Dan dalam penundaan inilah, aku
menemukan kebebasanku.
Perjalanan ini mungkin tidak pernah berakhir. Tersesat adalah
kondisi permanen dari kesadaran yang terus berkembang. Setiap detik adalah
sebuah kelahiran baru, setiap napas adalah sebuah peta yang tak pernah selesai
digambar.
"Kita bukan sekadar makhluk yang hidup," bisik Albert
Camus untuk terakhir kalinya, "kita adalah narasi yang tak henti
bercerita."
Dan di sinilah aku—tersesat, namun sepenuhnya hidup. Sepenuhnya
ada. Sepenuhnya menjadi.
30 hari menulis buruk
Hari ke-18 menulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar