Di sudut desa terpencil Sulawesi Utara, angin pagi membisikkan mimpi-mimpi yang selama ini kusembunyikan dalam diam. Sebuah mimpi sederhana namun terasa begitu jauh—melanjutkan studi S2 di Yogyakarta. Bagaimana mungkin seorang anak desa sepertiku, yang lahir dalam pangkuan kemiskinan, berani bermimpi setinggi itu?
Namun, apa daya ketika mimpi telah terlanjur menyala? Bahkan hujan amarah keluarga tak mampu memadamkannya. Maka kuputuskan untuk pergi, membawa luka dan harapan dalam satu tas kecil lusuh. Bermodalkan kemampuan sebagai konsultan karya tulis ilmiah—joki skripsi, sebagian orang menyebutnya—aku melangkah meninggalkan kampung halaman dengan sejuta ketakutan yang kucoba sembunyikan.
Langit Yogyakarta menyambutku dengan kelabu yang sama dengan yang ada di dalam dadaku. Dua ratus ribu rupiah—itulah yang tersisa di kantongku setelah sehari berada di kota asing ini. Tuhan, betapa mencekamnya rasa takut itu, seolah seluruh beban dunia diletakkan di pundakku yang kecil dan rapuh.
Dalam kebingungan dan keputusasaan, seberkas cahaya harapan muncul. Asrama Gorontalo membuka pintunya untukku—orang asing yang bahkan bukan berasal dari provinsi mereka. Betapa indahnya solidaritas tanah rantau, ketika orang-orang yang sama-sama terasing saling mengulurkan tangan.
Perjalanan sebagai mahasiswa S2 sekaligus joki karya ilmiah bukanlah jalan yang mudah. Setiap malam, di bawah cahaya lampu yang redup, jari-jariku menari di atas keyboard, menyusun kata demi kata untuk skripsi orang lain, sementara idealismeku perlahan terkikis.
"Apakah ini benar?" Pertanyaan itu kerap menghantui. Tetapi ketika perutmu lapar dan impianmu begitu dekat, batasan moral menjadi begitu kabur. Setiap ketikan adalah pertaruhan, setiap kalimat adalah langkah kecil menuju gelar Magister yang kudambakan.
Tidak ada yang tahu betapa aku membenci diriku setiap kali menerima uang dari hasil karyaku untuk orang lain. Namun, tidak ada juga yang tahu betapa keras aku belajar di sela-sela keterbatasan itu, berusaha membuktikan bahwa aku layak berada di sana meski dengan cara yang terpaksa kutempuh.
Waktu terus berjalan, membawaku pada ujian akhir studi. Satu juta dua ratus ribu rupiah—angka yang terasa seperti jurang tak berdasar bagi kantongku yang kosong. Entah berapa malam kuhabiskan dengan gelisah, mencari cara untuk memenuhi syarat ujian tersebut.
Sepanjang hidupku, tak pernah kubayangkan akan meminjam uang dari aplikasi pinjaman online. Tokopedia, tiga ratus ribu. Akulaku, delapan ratus ribu. Setiap kali mengisi aplikasi, hatiku mencelos, membayangkan bunga yang akan membengkak dan menghantui hari-hariku ke depan.
Lalu kisah itu—kisah yang terlalu memalukan untuk diceritakan dengan bangga. Lima ratus ribu rupiah hasil dari taruhan judi. Oh, betapa jatuhnya aku! Betapa menyedihkan bahwa pendidikan yang seharusnya mengangkat derajat hidup justru memaksaku tenggelam dalam cara-cara yang tak pernah ingin kutempuh.
Malam sebelum ujian, aku menangis seperti anak kecil, memeluk bantal asrama yang sudah lusuh. Bukan karena takut gagal, tapi karena takjub pada perjalanan hidup yang begitu ironis. Seorang calon Magister Hukum yang membiayai ujiannya dengan cara-cara yang berada di ambang hukum itu sendiri.
Hari itu akhirnya tiba. Dengan tangan bergetar, bukti perjuangan yang telah kulalui dengan darah, keringat, dan air mata.
Kukirimkan foto kepada orangtuaku di kampung. Ayah, yang dulu menentang keras kepergianku, kini menangis dalam diam. Ibu yang dulu takut aku kelaparan, kini menunjukkan fotoku dengan bangga pada tetangga desa.
"Anakku seorang Magister sekarang," katanya dengan mata berbinar, tanpa tahu betapa mahalnya harga yang kubayar untuk gelar itu—bukan hanya dalam rupiah, tapi juga dalam kepingan nurani yang perlahan luruh.
Malam ini, ketika kutatap kembali perjalananku, kutemukan makna baru dalam kata-kata Pramoedya Ananta Toer: "Pendidikan membuka mata seseorang pada kenyataan bahwa kemiskinan bukanlah takdir yang dituliskan bintang-bintang, melainkan konstruksi sosial yang dapat diruntuhkan melalui pengetahuan dan pikiran kritis."
Mungkin benar bahwa pendidikan telah meruntuhkan kemiskinanku. Namun, adakah yang mau mendengar cerita tentang harga yang harus dibayar? Tentang idealisme yang dikorbankan? Tentang air mata yang mengalir dalam sunyi?
Bagi anak-anak desa di pelosok negeri, yang masih bermimpi di bawah langit berbintang, kuharap kalian menemukan jalan yang lebih terang dari yang pernah kulalui. Kuharap kalian tak perlu menukar sebagian jiwamu untuk secercah ilmu.
Dan bagi diriku sendiri, semoga luka ini suatu hari kelak berubah menjadi kebijaksanaan. Semoga gelar Magister Hukum yang kini kusandang bukan hanya menjadi simbol kemenangan atas kemiskinan, tetapi juga langkah awal untuk memperbaiki sistem yang memaksa orang-orang sepertiku memilih jalan terjal penuh duri.
Karena meski perjalanan ini telah usai, jejak-jejak kesedihan dan kebahagiaan yang tertinggal akan kuingat seumur hidup. Seperti puisi yang tertulis dengan tinta merah darah di halaman-halaman kehidupan, melankolis dan indah dalam caranya sendiri.
30 hari menulis buruk
Hari ke-5

Tidak ada komentar:
Posting Komentar