Semalam
aku nongkrong di salah satu Indomaret di daerah Sleman, mencari ketenangan
dalam hiruk pikuk malam yang sepi. Lampu-lampu fluoresen toko memancarkan
cahaya pucat, menciptakan bayang-bayang yang menari pelan di lantai ubin putih.
Sebungkus rokok dan secangkir kopi panas menjadi temanku, sembari pikiranku
melayang entah kemana. Di luar, desiran angin malam membisikkan kisah-kisah
Yogyakarta yang sudah kudengar berulang kali, namun tak pernah membosankan.
Tiba-tiba,
dari sudut mataku, kulihat seorang pria paruh baya dengan baju lusuh berjalan
perlahan menghampiri. Kemeja kusam yang dikenakannya mungkin pernah mengilap di
masa lampau, seperti kenangan yang kian memudar dimakan waktu. Rambutnya yang
beruban tersisir angin malam, wajahnya menampakkan guratan hidup yang telah
dijalani. Ada sesuatu pada caranya memandang dunia—tatapan yang menembus
permukaan, mencari esensi dari segala hal.
Aku
terkejut ketika dia mengajakku mengobrol. Suaranya lembut namun mengandung
ketegasan seorang yang telah menyaksikan banyak hal dalam hidupnya. Sebagaimana
kata Nietzsche, "Jika kau menatap jurang terlalu lama, jurang itu pun akan
menatapmu kembali." Begitulah mata pria itu—dalam dan penuh cerita yang
belum terucap.
"Dari
mana asalmu, Nak?" tanyanya, memecah lamunanku. Pertanyaan sederhana yang
memulai obrolan panjang kami malam itu. Aku menjawab dengan singkat, namun dia
mendengarkan dengan sepenuh hati, seolah setiap kata yang terucap dari bibirku
adalah permata berharga.
"Sulawesi
Utara," jawabku singkat, tanpa tahu bahwa jawaban itu akan membuka pintu
percakapan yang mengalir seperti Sungai Code setelah hujan deras.
"Ah,
tempat yang indah. Manado, Tomohon, Bitung—tempat di mana laut dan gunung
berpadu sempurna," ucapnya sambil tersenyum. "Di Jogja, waktu
berjalan lebih lambat. Atau mungkin kita saja yang tidak terburu-buru
mengejarnya."
Obrolan
kami mengalir seperti sungai kecil yang akhirnya bermuara ke laut pemikiran
yang dalam. Dari pertanyaan tentang asal-usul, pembicaraan kami meluas ke
berbagai topik. Dia berbicara tentang organisasi kemasyarakatan, tentang
bagaimana struktur sosial terbentuk dan berubah seiring waktu. "Manusia
adalah makhluk politik," ucapnya, mengutip Aristoteles sambil menyesap
kopi yang kubelikan untuknya.
"Kau
tahu, Nak, ketika kita berbicara tentang organisasi, kita sebenarnya berbicara
tentang manusia dan kerinduan mereka untuk memahami posisi mereka dalam
semesta. Seperti kata Spinoza, 'Kita semua adalah bagian dari substansi
tunggal, yang dapat disebut Tuhan atau Alam.'"
Matanya
berbinar ketika membahas relasi kuasa dalam masyarakat. "Kekuasaan,"
katanya, "seperti yang ditulis Foucault, bukan hanya milik penguasa. Ia
tersebar, beroperasi di mana-mana, bahkan dalam interaksi sehari-hari seperti
percakapan kita malam ini."
Dia
berhenti sejenak, menyesap kopinya yang mulai dingin, kemudian melanjutkan,
"Lihat saja Indomaret ini. Sebuah franchise, bagian dari korporasi besar.
Namun di dalamnya, ada mikrokosmik relasi kuasa. Antara kasir dan pelanggan,
antara manajer dan karyawan, antara pemilik merek dan pembeli. Semua beroperasi
dalam jaringan kekuasaan yang tak terlihat."
Ketika
dia berbicara, aku merasakan ada getaran aneh dalam dadaku—sebuah resonansi
yang tidak biasa. Kata-katanya membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang selama
ini terpendam dalam diriku, pertanyaan yang kutakuti untuk kuajukan bahkan pada
diriku sendiri.
Malam
semakin larut, dan Indomaret mulai sepi pengunjung. Namun percakapan kami
justru semakin dalam. Pria itu bercerita tentang perjalanan hidupnya, tentang
bagaimana dia menemukan suaranya sebagai seorang penulis. "Menulis," adalah
cara kita melawan kefanaan. Kata-kata kita akan tetap hidup meski jasad telah
menyatu dengan tanah." Sartre pernah mengatakan bahwa kita menulis untuk
mengungkapkan eksistensi kita, dan pria itu telah menjadikan tulisan sebagai
bukti keberadaannya di dunia.
"Setiap
kata yang kita tulis adalah jejak kehadiran kita di dunia," ia menjelaskan
dengan mata yang menerawang. "Albert Camus pernah bilang, 'Menulislah
untuk membuat dirimu sendiri merasa tidak sendirian.' Dan itulah yang kulakukan
selama bertahun-tahun. Menulis untuk menemukan diriku sendiri dalam keramaian,
untuk menciptakan ruang sakral di tengah dunia yang semakin kehilangan
kesakralannya."
Aku
terpana mengetahui bahwa pria paruh baya dengan penampilan sederhana ini adalah
seorang penulis aktif. Tangannya yang kasar dan keriput itu telah melahirkan
ribuan kata, membentuk gagasan, dan mungkin mengubah perspektif banyak orang.
Seperti kata Heidegger, "Bahasa adalah rumah Keberadaan," dan pria
ini telah membangun istana megah dalam kesederhanaan hidupnya.
"Apa
yang Anda tulis?" tanyaku, penasaran dengan karya-karya yang dihasilkan
oleh pikiran yang begitu cemerlang namun tersembunyi dalam kesederhanaan.
"Oh,
banyak hal," jawabnya dengan senyum misterius. "Puisi, cerpen, esai,
kritik sosial. Tapi yang paling kusukai adalah menulis tentang orang-orang
biasa seperti kita, yang hidup di tengah-tengah perubahan zaman. Schopenhauer
pernah bilang, 'Talenta mencapai target yang tak dapat dicapai orang lain.
Kejeniusan mencapai target yang tak dapat dilihat orang lain.' Aku tidak
mengklaim diriku jenius, tapi aku mencoba melihat apa yang sering terlewatkan
oleh orang lain."
Dia
bercerita tentang proses kreatifnya, tentang bagaimana ia sering duduk di
warung-warung kopi atau Indomaret seperti ini, mengamati orang-orang yang
berlalu-lalang, mendengar percakapan mereka, dan kemudian menuliskan
refleksinya.
"Dunia
ini penuh dengan cerita yang menunggu untuk ditulis, Nak. Seperti kata Walter
Benjamin, 'Tidak ada dokumen peradaban yang bukan sekaligus dokumen
barbarisme.' Tugas kita sebagai penulis adalah membaca kedua sisi dokumen
itu."
Malam
telah bergulir, dan kami masih tenggelam dalam percakapan yang begitu dalam.
Kasir Indomaret sesekali melirik ke arah kami dengan pandangan yang sulit
ditafsirkan—mungkin kagum, mungkin heran, atau mungkin hanya lelah karena shift
malam yang panjang.
"Kau
tahu," lanjut pria itu, "Jogja ini memiliki sejarah panjang sebagai
kota penulis dan seniman. Di setiap sudutnya, ada kisah yang menunggu untuk
ditemukan. Hembusan anginnya membawa puisi, derap langkah di jalan-jalannya
mengalunkan prosa. Kierkegaard pernah bilang, 'Hidup bukan masalah yang harus
dipecahkan, tapi realitas yang harus dialami.' Dan Jogja adalah tempat untuk
mengalami kehidupan dalam seluruh kompleksitasnya."
Aku
mengangguk, merasakan kebenaran dalam kata-katanya. Jogja memang berbeda. Kota
ini punya ritme tersendiri, detak jantung yang berbeda dari Sulawesi Utara yang
kukenal. Di sini, waktu bukan penguasa kejam yang harus ditaklukkan, tapi
sahabat yang menemani perjalanan.
"Pernah
dengar tentang konsep 'jouissance' dari Lacan?" tanyanya tiba-tiba. Itu
semacam kenikmatan yang melampaui prinsip kesenangan biasa, sesuatu yang hampir
menyakitkan dalam intensitasnya. Menurutku, hidup di Jogja adalah semacam
'jouissance'—suatu pengalaman yang intens, yang kadang membuatmu merasa hidup
sekaligus terasing.
Ketika
dia berbicara tentang Jogja, matanya tampak berkaca-kaca, seolah ada seluruh
samudra kenangan yang terkandung di dalamnya. "Kota ini," katanya
dengan suara bergetar, "telah menyaksikan banyak perubahan. Dari masa
kolonial hingga revolusi, dari Orde Lama hingga Reformasi. Namun esensinya
tetap sama—selalu ada ruang untuk kontemplasi, untuk merenungkan apa artinya
menjadi manusia."
Dia
bercerita tentang masa mudanya di Jogja, tentang diskusi-diskusi panjang di
warung angkringan, tentang demo mahasiswa dan gerakan literasi yang pernah
diikutinya.
"Dulu,
di tahun 80-an, kami berkumpul di tempat-tempat seperti ini. Bukan Indomaret
tentu saja, tapi warung-warung kecil. Kami berdiskusi tentang filsafat, sastra,
politik—hampir semua hal. Kadang sampai fajar, seperti sekarang ini." Dia
tersenyum, menunjuk ke jendela di mana langit mulai memutih.
"Apa
perbedaan terbesar antara Jogja dulu dan sekarang?" tanyaku, penasaran
dengan perspektif seseorang yang telah menyaksikan perubahan kota ini selama
puluhan tahun.
Dia
terdiam sejenak, menimbang-nimbang jawabannya. "Heidegger pernah bicara
tentang 'Gelassenheit'—semacam ketenangan yang muncul dari membiarkan segala
sesuatu menjadi dirinya sendiri. Jogja dulu punya lebih banyak 'Gelassenheit'.
Sekarang, kota ini mulai terpengaruh ritme kehidupan urban yang cepat. Tapi
masih ada sudut-sudut di mana waktu berjalan lebih lambat, di mana kau bisa
menemukan kedamaian untuk berfikir dan merenung."
Dia
berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. "Tapi kau tahu, perubahan
adalah satu-satunya konstanta dalam hidup. Seperti kata Heraclitus, 'Tidak ada
orang yang bisa melangkah di sungai yang sama dua kali.' Jogja berubah, dan itu
tidak apa-apa. Yang penting adalah kita masih bisa menemukan esensinya di
tengah-tengah perubahan itu."
Langit
mulai memucat saat kami akhirnya berpisah. Dia memberiku secarik kertas berisi
judul buku-bukunya dan sebuah kutipan dari Camus: "Di tengah musim dingin,
aku akhirnya belajar bahwa ada musim panas yang abadi dalam diriku."
"Bacalah
jika kau punya waktu," katanya sambil menunjuk daftar buku itu.
"Mungkin kau akan menemukan dirimu di dalam kata-kataku, sebagaimana aku
menemukan diriku dalam percakapan kita malam ini."
Saat
melangkah pulang, aku merenungkan pertemuan tak terduga itu. Jogja memang
selalu menyimpan keunikan tersendiri. Di kota ini, kebijaksanaan bisa datang
dari mana saja—dari seorang profesor di universitas atau dari seorang pria tua
berbaju lusuh di sebuah Indomaret.
Jalanan
masih sepi, hanya sesekali dilintasi oleh pengendara motor yang mulai berangkat
kerja. Embun pagi membasahi rumput di pinggir jalan, berkilauan seperti permata
kecil ketika terkena cahaya matahari yang mulai mengintip dari balik bukit.
Dalam keheningan ini, kata-kata pria tua itu bergema dalam kepalaku.
Kesederhanaan
Jogja tidak dapat ditemukan di tempat mana pun. Seperti yang dikatakan
Kierkegaard, "Hidup harus dipahami mundur, tetapi harus dijalani
maju." Malam itu, aku mendapatkan sekilas pemahaman tentang hidupku
sendiri melalui cerita seorang asing.
Aku
berhenti sejenak di jembatan kecil yang melintasi selokan. Di bawah, air
mengalir pelan, membawa daun-daun kering dan sampah plastik. Seperti waktu,
pikirku, yang membawa serta kenangan-kenangan kita, yang manis dan yang pahit.
"Keindahan
akan menyelamatkan dunia," kata Dostoyevsky melalui tokohnya dalam
"The Idiot". Dan mungkin itulah yang dilakukan pria tua
itu—menyelamatkan dunia melalui kata-kata indahnya, satu halaman, satu pembaca
pada satu waktu.
Aku
memandang langit pagi yang mulai terang. Gerimis kecil turun membasahi jalanan,
mengingatkanku pada kata-kata terakhir pria itu sebelum kami berpisah:
"Kebenaran, seperti hujan, tidak selalu datang dalam badai. Terkadang ia
jatuh lembut, hampir tak terdengar, namun tetap membasahi jiwa-jiwa yang
haus."
Rilke
pernah bilang, 'Satu-satunya perjalanan yang benar adalah perjalanan ke dalam
diri.' Semoga perjalananmu ke Jogja juga menjadi perjalanan ke dalam dirimu
sendiri."
Aku
tersenyum. Pertemuan semalam bukan kebetulan, aku yakin itu. Di kota ini, tak
ada yang benar-benar kebetulan. Semuanya terhubung dalam jaring kehidupan yang
rumit namun indah. Seperti yang dikatakan Carl Jung, "Sinkronisitas adalah
pengalaman tentang dua atau lebih peristiwa yang terhubung secara bermakna
namun tidak memiliki hubungan sebab-akibat." Pertemuanku dengan pria tua
itu adalah sinkronisitas semacam itu.
Indomaret
di pinggir jalan Sleman itu kini telah jauh di belakangku, namun percakapan
malam itu akan selamanya terukir dalam memori, mengingatkanku bahwa
kadang-kadang, hikmah terdalam dapat ditemukan di tempat-tempat paling tidak
terduga.
Dan
mungkin suatu hari nanti, aku juga akan menjadi seperti pria tua itu—duduk di
sebuah Indomaret di pinggir jalan, menunggu jiwa muda yang haus akan
kebijaksanaan, siap untuk berbagi cerita dan pemikiran yang telah kukumpulkan
sepanjang hidupku. Dan lingkaran akan terus berlanjut, seperti kata Nietzsche
tentang eternal recurrence—pengulangan abadi dari segala sesuatu.
Untuk
saat ini, aku akan pulang, menulis tentang pertemuan ini, dan mungkin memulai
perjalanan baruku—perjalanan menemukan kebijaksanaan dalam kesederhanaan,
keindahan dalam kebiasaan, dan keajaiban dalam kebetulan. Karena seperti kata
pria tua itu, "Hidup ini terlalu singkat untuk tidak diperhatikan
detailnya, terlalu berharga untuk tidak dihayati setiap momennya."
Aku
mengambil napas dalam-dalam, merasakan udara pagi Jogja yang masih murni.
Rasanya seperti memulai halaman baru—dalam buku kehidupanku dan mungkin, dalam
buku yang akan kutulis suatu hari nanti.
30 hari menulis buruk
Hari ke-24 menulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar