Pengikut

Selasa, 01 April 2025

Jogja dan Kesederhanaan di Dalamnya




Semalam aku nongkrong di salah satu Indomaret di daerah Sleman, mencari ketenangan dalam hiruk pikuk malam yang sepi. Lampu-lampu fluoresen toko memancarkan cahaya pucat, menciptakan bayang-bayang yang menari pelan di lantai ubin putih. Sebungkus rokok dan secangkir kopi panas menjadi temanku, sembari pikiranku melayang entah kemana. Di luar, desiran angin malam membisikkan kisah-kisah Yogyakarta yang sudah kudengar berulang kali, namun tak pernah membosankan.

Tiba-tiba, dari sudut mataku, kulihat seorang pria paruh baya dengan baju lusuh berjalan perlahan menghampiri. Kemeja kusam yang dikenakannya mungkin pernah mengilap di masa lampau, seperti kenangan yang kian memudar dimakan waktu. Rambutnya yang beruban tersisir angin malam, wajahnya menampakkan guratan hidup yang telah dijalani. Ada sesuatu pada caranya memandang dunia—tatapan yang menembus permukaan, mencari esensi dari segala hal.

Aku terkejut ketika dia mengajakku mengobrol. Suaranya lembut namun mengandung ketegasan seorang yang telah menyaksikan banyak hal dalam hidupnya. Sebagaimana kata Nietzsche, "Jika kau menatap jurang terlalu lama, jurang itu pun akan menatapmu kembali." Begitulah mata pria itu—dalam dan penuh cerita yang belum terucap.

"Dari mana asalmu, Nak?" tanyanya, memecah lamunanku. Pertanyaan sederhana yang memulai obrolan panjang kami malam itu. Aku menjawab dengan singkat, namun dia mendengarkan dengan sepenuh hati, seolah setiap kata yang terucap dari bibirku adalah permata berharga.

"Sulawesi Utara," jawabku singkat, tanpa tahu bahwa jawaban itu akan membuka pintu percakapan yang mengalir seperti Sungai Code setelah hujan deras.

"Ah, tempat yang indah. Manado, Tomohon, Bitung—tempat di mana laut dan gunung berpadu sempurna," ucapnya sambil tersenyum. "Di Jogja, waktu berjalan lebih lambat. Atau mungkin kita saja yang tidak terburu-buru mengejarnya."

Obrolan kami mengalir seperti sungai kecil yang akhirnya bermuara ke laut pemikiran yang dalam. Dari pertanyaan tentang asal-usul, pembicaraan kami meluas ke berbagai topik. Dia berbicara tentang organisasi kemasyarakatan, tentang bagaimana struktur sosial terbentuk dan berubah seiring waktu. "Manusia adalah makhluk politik," ucapnya, mengutip Aristoteles sambil menyesap kopi yang kubelikan untuknya.

"Kau tahu, Nak, ketika kita berbicara tentang organisasi, kita sebenarnya berbicara tentang manusia dan kerinduan mereka untuk memahami posisi mereka dalam semesta. Seperti kata Spinoza, 'Kita semua adalah bagian dari substansi tunggal, yang dapat disebut Tuhan atau Alam.'"

Matanya berbinar ketika membahas relasi kuasa dalam masyarakat. "Kekuasaan," katanya, "seperti yang ditulis Foucault, bukan hanya milik penguasa. Ia tersebar, beroperasi di mana-mana, bahkan dalam interaksi sehari-hari seperti percakapan kita malam ini."

Dia berhenti sejenak, menyesap kopinya yang mulai dingin, kemudian melanjutkan, "Lihat saja Indomaret ini. Sebuah franchise, bagian dari korporasi besar. Namun di dalamnya, ada mikrokosmik relasi kuasa. Antara kasir dan pelanggan, antara manajer dan karyawan, antara pemilik merek dan pembeli. Semua beroperasi dalam jaringan kekuasaan yang tak terlihat."

Ketika dia berbicara, aku merasakan ada getaran aneh dalam dadaku—sebuah resonansi yang tidak biasa. Kata-katanya membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini terpendam dalam diriku, pertanyaan yang kutakuti untuk kuajukan bahkan pada diriku sendiri.

Malam semakin larut, dan Indomaret mulai sepi pengunjung. Namun percakapan kami justru semakin dalam. Pria itu bercerita tentang perjalanan hidupnya, tentang bagaimana dia menemukan suaranya sebagai seorang penulis. "Menulis," adalah cara kita melawan kefanaan. Kata-kata kita akan tetap hidup meski jasad telah menyatu dengan tanah." Sartre pernah mengatakan bahwa kita menulis untuk mengungkapkan eksistensi kita, dan pria itu telah menjadikan tulisan sebagai bukti keberadaannya di dunia.

"Setiap kata yang kita tulis adalah jejak kehadiran kita di dunia," ia menjelaskan dengan mata yang menerawang. "Albert Camus pernah bilang, 'Menulislah untuk membuat dirimu sendiri merasa tidak sendirian.' Dan itulah yang kulakukan selama bertahun-tahun. Menulis untuk menemukan diriku sendiri dalam keramaian, untuk menciptakan ruang sakral di tengah dunia yang semakin kehilangan kesakralannya."

Aku terpana mengetahui bahwa pria paruh baya dengan penampilan sederhana ini adalah seorang penulis aktif. Tangannya yang kasar dan keriput itu telah melahirkan ribuan kata, membentuk gagasan, dan mungkin mengubah perspektif banyak orang. Seperti kata Heidegger, "Bahasa adalah rumah Keberadaan," dan pria ini telah membangun istana megah dalam kesederhanaan hidupnya.

"Apa yang Anda tulis?" tanyaku, penasaran dengan karya-karya yang dihasilkan oleh pikiran yang begitu cemerlang namun tersembunyi dalam kesederhanaan.

"Oh, banyak hal," jawabnya dengan senyum misterius. "Puisi, cerpen, esai, kritik sosial. Tapi yang paling kusukai adalah menulis tentang orang-orang biasa seperti kita, yang hidup di tengah-tengah perubahan zaman. Schopenhauer pernah bilang, 'Talenta mencapai target yang tak dapat dicapai orang lain. Kejeniusan mencapai target yang tak dapat dilihat orang lain.' Aku tidak mengklaim diriku jenius, tapi aku mencoba melihat apa yang sering terlewatkan oleh orang lain."

Dia bercerita tentang proses kreatifnya, tentang bagaimana ia sering duduk di warung-warung kopi atau Indomaret seperti ini, mengamati orang-orang yang berlalu-lalang, mendengar percakapan mereka, dan kemudian menuliskan refleksinya.

"Dunia ini penuh dengan cerita yang menunggu untuk ditulis, Nak. Seperti kata Walter Benjamin, 'Tidak ada dokumen peradaban yang bukan sekaligus dokumen barbarisme.' Tugas kita sebagai penulis adalah membaca kedua sisi dokumen itu."

Malam telah bergulir, dan kami masih tenggelam dalam percakapan yang begitu dalam. Kasir Indomaret sesekali melirik ke arah kami dengan pandangan yang sulit ditafsirkan—mungkin kagum, mungkin heran, atau mungkin hanya lelah karena shift malam yang panjang.

"Kau tahu," lanjut pria itu, "Jogja ini memiliki sejarah panjang sebagai kota penulis dan seniman. Di setiap sudutnya, ada kisah yang menunggu untuk ditemukan. Hembusan anginnya membawa puisi, derap langkah di jalan-jalannya mengalunkan prosa. Kierkegaard pernah bilang, 'Hidup bukan masalah yang harus dipecahkan, tapi realitas yang harus dialami.' Dan Jogja adalah tempat untuk mengalami kehidupan dalam seluruh kompleksitasnya."

Aku mengangguk, merasakan kebenaran dalam kata-katanya. Jogja memang berbeda. Kota ini punya ritme tersendiri, detak jantung yang berbeda dari Sulawesi Utara yang kukenal. Di sini, waktu bukan penguasa kejam yang harus ditaklukkan, tapi sahabat yang menemani perjalanan.

"Pernah dengar tentang konsep 'jouissance' dari Lacan?" tanyanya tiba-tiba. Itu semacam kenikmatan yang melampaui prinsip kesenangan biasa, sesuatu yang hampir menyakitkan dalam intensitasnya. Menurutku, hidup di Jogja adalah semacam 'jouissance'—suatu pengalaman yang intens, yang kadang membuatmu merasa hidup sekaligus terasing.

Ketika dia berbicara tentang Jogja, matanya tampak berkaca-kaca, seolah ada seluruh samudra kenangan yang terkandung di dalamnya. "Kota ini," katanya dengan suara bergetar, "telah menyaksikan banyak perubahan. Dari masa kolonial hingga revolusi, dari Orde Lama hingga Reformasi. Namun esensinya tetap sama—selalu ada ruang untuk kontemplasi, untuk merenungkan apa artinya menjadi manusia."

Dia bercerita tentang masa mudanya di Jogja, tentang diskusi-diskusi panjang di warung angkringan, tentang demo mahasiswa dan gerakan literasi yang pernah diikutinya.

"Dulu, di tahun 80-an, kami berkumpul di tempat-tempat seperti ini. Bukan Indomaret tentu saja, tapi warung-warung kecil. Kami berdiskusi tentang filsafat, sastra, politik—hampir semua hal. Kadang sampai fajar, seperti sekarang ini." Dia tersenyum, menunjuk ke jendela di mana langit mulai memutih.

"Apa perbedaan terbesar antara Jogja dulu dan sekarang?" tanyaku, penasaran dengan perspektif seseorang yang telah menyaksikan perubahan kota ini selama puluhan tahun.

Dia terdiam sejenak, menimbang-nimbang jawabannya. "Heidegger pernah bicara tentang 'Gelassenheit'—semacam ketenangan yang muncul dari membiarkan segala sesuatu menjadi dirinya sendiri. Jogja dulu punya lebih banyak 'Gelassenheit'. Sekarang, kota ini mulai terpengaruh ritme kehidupan urban yang cepat. Tapi masih ada sudut-sudut di mana waktu berjalan lebih lambat, di mana kau bisa menemukan kedamaian untuk berfikir dan merenung."

Dia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. "Tapi kau tahu, perubahan adalah satu-satunya konstanta dalam hidup. Seperti kata Heraclitus, 'Tidak ada orang yang bisa melangkah di sungai yang sama dua kali.' Jogja berubah, dan itu tidak apa-apa. Yang penting adalah kita masih bisa menemukan esensinya di tengah-tengah perubahan itu."

Langit mulai memucat saat kami akhirnya berpisah. Dia memberiku secarik kertas berisi judul buku-bukunya dan sebuah kutipan dari Camus: "Di tengah musim dingin, aku akhirnya belajar bahwa ada musim panas yang abadi dalam diriku."

"Bacalah jika kau punya waktu," katanya sambil menunjuk daftar buku itu. "Mungkin kau akan menemukan dirimu di dalam kata-kataku, sebagaimana aku menemukan diriku dalam percakapan kita malam ini."

Saat melangkah pulang, aku merenungkan pertemuan tak terduga itu. Jogja memang selalu menyimpan keunikan tersendiri. Di kota ini, kebijaksanaan bisa datang dari mana saja—dari seorang profesor di universitas atau dari seorang pria tua berbaju lusuh di sebuah Indomaret.

Jalanan masih sepi, hanya sesekali dilintasi oleh pengendara motor yang mulai berangkat kerja. Embun pagi membasahi rumput di pinggir jalan, berkilauan seperti permata kecil ketika terkena cahaya matahari yang mulai mengintip dari balik bukit. Dalam keheningan ini, kata-kata pria tua itu bergema dalam kepalaku.

Kesederhanaan Jogja tidak dapat ditemukan di tempat mana pun. Seperti yang dikatakan Kierkegaard, "Hidup harus dipahami mundur, tetapi harus dijalani maju." Malam itu, aku mendapatkan sekilas pemahaman tentang hidupku sendiri melalui cerita seorang asing.

Aku berhenti sejenak di jembatan kecil yang melintasi selokan. Di bawah, air mengalir pelan, membawa daun-daun kering dan sampah plastik. Seperti waktu, pikirku, yang membawa serta kenangan-kenangan kita, yang manis dan yang pahit.

"Keindahan akan menyelamatkan dunia," kata Dostoyevsky melalui tokohnya dalam "The Idiot". Dan mungkin itulah yang dilakukan pria tua itu—menyelamatkan dunia melalui kata-kata indahnya, satu halaman, satu pembaca pada satu waktu.

Aku memandang langit pagi yang mulai terang. Gerimis kecil turun membasahi jalanan, mengingatkanku pada kata-kata terakhir pria itu sebelum kami berpisah: "Kebenaran, seperti hujan, tidak selalu datang dalam badai. Terkadang ia jatuh lembut, hampir tak terdengar, namun tetap membasahi jiwa-jiwa yang haus."

Rilke pernah bilang, 'Satu-satunya perjalanan yang benar adalah perjalanan ke dalam diri.' Semoga perjalananmu ke Jogja juga menjadi perjalanan ke dalam dirimu sendiri."

Aku tersenyum. Pertemuan semalam bukan kebetulan, aku yakin itu. Di kota ini, tak ada yang benar-benar kebetulan. Semuanya terhubung dalam jaring kehidupan yang rumit namun indah. Seperti yang dikatakan Carl Jung, "Sinkronisitas adalah pengalaman tentang dua atau lebih peristiwa yang terhubung secara bermakna namun tidak memiliki hubungan sebab-akibat." Pertemuanku dengan pria tua itu adalah sinkronisitas semacam itu.

Indomaret di pinggir jalan Sleman itu kini telah jauh di belakangku, namun percakapan malam itu akan selamanya terukir dalam memori, mengingatkanku bahwa kadang-kadang, hikmah terdalam dapat ditemukan di tempat-tempat paling tidak terduga.

Dan mungkin suatu hari nanti, aku juga akan menjadi seperti pria tua itu—duduk di sebuah Indomaret di pinggir jalan, menunggu jiwa muda yang haus akan kebijaksanaan, siap untuk berbagi cerita dan pemikiran yang telah kukumpulkan sepanjang hidupku. Dan lingkaran akan terus berlanjut, seperti kata Nietzsche tentang eternal recurrence—pengulangan abadi dari segala sesuatu.

Untuk saat ini, aku akan pulang, menulis tentang pertemuan ini, dan mungkin memulai perjalanan baruku—perjalanan menemukan kebijaksanaan dalam kesederhanaan, keindahan dalam kebiasaan, dan keajaiban dalam kebetulan. Karena seperti kata pria tua itu, "Hidup ini terlalu singkat untuk tidak diperhatikan detailnya, terlalu berharga untuk tidak dihayati setiap momennya."

Aku mengambil napas dalam-dalam, merasakan udara pagi Jogja yang masih murni. Rasanya seperti memulai halaman baru—dalam buku kehidupanku dan mungkin, dalam buku yang akan kutulis suatu hari nanti.

 

 

30 hari menulis buruk

Hari ke-24 menulis


Tidak ada komentar:

Posting Komentar