"Kejujuran itu tidak mewajibkan
kita membeber seluruh fakta, sebab mengungkap semua fakta dalam satu topik
hampir tak pernah berguna, bahkan mungkin mustahil!" — Sam Harris (58),
dalam bukunya "Lying" (2011).
Pernahkah Anda menonton sinetron
berjudul "Misteri Ijazah Yang Hilang"? Episode terpanjang dalam
sejarah pertelevisian Indonesia! Bertahun-tahun tayang, rating-nya selalu
tinggi, dan energi publik terkuras habis untuk mendiskusikannya di warung kopi
sampai rapat kabinet.
Kalau memang benar ini hanya drama
kebohongan dari tokoh publik paling "wah" sepanjang era reformasi,
sebenarnya cuma butuh satu bukti untuk mengakhirinya. Sama seperti menonton
film horor yang kepanjangan—cukup tekan tombol "off" dan selesai!
Menariknya, masyarakat kita seperti
kecanduan drama ini. Seolah-olah kita semua duduk di tribun pertandingan sepak
bola abadi, dimana wasitnya buta, pemainnya kebal aturan, dan penonton lebih
sibuk berteriak ketimbang menganalisis permainan. Setiap hari Minggu,
koran-koran dipenuhi analisis pakar hukum tentang "ijazah gaib" ini,
seakan-akan dokumen tersebut lebih sulit ditemukan daripada harta karun bajak
laut yang tenggelam di Segitiga Bermuda.
Sebagai warga negara yang baik, kita
berhak bertanya: apakah memang sebegitu sulitnya membuka arsip dan membuktikan
kebenaran? Ataukah kita semua diam-diam menikmati pertunjukan ini, seperti
penonton opera sabun yang tahu jalan ceritanya absurd tapi tetap menunggu
episode berikutnya?
Karl Popper, sang filsuf yang hobi
membantah, punya metode falsifikasi yang terkenal dengan teori "Angsa
Hitam"
Intinya begini: Jika ada yang
mengklaim "SEMUA angsa itu putih", Anda tidak perlu repot-repot
menghitung seluruh angsa di planet ini. Cukup temukan SATU angsa hitam, dan
BOOM! Teori runtuh secepat bulu-bulu beterbangan di kandang unggas.
Mari kita lupakan bukti-bukti
historis tentang ijazah misterius, mobil nasional yang entah kemana, dan 11.000
triliun yang mungkin cukup untuk membeli seluruh planet Mars. The Lying King,
film dokumenter terbaru yang tak tayang di bioskop manapun!
Popper sebenarnya frustrasi dengan
metode induksi yang populer di zamannya. "Berapa banyak angsa putih yang
harus kita lihat sebelum bisa menyimpulkan semua angsa itu putih?"
Hebatnya, buku "Lying"
ini ternyata masuk dalam daftar bacaan favorit Elon Musk (53), penasihat senior
Presiden (yang hobi tarif) Trump! Bayangkan sambil memikirkan Mars, roket, dan
mobil listrik, dia juga memikirkan tentang bohong-membohongi.
Sam Harris, penulis buku tersebut,
adalah pakar neurosains yang naik daun setelah peristiwa 9/11 dengan bukunya
"The End of Faith" (2004). Sepertinya otaknya memang sibuk
memikirkan hal-hal yang bikin kita semua sakit kepala.
Semakin tinggi kekuasaan seseorang,
semakin krusial pemahaman mereka tentang batas antara ketidakjujuran dan
kesalahan prediksi. Bedanya apa? Yang pertama bisa membuatmu kehilangan
kredibilitas, yang kedua bisa dimasukkan ke dalam kategori "visi yang
terlalu dini."
Menurut Harris, hidup kita bisa jauh
lebih sederhana jika kita jujur di situasi dimana orang lain memilih berbohong.
Bayangkan dunia tanpa kebohongan: rapat kantor hanya 5 menit, sidang DPR tanpa
interupsi, dan iklan shampo yang mengakui "rambut Anda tetap berminyak,
tapi wangi!"
Harris mengatakan, Penipuan itu
banyak jenisnya, tapi tidak semua penipuan adalah kebohongan. Bahkan orang
paling beretika pun kadang bingung membedakan penampilan dan kenyataan.
Wanita yang pakai makeup tidak perlu
berkata, 'Tolong perhatikan, wajah saya tidak secantik ini saat baru bangun
tidur!' Seseorang yang terburu-buru boleh pura-pura tidak melihat kenalan di
jalan. Tuan rumah yang sopan tidak perlu menunjukkan bahwa tamunya baru saja
mengatakan hal bodoh yang bisa memperlambat rotasi bumi.
Ketika ditanya 'Apa kabar?' kita
refleks jawab 'Baik!' bukan malah curhat tentang karir yang mandek, masalah
rumah tangga, atau kondisi usus kita yang bermasalah. Ini bentuk pengabaian
kebenaran, tapi bukan kebohongan. Kita tidak sengaja menciptakan kepalsuan."
Apa jadinya dunia tanpa kebohongan? Mungkin
kita akan menghabiskan 70% waktu hidup untuk mendengarkan detail keseharian
orang lain yang tidak kita pedulikan.
Harris sebenarnya mendukung
kejujuran radikal, tapi dia juga realistis tentang implikasinya. "Kebanyakan
dari kita berpikir kejujuran adalah kebijakan terbaik—hingga situasi
mengharuskan kita berbohong."
Harris menunjukkan bahwa kita bahkan
bisa menipu dengan kebenaran:
"Misalnya, saya berdiri di
dekat Gedung Putih, menelepon kantor Facebook: 'Halo, ini Sam Harris. Saya
menelepon dari Gedung Putih dan ingin bicara dengan Mark Zuckerberg.' Secara
teknis benar—tapi jelas menyesatkan. Apakah saya berbohong? Hampir!"
Menurut definisi Harris, berbohong
adalah "sengaja menyesatkan orang lain ketika mereka mengharapkan
komunikasi jujur." Ini membebaskan pesulap, pemain poker, dan
penipu-penipu lucu lainnya dari tanggung jawab moral. Untunglah!
Kita jadi teringat pada fenomena
"truthful hyperbole" atau "hiperbola jujur" yang
dipopulerkan oleh politisi kontemporer. "Tembok paling fantastis,"
"ekonomi terhebat dalam sejarah," atau "pandemi akan selesai
seperti keajaiban" – semua ini bisa dibilang "kebenaran
emosional" meski faktanya lebih kompleks.
Jika ditilik lebih dalam, strategi
ini meminjam banyak dari teknik periklanan. Sebuah iklan yang mengklaim
"Deterjen X membuat pakaian Anda 99% lebih bersih!" bisa jadi benar –
jika dibandingkan dengan mencuci pakaian menggunakan lumpur sawah. Konteks
adalah segalanya, dan manipulasi konteks adalah seni halus yang dikuasai para
master komunikasi.
Mengapa banyak orang lebih mudah
percaya bahwa bumi itu datar, atau bahwa vaksin mengandung microchip,
daripada menerima penjelasan ilmiah yang sudah teruji? Harris akan menjawab
bahwa dalam kebingungan informasi yang membanjiri, kita cenderung memilih
kebenaran yang paling sesuai dengan pandangan dunia kita, bukan yang paling
akurat.
Studi ilmiah bisa membosankan,
kompleks, dan sering mengandung ketidakpastian. Sebaliknya teori konspirasi
menawarkan narasi sederhana dengan penjahat yang jelas, pahlawan yang herorik,
dan rasa bahwa kita spesial karena mengetahui kebenaran tersembunyi.
Harris mengingatkan bahwa kita perlu
membedakan kebenaran dan kejujuran. "Seseorang bisa jujur meski sebenarnya
keliru. Berbicara jujur berarti menyampaikan keyakinan dengan akurat, tapi
tidak menjamin keyakinan itu benar."
Harris, salah satu dari "Empat
Penunggang Kuda Kesesatan" bersama mendiang Daniel Dennett, Christopher
Hitchens, dan Richard Dawkins (84), juga menulis "The Moral Landscape"
(2010) dan "Free Will" (2012). Bersama Maajid Nawaz (47), ia
ikut mempromosikan filsafat toleransi dalam "Islam and the Future of
Tolerance" (2015).
Terorisme, ekstremisme, ateisme, dan
toleransi—mungkinkah semua ini produk kontra dari kebohongan politik? Sejarah
memang tak bisa berbohong, tapi penafsirnya bisa jadi komedian ulung!
Apa yang terjadi di otak kita saat
berbohong? Para peneliti neurosains telah menemukan bahwa berbohong
mengaktifkan lebih banyak area otak daripada saat berbicara jujur. Ini
menjelaskan mengapa berbohong lebih melelahkan secara kognitif—otak kita harus
bekerja ekstra untuk membangun cerita palsu sambil mengingat versi aslinya.
Ada istilah menarik: "tax on
cognition" atau "pajak kognitif." Setiap kebohongan yang kita
ucapkan menjadi beban yang harus kita ingat dan pertahankan, dan beban ini
terus bertambah hingga sistem kognitif kita kelebihan muatan. Inilah sebabnya
pembohong seringkali terjebak dalam inkonsistensi ceritanya sendiri.
Dr. Paul Ekman (91), psikolog yang
menghabiskan karirnya mempelajari ekspresi wajah dan penipuan, mencatat bahwa
mayoritas manusia sebenarnya buruk dalam mendeteksi kebohongan—rata-rata
kemampuan deteksi hanya sedikit di atas tebakan acak. Ini menjelaskan mengapa
kebohongan publik seringkali bertahan lama sebelum terbongkar.
Harris mengusulkan kejujuran bukan
hanya sebagai nilai moral, tapi juga strategi hidup yang efisien.
"Berbohong menciptakan versi realitas paralel yang harus dikelola dan
dipertahankan," tulisnya. Ini membutuhkan energi luar biasa.
Dalam urusan bisnis dan politik, ada
ungkapan bahwa "kejujuran adalah komoditas langka," tapi justru
kelangkaan inilah yang memberi nilai tambah. Warren Buffett (94), investor
legendaris, terkenal dengan filosofi transparansinya: Butuh 20 tahun untuk
membangun reputasi dan 5 menit untuk menghancurkannya.
Para ahli branding pun mulai
menyadari nilai kejujuran sebagai strategi diferensiasi. Di era dimana konsumen
semakin skeptis terhadap klaim pemasaran, beberapa merek mulai mengadopsi apa
yang disebut "radical honesty" atau "kejujuran radikal"
dalam komunikasi mereka. "Ya, jaket ini mahal karena kami membayar pekerja
dengan upah layak," atau "Tidak, produk kami tidak akan membuat Anda
menjadi supermodel, tapi akan membuat kulit Anda lebih sehat."
Kita hidup di era dimana istilah
"kebenaran alternatif" dan "post-truth" menjadi bagian dari
kosakata sehari-hari. Pada 2016, Oxford Dictionary bahkan memilih "post-truth"
sebagai kata tahun itu—didefinisikan sebagai kondisi dimana fakta objektif
kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada emosi dan keyakinan
pribadi.
Pada akhirnya, seperti kata filsuf
Immanuel Kant, kebohongan merendahkan martabat pembohong maupun yang dibohongi.
Kebohongan memperlakukan manusia lain sebagai alat, bukan tujuan—sebuah
pelanggaran terhadap prinsip moral universal menurut Kant.
Barangkali inilah alasan mengapa
kita tetap menghargai kejujuran meski kadang menyakitkan. Ada sesuatu yang
mendalam dan mendasar dalam pengakuan akan kebenaran, seolah-olah dengan
mengakui realitas bersama, kita menegaskan kembali kemanusiaan kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar