Seperti
lukisan usang yang merekam kenangan masa silam, terkadang kita temukan
jejak-jejak peninggalan para dewi dalam diri setiap perempuan. Dalam hembusan
angin yang sama, di bawah matahari yang sama, para perempuan menjalani
kehidupan dengan cara yang begitu berbeda. Simone de Beauvoir pernah berkata,
"Seorang perempuan tidak dilahirkan, tetapi dibentuk menjadi
perempuan." Namun, apa yang membentuk mereka mungkin lebih dalam dari
sekadar konstruksi sosial—mungkin ada arketipe yang telah berumur ribuan tahun.
Ada
perempuan yang membutuhkan monogami, pernikahan, atau anak, agar ia merasa
bahagia. Sebaliknya, ia merasa sedih dan marah saat tujuan itu tak tercapai.
Baginya, peran-peran tradisional sangat penting. Ia adalah refleksi dari Dewi
Hera, sang pelindung pernikahan.
Jika
kau pernah bertemu dengan perempuan semacam ini, kau akan mengenali tatapan
yang penuh harapan saat memandang pasangan hidupnya, atau cara ia menata rumah
dengan kehangatan yang tak terbendung. Ibarat Hera yang duduk di singgasananya,
ia menemukan ketenangan dalam stabilitas hubungan pernikahan.
"Cinta
sejati tidak selalu tentang mencari, tetapi tentang berada," begitu kata
Søren Kierkegaard yang seolah menggemakan aspirasi jiwa para perempuan Hera.
Mereka tidak mencari-cari, tetapi menemukan kedamaian dalam menjaga dan
memelihara apa yang telah mereka punya.
Di
sudut-sudut ruangan, dalam genggaman tangan mungil anak-anaknya, atau dalam
senyum pasangan hidupnya, perempuan Hera menemukan surga kecilnya sendiri.
Inilah mengapa Maya Angelou pernah berkata, "Rumah adalah tempat di mana
hati berada." Dan bagi perempuan Hera, rumah adalah surga kecil yang
dibangun dari batu bata kebersamaan dan ikatan pernikahan.
Perempuan
seperti ini berbeda sekali dari tipe-perempuan lainnya yang mengutamakan
kebebasan sambil berfokus meraih cita-cita. Mereka seperti Dewi Artemis, sang
pemburu yang liar dan bebas.
Aku
ingat pertemuan pertamaku dengan seorang perempuan Artemis. Ia datang dengan
langkah tegap, matanya yang tajam menyusuri ruangan, dan caranya berbicara
penuh dengan ambisi yang menggebu. Tidak ada kata "mustahil" dalam
kamusnya. Seperti Virginia Woolf yang mengatakan, "Seorang perempuan
memerlukan uang dan ruangan sendiri jika ia ingin menulis fiksi,"
perempuan Artemis juga mencari ruang dan kesempatan untuk mengekspresikan
dirinya.
Mereka
berlari mengejar mimpi dengan langkah yang tak kenal lelah. Nietzsche mungkin
membicarakan mereka ketika berkata, "Apa yang tidak membunuhmu akan
membuatmu lebih kuat." Perempuan-perempuan ini hidup dengan filosofi
tersebut, menerjang halangan dan tantangan dengan keberanian yang membuat
banyak orang terpana.
Ada
juga tipe yang mencari intensitas emosional dan pengalaman baru, bergonta-ganti
pasangan atau kerja kreatif. Mereka seperti Dewi Afrodit, yang hidup untuk
merasakan kerinduan dan gairah.
Ketika
aku menutup mata, aku masih bisa membayangkan sahabatku yang merupakan
perwujudan Afrodit. Ia menjalani hidup dengan intensitas yang luar biasa,
seakan setiap hari adalah kesempatan terakhirnya untuk merasakan. "Hidup
harus dijalani sepenuhnya, bukan hanya dihuni," begitu ia sering
mengingatkan. Seperti gema dari kata-kata Albert Camus, "Hidup adalah
jumlah dari semua pilihan kita."
Perempuan-perempuan
Afrodit tidak takut untuk mencinta dan dicinta, untuk terluka dan sembuh, untuk
menciptakan dan menghancurkan. Mereka adalah api yang takkan pernah padam,
kecuali mereka telah membakar seluruh hutan pengalaman hidup.
Ada
juga tipe-perempuan yang mencari kesunyian dan mengutamakan spiritualitas.
Seperti Dewi Hestia, penjaga api suci dan pusat rumah tangga yang sering
dilupakan, tetapi tanpanya, tidak ada kehangatan.
Aku
pernah menjumpai perempuan Hestia yang tinggal di pinggir kota. Rumahnya
sederhana, tetapi penuh dengan kedamaian yang sulit kujelaskan. Ia jarang berbicara,
tetapi ketika ia melakukannya, kata-katanya penuh hikmah. Martin Heidegger
mungkin memahami jiwanya ketika berkata, "Bahasa adalah rumah
keberadaan." Bagi perempuan Hestia, keheningan adalah rumah
spiritualitasnya.
Dalam
dunia yang ribut oleh ambisi dan tuntutan, perempuan-perempuan ini menemukan
arti dalam keheningan dan kontemplasi. Mereka adalah pelita dalam kegelapan,
mengingatkan kita pada nilai meditasi dan refleksi diri.
Apa
yang membahagiakan bagi satu tipe-perempuan mungkin tak ada artinya bagi
perempuan yang lain. Itulah indahnya keberagaman jiwa-jiwa perempuan. Seperti
yang ditulis Jean Shinoda Bolen, ini merupakan suatu perspektif baru psikologi
perempuan berdasarkan citra-citra perempuan melalui dewi-dewi Yunani yang telah
hidup dalam imajinasi manusia selama tiga ribu tahun.
Aku
teringat pada malam-malam penuh percakapan dengan ibuku. Ia sering berkata
bahwa perempuan tidak bisa diukur dengan satu tolok ukur. "Ada banyak cara
untuk menjadi perempuan," begitu katanya sambil mengusap rambutku. Kini
aku paham bahwa itu adalah kearifan yang telah berumur ribuan tahun, seperti
yang ditunjukkan Bolen.
Hannah
Arendt mungkin berbicara tentang hal ini ketika mengatakan, "Pluralitas
adalah kondisi dari tindakan manusia karena kita semua sama, yaitu manusia,
dengan cara yang tak seorang pun sama dengan orang lain." Demikian pula,
setiap perempuan adalah manusia dengan cara yang sama, tetapi tidak ada dua
perempuan yang identik dalam jiwa mereka.
Psikologi
perempuan ini berbeda dari semua teori yang mendefinisikan perempuan normal
sebagai perempuan menurut satu model, pola kepribadian, atau struktur
psikologis yang benar. Ini adalah teori berdasarkan observasi pada
variasi-variasi normal yang beragam di antara perempuan.
Sebagai
seorang analis Jungian yang diakui secara internasional, Jean Shinoda Bolen
mengajukan teori dan informasi yang tidak saja berguna bagi terapis, tetapi
juga untuk setiap orang yang ingin memahami perempuan dengan lebih
baik—terutama perempuan-perempuan terdekat, terkasih, atau yang paling
membingungkan—dan untuk perempuan agar menemukan dewi-dewi dalam dirinya.
Edmund
Husserl, bapak fenomenologi, percaya bahwa kita harus "kembali pada
hal-hal itu sendiri" untuk memahami esensi sebenarnya. Demikian pula,
untuk memahami perempuan, kita harus kembali pada citra-citra perempuan yang
telah lama hidup dalam kesadaran kolektif kita.
Ketika
aku membayangkan perempuan-perempuan dalam hidupku—ibuku yang seperti Demeter,
selalu memberi tanpa pamrih; nenekku yang mirip Athena, bijaksana dan
strategis; sahabatku yang mencerminkan Artemis, selalu mengejar kebebasan—aku
mulai melihat pola-pola yang telah ada sejak zaman kuno.
Aku
sendiri mungkin adalah campuran dari beberapa dewi—kadang Athena dalam
pencarianku akan kebijaksanaan, kadang Afrodit dalam kerinduan akan pengalaman
baru, kadang Hestia dalam pencarianku akan kedamaian batin. Dan mungkin itulah
yang membuat kita semua istimewa—kita bukan hanya satu dewi, tetapi orkestra
dari beberapa dewi yang bermain dalam satu simfoni kehidupan.
Seperti
yang dikatakan Simone Weil, "Perhatian adalah bentuk terlangka dan
termurni dari kemurahan hati." Mungkin dengan memahami dewi-dewi dalam
diri kita dan orang lain, kita bisa memberikan perhatian yang lebih dalam dan
tulus pada keberagaman jiwa perempuan.
Dalam
reminisensi ini, aku teringat kembali pada kata-kata guruku: "Tidak ada
yang salah dengan menjadi Hera, atau Artemis, atau Afrodit, atau Hestia. Yang
salah adalah ketika kita dipaksa menjadi apa yang bukan kita." Dan mungkin
itulah intinya—membebaskan perempuan untuk menemukan dan merangkul dewi-dewi
dalam diri mereka, tanpa paksaan untuk menjadi sesuatu yang bukan diri mereka
sejati.
Saat
matahari terbenam di horizon, aku memikirkan perjalanan panjang perempuan
mencari identitas mereka. Dari zaman dewi-dewi hingga era digital ini,
pencarian itu tetap sama—untuk diakui dalam keunikan mereka, untuk dihargai
dalam keberbedaan mereka, dan untuk dicintai sebagai keseluruhan kompleks
dewi-dewi yang ada dalam diri setiap perempuan.
Sebagaimana
dikatakan oleh Carl Jung, "Diri sejati bukanlah sesuatu yang kau miliki;
itu adalah sesuatu yang kau menjadi." Dan mungkin, dalam menemukan
dewi-dewi dalam diri kita, kita akhirnya menjadi diri kita yang sejati.
30 hari menulis buruk
Hari ke-30 menulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar