Pengikut

Senin, 07 April 2025

Goddesses in Everywomen

 


 

Seperti lukisan usang yang merekam kenangan masa silam, terkadang kita temukan jejak-jejak peninggalan para dewi dalam diri setiap perempuan. Dalam hembusan angin yang sama, di bawah matahari yang sama, para perempuan menjalani kehidupan dengan cara yang begitu berbeda. Simone de Beauvoir pernah berkata, "Seorang perempuan tidak dilahirkan, tetapi dibentuk menjadi perempuan." Namun, apa yang membentuk mereka mungkin lebih dalam dari sekadar konstruksi sosial—mungkin ada arketipe yang telah berumur ribuan tahun.

Ada perempuan yang membutuhkan monogami, pernikahan, atau anak, agar ia merasa bahagia. Sebaliknya, ia merasa sedih dan marah saat tujuan itu tak tercapai. Baginya, peran-peran tradisional sangat penting. Ia adalah refleksi dari Dewi Hera, sang pelindung pernikahan.

Jika kau pernah bertemu dengan perempuan semacam ini, kau akan mengenali tatapan yang penuh harapan saat memandang pasangan hidupnya, atau cara ia menata rumah dengan kehangatan yang tak terbendung. Ibarat Hera yang duduk di singgasananya, ia menemukan ketenangan dalam stabilitas hubungan pernikahan.

"Cinta sejati tidak selalu tentang mencari, tetapi tentang berada," begitu kata Søren Kierkegaard yang seolah menggemakan aspirasi jiwa para perempuan Hera. Mereka tidak mencari-cari, tetapi menemukan kedamaian dalam menjaga dan memelihara apa yang telah mereka punya.

Di sudut-sudut ruangan, dalam genggaman tangan mungil anak-anaknya, atau dalam senyum pasangan hidupnya, perempuan Hera menemukan surga kecilnya sendiri. Inilah mengapa Maya Angelou pernah berkata, "Rumah adalah tempat di mana hati berada." Dan bagi perempuan Hera, rumah adalah surga kecil yang dibangun dari batu bata kebersamaan dan ikatan pernikahan.

Perempuan seperti ini berbeda sekali dari tipe-perempuan lainnya yang mengutamakan kebebasan sambil berfokus meraih cita-cita. Mereka seperti Dewi Artemis, sang pemburu yang liar dan bebas.

Aku ingat pertemuan pertamaku dengan seorang perempuan Artemis. Ia datang dengan langkah tegap, matanya yang tajam menyusuri ruangan, dan caranya berbicara penuh dengan ambisi yang menggebu. Tidak ada kata "mustahil" dalam kamusnya. Seperti Virginia Woolf yang mengatakan, "Seorang perempuan memerlukan uang dan ruangan sendiri jika ia ingin menulis fiksi," perempuan Artemis juga mencari ruang dan kesempatan untuk mengekspresikan dirinya.

Mereka berlari mengejar mimpi dengan langkah yang tak kenal lelah. Nietzsche mungkin membicarakan mereka ketika berkata, "Apa yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih kuat." Perempuan-perempuan ini hidup dengan filosofi tersebut, menerjang halangan dan tantangan dengan keberanian yang membuat banyak orang terpana.

Ada juga tipe yang mencari intensitas emosional dan pengalaman baru, bergonta-ganti pasangan atau kerja kreatif. Mereka seperti Dewi Afrodit, yang hidup untuk merasakan kerinduan dan gairah.

Ketika aku menutup mata, aku masih bisa membayangkan sahabatku yang merupakan perwujudan Afrodit. Ia menjalani hidup dengan intensitas yang luar biasa, seakan setiap hari adalah kesempatan terakhirnya untuk merasakan. "Hidup harus dijalani sepenuhnya, bukan hanya dihuni," begitu ia sering mengingatkan. Seperti gema dari kata-kata Albert Camus, "Hidup adalah jumlah dari semua pilihan kita."

Perempuan-perempuan Afrodit tidak takut untuk mencinta dan dicinta, untuk terluka dan sembuh, untuk menciptakan dan menghancurkan. Mereka adalah api yang takkan pernah padam, kecuali mereka telah membakar seluruh hutan pengalaman hidup.

Ada juga tipe-perempuan yang mencari kesunyian dan mengutamakan spiritualitas. Seperti Dewi Hestia, penjaga api suci dan pusat rumah tangga yang sering dilupakan, tetapi tanpanya, tidak ada kehangatan.

Aku pernah menjumpai perempuan Hestia yang tinggal di pinggir kota. Rumahnya sederhana, tetapi penuh dengan kedamaian yang sulit kujelaskan. Ia jarang berbicara, tetapi ketika ia melakukannya, kata-katanya penuh hikmah. Martin Heidegger mungkin memahami jiwanya ketika berkata, "Bahasa adalah rumah keberadaan." Bagi perempuan Hestia, keheningan adalah rumah spiritualitasnya.

Dalam dunia yang ribut oleh ambisi dan tuntutan, perempuan-perempuan ini menemukan arti dalam keheningan dan kontemplasi. Mereka adalah pelita dalam kegelapan, mengingatkan kita pada nilai meditasi dan refleksi diri.

Apa yang membahagiakan bagi satu tipe-perempuan mungkin tak ada artinya bagi perempuan yang lain. Itulah indahnya keberagaman jiwa-jiwa perempuan. Seperti yang ditulis Jean Shinoda Bolen, ini merupakan suatu perspektif baru psikologi perempuan berdasarkan citra-citra perempuan melalui dewi-dewi Yunani yang telah hidup dalam imajinasi manusia selama tiga ribu tahun.

Aku teringat pada malam-malam penuh percakapan dengan ibuku. Ia sering berkata bahwa perempuan tidak bisa diukur dengan satu tolok ukur. "Ada banyak cara untuk menjadi perempuan," begitu katanya sambil mengusap rambutku. Kini aku paham bahwa itu adalah kearifan yang telah berumur ribuan tahun, seperti yang ditunjukkan Bolen.

Hannah Arendt mungkin berbicara tentang hal ini ketika mengatakan, "Pluralitas adalah kondisi dari tindakan manusia karena kita semua sama, yaitu manusia, dengan cara yang tak seorang pun sama dengan orang lain." Demikian pula, setiap perempuan adalah manusia dengan cara yang sama, tetapi tidak ada dua perempuan yang identik dalam jiwa mereka.

Psikologi perempuan ini berbeda dari semua teori yang mendefinisikan perempuan normal sebagai perempuan menurut satu model, pola kepribadian, atau struktur psikologis yang benar. Ini adalah teori berdasarkan observasi pada variasi-variasi normal yang beragam di antara perempuan.

Sebagai seorang analis Jungian yang diakui secara internasional, Jean Shinoda Bolen mengajukan teori dan informasi yang tidak saja berguna bagi terapis, tetapi juga untuk setiap orang yang ingin memahami perempuan dengan lebih baik—terutama perempuan-perempuan terdekat, terkasih, atau yang paling membingungkan—dan untuk perempuan agar menemukan dewi-dewi dalam dirinya.

Edmund Husserl, bapak fenomenologi, percaya bahwa kita harus "kembali pada hal-hal itu sendiri" untuk memahami esensi sebenarnya. Demikian pula, untuk memahami perempuan, kita harus kembali pada citra-citra perempuan yang telah lama hidup dalam kesadaran kolektif kita.

Ketika aku membayangkan perempuan-perempuan dalam hidupku—ibuku yang seperti Demeter, selalu memberi tanpa pamrih; nenekku yang mirip Athena, bijaksana dan strategis; sahabatku yang mencerminkan Artemis, selalu mengejar kebebasan—aku mulai melihat pola-pola yang telah ada sejak zaman kuno.

Aku sendiri mungkin adalah campuran dari beberapa dewi—kadang Athena dalam pencarianku akan kebijaksanaan, kadang Afrodit dalam kerinduan akan pengalaman baru, kadang Hestia dalam pencarianku akan kedamaian batin. Dan mungkin itulah yang membuat kita semua istimewa—kita bukan hanya satu dewi, tetapi orkestra dari beberapa dewi yang bermain dalam satu simfoni kehidupan.

Seperti yang dikatakan Simone Weil, "Perhatian adalah bentuk terlangka dan termurni dari kemurahan hati." Mungkin dengan memahami dewi-dewi dalam diri kita dan orang lain, kita bisa memberikan perhatian yang lebih dalam dan tulus pada keberagaman jiwa perempuan.

Dalam reminisensi ini, aku teringat kembali pada kata-kata guruku: "Tidak ada yang salah dengan menjadi Hera, atau Artemis, atau Afrodit, atau Hestia. Yang salah adalah ketika kita dipaksa menjadi apa yang bukan kita." Dan mungkin itulah intinya—membebaskan perempuan untuk menemukan dan merangkul dewi-dewi dalam diri mereka, tanpa paksaan untuk menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sejati.

Saat matahari terbenam di horizon, aku memikirkan perjalanan panjang perempuan mencari identitas mereka. Dari zaman dewi-dewi hingga era digital ini, pencarian itu tetap sama—untuk diakui dalam keunikan mereka, untuk dihargai dalam keberbedaan mereka, dan untuk dicintai sebagai keseluruhan kompleks dewi-dewi yang ada dalam diri setiap perempuan.

Sebagaimana dikatakan oleh Carl Jung, "Diri sejati bukanlah sesuatu yang kau miliki; itu adalah sesuatu yang kau menjadi." Dan mungkin, dalam menemukan dewi-dewi dalam diri kita, kita akhirnya menjadi diri kita yang sejati.

 

 

30 hari menulis buruk

Hari ke-30 menulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar