Pengikut

Rabu, 02 April 2025

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Belajar

 


Rintik gerimis mengiringi langkahku menuju rumah Ibu Sri di tengah siang yang mendung. Jam menunjukkan pukul satu siang, namun langit kelabu membuat waktu seolah membeku dalam suasana yang sendu. Tetesan air hujan yang halus menyentuh kulitku dengan lembut, seperti bisikan-bisikan pengingat akan perjalanan hidup yang tak selalu cerah, namun justru dalam kelembaban dan keremangan inilah terkadang kita menemukan kejernihan pikiran.

Di balik tirai hujan yang lembut, rumah Ibu Sri tampak hangat dengan lampu yang menyala redup di ruang depan. Saat aku mengetuk pintu, suara langkah kaki terdengar mendekat dari dalam. Ibu Sri muncul dengan senyum yang kontras dengan suasana mendung di luar.

"Sudah makan?" tanyanya dengan nada keibuan. Aku menjawab dengan sopan, "Iya, sudah makan dari kos, Bu." Jawaban sederhana yang menjadi pembuka percakapan kami yang ternyata akan mengalir sedalam gemuruh awan yang berarak pelan di langit.

Ruang tamu yang hangat dengan aroma teh jahe yang mengepul menjadi pelarian yang sempurna dari gerimis yang tak kunjung reda. Cahaya lampu yang temaram menciptakan suasana intim, sementara jendela-jendela besar membingkai pemandangan hujan halus yang menari-nari di halaman. Ibu Sri menuangkan teh jahe hangat ke dalam dua cangkir keramik, uap panas mengepul sebelum menyatu dengan udara yang lembab.

"Hujan di siang hari selalu membuat suasana menjadi contemplatif ya," ujarnya sambil menyodorkan secangkir teh kepadaku. "Seperti alam memberi kita ruang untuk merenung." Ada kebijaksanaan dalam suaranya, seolah gerimis di luar adalah metafora sempurna untuk pembicaraan kami hari ini.

Dinding ruangan itu dipenuhi dengan buku-buku dalam berbagai bahasa, menjadi saksi bisu percakapan kami yang semakin mendalam. Suara rintik hujan yang konstan di atap rumah menciptakan irama yang menenangkan, seperti latar musik untuk kisah hidup yang akan Ibu Sri bagikan. Ia, seorang doktor termudah, kini menjadi wakil dekan termudah di fakultas kami. Ada kejujuran yang menyentuh ketika ia berbicara tentang pilihan-pilihannya, suaranya berpadu harmonis dengan gemericik air hujan di jendela.

"Hidup adalah pilihan," ujarnya sambil menatap ke arah tetesan air yang berlomba turun di kaca jendela. Kata-kata Søren Kierkegaard seakan menggema dalam ruangan itu, "Hidup harus dipahami ke belakang, tetapi harus dijalani ke depan." Dan Ibu Sri telah menjalani hidupnya dengan pilihan-pilihan yang mungkin tak lazim bagi kebanyakan orang, namun penuh makna bagi dirinya.

Cahaya kilat sesekali menerangi ruangan, menciptakan bayangan-bayangan sejenak sebelum kembali pada cahaya temaram lampu. Jari-jarinya yang lentik menunjuk ke rak buku yang berisi karya-karyanya dalam berbagai bahasa. Arab, Inggris, Jerman, dan Prancis—bahasa-bahasa yang telah ia kuasai melalui perjalanan panjang penuh kesabaran dan ketekunan. "Waktu adalah sungai yang mengalir, tidak pernah kembali," mengingatkanku pada kata-kata Heraclitus tentang waktu yang tak pernah sama. Namun Ibu Sri telah memanfaatkan setiap tetesnya untuk menimba ilmu, seperti hujan yang tak menyia-nyiakan kesempatan untuk membasahi bumi.

"Di siang yang gerimis seperti ini," katanya sambil menyesap tehnya, "kebanyakan orang merasa lesu dan mengantuk. Tapi bagiku, justru saat-saat seperti inilah yang paling baik untuk belajar. Ada ketenangan yang khusus, seperti dunia yang berbisik daripada berteriak." Ada kebijaksanaan dalam rutinitasnya yang tak biasa, seperti kata Aristoteles, "Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Keunggulan, karenanya, bukanlah tindakan, melainkan kebiasaan."

Ia mengambil salah satu bukunya dari rak dan memberikannya padaku. Jemarinya yang sedikit bergetar menyentuh sampul buku itu dengan penuh kasih, seperti seorang ibu yang melepas anaknya ke dunia. "Ini untukmu," katanya dengan senyum tulus yang membuat kedua matanya menyipit. Aku menerimanya dengan rasa haru yang tak terkatakan, merasakan beratnya bukan hanya secara fisik, tetapi juga beban pengetahuan dan pengalaman yang terkandung di dalamnya. Buku itu terasa hangat, kontras dengan dinginnya udara yang dibawa oleh hujan.

Kemudian, dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, Ibu Sri berkata, "Tidak ada kata terlambat untuk belajar." Kata-kata itu menggantung di udara yang lembab, meresap ke dalam sanubari seperti air hujan yang meresap ke dalam tanah. "Poin penting pertama adalah niat. Apapun yang sudah diniatkan dan ingin dikuasai, pasti akan diberi jalan."

Kata-katanya mengingatkanku pada filosofi Jean-Jacques Rousseau yang percaya bahwa manusia dilahirkan bebas, namun di mana-mana ia terbelenggu. Mungkin niat adalah kunci untuk membebaskan diri dari belenggu keterbatasan dan ketidaktahuan. Seperti kata Aristoteles, "Akar pendidikan itu pahit, tetapi buahnya manis." Dan Ibu Sri telah membuktikan bahwa kemanisan itu datang kepada mereka yang tekun menjalani kepahitan proses pembelajaran.

Jarum jam di dinding bergerak menuju angka tiga ketika kami masih tenggelam dalam percakapan. Hujan di luar masih setia menemani, kini dengan intensitas yang sedikit berkurang, seperti penonton yang sabar menunggu akhir dari sebuah pertunjukan yang mengharukan. Ada suatu keindahan dalam situasi ini—di tengah siang yang seharusnya terang namun kini ditutupi awan mendung, pikiranku justru terasa lebih jernih, menyerap setiap kebijaksanaan yang Ibu Sri bagikan.

"Di negeri ini," Ibu Sri melanjutkan sambil menatap ke arah hujan yang masih turun perlahan, "banyak yang menyerah sebelum mencoba, karena merasa sudah terlambat. Padahal, seperti kata Nietzsche, 'Dia yang memiliki mengapa untuk hidup dapat bertahan dengan hampir semua bagaimana'." Ia meneguk tehnya yang mulai mendingin, refleksi dari waktu yang terus berjalan tanpa henti.

"Usia hanyalah angka," tambahnya dengan mata yang berbinar penuh semangat. "Yang penting adalah apa yang kita lakukan dengan waktu yang kita miliki." Kata-katanya mengingatkanku pada pemikiran Martin Heidegger tentang temporalitas—bahwa manusia selalu berada dalam proses "menjadi", tidak pernah selesai, selalu dalam perjalanan. Seperti hujan yang turun tanpa kenal lelah, meski terkadang hanya berupa rintik-rintik kecil.

Saat aku berpamitan tepat pukul tiga sore, hujan telah mereda menjadi kabut tipis yang menyelimuti pepohonan. Ibu Sri berdiri di ambang pintu, sosoknya yang mungil dilatarbelakangi cahaya lembut dari dalam rumah, menciptakan siluet yang akan terpatri dalam ingatanku. Aku melangkah pulang dengan buku pemberiannya dipeluk erat di dada, seperti memeluk janji akan masa depan yang lebih cerah.

Udara terasa segar dan bersih setelah hujan, seolah dunia telah diberi kesempatan untuk memulai kembali. Dedaunan yang basah berkilau ditimpa cahaya yang mulai menembus awan, menciptakan pemandangan yang menakjubkan dalam kesederhanaannya. Mungkin inilah yang dimaksud Simone Weil ketika ia berkata, "Perhatian yang murni adalah bentuk doa tertinggi," karena dalam keadaan seperti ini, kita tak bisa tidak memperhatikan keindahan dunia dengan segenap jiwa.

Di sepanjang jalan pulang, di antara genangan-genangan kecil yang memantulkan langit kelabu, kata-kata Ibu Sri terus bergema dalam benakku. "Tidak ada kata terlambat untuk belajar." Albert Camus pernah menulis, "Di tengah musim dingin, aku akhirnya belajar bahwa ada musim panas yang tak terkalahkan dalam diriku." Mungkin dalam hidup pun demikian. Gerimis di siang hari ini menjadi metafora sempurna—bahwa di tengah suasana yang tidak cerah, kita masih bisa menemukan kejernihan untuk terus belajar dan berkembang.

Buku pemberian Ibu Sri terasa hangat dalam genggamanku, terlindung dari tetesan air yang masih sesekali jatuh dari pepohonan. Ia bukan sekadar kumpulan kertas dan tinta, tetapi juga kumpulan pengalaman, perjuangan, dan kebijaksanaan. Seperti yang dikatakan Jorge Luis Borges, "Aku selalu membayangkan bahwa surga adalah semacam perpustakaan." Mungkin surga juga adalah kesempatan tanpa akhir untuk belajar, untuk tumbuh, untuk menjadi versi terbaik dari diri kita.

Barangkali seperti perkataan Albert Einstein, "Begitu kau berhenti belajar, kau mulai mati." Dan aku, seperti Ibu Sri, memilih untuk terus hidup melalui pembelajaran tanpa henti, seperti hujan yang terus memberi kehidupan pada bumi, bahkan ketika ia hanya berupa gerimis halus di tengah hari yang seharusnya terang.

 

30 hari menulis buruk

Hari ke-25 menulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar