Rintik
gerimis mengiringi langkahku menuju rumah Ibu Sri di tengah siang yang mendung.
Jam menunjukkan pukul satu siang, namun langit kelabu membuat waktu seolah
membeku dalam suasana yang sendu. Tetesan air hujan yang halus menyentuh
kulitku dengan lembut, seperti bisikan-bisikan pengingat akan perjalanan hidup
yang tak selalu cerah, namun justru dalam kelembaban dan keremangan inilah
terkadang kita menemukan kejernihan pikiran.
Di
balik tirai hujan yang lembut, rumah Ibu Sri tampak hangat dengan lampu yang
menyala redup di ruang depan. Saat aku mengetuk pintu, suara langkah kaki
terdengar mendekat dari dalam. Ibu Sri muncul dengan senyum yang kontras dengan
suasana mendung di luar.
"Sudah
makan?" tanyanya dengan nada keibuan. Aku menjawab dengan sopan,
"Iya, sudah makan dari kos, Bu." Jawaban sederhana yang menjadi
pembuka percakapan kami yang ternyata akan mengalir sedalam gemuruh awan yang
berarak pelan di langit.
Ruang
tamu yang hangat dengan aroma teh jahe yang mengepul menjadi pelarian yang
sempurna dari gerimis yang tak kunjung reda. Cahaya lampu yang temaram
menciptakan suasana intim, sementara jendela-jendela besar membingkai
pemandangan hujan halus yang menari-nari di halaman. Ibu Sri menuangkan teh
jahe hangat ke dalam dua cangkir keramik, uap panas mengepul sebelum menyatu
dengan udara yang lembab.
"Hujan
di siang hari selalu membuat suasana menjadi contemplatif ya," ujarnya
sambil menyodorkan secangkir teh kepadaku. "Seperti alam memberi kita
ruang untuk merenung." Ada kebijaksanaan dalam suaranya, seolah gerimis di
luar adalah metafora sempurna untuk pembicaraan kami hari ini.
Dinding
ruangan itu dipenuhi dengan buku-buku dalam berbagai bahasa, menjadi saksi bisu
percakapan kami yang semakin mendalam. Suara rintik hujan yang konstan di atap
rumah menciptakan irama yang menenangkan, seperti latar musik untuk kisah hidup
yang akan Ibu Sri bagikan. Ia, seorang doktor termudah, kini menjadi wakil
dekan termudah di fakultas kami. Ada kejujuran yang menyentuh ketika ia
berbicara tentang pilihan-pilihannya, suaranya berpadu harmonis dengan
gemericik air hujan di jendela.
"Hidup
adalah pilihan," ujarnya sambil menatap ke arah tetesan air yang berlomba
turun di kaca jendela. Kata-kata Søren Kierkegaard seakan menggema dalam
ruangan itu, "Hidup harus dipahami ke belakang, tetapi harus dijalani ke
depan." Dan Ibu Sri telah menjalani hidupnya dengan pilihan-pilihan yang
mungkin tak lazim bagi kebanyakan orang, namun penuh makna bagi dirinya.
Cahaya
kilat sesekali menerangi ruangan, menciptakan bayangan-bayangan sejenak sebelum
kembali pada cahaya temaram lampu. Jari-jarinya yang lentik menunjuk ke rak
buku yang berisi karya-karyanya dalam berbagai bahasa. Arab, Inggris, Jerman,
dan Prancis—bahasa-bahasa yang telah ia kuasai melalui perjalanan panjang penuh
kesabaran dan ketekunan. "Waktu adalah sungai yang mengalir, tidak pernah
kembali," mengingatkanku pada kata-kata Heraclitus tentang waktu yang tak
pernah sama. Namun Ibu Sri telah memanfaatkan setiap tetesnya untuk menimba
ilmu, seperti hujan yang tak menyia-nyiakan kesempatan untuk membasahi bumi.
"Di
siang yang gerimis seperti ini," katanya sambil menyesap tehnya,
"kebanyakan orang merasa lesu dan mengantuk. Tapi bagiku, justru saat-saat
seperti inilah yang paling baik untuk belajar. Ada ketenangan yang khusus,
seperti dunia yang berbisik daripada berteriak." Ada kebijaksanaan dalam
rutinitasnya yang tak biasa, seperti kata Aristoteles, "Kita adalah apa
yang kita lakukan berulang-ulang. Keunggulan, karenanya, bukanlah tindakan,
melainkan kebiasaan."
Ia
mengambil salah satu bukunya dari rak dan memberikannya padaku. Jemarinya yang
sedikit bergetar menyentuh sampul buku itu dengan penuh kasih, seperti seorang
ibu yang melepas anaknya ke dunia. "Ini untukmu," katanya dengan
senyum tulus yang membuat kedua matanya menyipit. Aku menerimanya dengan rasa
haru yang tak terkatakan, merasakan beratnya bukan hanya secara fisik, tetapi
juga beban pengetahuan dan pengalaman yang terkandung di dalamnya. Buku itu
terasa hangat, kontras dengan dinginnya udara yang dibawa oleh hujan.
Kemudian,
dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, Ibu Sri berkata, "Tidak
ada kata terlambat untuk belajar." Kata-kata itu menggantung di udara yang
lembab, meresap ke dalam sanubari seperti air hujan yang meresap ke dalam
tanah. "Poin penting pertama adalah niat. Apapun yang sudah diniatkan dan
ingin dikuasai, pasti akan diberi jalan."
Kata-katanya
mengingatkanku pada filosofi Jean-Jacques Rousseau yang percaya bahwa manusia
dilahirkan bebas, namun di mana-mana ia terbelenggu. Mungkin niat adalah kunci
untuk membebaskan diri dari belenggu keterbatasan dan ketidaktahuan. Seperti
kata Aristoteles, "Akar pendidikan itu pahit, tetapi buahnya manis."
Dan Ibu Sri telah membuktikan bahwa kemanisan itu datang kepada mereka yang
tekun menjalani kepahitan proses pembelajaran.
Jarum
jam di dinding bergerak menuju angka tiga ketika kami masih tenggelam dalam
percakapan. Hujan di luar masih setia menemani, kini dengan intensitas yang
sedikit berkurang, seperti penonton yang sabar menunggu akhir dari sebuah
pertunjukan yang mengharukan. Ada suatu keindahan dalam situasi ini—di tengah
siang yang seharusnya terang namun kini ditutupi awan mendung, pikiranku justru
terasa lebih jernih, menyerap setiap kebijaksanaan yang Ibu Sri bagikan.
"Di
negeri ini," Ibu Sri melanjutkan sambil menatap ke arah hujan yang masih
turun perlahan, "banyak yang menyerah sebelum mencoba, karena merasa sudah
terlambat. Padahal, seperti kata Nietzsche, 'Dia yang memiliki mengapa untuk
hidup dapat bertahan dengan hampir semua bagaimana'." Ia meneguk tehnya
yang mulai mendingin, refleksi dari waktu yang terus berjalan tanpa henti.
"Usia
hanyalah angka," tambahnya dengan mata yang berbinar penuh semangat.
"Yang penting adalah apa yang kita lakukan dengan waktu yang kita
miliki." Kata-katanya mengingatkanku pada pemikiran Martin Heidegger
tentang temporalitas—bahwa manusia selalu berada dalam proses
"menjadi", tidak pernah selesai, selalu dalam perjalanan. Seperti
hujan yang turun tanpa kenal lelah, meski terkadang hanya berupa rintik-rintik
kecil.
Saat aku berpamitan tepat pukul tiga sore, hujan
telah mereda menjadi kabut tipis yang menyelimuti pepohonan. Ibu Sri berdiri di
ambang pintu, sosoknya yang mungil dilatarbelakangi cahaya lembut dari dalam
rumah, menciptakan siluet yang akan terpatri dalam ingatanku. Aku melangkah
pulang dengan buku pemberiannya dipeluk erat di dada, seperti memeluk janji
akan masa depan yang lebih cerah.
Udara terasa segar dan bersih setelah hujan,
seolah dunia telah diberi kesempatan untuk memulai kembali. Dedaunan yang basah
berkilau ditimpa cahaya yang mulai menembus awan, menciptakan pemandangan yang
menakjubkan dalam kesederhanaannya. Mungkin inilah yang dimaksud Simone Weil
ketika ia berkata, "Perhatian yang murni adalah bentuk doa
tertinggi," karena dalam keadaan seperti ini, kita tak bisa tidak
memperhatikan keindahan dunia dengan segenap jiwa.
Di
sepanjang jalan pulang, di antara genangan-genangan kecil yang memantulkan
langit kelabu, kata-kata Ibu Sri terus bergema dalam benakku. "Tidak ada
kata terlambat untuk belajar." Albert Camus pernah menulis, "Di
tengah musim dingin, aku akhirnya belajar bahwa ada musim panas yang tak
terkalahkan dalam diriku." Mungkin dalam hidup pun demikian. Gerimis di
siang hari ini menjadi metafora sempurna—bahwa di tengah suasana yang tidak
cerah, kita masih bisa menemukan kejernihan untuk terus belajar dan berkembang.
Buku
pemberian Ibu Sri terasa hangat dalam genggamanku, terlindung dari tetesan air
yang masih sesekali jatuh dari pepohonan. Ia bukan sekadar kumpulan kertas dan
tinta, tetapi juga kumpulan pengalaman, perjuangan, dan kebijaksanaan. Seperti
yang dikatakan Jorge Luis Borges, "Aku selalu membayangkan bahwa surga
adalah semacam perpustakaan." Mungkin surga juga adalah kesempatan tanpa
akhir untuk belajar, untuk tumbuh, untuk menjadi versi terbaik dari diri kita.
Barangkali
seperti perkataan Albert Einstein, "Begitu kau berhenti belajar, kau mulai
mati." Dan aku, seperti Ibu Sri, memilih untuk terus hidup melalui
pembelajaran tanpa henti, seperti hujan yang terus memberi kehidupan pada bumi,
bahkan ketika ia hanya berupa gerimis halus di tengah hari yang seharusnya
terang.
30 hari menulis buruk
Hari ke-25 menulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar