Di
sebuah desa terpencil, berdirilah seorang insinyur bernama Kabul, dengan
kertas-kertas rancangan jembatan di tangannya dan beban idealisme masa lalu di
pundaknya. Setiap pandangan matanya pada sungai yang menganga lebar itu
menyimpan pertanyaan besar tentang korelasi kejujuran dan keberpihakan kepada
yang lemah.
"Kebenaran
bukanlah sekadar yang terucap dari bibir, melainkan yang termanifestasi dalam
perbuatan," begitu kata Aristoteles, filsuf Yunani kuno yang pemikirannya
selalu bergema dalam benak Kabul. Sementara di tepian sungai, para penduduk
desa menanti dengan harap-harap cemas, apakah jembatan ini akan menjadi
penghubung menuju kehidupan yang lebih baik atau hanya menjadi monumen
kesia-siaan lainnya.
Kejujuran
dan kesungguhan dalam proyek ini ternyata bukan sekadar persoalan teknis. Bagi
Kabul, keduanya adalah pertaruhan moral. Seperti yang dikatakan Immanuel Kant,
"Bertindaklah sedemikian rupa sehingga tindakanmu dapat menjadi prinsip
universal." Namun realitas di lapangan berbisik lirih tentang kompromi
demi kompromi. Setiap material yang datang, setiap pekerja yang diupah, dan
setiap keputusan yang diambil, ternyata mengandung dilema yang menikam.
Langit
senja memerah di atas desa itu, seolah menjadi cermin kegelisahan Kabul.
Permainan tender, permainan anggaran, permainan kualitas—semuanya menjadi
pusaran yang menguras energi dan keyakinannya. "Manusia adalah makhluk
yang dikutuk untuk bebas," kata Jean-Paul Sartre, dan kebebasan itulah
yang kini menghimpit Kabul di antara idealisme masa mudanya dan pragmatisme
dunia proyek.
Di
malam-malam yang sunyi, Kabul sering bertanya pada dirinya sendiri: Apakah
kejujuran dan kesungguhan merupakan manifestasi dari keberpihakan pada kaum
miskin? Atau justru keduanya adalah nilai universal yang harus dihidupi oleh
setiap manusia berbudaya? Air mata kadang menetes tanpa diminta ketika ia
membayangkan wajah-wajah penduduk desa yang akan menggunakan jembatan itu
setiap hari—para petani tua dengan punggung yang membungkuk, anak-anak sekolah
dengan tas lusuh, dan ibu-ibu yang membawa hasil kebun untuk dijual ke pasar.
"Kehidupan
yang tidak direnungkan tidak layak untuk dijalani," demikian kata
Socrates. Dan kini Kabul merenungkan setiap aspek proyek ini dengan seluruh
eksistensinya. Mutu bangunan bukan sekadar angka-angka dan perhitungan teknis,
namun juga tentang keselamatan jiwa-jiwa yang kelak akan melintasinya. Setiap
baut yang dipasang, setiap campuran semen yang diaduk, setiap batang besi yang
dilas—semuanya memuat tanggungjawab moral yang tak terkatakan.
Hujan
turun dengan lembut pada suatu sore, membuat lumpur di sekitar proyek semakin
dalam. Kabul memandang ke kejauhan, pada siluet desa yang mulai tenggelam dalam
kabut. Michel Foucault pernah berkata, "Kekuasaan ada di mana-mana karena
ia berasal dari mana-mana." Dan di proyek ini, permainan kekuasaan itu
termanifestasi dalam bentuk tekanan dari berbagai pihak—kontraktor yang
menginginkan keuntungan maksimal, birokrat yang menginginkan proyek cepat
selesai tanpa peduli kualitas, dan beberapa oknum yang menginginkan
"bagian" dari anggaran.
Air
sungai mengalir deras setelah hujan, mengingatkan Kabul akan kata-kata
Heraclitus, "Tidak ada orang yang dapat melangkah di sungai yang sama dua
kali." Dan ia sadar, keputusan yang diambilnya hari ini akan menentukan
aliran nasib banyak orang di masa depan. Jembatan ini bukan sekadar struktur
fisik; ia adalah penghubung harapan, pembuka akses pendidikan, kesehatan, dan
ekonomi yang selama ini terhambat oleh alam.
Perlahan
namun pasti, Kabul mulai menemukan jawabannya. Kejujuran dan kesungguhan
bukanlah sekadar manifestasi keberpihakan pada masyarakat miskin; keduanya
adalah fondasi dari keberpihakan itu sendiri.
Malam
semakin larut ketika Kabul menyelesaikan revisi rancangannya—rancangan yang
mungkin akan ditentang karena membutuhkan biaya lebih besar dari anggaran yang
telah ditetapkan. Namun ia telah memutuskan untuk tidak berkompromi pada
kualitas. "Kebebasan adalah kesadaran akan keniscayaan," kata
Spinoza, dan Kabul kini menyadari bahwa mempertahankan integritas adalah suatu
keniscayaan meski harus membayarnya dengan risiko kariernya sendiri.
Di
bawah temaram lampu minyak, penduduk desa berkumpul untuk membicarakan proyek
itu. Ada yang optimis, ada yang skeptis. "Jembatan itu akan mengubah nasib
kita," kata seorang kakek tua dengan mata berbinar. "Jika dibangun
dengan benar," tambah yang lain dengan nada ragu. Suara-suara itu sampai
ke telinga Kabul melalui desir angin malam, membuatnya semakin yakin akan
pilihan yang diambilnya.
Hannah
Arendt pernah menulis, "Yang paling mengerikan bukanlah penderitaan dan
kejahatan sebagai fakta, melainkan bahwa tidak ada yang menanggapinya."
Dan Kabul bertekad untuk menanggapi—dengan segenap keberaniannya. Ia tidak akan
membiarkan jembatan itu menjadi monumen korupsi dan ketidakpedulian. Meski
harus berhadapan dengan jajaran birokrat dan pengusaha besar, ia akan
mempertaruhkan segalanya demi mutu bangunan yang menjadi taruhannya.
Fajar
menyingsing di ufuk timur, menyinari lokasi proyek dengan cahaya keemasan. Para
pekerja mulai berdatangan, memulai hari dengan semangat baru. Kabul berdiri di
tengah-tengah mereka, dengan tekad yang semakin membaja. "Manusia adalah
ukuran dari segala hal," kata Protagoras, dan Kabul memutuskan untuk
menjadikan kemanusiaan—bukan keuntungan atau kepentingan pribadi—sebagai ukuran
setiap keputusannya.
Mungkin
jembatan itu tidak akan menjadi yang termegah atau tercepat dalam
penyelesaiannya. Mungkin nama Kabul tidak akan terukir dalam sejarah
pembangunan nasional. Namun di hati penduduk desa, dalam aliran sungai yang
mengalir di bawahnya, dan dalam setiap langkah kaki yang melintasinya, akan ada
kisah tentang seorang insinyur yang memilih untuk tetap berpegang pada
kejujuran dan kesungguhan—nilai-nilai yang mungkin terdengar biasa namun
sejatinya luar biasa dalam dunia yang semakin pragmatis.
"Eksistensi
mendahului esensi," kata Sartre, dan eksistensi jembatan itu kelak akan
menjadi esensi dari perjuangan Kabul. Sebuah jembatan yang bukan hanya
menghubungkan dua tepi sungai, tetapi juga menghubungkan idealisme dengan
realitas, kejujuran dengan keberpihakan, dan masa lalu dengan masa depan yang
lebih cerah bagi penduduk desa.
Matahari
siang menyengat punggung Kabul yang membungkuk memeriksa pondasi jembatan.
Tangannya yang kasar menyentuh beton dengan lembut, seolah sedang memeriksa
denyut nadi seorang pasien. Kilas balik masa lalunya sebagai aktivis kampus
menyeruak tanpa diundang. Saat itu, dengan semangat membara, ia dan
teman-temannya meneriakkan slogan-slogan keadilan sosial di depan gedung-gedung
megah. "Setiap struktur masyarakat dibangun atas dasar relasi
kekuasaan," kata Michel Foucault yang sering ia kutip. Betapa ironis kini
ia sendiri berada di tengah-tengah permainan kekuasaan itu.
Kabul
teringat akan Mak Jumiah, seorang janda tua dengan punggung bungkuk yang setiap
pagi harus menyeberangi sungai untuk menjual sayur-mayur di pasar. Suatu kali,
di musim hujan, arus sungai merenggut nyawa putra bungsunya yang hendak
menyeberang untuk berangkat sekolah. Tangisan Mak Jumiah malam itu menggema
hingga ke sudut-sudut desa, menembus kegelapan dan ketidakberdayaan.
"Penderitaan bukanlah suatu keadaan, melainkan peristiwa," kata
Simone Weil, dan peristiwa itu telah menorehkan luka yang dalam pada jiwa
seluruh penduduk desa.
"Tugas
kita bukanlah untuk melihat apa yang tampak samar-samar dari kejauhan, tetapi
melakukan apa yang jelas di depan mata," kata Thomas Carlyle. Dan di depan
mata Kabul kini, jelas bahwa jembatan ini harus dibangun dengan kejujuran dan
kesungguhan, bukan demi nama baik atau karier pribadinya, melainkan demi mereka
yang selama ini hidup dalam keterbatasan akses.
Derap
langkah sepatu mengalihkan perhatian Kabul dari lamunannya. Pak Dirga, kepala
kontraktor, mendekatinya dengan senyum yang sulit ditebak. "Bagaimana
proyeknya, Pak Insinyur?" tanyanya dengan nada bersahabat yang terasa
palsu. "Kita bisa menghemat banyak di beberapa pos anggaran. Material bisa
diganti dengan yang lebih... ekonomis."
Kabul
menatap mata pria paruh baya itu dalam-dalam. Albert Camus pernah menulis,
"Kebahagiaan terlalu sering dimaknai sebagai penerimaan terhadap
kebohongan." Namun ia tidak akan menerima kebohongan itu. "Mutu
jembatan ini tidak bisa dikompromikan, Pak. Terlalu banyak nyawa yang akan
melintasinya setiap hari," jawabnya dengan suara rendah namun tegas.
Pak
Dirga tertawa kecil. "Saya mengerti idealisme Anda, Pak Insinyur. Dulu
saya juga seperti itu. Tapi dunia tidak sesederhana yang diajarkan di
kampus." Ia mengeluarkan amplop coklat dari sakunya. "Ini untuk
keperluan pribadi Bapak. Anggap saja... apresiasi untuk kerja keras Bapak
selama ini."
Amplop
itu terasa seperti bara api di tangan Kabul. "Manusia adalah makhluk yang
terlalu bebas hingga ia harus menciptakan makna bagi dirinya sendiri,"
kata Viktor Frankl. Dan makna yang ia pilih bukanlah uang di dalam amplop itu.
Dengan gerakan tenang, ia mengembalikan amplop tersebut. "Terima kasih,
tapi saya tidak bisa menerimanya. Yang perlu saya terima hanyalah jaminan bahwa
setiap rupiah anggaran akan digunakan sebagaimana mestinya."
Hari
itu, Kabul pulang dengan langkah gontai ke rumah kontrakannya yang sederhana.
Dinding putihnya yang mulai mengelupas menjadi saksi bisu pergulatan batin
seorang insinyur. Di sudut ruangan, foto ibunya tersenyum dari bingkai kayu
yang sudah memudar warnanya. "Jangan pernah menjual prinsipmu, Nak. Sekali
kau menjualnya, kau akan terus menjualnya dengan harga yang semakin
murah," begitu pesan ibunya dulu.
Rapat
koordinasi proyek pagi itu berlangsung tegang. Kabul mempertanyakan kualitas
material yang datang, yang menurutnya tidak sesuai dengan spesifikasi yang
disepakati. "Friedrich Nietzsche pernah berkata, 'Apa yang tidak
membunuhku membuatku lebih kuat.' Tapi jembatan yang rapuh bisa membunuh banyak
orang," Kabul berujar dengan nada keras.
Pak
Karta, perwakilan dari dinas, mengerutkan keningnya. "Saya kira material
ini sudah cukup memadai, Pak Insinyur. Kita juga perlu memikirkan anggaran yang
tersedia."
"Anggaran
yang tersedia cukup untuk material berkualitas jika digunakan sebagaimana
mestinya," balas Kabul tanpa ragu. Ruangan rapat itu hening seketika. Para
hadirin saling melempar pandang, ada yang risau, ada yang marah, ada pula yang
diam-diam mengagumi keberanian anak muda itu.
"Anda
pikir Anda siapa?" tanya Pak Dirga dengan nada mengancam. "Jangan
lupa, proyek ini adalah urusan banyak pihak."
Kabul
tersenyum tipis. "Martin Heidegger pernah berkata, 'Bahasa adalah rumah
keberadaan.' Dan dalam bahasa kejujuran, saya berada di posisi yang benar. Saya
hanya insinyur yang menginginkan jembatan ini bertahan lama dan menyelamatkan
nyawa, bukan menjadi perangkap maut yang menunggu waktu."
Malam
itu, Kabul menerima telepon dari atasannya di kantor pusat. "Saya dengar
Anda membuat masalah di sana," kata suara di seberang sana dengan nada
dingin. "Ingat, proyek ini penting untuk karier Anda. Jangan membuat
kesalahan yang akan Anda sesali."
Di
tengah kegalauan, Kabul menemukan secercah harapan. Nenek Suti, sesepuh desa
yang dihormati, mengundangnya minum teh di rumah bambunya yang sederhana.
"Orang-orang desa ini membicarakanmu," kata nenek itu sambil
menuangkan teh panas ke dalam cangkir tanah liat. "Mereka bilang kau
berbeda dari insinyur-insinyur sebelumnya."
Kabul
menyesap tehnya perlahan. "Berbeda bagaimana, Nek?"
"Mereka
bilang matamu masih hidup. Tidak mati seperti mata orang-orang kota yang datang
ke sini." Nenek Suti tertawa kecil. "Thomas Aquinas pernah berkata,
'Cinta adalah keinginan akan kebaikan bagi yang lain.' Dan kami bisa melihat
cinta itu di matamu, Nak."
Kabul
tertegun. Ia tidak menyangka penduduk desa memperhatikannya sedemikian rupa.
"Saya hanya ingin jembatan ini benar-benar berguna untuk kalian, Nek.
Bukan sekadar proyek yang dibanggakan di atas kertas."
"Dan
itulah yang kami hargai." Nenek Suti menepuk tangannya dengan lembut.
"Kau tidak sendirian dalam perjuangan ini. Kami—penduduk desa—akan
mendukungmu."
Keesokan
harinya, tanpa diduga, puluhan penduduk desa datang ke lokasi proyek. Mereka
membawa makanan, minuman, dan yang paling penting, dukungan moral bagi Kabul.
"Kami ingin melihat sendiri proses pembangunan jembatan kami," kata
seorang pria tua dengan suara lantang. "Jembatan yang akan digunakan anak
cucu kami."
Kehadiran
mereka membuat Pak Dirga dan kroni-kroninya tidak nyaman. "Ini wilayah
proyek, berbahaya untuk orang awam," kata Pak Dirga mencoba mengusir
mereka.
"Tapi
ini tanah kami," balas seorang pemuda dengan berani. "Dan jembatan
ini adalah masa depan kami."
Hannah
Arendt menulis, "Kekuasaan muncul ketika orang bertindak
bersama-sama." Dan hari itu, kekuasaan rakyat kecil mulai menunjukkan
taringnya.
Kabul
menyadari bahwa pertarungan ini tidak bisa dimenangkan dengan cara-cara
konvensional. Ia membutuhkan strategi yang berbeda. Martin Luther King Jr.
pernah berkata, "Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan; hanya cahaya
yang bisa melakukannya." Dan cahaya yang ia butuhkan adalah transparansi.
Dengan
bantuan beberapa mahasiswa magang, Kabul membuat papan informasi besar di
lokasi proyek. Di sana tertera rincian anggaran, spesifikasi material, jadwal
pembangunan, dan nama-nama penanggung jawab setiap aspek proyek. "Rakyat
berhak tahu bagaimana uang mereka digunakan," katanya kepada para pekerja
yang keheranan.
Langkah
berani itu menarik perhatian media lokal. Sebuah surat kabar kecil menurunkan
laporan tentang "Insinyur Idealis di Balik Jembatan Harapan". Cerita
itu menyebar dengan cepat, sampai ke telinga pejabat-pejabat di tingkat
provinsi.
"Anda
mengundang masalah," kata Pak Karta dengan nada cemas. "Pihak atas
tidak suka publisitas semacam ini."
Kabul
hanya tersenyum. "John Dewey pernah berkata, 'Demokrasi lebih dari sekadar
bentuk pemerintahan; ia terutama adalah cara hidup bersama.' Dan transparansi
adalah jiwa dari demokrasi itu."
Musim
hujan datang lebih awal tahun itu. Air sungai meluap, menggenangi sebagian
desa. Di tengah kekacauan, Kabul dan tim teknisnya bekerja siang malam untuk
memastikan pondasi jembatan tidak tergerus. Ia bahkan turut membantu evakuasi
penduduk yang rumahnya terendam.
"Anda
tidak perlu melakukan ini," kata seorang pekerja ketika melihat Kabul
menggendong seorang anak kecil menyeberangi air yang sudah setinggi lutut.
"Ini bukan bagian dari pekerjaan Anda."
Kabul
menatap anak dalam gendongannya yang memeluk lehernya erat-erat. "Mahatma
Gandhi pernah berkata, 'Kebahagiaan terbesar adalah ketika kita melihat orang
lain bahagia karena usaha kita.' Dan saya pikir, ini adalah bagian dari
pekerjaan saya sebagai manusia."
Peristiwa
banjir itu menjadi titik balik dalam proyek jembatan. Penduduk desa yang
melihat ketulusan Kabul semakin mendukungnya. Bahkan beberapa pekerja yang
tadinya hanya menjalankan perintah kontraktor mulai berpihak kepadanya,
memberikan informasi tentang praktik-praktik mencurigakan dalam pengadaan
material.
"Integritas
adalah melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada yang memperhatikan,"
kata C.S. Lewis. Namun kini, banyak mata yang memperhatikan dan mendukung
Kabul. Keberpihakan kepada masyarakat miskin ternyata bukan sekadar slogan yang
ia teriakkan sewaktu menjadi aktivis kampus; ia adalah pilihan hidup yang kini
ia jalani.
Enam
bulan berlalu, dan jembatan itu mulai menampakkan wujudnya. Meski sempat
tertunda karena berbagai konflik internal dan tekanan dari atas, proyek itu
tetap berjalan berkat kegigihan Kabul dan dukungan penduduk desa. Material
berkualitas berhasil dipertahankan, meski dengan konsekuensi beberapa pos
anggaran lain harus diperketat.
"Ada
yang bilang kita terlalu boros dengan material," kata Kabul kepada para
pekerja saat briefing pagi. "Tapi Epicurus pernah mengatakan, 'Kemewahan
terbesar adalah keamanan.' Dan keamanan jembatan ini adalah kemewahan yang
tidak bisa ditawar."
Pak
Dirga dan beberapa oknum yang sempat menentang Kabul mulai menarik diri dari
proyek, digantikan oleh insinyur muda lain yang lebih sejalan dengan visi
Kabul. Meski demikian, desas-desus tentang "proyek bermasalah" dan
"insinyur pembangkang" terus menghantui Kabul. Tidak jarang ia
menerima telepon ancaman atau peringatan halus dari atasan di kantor pusat.
"Apakah
semua ini layak diperjuangkan?" tanya Kabul pada dirinya sendiri suatu
malam, saat ia sendirian di ruang kerjanya yang dipenuhi kertas-kertas
rancangan. "Søren Kierkegaard pernah berkata, 'Kegelisahan adalah
kemungkinan akan kebebasan.' Dan mungkin kegelisahan yang kurasakan ini adalah
tanda bahwa aku masih bebas untuk memilih."
Pilihan
itu datang lebih cepat dari yang ia kira. Pagi itu, surat pemindahtugasan tiba
di mejanya. Ia dipindahkan ke proyek lain di ujung negeri, jauh dari desa ini
dan jembatan yang belum selesai. "Ini standar prosedur rotasi,"
begitu alasan resminya. Tapi Kabul tahu lebih baik.
30 hari menulis buruk
Hari ke-27 menulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar