Pengikut

Kamis, 03 April 2025

Bayangan Kejayaan dan Ketertinggalan

 


Matahari tenggelam di ufuk barat, meninggalkan jejak keemasan pada kubah-kubah megah Samarkand. Dalam bayangan sejarah, kita bisa membayangkan bagaimana kota ini pernah menjadi simpul pengetahuan dan perdagangan yang mengalahkan kemegahan kota-kota Eropa pada zamannya. Namun kini, kita hanya bisa merenung tentang apa yang tersisa dari kejayaan masa lalu.

Dalam perjalanan waktu yang berliku, sebuah pertanyaan mendasar terus menghantui kajian peradaban: mengapa negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim pada masa kini menunjukkan tingkat otoritarianisme yang tinggi dan pembangunan sosioekonomi yang rendah dibandingkan dengan rata-rata dunia? Paradoks ini semakin menggugah ketika kita menyadari bahwa dulu, antara abad ke-9 hingga ke-12 Masehi, peradaban Islam justru menjadi mercusuar pengetahuan dan kemakmuran yang melampaui Eropa Barat.

Seperti kata Ibn Khaldun, "Sejarah pada hakikatnya adalah informasi tentang masyarakat manusia, yaitu peradaban dunia." Memahami kondisi dunia Muslim kontemporer memerlukan kajian mendalam tentang akar sejarahnya, bukan sekadar melihat permukaan yang tampak saat ini.

Penjelasan-penjelasan yang secara simplisistik menunjuk agama Islam sebagai akar dari ketertinggalan, menurut Ahmad T Kuru Pandangan semacam itu mengabaikan fakta bahwa dalam bidang filsafat dan sosioekonomi, dunia Muslim pernah jauh lebih maju daripada Eropa selama berabad-abad.

Al-Farabi pernah menuturkan, "Kesempurnaan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia adalah ketika ia mencapai kebahagiaan tertinggi, yang dinamakan kebahagiaan hakiki." Kebahagiaan hakiki ini, bagi peradaban Islam klasik, tercermin dalam kemajuan intelektual dan material yang menghasilkan karya-karya monumental dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Kolonialisme Barat, yang sering dijadikan kambing hitam, juga tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan. Sebelum bangsa-bangsa Eropa mulai memperluas pengaruhnya, dunia Muslim sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran internal. Ibarat kata Ibnu Sina, "Jiwa yang sakit akan menampakkan gejalanya melalui tubuh," demikian pula peradaban yang mulai kehilangan vitalitasnya akan menampakkan tanda-tanda kemunduran sebelum benar-benar jatuh.

Pada masa awal sejarahnya, dunia Muslim memiliki pemikir-pemikir dan pedagang-pedagang yang berpengaruh, saat Eropa masih berkutat dalam ortodoksi agama dan kekuasaan militer feodal. Nama-nama seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd menjadi bukti kejayaan intelektual Islam. Sementara itu, jalur perdagangan dari Samarkand hingga Cordoba menjadi urat nadi ekonomi global yang mempertemukan berbagai peradaban.

Al-Ghazali pernah menuliskan, "Pengetahuan tanpa tindakan bagaikan pohon tanpa buah." Dan peradaban Islam awal memang memetik buah manis dari pohon pengetahuan yang mereka tanam dengan rajin. Perguruan-perguruan tinggi seperti Al-Azhar di Kairo dan Bayt al-Hikmah di Baghdad menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang mendahului universitas-universitas pertama di Eropa.

Namun, sebagaimana dicatat oleh Kuru, pada sekitar abad ke-11, sebuah perubahan fundamental mulai terjadi. Persekutuan antara ulama ortodoks Islam dan negara-negara militer mulai bermunculan, membentuk apa yang kini dikenal sebagai aliansi ulama-negara. Persekutuan ini secara perlahan namun pasti menghalangi kreativitas intelektual dan ekonomi dengan meminggirkan kelas intelektual dan borjuis di dunia Muslim.

Ibnu Rusyd, yang karya-karyanya justru menginspirasi Renaissance di Eropa, pernah mengalami pembuangan dan pembakaran buku-bukunya oleh penguasa yang dipengaruhi kalangan ortodoks. Ini menggambarkan bagaimana aliansi ulama-negara telah menciptakan iklim yang tidak kondusif bagi pemikiran bebas dan inovasi.

Al-Mawardi dalam "Al-Ahkam as-Sultaniyyah" menulis tentang keharusan adanya keseimbangan antara otoritas politik (sultan) dan otoritas agama (ulama), namun dalam praktiknya, keseimbangan ini sering berakhir dengan dominasi kepentingan status quo yang menghambat perubahan.

Dampak dari aliansi ulama-negara ini masih terasa hingga masa kini. Seperti dinyatakan oleh Muhammad Iqbal, "Bangsa yang tidak berani menghadapi tantangan zaman akan lenyap dari sejarah." Dunia Muslim kontemporer masih bergulat dengan warisan historis yang membatasi kreativitas dan kompetisi.

Di tengah genggaman otoritarianisme, ruang-ruang publik untuk dialog dan kritik menyusut. Pada saat yang sama, kapitalisme kroni yang berbasis pada hubungan dekat dengan penguasa, bukan pada inovasi dan kompetisi sehat, menjadi pola ekonomi dominan yang menghambat pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Said Nursi pernah mengatakan, "Masa depan akan menjadi milik iman, bukan kekufuran; dan akan menjadi milik kebebasan, bukan perbudakan." Namun kebebasan intelektual dan ekonomi yang menjadi prasyarat bagi kemajuan masih sering terbentur pada struktur kekuasaan yang melanggengkan status quo.

Menyelami sejarah Islam bukanlah sekadar nostalgia akan kejayaan masa lalu, tapi refleksi kritis untuk menemukan jalan menuju masa depan yang lebih baik. Muhammad Abduh, pembaharu Islam dari Mesir, pernah berkata, "Aku pergi ke Barat dan melihat Islam tanpa Muslim; aku kembali ke Timur dan melihat Muslim tanpa Islam." Ucapan ini mengandung kritik mendalam tentang bagaimana esensi progresif Islam seringkali tertutupi oleh praktik-praktik sosial dan politik yang justru bertentangan dengan semangat kemajuan.

Untuk mengatasi ketertinggalan, dunia Muslim perlu meninjau kembali warisan historisnya secara kritis. Aliansi ulama-negara yang telah berabad-abad menjadi penghalang kemajuan perlu ditransformasi menjadi hubungan yang lebih seimbang antara otoritas agama, negara, dan masyarakat sipil. Seperti diungkapkan oleh Ali Shariati, "Agama harus membebaskan manusia, bukan membelenggunya."

Kreativitas intelektual dan ekonomi yang menjadi kunci kemajuan peradaban Islam di masa lalu perlu dihidupkan kembali melalui reformasi pendidikan, penguatan institusi penelitian, dan penciptaan iklim bisnis yang mendorong inovasi dan kompetisi sehat. Ibnu Khaldun pernah menulis bahwa "Geografi adalah takdir," namun sejarah membuktikan bahwa determinisme geografis bisa diatasi oleh masyarakat yang memiliki modal sosial dan intelektual yang kuat.

Saat matahari kembali terbit di ufuk timur, kita diingatkan bahwa peradaban, seperti halnya matahari, mengalami siklus terbit dan tenggelam. Namun berbeda dengan fenomena astronomi yang deterministik, nasib peradaban ditentukan oleh pilihan-pilihan kolektif masyarakatnya.

Di tengah bayangan kubah-kubah bersejarah dan menara-menara yang menjulang tinggi, kita merenung: akankah dunia Muslim kontemporer mampu melepaskan diri dari kungkungan aliansi ulama-negara yang telah berabad-abad menjadi penghalang kemajuan? Akankah ia mampu menghidupkan kembali semangat inovasi dan kebebasan intelektual yang pernah menjadi ciri khasnya?

Seperti dikatakan Muhammad Iqbal, "Hidup adalah proses kreatif yang terus-menerus." Dalam konteks peradaban, kreativitas ini mewujud dalam kemampuan untuk mengevaluasi masa lalu secara kritis, menghadapi tantangan masa kini dengan bijaksana, dan membayangkan masa depan dengan penuh harapan.

Mungkin, dalam reminisensi akan masa lalu yang gemilang dan refleksi kritis atas penyebab kemunduran, terletak benih-benih kebangkitan baru. Karena sebagaimana dikatakan oleh Al-Kindi, "Kita tidak boleh malu untuk mengakui kebenaran dan menyerapnya dari sumber manapun ia datang, meskipun dibawa oleh generasi sebelumnya dan bangsa asing."

Akhirnya, apa yang diperlukan bukanlah sekadar nostalgia akan kejayaan masa lalu, melainkan pemahaman mendalam tentang akar permasalahan historis untuk merancang jalan menuju masa depan yang lebih baik. Karena pada hakikatnya, seperti dituturkan oleh Jalal ad-Din Rumi, "Apa yang kamu cari, juga mencarimu." Jika dunia Muslim mencari kemajuan, maka kemajuan itu pun akan menemukannya, asalkan ia berani menghadapi tantangan struktural yang telah berabad-abad menghalangi jalannya.

 

30 hari menulis buruk

Hari ke-26 menulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar