Matahari
tenggelam di ufuk barat, meninggalkan jejak keemasan pada kubah-kubah megah
Samarkand. Dalam bayangan sejarah, kita bisa membayangkan bagaimana kota ini
pernah menjadi simpul pengetahuan dan perdagangan yang mengalahkan kemegahan
kota-kota Eropa pada zamannya. Namun kini, kita hanya bisa merenung tentang apa
yang tersisa dari kejayaan masa lalu.
Dalam
perjalanan waktu yang berliku, sebuah pertanyaan mendasar terus menghantui
kajian peradaban: mengapa negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim pada masa
kini menunjukkan tingkat otoritarianisme yang tinggi dan pembangunan
sosioekonomi yang rendah dibandingkan dengan rata-rata dunia? Paradoks ini
semakin menggugah ketika kita menyadari bahwa dulu, antara abad ke-9 hingga
ke-12 Masehi, peradaban Islam justru menjadi mercusuar pengetahuan dan
kemakmuran yang melampaui Eropa Barat.
Seperti
kata Ibn Khaldun, "Sejarah pada hakikatnya adalah informasi tentang
masyarakat manusia, yaitu peradaban dunia." Memahami kondisi dunia Muslim
kontemporer memerlukan kajian mendalam tentang akar sejarahnya, bukan sekadar
melihat permukaan yang tampak saat ini.
Penjelasan-penjelasan
yang secara simplisistik menunjuk agama Islam sebagai akar dari ketertinggalan,
menurut Ahmad T Kuru Pandangan semacam itu mengabaikan fakta bahwa dalam bidang
filsafat dan sosioekonomi, dunia Muslim pernah jauh lebih maju daripada Eropa
selama berabad-abad.
Al-Farabi
pernah menuturkan, "Kesempurnaan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia
adalah ketika ia mencapai kebahagiaan tertinggi, yang dinamakan kebahagiaan
hakiki." Kebahagiaan hakiki ini, bagi peradaban Islam klasik, tercermin
dalam kemajuan intelektual dan material yang menghasilkan karya-karya
monumental dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Kolonialisme
Barat, yang sering dijadikan kambing hitam, juga tidak bisa sepenuhnya
dipersalahkan. Sebelum bangsa-bangsa Eropa mulai memperluas pengaruhnya, dunia
Muslim sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran internal. Ibarat kata
Ibnu Sina, "Jiwa yang sakit akan menampakkan gejalanya melalui
tubuh," demikian pula peradaban yang mulai kehilangan vitalitasnya akan
menampakkan tanda-tanda kemunduran sebelum benar-benar jatuh.
Pada
masa awal sejarahnya, dunia Muslim memiliki pemikir-pemikir dan
pedagang-pedagang yang berpengaruh, saat Eropa masih berkutat dalam ortodoksi
agama dan kekuasaan militer feodal. Nama-nama seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu
Sina, dan Ibnu Rusyd menjadi bukti kejayaan intelektual Islam. Sementara itu,
jalur perdagangan dari Samarkand hingga Cordoba menjadi urat nadi ekonomi
global yang mempertemukan berbagai peradaban.
Al-Ghazali
pernah menuliskan, "Pengetahuan tanpa tindakan bagaikan pohon tanpa
buah." Dan peradaban Islam awal memang memetik buah manis dari pohon
pengetahuan yang mereka tanam dengan rajin. Perguruan-perguruan tinggi seperti
Al-Azhar di Kairo dan Bayt al-Hikmah di Baghdad menjadi pusat pengembangan ilmu
pengetahuan yang mendahului universitas-universitas pertama di Eropa.
Namun, sebagaimana dicatat oleh Kuru, pada sekitar
abad ke-11, sebuah perubahan fundamental mulai terjadi. Persekutuan antara
ulama ortodoks Islam dan negara-negara militer mulai bermunculan, membentuk apa
yang kini dikenal sebagai aliansi ulama-negara. Persekutuan ini secara perlahan
namun pasti menghalangi kreativitas intelektual dan ekonomi dengan meminggirkan
kelas intelektual dan borjuis di dunia Muslim.
Ibnu
Rusyd, yang karya-karyanya justru menginspirasi Renaissance di Eropa, pernah
mengalami pembuangan dan pembakaran buku-bukunya oleh penguasa yang dipengaruhi
kalangan ortodoks. Ini menggambarkan bagaimana aliansi ulama-negara telah
menciptakan iklim yang tidak kondusif bagi pemikiran bebas dan inovasi.
Al-Mawardi
dalam "Al-Ahkam as-Sultaniyyah" menulis tentang keharusan adanya
keseimbangan antara otoritas politik (sultan) dan otoritas agama (ulama), namun
dalam praktiknya, keseimbangan ini sering berakhir dengan dominasi kepentingan
status quo yang menghambat perubahan.
Dampak
dari aliansi ulama-negara ini masih terasa hingga masa kini. Seperti dinyatakan
oleh Muhammad Iqbal, "Bangsa yang tidak berani menghadapi tantangan zaman
akan lenyap dari sejarah." Dunia Muslim kontemporer masih bergulat dengan
warisan historis yang membatasi kreativitas dan kompetisi.
Di
tengah genggaman otoritarianisme, ruang-ruang publik untuk dialog dan kritik
menyusut. Pada saat yang sama, kapitalisme kroni yang berbasis pada hubungan
dekat dengan penguasa, bukan pada inovasi dan kompetisi sehat, menjadi pola
ekonomi dominan yang menghambat pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Said
Nursi pernah mengatakan, "Masa depan akan menjadi milik iman, bukan
kekufuran; dan akan menjadi milik kebebasan, bukan perbudakan." Namun
kebebasan intelektual dan ekonomi yang menjadi prasyarat bagi kemajuan masih
sering terbentur pada struktur kekuasaan yang melanggengkan status quo.
Menyelami
sejarah Islam bukanlah sekadar nostalgia akan kejayaan masa lalu, tapi refleksi
kritis untuk menemukan jalan menuju masa depan yang lebih baik. Muhammad Abduh,
pembaharu Islam dari Mesir, pernah berkata, "Aku pergi ke Barat dan
melihat Islam tanpa Muslim; aku kembali ke Timur dan melihat Muslim tanpa
Islam." Ucapan ini mengandung kritik mendalam tentang bagaimana esensi
progresif Islam seringkali tertutupi oleh praktik-praktik sosial dan politik
yang justru bertentangan dengan semangat kemajuan.
Untuk
mengatasi ketertinggalan, dunia Muslim perlu meninjau kembali warisan
historisnya secara kritis. Aliansi ulama-negara yang telah berabad-abad menjadi
penghalang kemajuan perlu ditransformasi menjadi hubungan yang lebih seimbang
antara otoritas agama, negara, dan masyarakat sipil. Seperti diungkapkan oleh
Ali Shariati, "Agama harus membebaskan manusia, bukan
membelenggunya."
Kreativitas
intelektual dan ekonomi yang menjadi kunci kemajuan peradaban Islam di masa
lalu perlu dihidupkan kembali melalui reformasi pendidikan, penguatan institusi
penelitian, dan penciptaan iklim bisnis yang mendorong inovasi dan kompetisi
sehat. Ibnu Khaldun pernah menulis bahwa "Geografi adalah takdir,"
namun sejarah membuktikan bahwa determinisme geografis bisa diatasi oleh
masyarakat yang memiliki modal sosial dan intelektual yang kuat.
Saat
matahari kembali terbit di ufuk timur, kita diingatkan bahwa peradaban, seperti
halnya matahari, mengalami siklus terbit dan tenggelam. Namun berbeda dengan
fenomena astronomi yang deterministik, nasib peradaban ditentukan oleh
pilihan-pilihan kolektif masyarakatnya.
Di
tengah bayangan kubah-kubah bersejarah dan menara-menara yang menjulang tinggi,
kita merenung: akankah dunia Muslim kontemporer mampu melepaskan diri dari
kungkungan aliansi ulama-negara yang telah berabad-abad menjadi penghalang
kemajuan? Akankah ia mampu menghidupkan kembali semangat inovasi dan kebebasan
intelektual yang pernah menjadi ciri khasnya?
Seperti
dikatakan Muhammad Iqbal, "Hidup adalah proses kreatif yang
terus-menerus." Dalam konteks peradaban, kreativitas ini mewujud dalam
kemampuan untuk mengevaluasi masa lalu secara kritis, menghadapi tantangan masa
kini dengan bijaksana, dan membayangkan masa depan dengan penuh harapan.
Mungkin,
dalam reminisensi akan masa lalu yang gemilang dan refleksi kritis atas
penyebab kemunduran, terletak benih-benih kebangkitan baru. Karena sebagaimana
dikatakan oleh Al-Kindi, "Kita tidak boleh malu untuk mengakui kebenaran
dan menyerapnya dari sumber manapun ia datang, meskipun dibawa oleh generasi
sebelumnya dan bangsa asing."
Akhirnya,
apa yang diperlukan bukanlah sekadar nostalgia akan kejayaan masa lalu,
melainkan pemahaman mendalam tentang akar permasalahan historis untuk merancang
jalan menuju masa depan yang lebih baik. Karena pada hakikatnya, seperti
dituturkan oleh Jalal ad-Din Rumi, "Apa yang kamu cari, juga
mencarimu." Jika dunia Muslim mencari kemajuan, maka kemajuan itu pun akan
menemukannya, asalkan ia berani menghadapi tantangan struktural yang telah
berabad-abad menghalangi jalannya.
30 hari menulis buruk
Hari ke-26 menulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar