Pengikut

Rabu, 15 November 2023

PREMO ERGO SUM


Romawi kuno. Sebuah gedung megah berdiri mentereng. Lingkar luarnya dinding-dinding batu yang kokoh tegak oleh waktu. Di dalam, seperti stadion hari ini, orang-orang memenuhi kursi penonton. Pekik menggelegar. Masing-masing menyerukan nama jagoan. Terkadang sesama manusia saling mengadu nyawa di tengah palagan itu. Terkadang manusia dilawankan dengan binatang buas. Tapi manusia, bahkan sampai hari ini, memang selalu senang menyaksikan kekerasan. Barangkali dari pertikaian dan beribu-ribu pertempuran, ada bagian dalam diri manusia yang bisa terisi.

Setiap orang memang punya colosseum masing-masing.

Beberapa dari kita, terutama remaja-remaja imut zaman kiwari, suka mengikuti berita-berita perseturuan para artis youtube. Tidak pernah ketinggalan youtuber siapa yang berdebat dengan youtuber mana; om Deddy yang menghantam nama-nama artis papan atas; Majelis Lucu Indonesia dengan roasting mereka selalu mengalamatkan tembakan pada artis norak. Dan sebagian lagi mengaku kesal. Tak mendidik. Tapi menontonnya sampai habis.

Beberapa lagi sering rebahan di depan layar kaca. Menunggu colosseum bernama Indonesia Lawyer Club (yang semakin kesini justru defisit pengacara, tapi surplus politisi), menanti kehadiran Fahri Hamzah, Fadli Zon, Rocky Gerung, Ngabalin, Adian Napitupulu, dan lain-lain. Manusia diadu dengan manusia. Sparta di gelanggang politik memang berbeda, sebab mereka bisa mati berkali-kali tanpa pernah benar-benar pergi.

Beberapa lagi sering terpaku matanya di depan lembaran-lembaran kertas yang tak habis-habis. Mereka ini senang dengan colosseum pemikiran. Mengikuti tiap dialektika dari satu era melawan era berbeda, satu tokoh dari negara tertentu melawan negara lain, mahzab melawan mahzab, agama melawan agama, ideologi melawan ideologi, Aristoteles melawan Plato, Algazali lawan Averoes, dan seterusnya dan seterusnya. 

Yang lain menjadikan jagad Twitter atau Instagram atau Facebook sebagai colosseum mereka. Telah lupa waktu mereka menggiring layar dengan jempol, membaca satu per satu komentar tentang Keanu yang kesal pada Mas Fatah itu, dan seterusnya dan seterusnya.

Yang lain sibuk menunggu berita perseturuan antara sepasang suami istri artis yang telah bercerai. Barangkali sembari menanam harap supaya perceraian itu berlangsung berlarut-larut. Selalu ada kenikmatan tersendiri menonton cerita yang memiliki episode panjang dan sulit diterka. Oia, ada juga yang tabah menanti anak angkat Ruben Onsu benar-benar seorang predator cilik, dan saya benar-benar tak membayang sebuas apa hewan yang keliaran di colosseum batin orang seperti itu.

Kita semua punya colosseum masing-masing. Dan kita semua, barangkali adalah Sparta di palagan berbeda-beda.

Tapi kenapa manusia sejak zaman dahulu, gemar menatap kekerasan? Erich Fromm menjawab, “karena manusia bosan.” Makhluk manusia ini memiliki dorongan untuk agresi. Dan ketika liang batin merasa jenuh, kekurangan stimulus emosional, maka berita-berita kekerasan, kriminal, kejahatan, dan bencana selalu jadi pelipur dahaga itu. Manusia merasa dada mereka terisi. Tak masalah terisi oleh rasa curiga, dendam, atau kemarahan, daripada kosong sama sekali.

Manusia selalu ingin dirinya merasa hidup. Bahkan bila kehidupan itu digenapi oleh tatapan pada kekerasan.

Pada akhirnya, kebutuhan atas colosseum selalu menjelma dan berlipat ganda dalam medium berbeda. Terkadang berupa layar gawai, kadang televisi, kadang internet, kadang perkelahian spontan di jalanan, kadang di macet lalu lintas metropolis, terkadang di stadion sepakbola, kadang di gelanggang olahraga, kadang di tengah ring tinju, kadang di rumah kita sendiri, kadang di atas panggung Indonesian Idol, kadang di atas panggung KDI, kadang dalam pikiran kita sendiri, kadang dalam hati kita sendiri, dan seterusnya dan seterunsya.

Tapi di antara semua colosseum, yang paling berbahaya barangkali adalah agama. Dalam agama, hampir semua orang tidak menunda diri sebagai Sparta masing-masing. Mereka mengangkat senjata seraya menyebut nama Tuhan yang berbeda-beda. Dan di koloseum itu, hari ini, saya dan beberap orang saja yang sangat bisa dihitung jari berperan sebagai penonton. Kami melihat mereka saling beradu, surga siapa yang paling nyaman dan neraka siapa paling kejam.

Tapi jauh di dalam diri yang tidak mereka akui, selalu ada kekecewaan hidup yang begitu pahit sehingga cukup diselinapi kebencian, dan mereka merasa, dalam agama, kebencian menjadi halal dan Sparta adalah jihad atau martir, jadi tak masalah—seolah kebenaran semembinasakan itu, dan saya bakal semakin takut beragama bila demikian. Toh benci yang melawan benci, hanya bakal melahirkan api yang bakal membakar diri kita sendiri. Tanpa terkecuali.

Dan bila agama semengerikan itu, Tuhan harusnya sudah berduka sejak dari dulu agar kita tidak lagi perlu ada.

Rabu, 11 Oktober 2023

HARAPAN MERUPAKAN ALAT PEMBUNUH YANG PALING KEJAM


Pria kurus itu pukul lima selepas subuh, masih terjaga di kursi malas, melongo dengan mata muram dan otak berkabut pada gawai untuk chatan whatsapp sama perempuan yang belum pernah ia temui. Kenapa? kamu tidak tahu. Inersia mempermudah kamu terikat di sana dan tetap chatan daripada bangkit dari kursi lalu pergi ke ranjang tidur ataupun melihat mentari yang indah di luar sana.

Pria kurus itu menatap dunia. Ia mempunyai hobi mengamati sekelilingnya, mempelajari perilaku orang dalam setiap situasi. Ia melihat ada ilusi termanis dan paling berbahaya seputar rutinitas manusia. Ilusi itu seperti setengah iblis dan setengah malaikat. Tangan kirinya melambangkan surga dan tangan kanannya menyembunyikan tragedi. Orang menyebutnya Cinta, sebuah kata yang sepertinya mempunyai konotasi positif. Namun bukankah Cinta banyak mengajarkan orang bagaimana cara menangis, apa itu perpisahan, rasa sakit, trauma, bahkan yang lebih parah lagi, bunuh diri. Apa maksudnya cinta itu paradoks? Ia menawarkan segala keindahan dan keanggunan yang membentang dari Timur ke Barat, Utara hingga Selatan. Di sisi lain, mereka menakuti kita dengan kehancuran dan kengerian.

Menurut pria tersebut, jatuh cinta merupakan fenomena pikiran yang merayapi dan menyelimuti hasrat manusia. Jatuh cinta adalah ilusi terbesar, yang bahkan seorang pesulap pun tidak bisa menciptakannya. Saat orang sedang jatuh cinta, dia mengira dirinya mempunyai sayap, dan ingin terbang membawakan bunga untuk wanita yang dicintainya, ingin memeluknya, padahal kenyataannya sayap wanita itu memegang pisau dan duri yang siap memakannya dengan kuat. merangkul. Dalam diri Kahlil Gibran, lelaki kurus belajar bahwa datanglah cinta ketika dia memanggilmu, meski jalan yang kamu lalui terjal dan berkelok-kelok. Ia mengetahui bahwa Cinta membuat orang menjadi MASOCICS (suka menyiksa diri sendiri).

Pada awalnya kita tidak pernah benar-benar mencintai wanita itu secara objektif, apa adanya (das sein). Kita hanya mencintai wanita itu sebagaimana mestinya (das sollen). Bagaimana kita bisa mengagumi seseorang yang kita tidak pernah temui? yang kita tidak tahu dia berasal dari mana, siapa dia, siapa orang tuanya, kebiasaan buruknya. Kita hanya mengagumi seseorang sebatas kita tidak benar-benar mengenalnya secara mendalam. Kita hanya menyukai apa yang kita bayangkan tentang dia (das sollen). Kita sangat menyukai cara kerja sensasi sensorik saat bertemu dengan wujud perempuan. Kita menyukai mekanisme visualisasi wajahnya yang menawan, mungkin kita menyukai aroma parfumnya, kita menyukai tekstur kulitnya yang lembut, atau mungkin kita menyukai suaranya yang merdu. Di mana cinta kita pada wanita itu? Apa yang kita sukai adalah apa yang kita lihat, kita rasakan, kita dengar, kita cium, dan kita rasakan. Ternyata kita tidak mencintai wanita itu secara objektif (das sein), kita hanya mencintai apa yang melekat pada dirinya. Kita hanya mencintai dari wangi tubuhnya, kecantikannya yang menawan, masakannya, suaranya, kelembutan belaiannya, dan sebagainya. Tapi apakah aroma tubuhnya adalah miliknya? Tidak. Apakah suara itu miliknya? Tidak. Apakah dia membelai dia? Tidak. Kecantikan apa dia? Tidak. Apakah dia yang dilihat, diraba, dikecap, didengar, dicium? Tentu saja tidak. Kita tidak pernah mencintai wanita itu, yang kita cintai itulah yang melekat pada dirinya.

Tampaknya pria kurus itu sedang melukis kegelapan di dunianya yang membeku meski hanya sesaat. Ia meruntuhkan segala konsep dan gagasan yang telah ia bangun. Bagaikan menghancurkan istana intelektual yang dibangun melalui perantara para pemikir besar yang pernah ia baca atau temui. Dia ingat Nietzche, yang mengatakan: "Bersikaplah hormat di depan kebenaran seperti Anda berada di depan seorang wanita". Dia selalu menggunakan analogi ini untuk menjelaskan kebenaran. Nietzsche mengatakan kebenaran itu ibarat wanita yang selalu mengajak keturunan Adam menelanjanginya dan menyentuh lubuk hatinya. Namun jangan pernah mencoba melakukannya, karena kamu tidak tahu, ada tragedi kesedihan kegelisahan kekhawatiran ketakutan apa yang tersembunyi di balik topeng keindahan keanggunan keperawanan keindahan yang bersinar dan melindungi fisik luar yang kuat secara ajaib. Biarkan dia seperti itu tanpa kamu buka, biarkan dia terlihat seperti itu, dan cukup kamu memandangnya dari kejauhan sambil mengatakan “betapa menawannya wanita itu/kebenarannya” sebenarnya sama saja dengan “betapa manisnya kebohongan”.

Pria kurus yang sibuk berpikir dan berimajinasi itu pun sudah lelah seperti dirinya, menahan amarahnya karena merasa tertipu dengan dunia dan segala kepalsuan yang menyelimutinya. Dia tahu ketika dia keluar dari gua yang dibangun di tengkoraknya, dia akan kembali menjadi manusia palsu. Manusia diasuh oleh Anjing dalam dirinya sendiri. Dia muak dan ingin menangis dalam kegelapan di awal bulan oktober. Ia ingin berkeluh kesah di bawah teriknya senja yang di awal paragraf diharapkan sebagai harapan yang menuntun perahunya menghantam karang dan membawanya ke gerbang kebenaran. Sekarang apa yang dia lihat, apa yang dia lihat, adalah kebenaran yang dilihat oleh manusia gua Plato yang memaksanya untuk kembali ke dalam gua dan melihat dunia dari bayangan, dari ilusi, dari landasan yang sebenarnya bukan landasan, (das sollen) bukan dunia sebagaimana adanya (das sein).

Ia berpikir selama ini ia hidup dalam keadaan yang paling menyedihkan, hidup dalam kekecewaan atas harapan. Ia pernah belajar bahwa harapan menguatkan manusia, memberikan motivasi bagi kelangsungan hidup umat manusia. Namun, semakin tinggi dan besar harapan yang dibangun, dan semakin bertentangan dengan kenyataan, maka ia akan semakin dilumuri dengan kekecewaan yang mendalam. Jadi dia ingin memilih untuk tidak berharap sama sekali. Dan ketika dia melihat ke luar jendela, sebelum dia menyadarinya, dia kehilangan Mentari yang disangkanya masih menggantung di atas kepalanya, Mentari telah menghilang dan siap tenggelam di ufuk Barat, bahkan tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal padanya. Dia tahu bahwa pagi hari tidak memberikan banyak ketenangan, dan kenyataannya senja selalu menawarkan kebenaran yang pahit. bahwa hidup hanyalah reproduksi kebohongan yang terus menerus. Hidup adalah kartun yang hidup. Dan dibalik dadanya, Anjing menggonggong penuh kemenangan mengejek pikiran angker itu, "Aku Menang!"

“Aku pun, pernah dalam titik mangsa tertentu merasa tersesat,”. Aku merasa sendirian, terisolasi, putus asa. aku juga, sering terjaga pada malam buta tanpa alasan yang jelas, berpikir jangan-jangan terdapat sesuatu yang keliru dalam diri ku, berpikir bahwa terdapat kekuatan tak kasat mata berdri di antara aku dan mimpi. Aku tahu bahwa kamu meraskannya juga. Bahwa kamu tersesat di suatu jalan setapak rahasia. kamu hanya tidak tahu, apa itu.”

Kebenarannya, semua orang mengalami hal serupa, itu merupakan fakta dari kondisi manusia. Kita semua merasa tak berdaya untuk menyetarakan perasaan rasa bersalah yang menyusup ke relung eksistensi kita. Kita semua menderita dan merupakan korban dari sesuatu, terkhusus ketika kita masih muda. Kita menghabiskan sisa usia untuk mengompensasi seluruh penderitaan tersebut. Dan terdapat momen dalam hidup ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, kita kecewa.

Tapi seperti pergulatan banyak orang, Kamu membungkus diri sendiri dengan kesakitan yang kamu lupakan dari mana rasa sakit itu datang, dan perselisihan seperti itu tidak hanya terjadi kepada kamu. Justru, itu hal yang universal. Dan karena kamu melupakan hal ini.

Maka sekali lagi, izinkan aku mengungkapkan keprihatinan yang mendalam kepada lelaki yang bermata sayu dan kurus itu, akibat trauma dan pesimisme yang lahir dari keterkejutan yang hebat, ia merutuki dirinya sendiri yang diliputi banyak ekspektasi atau harapan. Sampai dia mau tak ada harapan, sampai nanti ayo kita tuntut lagi. Bukankah saat dia berkata “Aku tidak mau berharap lagi”, saat itulah dia “berharap”. Sekali lagi, kontradiksi pada akhirnya. Hal serupa terjadi misalnya pada dalil “kebenaran itu relatif”, dan ketika orang yang berpendapat seperti itu tetap teguh dengan dalilnya, maka ia telah memutlakkan kebenaran, bahwa “kebenaran itu relatif” adalah mutlak. 

 

Harapan hanya memperpanjang kesengsaraan manusia

˷Nietzsche˷ 

Selasa, 26 September 2023

Dari Pengalaman sampai Pemahaman: Degradasi Ideologis Kelompok Islam dalam Konteks Sosio-Historis

Problem sosial dalam konteks kultural-historis senantiasa mewarnai perjalanan kelompok-kelompok Islam yang mengharuskan diri menghadapi berbagai tantangan zaman. Karena tiap periode Sejarah selalu menyimpan problematika serta tantangan bagi dirinya sendiri, maka tiap periode Sejarah juga menawarkan semangat zaman (Zeitgeist) dalam rangka menghalau rintangan-rintangan tersebut. Kelompok muslim sebagai salah satu kelompok besar yang bersarang di berbagai wilayah dunia tidak terlepas dari tantangan-tantangan tersebut.

Kelompok muslim yang notabene beridentitaskan predikat religus kemudian harus beradaptasi dengan realitas sosial serta gesekan-gesekan kultural yang dibangun oleh kekuatan historis secara demografis maupun secara temporal. Di Indonesia misalnya, ekspansi penyebaran agama diketahui mengalami puncaknya lewat perdagangan. Walaupun lewat analisis arkeologis diketahui bahwa muslim telah hadir sejak abad ke 11 Masehi tepatnya dengan ditemukan makam yang nisannya bertuliskan nama dengan tradisi Arab yang diperkirakan dibuat pada tahun 1082, akan tetapi puncak penyebaran agama Islam mencapai puncaknya pada abad ke 14 lewat jalur perdagangan yang berhasil didominasi di Demak. Hanya saja pada tahun-tahun selanjutnya mulai masuk paham Merkantilisme Eropa yang berusaha merebut jalur perdagangan laut, sedangkan jalur perdagangan darat sendiri direbut oleh kaum pribumi dengan semangat etnisitas yang kemudian menyingkirkan kelompok-kelompok muslim yang datang ke alam Indonesia. Pada saat itu terjadi marginalisasi terhadap kelompok-kelompok muslim, mereka yang baru saja mendapati diri merasa nyaman di wilayah tersebut kemudian mengalami alienasi. Barangkali inilah awal dari pergulatan panjang kelompok muslim untuk merebut kembali posisi menghegemoni kondisi sosial, politik dan ekonomi di Indonesia.

Kelompok muslim kemudian mendapati diri mengalami semacam langkah awal untuk merebut kembali hegemoni mereka lewat sebuah organisasi yang bernama Sarekat Islam yang diketuai oleh HOS Cokroaminoto dalam percaturan politik dan ekonimi secara ideologis tanpa meninggalkan prinsip-prinsip Islam di tengah-tengah derasnya intervensi kolonialisme. Pada masa pra-kemerdekaan, kelompok-kelompok muslim tersebut berjibaku dengan teror serta penindasan yang dilakukan oleh para kolonialis dalam rangka mempertahankan status quo. Barulah pasca-kemerdekaan, lewat desakan seluruh elemen gerakan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia akhirnya bangsa Indonesia berhasil mengantarkan diri mereka sendiri di depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia. Dan sejarah tidak dapat mendustai, bahwa kelompok muslim merupakan salah satu unsur terpenting yang mendesak kelahiran kemerdekaan tersebut. Hal ini bahkan dibuktikan dengan kemenangan awal ketika terjadi konsolidasi dalam rangka merekontruksi falsafah negara Indonesia, dimana tertuang dalam sila pertama Pancasila (saat itu bernama piagam Jakarta) yang berisikan tentang menjalankan syariat Islam bagi penganutnya. Walaupun akhirnya sila pertama tersebut dirubah karena desakan wilayah Timur yang mayoritas terdiri dari mayoritas non-Islam yang mengancam akan mendirikan negara baru jika sila tersebut tidak diganti. Alhasil, lahirlah sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa-bangsa yang tergabung dalam komunitas ASEAN kemudian mengalami tantangan baru. Bagi negara-negara yang hampir semuanya merupakan negara bekas jajahan (kecuali Thailand), terdapat tantangan baru sebagai konsekuensi daripada praktik koloniaisme di tanah air masing-masing, yaitu lahirnya konsep negara bangsa (nation state). Tentu saja konsep tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi kelompok Muslim ASEAN yang harus menghadapi kenyataan bahwa pada abad 20 merupakan abad modernisasi serta merasuknya pemahaman sekularistik ke paradigma masyarakat. Hanya saja berbeda dengan Malaysia dan Filipina yang ketegangan terhadap tantangan tersebut berada pada tataran etnis, Singapura yang mengalami konflik pada tataran kultural, Indonesia sendiri berkonflik dalam konteks birokrasi serta kaitannya dengan umat. Semenjak para penjajah melangkahkan kakinya keluar dari negeri Indonesia, terjadi pergolakan hebat di tataran kelompok elitis (kelompok muslim salah satunya) untuk mengadakan konsolidasi dalam rangka merebut legitimasi kekuasaan masing-masing kelompok. Berdirinya negara baru merupakan momentum tepat untuk meletakan dasar negara. Setidaknya meskipun dengan motif kekuasaan, konflik tersebut masih bersifat ideologis. Hal ini dibuktikan dengan upaya makar oleh PKI pada tahun 1947, dan adanya fenomena NII/DII yang dipelopori oleh Kartosuwirjo pada tahun 1949.

Dalam realitas sosio-historis Indonesia sejak awal kemerdekaan, terjadi konflik serta perselisihan dalam skala besar baik di tataran elit pemimpin kelompok ideologis maupun di tataran populis yaitu masyarakat yang mengikuti suatu kelompok ideologis tertentu. Konsolidasi kelompok-kelompok muslim menunjukan taringnya yang dibuktikan dengan perolehan 50 % jumlah suara dalam pemilihan umum pada tahun 1955 oleh kelompok muslim. Pada era tersebut, atmosfer pemilu masih kental warna ideologisnya. Karena jelaslah sudah, bagi kelompok Komunis akan memilih PKI, bagi kelompok nasionalis akan memilih PNI dan bagi kelompok muslim akan memilih Masyumi sebagai primadona mereka. Kesadaran atas realitas tersebutlah yang mendasari Soekarno mewacanakan peleburan ketiga kutub tersebut dalam konsep NASAKOM (Nasionalis, Agamis dan Komunis) dalam rangka merangkul kelompok-kelompok politik besar dan berpengaruh di Indonesia.

Konflik terhadap PKI yang mencapi klimaks pada tahun 1965 juga tidak bisa dilepaskan dari peran besar kelompok muslim. Pada konflik tersebut, diketahui lewat literatur sejarah bahwa kaum santri dan abangan yang sebelumnya mengalami ketegangan hebat secara ideologis maupun secara kultural berhasil menghimpun diri ketika dihadapkan dengan ideologi komunis sebagai musuh bersama. Di era Orde Baru sendiri, pemerintah memiliki ambivalensi dalam bersikap dan bertindak secara politik.Walaupun disisi lain pemerintah Orde Baru patut untuk menghaturkan rasa terimakasih sebesar-besarnya atas bantuan kelompok muslim yang telah membantu membumi hanguskan eksistensi komunis di Indonesia, tapi disisi lain pemerintah berusaha untuk melumpuhkan pengaktifan kembali Masyumi yang ditakutkan berpotensi mengancam status quo. Upaya untuk meredam legitimasi politik Masyumi kemudian dibuktikan dalam ajang pemilu yang menunjukan bahwa pada pemilu tahun 1971, 1977 dan 1982 jumlah pemilih partai Islam yang sebelumnya pada tahun mencapi 50% kemudian menurun menjadi 30%. Upaya mengkebiri hegemoni partai Islam kemudian dilancarkan dengan slogan Islam Yes, Partai Islam No!.

Sekali lagi kelompok muslim yang terutama duduk pada kursi-kursi kelompok elitis teralienasi dari realitas politik dan ekonomi. Apalagi pada tahun 1970, terdapat tantangan baru lagi yang harus dihadapi agar tetap bisa mempertahankan eksistensi mereka. Tantangan tersebut adalah dengan merasuknya paradigma modernisasi yang mensyaratkan adanya kecenderungan menuju model sekularistik. Pada tahun-tahun tersebut pemerintah juga mengharuskan semua partai untuk menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal. Menunjukan bahwa pemerintah yang pada saat itu ingin mempertahan status quo mencoba menggali benih-benih yang cenderung mengarah ke sekularistik dengan perlahan-lahan memadamkan api ideologis partai Islam.

Pada realitas politik hari ini, pasca Orde Baru, setelah agenda reformasi berada dalam tahap perampungan secara terus menerus. Terjadi degradasi dalam pemilihan umum. Jikalau pemilu pada Orde Lama adalah pemilu ideologis dan pemilu pada Orde Baru adalah pemilu yang daya tariknya pada partai, maka pemilu di era Reformasi daya tariknya adalah pada figur. Tidak heran wacana mengenai kehadiran seorang Ratu Adil atau yang dikenal dengan sebutan Satrio Pininggit di negeri ini selalu mencuat di setiap momentum menjelang pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden. Kelompok muslim sendiri sebagai kelompok yang secara historis memiliki kekuatan besar dan melatarbelakangi lahirnya kemerdekaan Indonesia kemudian mulai tergerus ideologinya beralih ke paradigma pragmatisme. Hal ini dibuktikan dengan seringkalinya terjadi koalisi antara partai Islam dan partai Kristen di Pemilu pada wilayah tertentu. Belum lagi sering terjadi kasus-kasus korupsi yang menimpa partai Islam, entah itu korupsi sapi, dana haji maupun korupsi dana al-Quran. Jikalau pada Orde Lama jumlah suara partai Islam adalah 50% , pada Orde Baru 30 %, maka pada era reformasi lewat data dari pemilihan umum tahun 2014 jumlah suara gabungan partai Islam hanya mencapai tidak lebih dari 20%. Dengan demikian terbongkarlah mitos bahwa demokrasi yang dilaksanakan pada negara dengan mayoritas warga negara muslim dapat membuat instabilitas demokrasi di negara tersebut.

Hal ini menunjukan bahwa kelompok-kelompok Islam yang terhimpun dalam organisasi maupun partai politik perlu melakukan kontemplasi panjang dalam rangka merekontruksi kembali landasan ideologis sehingga bisa kembali merebut kepercayaan masyarakat. Jikalau tidak, maka eksistensi partai Islam harus merima diri tergusur dari realitas politik serta sosial yang semakin hari semakin mendambakan negara sekuler seutuhnya akibat kekecewaan terhadap predikat Islam yang begitu sering dipolitisasi. Selain itu patut untuk direnungkan secara mendalam kritik Nurcholis Madjid yang menggembar-gemborkan slogan Islam Yes! Partai Islam, No! Karena Nurcholis Madjid melihat bahwa telah terjadi disparitas antara nilai-nilai yang dicita-citakan dalam Islam dan realitas objektif yang terjadi, atau sederhananya, terjadi ketimpangan antara das sein dan das sollen.

 

Minggu, 24 September 2023

JANGAN MERASA PALING ISTIMEWA; MENYERAHLAH, HIDUP SUDAH ADA PEMENANGNYA


Apakah kamu merasa bahwa kamu diciptakan untuk tujuan besar tertentu? Bahwa ketika kamu dilahirkan, misi hidupmu ditulis untuk mengatasi sesuatu yang besar dan tiada tara derajatnya. Apakah kamu merasa mempunyai peran penting dalam sebuah episode rangkaian panjang sejarah peradaban manusia? Apakah kamu dianggap istimewa dalam beberapa hal atau sudut pandang?

Kamu mungkin merasa bahwa istimewa, setidaknya dalam lingkaran sosial yang sempit, kecil, dan terbatas. Memang keistimewaan tak lebih dari ukuran atom jika dilihat melalui mikroskop raksasa. Kamu hanyalah sebuah partikel jika dilihat dari peta, atau dari bola dunia, atau dari peta alam semesta. Kamu bukan siapa-siapa.

Keistimewaan, bagi Mark Manson adalah tirani yang kerap mendominasi pikiran kita dengan tangan besi. Setiap orang setidaknya mengira ada konsep khusus yang ada di alam semesta ini. Mungkin kita menganggap diri kita istimewa, atau agama kita, atau ideologi kita, atau wilayah kita, atau negara kita, atau orang tua kita, atau anak-anak kita, atau ras kita, ataupun suku kita.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Memang cara berpikir yang mengistimewakan sesuatu sama saja dengan cara orang-orang kafir terdahulu memahat berhala-berhalanya. Semakin sering kita mengatribusikan hak istimewa pada identitas tertentu, semakin besar khayalan menjadi tuhan, yang menjadi tirani dalam kesadaran dan bahkan alam bawah sadar kita. Semakin banyak titik buta hitam pekat yang menutupi kewarasan kita dengan kabut ilusi yang kotor.

Harari membahas sesuatu yang menarik tentang hal ini. Hanya karena Charles Darwin dan George Mendel beragama Kristen, tidak berarti biologi termasuk dalam agama Kristen. Hanya karena Albert Einstein adalah seorang Yahudi yang bahkan memberikan dukungan politik terhadap kebangkitan Zionisme tidak berarti Fisika adalah penemuan Yahudi. Islam tidak dibicarakan oleh Harari mengenai hal ini. Barangkali profesor botak itu kebingungan ketika mencari inovasi ilmiah yang dipelopori umat Islam.

Meski begitu, masih banyak cendekiawan Muslim konservatif yang menjunjung tinggi penemuan ilmuwan Islam kuno yang masih mereka banggakan hingga saat ini. Seperti ilmu matematika yang diciptakan oleh Al-Jabbar, risalah sejarah Ibnu Khaldun yang menginspirasi para sejarawan Barat, Ibnu Rusyd yang mempengaruhi hadirnya sekularisme, Al-Kindi yang terkenal sebagai seorang alkemis hebat, dan masih banyak lagi. Namun, meniru intonasi Harari, matematika, sejarah, sekularisme, alkimia, bukanlah penemuan Islam. Tidak ada matematika Islam, sejarah Islam, (khususnya) sekularisme Islam, dan alkimia Islam. Dan jika kita dapat menambahkan lebih banyak olok-olok terhadap ibadah khayalan ini, kita dapat mengutip Bertrand Russel dari pamfletnya yang terkenal, History of Western Philosophy (Sejarah Filsafat Barat): “Ilmuwan Islam tidak menciptakan apa pun. Mereka hanyalah komentator yang hebat.”

Tapi kita harus mahfum, kupas selapis demi selapis bawang merah kesadaran kita meski akan membuat pelupuk mata kita meneteskan air mata, bahwa dunia fisika akan tetap berputar meski Yahudi bukan porosnya, bahwa biologi akan tetap berputar meski Kristen menjadi porosnya. bukan porosnya, dan seterusnya dan seterusnya.

Kami bukan apa-apa. Kita hanyalah remah-remah kecil dari jalan yang sepi, yang kita coba beri makna, yang kita coba hargai sebagai sesuatu yang istimewa, yang pada kenyataannya tidak ada apa-apanya. Kami tidak istimewa.

Barangkali, dunia hari ini merupakan gema dari zaman terdahulu, kamu harus berpikir bahwa neraka adalah orang lain, dan kamu tidak berguna. Menyerahlah hidup yang tidak dipertaruhkan akan membuat kita tidak kalah taruhan.

Senin, 10 Juli 2023

Reminisensi



Akhir-akhir ini jariku tak lagi berbenah. Suara-suara papan tik tidak lagi seperti di masa-masa dahulu, ketika gairah dalam tungku dadaku bergetar. Ruang tempatku tinggal, waktu yang berputar mengelilingiku, orang-orang yang aku pedulikan, tak lagi memancarkan warna yang dapat ku tangkap dengan kata-kata.

Padahal, dahulu kata-kata seperti kupu-kupu di tengah taman rahasia yang tersimpan rapi di dalam benakku. Kini kok rasanya makin hambar saja. Aku memang masih menulis, masih melahirkan kata-kata dalam batok kepalaku. Tapi, yang lahir hanya kata-kata seperti menyalin apa yang ku lihat dan ku dengar.

Di ujung tulisan ini, aku mengerti bahwa kesendirian dan kesunyian adalah dua hal yang berbeda. Kesunyian merupakan solilokui paling hangat, percakapan dengan diri sendiri. Juga merupakan proses bercengkrama batin. Tahun ini banyak pelajaran yang didapat. Kehilangan, kesabaran yang setipis lubang jarum di permulaan umut ke-23 tahun, semua demi kalimat penghiburan yang menjelma sebagai ungkapan terima kasih kepada diri, karena sudah mau berjuang sampai sini.

Terima kasih, karena tidak putus asa setiap kali kesempatan untuk berputus asa itu ada, untuk tidak menyerah ketika situasi tampaknya tidak memberi pilihan lain, untuk terus mencari-cari cara agar tidak kehilangan daya bahagia. Tahun ini seperti warna hujan asam dan arang awan. Tapi akhirnya belajar seratus musim panas bisa tumbuh dalam dada bila mau percaya tidak ada yang bisa menerima kita apa adanya selain diri sendiri.

Percayalah, apa yang tidak bisa membunuhmu akan membuatmu lebih tangguh. Tuhan memberikan tahun yang tak tertahankan sulitnya, tapi tidak memilih tunduk dan takluk. Atas dedikasi seperti itu, aku berterima kasih berkali-kali.

Tetap sehat dan kuat, dan terima kasih sudah berjuang. Semoga selepas 22 Tahun pergi, kita sudah bersedia menjadi diri kita dalam versi yang paling kita sukai.

waktu adalah pandai besi yang adil, ia memahat sesuatu yang temporer lewat kenangan dan kamera. ingatan mencacah titik demi titik, membentuk garis yang tak kita izinkan patah karena interupsi. agar apa yang ditabung dalam benak kita, tidak selalu pecah air mata. setiap pembacaan akan masa lalu selalu mengandung ekspektasi ke masa depan: agar tradisi bisa umur panjang, lolos dari kemajuan yang sukar ditolak.

Mengulah hari kelahiran untuk ke -23 kalinya

Sabtu, 01 Juli 2023

BAPAK DAN RINDU YANG DIRAHASIAKAN



Salah satu wajah yang paling mudah diingat adalah wajah bapak. Namun, berbeda dengan Elektra kompleks (oposisi eedipus kompleks) antara anak perempuan dan ayahnya, hubungan antara anak laki-laki dan bapaknya adalah hubungan yang berbelit-belit, kadang diselimuti keangkuhan yang hangat, dan kerap bersembunyi dibalik sosok ibu sebagai perantara cinta masing-masing. Bahkan, untuk menyebut kata “cinta” atau “rindu” kepada sosok bapak, bisa membuat seorang lelaki kelu.

Bahasa laki-laki, cinta merupakan sesuatu yang feminism sebagai kata-kata. Justru karena itu, laki-laki menjadikan diam sebagai perisainya. Cinta seorang laki-laki justru diaksentuasi lewat laku dan tindakan.

Pada novel klasik rusia dari salah satu sastrawan dari negeri itu yang berjudul “Ayah”, yaitu Ivan Turgenev, kita dapat membaca hubungan kebatinan yang berkelindan antara seorang anak dan seorang ayah. Dalam ketegangan antara gaya berpikir nihilistik dan aristokrasi yang coba diangkat sebagai dialektika gagasan, kita dapat temukan  sosok bapak yang diam-diam selalu khawatir anak-anaknya tak dapat menemui mimpi dan cita-citanya. Dalam tradisi feudal dan patriarki rusia pada abad itu, mengekspresikan cinta sebagai seorang laki-laki adalah kutukan yang membuat laki-laki terbelenggu egonya sendiri. Sampai hari ini pun, kita menerima warisan belenggu itu. Dengan demikian patriarki bukan sekadar permasalahan perempuan.

Relasi seorang anak laki-laki dan bapakknya memang tak gampang dijelaskan. Lagu karya Iwan Skuter “bapak”, sejauh ini lagu yang mengekspresikan kerinduan dan rasa kasih, melemaskan sedikit ego dan rasa malu sebagai laki-laki, lagu itu mewakili ego yang tak dapat diakui oleh banyak laki-laki di muka bumi ini.



Sang Penakluk

Senin, 12 Juni 2023

JELAJAH JIWA HAPUS STIGMA


Bunuh diri adalah sesuatu yang kompleks, yang sangat personal. Sejak tahun 2020, bunuh diri sudah menjadi salah satu yang menagih rasa penasaran besar. Kala itu pagebluk sedang memerangkap kita dengan kuncitara. Berita bunuh diri, kesepian, dan kesedihan karena isolasi, dan mimpi buruk. Membuat rasa penasaran tentang apa motif dasar seseorang bunuh diri.

Seperti sabda Durkheim, tindakan individual beruba bunuh diri tidak terlepas dari pengaruh eksternal atau pengaruh sosial. Durkheri membagi empat jenis bunuh diri: pertama; Bunuh diri Egoistic: di mana terjadi karena kurang kuatnya integrasi sosial, isolasi radikal apalagi. Kedua; bunuh diri demi masyarakat, semisal bom bunuh diri. Ketiga; Bunuh diri anomik, terjadi di masyarakat yang tak mengenal norma. Keempat; bunuh diri fatalistic, di mana bunuh diri yang terjadi karena aturan suatu Negara atau masyarakat terlalu ketat dan membelenggu.

Secara metode, ada perbedaan yang sangat mencolok dalam bunuh diri antara laki-laki dan juga perempuan. Laki-laki cenderung keras, seperti menembak pistol, gantung diri, ataupun loncat dari lantai tinggi sedangkan perempuan bisa berupa menenggelamkan diri atau sekadar minum racun seperti yang Romeo kira dilakukan oleh Juliet. Di titik ini, aku penasaran metode apa yang akan dipakai jika Lucinta Luna bunuh diri? Apa mungkin ia akan loncat dari Burj Kalifa sambil menegak arsenic.

Selain itu juga, kalau jombloh punya resiko bunuh diri dua kali lipat ketimbang orang yang sudah menikah. Sedangkan seorang duda atau janda punya resiko bunuh diri empat sampai lima kali lipat bunuh diri ketimbang yang sudah menikah. Ini artinya, kalau mau selamat dari diri sendiri, menikahlah, kalau mau lebih selamat lagi usahakan jangan cerai. Lebih baik bunuh istri sendiri dari pada cerai.

Dari banyak wawancara (keluarga, teman kuliah, sampai mantan pacar), masalah utama yang membuat mental ikut terbentur adalah, kenyataan bahwa bunuh diri bukan hanya masalah individual, tapi masalah bagi keluarga yang ditinggalkan. Ada survivalitas yang tak gampang bagi keluarga yang ditinggalkan. Bunuh diri mewariskan penyesalan tak berkesudahan bagi keluarga, yang tak rasa penasaran terhadap motif bunuh dirinya bahkan tak diketahui, dan dengan penuh sesal mereka ada yang menghukum diri sendiri secara berlebihan karena tidak mengenal anggota keluarganya sendiri. Bunuh diri bukan sekadar masalah individual, tapi masalah komunal.

Pencegahan bunuh diri bukan hanya sekadar melindungi calon korban bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya, tapi juga melindungi keluarga yang ditinggalkan dari rasa bersalah yang radikal dan suram. Bunuh diri adalah sesuatu yang amat kompleks dan personal, yang tak boleh direduksi dalam dikotomi dosa oleh orang yang sok tahu serta sok lebih bermoral.   


Sang Penakluk

12 Juni 2023


Minggu, 09 April 2023

HASRAT



Mungkin kita pernah sedikit tersadar, mengapa pola hidup kesenangan yang berlebihan tak kunjung juga kita lepaskan. Meskipun kita tahu bahwa itu tidak baik. Kita lebih memilih untuk berada dalam area kesenangan yang berlebih-lebihan meski itu memberi dampak buruk bagi diri. Terlalu seringnya kita berkomitmen pada diri sendiri untuk berhenti dari pola hidup ini, namun iblis lebih gigih dengan komitmennya untuk memanjakan hasrat manusia.

Iblis adalah makhluk paling konsisten dengan prinsipnya sejak dia diusir dari surga sampai hari ini. Ia dengan optimisme dan kegigihan yang luar biasa telah menjerumuskan umat manusia jauh masuk ke gerbang menuju gerbang neraka. Kesenangan yang berlebihan adalah salah satu cara ia membujuk, dan sekali kita masuk ke dalam perangkap jahat yang ia balut dengan manis itu, maka semakin sulit kita keluar. Akhirnya manusia hanya berputar di tempat yang sama, rantai setan.

Mungkin beberapa orang pernah merasakannya atau bahkan sementara mengalaminya. Perhatikanlah pribadi diri, apakah diri kita cenderung ingin memuaskan diri yang pada hakikatnya tidak akan pernah terpuaskan? Senantiasa mencari pemuas hasrat meski manusia itu tak akan pernah puas. Satu-satunya yang kita dapatkan adalah hanya hampir mendapatkan kepuasan. Rasa penasaran menguntit hati kita Ketika kita ingin mencapai kepuasan yang sama, demi memuaskan rasa penasaran itu manusia mau menukar moral mereka dengan duniawi yang fana. Ironisnya, yang diraih hanyalah hampir mencapai kepuasan yang malah lebih membesarkan rasa penasaran untuk mencapainya.

Dengan memupuk dendam dalam jiwa adalah salah satu Langkah awal untuk memulai rantai setan. Dendam hanya akan melahirkan dendam yang baru. Sejarah telah mencatat bagaimana bangsa Yahudi memupuk dendamnya sejak ia pertama kali diusir dari kaum Bani Israil yang lalu mewariskan dendam baru ke keturunannya hingga zaman ini.

Manusia lalu mengalami apa yang dikatakan Aristoteles, “emanasi semakin melemah Ketika jauh dari sumbernya”. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kewajiban terhadap sang pencipta mulai melupakan apa saja yang harus dilengkapi sebagai kewajiban. Sebab, iblis telah membangun satu dinding yang membuat kita lupa kepada siapa kita akan Kembali.


30 hari menulis buruk

day 14


Sabtu, 08 April 2023

KESENANGAN YANG BERLEBIHAN ADALAH AKAR DARI KEJAHATAN



Manusia merupakan mahkluk yang diciptakan penuh kelemahan. Salah satu kekurangan manusia sekaligus kelemahan terbesar yaitu hasrat. Bagaikan arus sungai deras yang selalu mendominasi hidup manusia, hasrat menguasai setiap tindakan, sikap dan cara manusia berpikir. Sejak awal manusia telah digulir kea rah jurang yang nyata saat peristiwa buah khuldi dan hingga hari ini peristiwa buah khuldi itu masih saja berulang kali terjadi. Bukan berarti manusia tidak pernah belajar dari pengalaman, manusia telah memahami kesalahan yang dilakukan nenek moyang mereka dan mereka dengan sadar menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam jurang yang sama. Bukan karena jurang yang terjal ini adalah sebuah ketakutan, karena tidak mungkin iblis membuat jebakan tanpa dibungkus secara manis dan nikmat.

Kecenderungan manusia untuk selalu memuaskan hasratnya ini disebut Hedonisme. Suatu pemahaman yang mengagungkan kebahagiaan dan kesenangan, kita dapat menyebut ini seperti sebuah wabah yang menyebar secara besar-besaran di panggung global. Tak pelak lagi seiring berkembangnya tuntutan zaman semakin terbaharui pula kebutuhan manusia. Jika ada orang yang mengatakan bahwa kita beruntung hidup di era di mana semuanya serba praktis dan mudah maka aku akan tersinggung karena menurutku, tepatnya ini adalah era di mana konsumerisme mengendalikan otak manusia demi memuaskan kebutuhan material individu yang lalu meracuni kehidupan banyak umat bahkan dengan berkedok ilmu pengetahuan dan teknologi. Semuanya semata-mata untuk saling memuaskan, dan tanpa disadari, manusia kehilangan hakikatnya sebagai manusia di muka bumi ini.

Seakan-akan tidak mungkin terelakan, bagaimana virus hedonism itu merasuk lalu merusak ideologi kita. Bagai tersihir, kita masuk ke zona yang dikutuk dan melupakan fitrah diri sebagai mahkluk yang harus melaksanakan kewajiban. Pada sebuah buku dikatakan, ada seorang biarawati di awal abad ke-19 di Prancis mengatakan “bahwa manusia diciptakan dengan pilihannya sendiri dan semua umat manusia berhak untuk bersenang-senang sesukanya dengan jaminan dia tidak boleh melupakan kewajibannya sebagai mahkluk sehingga tercipta keseimbangan tanpa adanya dominasi duniawi dan surgawi. Aku sangat menghargai argument perempuan ini karena mencerahkan sedikit kegelapan dalam kegalauanku.

Pada pandanganku, kesenangan yang berlebihan adalah akar dari kejahatan dan aku yakin semua orang setuju akan hal itu. Banyak hal buruk yang terlahir dari kesenangan yang berlebihan. Tamak, rakus, sombong dan lain sebagainya kian merasuk pribadi manusia dan merusak fitrahnya. Bila Tuhan ingin manusia menyembahnya kenapa harus diciptakan kenikmatan duniawi? Bukankah ini lah penyebab manusia murtad dari Tuhannya? Aku akan berspekulasi bahwa kenikmatan yang kau sediakan di dunia harusnya digunakan dengan bijaksana dan mungkin itulah esensinya. Untuk senantiasa terjaga dari sikap yang berlebih-lebihan.

Aku pun tidak muluk-muluk, aku adalah orang dengan segudang kebutuhan sekaligus membenci pola hidup yang berlebihan. Memang benar bahwa lawan paling besar manusia itu dirinya sendiri. Untuk memenangkan kompetisi dunia, aku harus menjinakan kebutuhan hasratku terlebih dahulu.  


30 hari menulis buruk.

day 13

Minggu, 02 April 2023

LUPA ADALAH LUKA BAGI INGATAN

 


Beberapa detik yang lalu, ingatan mengangkat wajahnya, menatap mata ku dengan mata seterang bulan. “lupa adalah luka”, aku mengulangnya dalam benak: “lupa adalah luka bagi ingatan. Suasana kemudian menjadi bisu Kembali. Pelan-pelan, suara loteng berderap kecil. Hujan akhirnya turun dan percakapan singkat tadi seolah-olah ikut menguap Bersama aroma tanah. Sekilas orkestrasi hujan dan dentimh loteng di luar kamar, aku melihat ada senyum tipis yang sedikit mekar di pipi ingatan. Aku masih tidak mengerti ia. Ingatan adalah mahkluk yang misterius.

Mahkluk misterius ini Bernama ingatan, entah kapan ia pertama kali muncul dalam otak. Ia seperti kelinci yang sekonyong-konyong keluar dari topi pesulap. Salah satu menerka usia ingatan adalah mencari tahu pengalaman pertama yang bisa ia terka Bersama ku.

Kadang-kadang ingatan bisa menjadi sangat tak tertebak. Ia bisa menjadi tumpukan kartu yang sudah terkocok sehingga kita tahu cerita apa yang akan muncul di sana. Ia bekerja dengan cara yang bahkan ia sendiri tak mengerti. Ada saat-saat di mana ingatan sangat sedih. Ia sangat tertutup kepada ku. Pernah aku menatap mata ingatan: warnanya temeram, sedikit lindap. Satu-satunya Bahasa yang bisa ingatan pahami dalam saat-saat seperti itu Cuma air mata. Barangkali kita memang perlu merayakan kesedihan dengan cara sejujur-jujurnya.

Belakangan ini, ingatan sudah baik-baik saja. Keramahan di pipinya sudah Kembali. “aku senang, kau sudah baik-baik saja sekarang. Pasti sulit melupakan hal-hal yang bahkan tak dapat kau bicara itu.

Memang sulit untuk menjadi baik-baik saja seperti sekarang, ingatan membalas tanpa menengok ku sama sekali. “tapi lebih sulit untuk melupakan.


30 hari menulis buruk.

day 12

Sabtu, 01 April 2023

WAKTU MERUPAKAN PANDAI BESI YANG BIJAKSANA

 


Waktu adalah pandai besi yang bijaksana, orang-orang kadang terpedaya oleh kebahagiaan palsu, yang akhirnya menghancurkan mereka sendiri.

Kala itu, aku pernah melepas sesuatu yang telah dua tahun menemani petualangan ku, melepas hal itu, seperti kehilangan salah satu organ tubuh ataupun kehilangan salah satu indera. Pernah pada suatu malam, kesepian merajam-rajam tanpa belas kesihan. Namun, begitulah kadang perlu kehilangan banyak hal untuk menyadari kita tidak butuh banyak dalam hidup.

Kala itu, aku belum tahu kalua kehilangan adalah rute kita menemukan sesuatu yang lebih penting daripada memiliki seluruh isi bumi. Aku menemukan diriku dengan wajah yang kanak-kanak seceria kuning pagi yang langsung memeluk kaki ku.

Aku pun sadar kalua menyukai seseorang kita menyukai diri sendiri adalah kesalahan yang tidak bisa dibiarkan. Aku adalah korban dari kecerobohan itu. Kehilangan lantas sepersis wajah orang tua berjenggot putih tebal, menjadi bijaksana dihadapan ku. Pelan-pelan ia bergradasi dari warna hitam jurang yang menjadi cahaya-cahaya kecil seperti kunang-kunang.

Bahagia itu ternyata kita yang buat. Tombolnya terdapat pada dalam diri kita yang perlu sedikit usaha dan ketelitian mencarinya. Terlalu lama menjadikan orang lain sebagai standar menjalani hidup membuat kita lupa kalua kekuatan dan keberanian selalu berasal dari dalam diri.

Memang tidak nyaman mencari tombol kebahagiaan itu. Ada banyak lapisan ego yang perlu kita damaikan, ada kegelapan yang mencolok mata, ada jurang Bahasa yang perlu didamaikan dalam diri. Aku menyebut proses ini sebagai kenalan dengan diri sendiri. Mengenal lebih dekat dan dekap anak kecil seceria kuning pagi yang tumbuh dalam diri. Membuat aku mahfum, “kehilangan dan menemukan itu ternyata beriringan, kita tidak dapat menerima yang terakhir tanpa menerima yang pertama.

Pada akhirnya, kesendirian adalah sebaik-baiknya rumah yang paling setia, seperti kata Nietzsche dalam sabda Zarathustra. Kesendirian adalah satu-satunya yang tak akan bisa menghianati kita bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun.

Aku percaya bahwa waktu adalah pandai besi yang bijaksana, ia akan berkali-kali mengizinkan kita dilahap api dan dipeluk sungai es, ia kan berkali-kali membuat kita terbentur, terbenur, lalu terbentuk menjadi manusia paling bahagia dengan kesendiriannya.

 

“O kesendirian, rumahku! Aku telah hidup liar terlalu lama di negeri-negeri asing untuk bisa Kembali padamu tanpa air mata!” (Sabda Zarathustra).


30 hari menulis buruk

Day 11

Jumat, 31 Maret 2023

IBU: JARAK MENGASAH RINDU TETAP LEMBUT


Cinta adalah kata kerja yang benci menyerah,

empat tahun silam aku melihat kau mekar sempurna sebagai kupu-kupu kaca. Dengan kepala tertunduk, kau melintasi satu kalender ke kalender berbeda, berlari melupakan dunia sampai kau lupa cara berlari.

Perempuan itu layaknya dalam taman imajiner berhias megah kesunyian, kau melintas dengan sayap-sayap kertas berasal dari buku kegemaran ku.kita menyeduh secangkir absurdisme, dikelilingi musik klasik dari kucing pemain biola dan bunga matahari yang senang menari.

Semua perempuan adalah dewi kali. Di kulitnya kita petik kehidupan dan di rahimnya kematian akan pulang, kita mencintai kehidupan sebesar kita membenci kematian. Kita mencintai perempuan sebesar kita membencinya. Sebab apa yang paling mungkin kita cintai adalah apa yang paling mungkin melukai kita. Cinta seperti tiket VIP untuk akses ekslusif ke sisi paling rawan dari dalam diri. Kita pun tak bisa memilih kepada siapa hati ini harus dijatuhkan.

Kala itu, perempuan dengan mata sayu itu selalu senang mendekorasi rumahnya, aku melihat ada empat ruang yang paling ia suka: ruang depan, ruang tengah, dapur, dan ruang belakang.

Barangkali hidup adalah doa yang Panjang, ataupun antrian yang Panjang, segera setelah ku temukan bintang yang kutahajudkan di kedua matamu, tak akan kulepaskan kau dari lengan  meski berhadapan dengan berkali-kali lipat bahaya.

Hari ini ibu, aku tak mau kau menangis. Pada suatu tahun yang tidak aku tahu, harapan memang pernah melukai lengan kiri mu dengan air mata. Tapi hari ini, aku tidak ingin kau menangis, setidaknya sebelum hari ini beranjak. Aku tak ingin bicara lebih banyak. Tapi ku harap kau tahu, betapa besar rasa syukur mengetahui perempuan sepertimu pernah lahir di dunia ini.

Aku ingin menanam doa yang seharum seruni dan seluas bumantara untuk kebahagiaan-kebahagian yang jauh menanti di masa depan. Marathon kita masih Panjang, lebih pelitlah pada kesedihan. Aku akan belajar lebih giat melucu agar rengut pipimu pergi jauh-jauh. Waktu lebih sukar dihabiskan dengan harapan yang keras kepala.

 Jarak ini selalu mengasah rindu tetap lembut, jarak merupakan tungku, menghangatkan lengan agar siap mendekap sesuatu yang jauh.


30 hari menulis dengan buruk

Day 10 

Kamis, 30 Maret 2023

THE JACK KOPI


 Kopi punya sejarah sehitam warnanya. Gubernur mekkah pernah mengharamkan kopi pada tahun 1511. Saat itu namanya qahwa. Minum kopi punya efek yang sama dengan minum arak, efek dari kopi dapat menyebabkan semangat yang berlebihan dan susah tidur. Karena arak haram maka kopi pun diharamkan. Warga Mekkah harus menikmati kopi secara diam-diam. Para penjual kafein harus melakukan transaksi secara hati-hati.

Ternyata ada zaman di mana ba kopi sama deng ba gate.

Aku tidak bisa membayangkan betapa sulitnya saat itu untuk menyeruput segelas kopi, harus melakukan transaksi secara diam-diam, di gang-gang sempit yang tak kelihatan oleh orang lain. Bahkan di abad ke-17 di Turki, Sultan Murad IV bukan hanya mengharamkan, tetapi menjatuhkan hukuman mati untuk warga yang kedapatan minum kopi. Aku yang hidup di zaman ini sangat bersyukur bisa menyeruput kopi dengan bebas sambil menghisap roko a-plus kesukaan ku.

Padahal kedai kopi menjadi ruang publik pendatang baru. Di dalamnya orang berkumpul, diskusi, mendengar syair dan bermain catur. Kedai kopi menandai aktivitas intelektual yang kuat, sehingga menjadi saingan sengit masjid sebagai tempat beraktivitas. Bahkan beberapa ulama mengkritik keras kedai kopi karena dianggap lebih jahat dari tempat minum arak.

Namun walaupun dipersekusi berkali-kali, kedai kopi lolos dari intaian kematian. Seleksi alam akan memilih siapa yang layak bertahan hidup dari goncangan zaman. Agama dan politik ternyata tidak lebih tangguh dari kopi. Kedai kopi tetap berdiri, dan sebagaimana gen, ia akan berlipat ganda, memperbanyak keturunan, mewariskan kebenaran dari satu cangkang ke cangkang lain. Ia bisa menetas sebagai eksistensialisme Prancis abad ke-20 atau Jack Kopi abad ke-21.

Jack Kopi sebagai ruang publik menjadi sarang parrhesia. Sesuatu yang oleh Foucault disebut “keberanian menyampaikan kebenaran meski dihantui resiko bahaya”. Proses diskursus Jack Kopi terbuka untuk siapa saja: pembeli, penjual asongan, aktivis, intelektual, pengamen, politisi, dan masih banyak lagi. Jack Kopi tidak sekadar menawarkan ruang, tapi juga kebiasaan: Jack Kopi menawarkan nilai komunitas, di mana orang berdialog dan berdebat dengan semangat demokrasi radikal. Di mana semua orang bebas berpendapat, sembari melindungi hak semua orang untuk bebas berpendapat.

Jack kopi merupakan suatu upaya untuk membuka pemikiran yang baru. Dengan menggunakan konsep ruang publik Jurgen Habermas, kita akan melihat Jack Kopi sebagai ruang interaksi dan bagaimana mereka membentuk bisnis, kehidupan dan tradisi masyarakat. 


Jack Kopi menawarkan kita cara untuk melihat hubungan kita dengan dunia yang lebih besar dan melihat bahwa terkadang pilihan kita sebenarnya bukan milik kita sendiri. 


Jack Kopi menjadi saksi dari banyak hubungan yang telah dibangun. Banyak orang yang nyaman di sini "untuk berbicara, menangis, tertawa, bersantai, menyelesaikan masalah, atau sekadar menyendiri. 


Menikmati kopi di "Jack Kopi" bukan hanya sekadar menikmati kopi biasa, ketika seseorang mengajak anda duduk dalam satu meja untuk minum kopi, itu bisa jadi murni sosial, bisa juga tentang bisnis, politik, atau bagaimana kita tetap terhubung dengan orang lain. 


30 hari menulis buruk

Day 9

Rabu, 29 Maret 2023

KEDEKATAN MENIMBULKAN KEDENGKIAN

 Manusia merupakan makhluk yang senang mengejar sesuatu. Ia akan mengejar sesuatu yang dia anggap bernilai istimewa di mata dia. Katakanlah kecantikan, karir, kekayaan popularitas, dan sebagainya. manusia sebagaimana kata Alain de Botton, “manusia modern memang senang diperhatikan sesuai dengan posisinya dalam stratifikasi sosial. Karena itulah kita akan mengejar impian kita meski harus sampai ke ujung dunia.

Kita semua tinggal dalam dunia yang mendewakan kebaikan material. Saat-saat seperti ini, uang berada, uang berada di pucuk hierarki nilai yang hendak di tuju. Kita semua tampak seperti materialistis yang serakah, tapi kata Alain de Botton, “kita sebenarnya tidak gila akan materi, hanya saja masyarakat kita mengaitkan kepuasan emosional dengan  kepemilikan material” singkatnya, bukan materi yang kita kejar tetapi ganjaran kepuasan ketika memiliki materi itu.

Dengan jenaka Alain de Botton berkata, “bila kita melihat seseorang membawa ferari, jangan lihay orang tersebut sebagai serakah. Berpikirlah bahwa dia seorang yang sangat rapuh dan sangat memerlukan kasih sayang, berempatilah kepada mereka, yang memamerkan barang-barang mewah atau pucuk prestasi khas materialistik di gerai raksasa bernama media sosial.

Namun di samping persoalan usaha mendaki pucuk karir dan pameran ketelanjangan di media sosial, persoalan lain umat manusia moder ini adalah rasa iri dan destruktif dari dalam.

Di titik ini, aku teringat lelucon Boris dan Igor. Kedua itu adalah petani rusia miskin yang bertetangga dalam waktu yang lama. Suatu hari, Boris memperoleh rezeki berupa satu ekor keledai. Karena Igor tak memiliki keledai seperti boris, Igor pun dengki lantas berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhan, semoga keledai Boris raib” aneh sekali betapa Igor lebih ingin tetangganya kehilangan rezeki ketimbang berdoa semoga dia punya keledai yang sama dengan Boris. Orang memang ingin jadi setara meski itu artinya nasib mereka sama-sama tidak beruntung, mungkin memang benar seperti ungkapan pinker, “kita lebih baik jadi komunis tak setara daripada kemungkinan sama-sama kaya dalam atmosfer kapitalisme.

Pada akhirnya bahwa semuanya berawal dari kedekatan. Semakin kita merasa akrab dam dekat dengan seseorang, semakin besar kemungkinan kita terjerumus dalam kedengkian hati. Ini juga yang menyebabkan kita tidak iri kepada orang lain yang statusnya sama dengan kita.


30 hari menulis buruk. 

Day 8


Selasa, 28 Maret 2023

MATA YANG TERLATIH MENGGALI INGATAN

 


Hiruk pikuk kehidupan membawakan manusia pada rasa bersalah akan yang pernah ia lakukan kepada seseorang. Selepas hujan reda, di malam ke-7 bulan ramadhan ini secara tak sengaja aku membuka handphone ku, sebuah pesan dari masa lalu yang menimbulkan tanya, “aku minta maaf”, sebuah kata  minta maaf itu benar-benar tertulis di kontak sosial media itu, aku sentak terheran, minta maaf itu benar-benar upaya yang sulit, jadi kenapa harus repot-repot membuat janji yang tak berniat ditepati? Kenapa harus repot-repot menanam harap pada orang lain kalau tidak mampu bertanggung jawab dengan ekspetasi orang itu? Kenapa perlu membuat sakit hati orang lain kalau tidak siap diborgol rasa bersalah itu?

Aku percaya betul, ia datang bukan intensi minta maaf, ia hanya mau aku membebaskan dia dari rasa bersalah, permohonan itu hanya ekspresi ketidakberdayaan dia dari rasa bersalah yang korosif dalam mental.

Kedatangannya bak bola liar yang menggelinding dengan cepat ke arah ku, yang membuat aku mahfum “kalau memaafkan dan membebaskan seseorang dari rasa bersalah adalah dua hal yang berbeda”. Memaafkan adalah suatu perkara sulit jika sebuah luka yang diberikan sangat menyakitkan. Aku mungkin bisa berkata bahwa telah memaafkan perempuan itu untuk supaya ia bisa terbebas dari rasa bersalahnya, namun kata-kata palsu itu terasa tidak adil untuk ku. Kata-kata itu justru jadi berat di lidah untuk hal sepersonal ini.

Pada akhirnya pikir ku, “tidak apa-apa aku tidak bisa memaafkan sekarang, namun apakah aku membenci perempuan itu?” Aku tidak lagi membenci mu, setelah proses pergulatan sampai hari ini, tidak pernah aku mengalami lompatan perubahan perspektif seintens ini,  seperti ada revolusi yang bekerja dari dalam diri. Aku justru terlatih memetik hikmah rahasia di tiap peristiwa traumatis, lalu aku menyadari rasa syukur sangat langkah, karena ia tercecer di tanah-tanah tandus yang angker. Dan tragedi pada akhirnya hanya komedi yang tertunda.

Belum bisa memaafkan mu, memang itu tidak bisa disangkal. Maaf memang akan datang dengan sendirinya, bahkan tanpa perantara bahasa, ia akan bisa kita pahami bahkan lewat perantara ekspresi. Maaf adalah komunikasi yang melibatkan intuisi. Segunung logika dan sebanyak apa pun busa kata-kata tak akan sanggup mewakilinya. Tapi aku pun bersyukur atas kesalahan yang diberikan. Aku bahkan mensyukuri atas ketidaknyamanan atas teklingan dari belakang itu, sebab bisa mendapatkan ide seperti ini,

Kepada dirimu yang hanya lagi mau mengekspresikan rasa bersalahnya, aku justru yang mau minta maaf sebagaimana tata krama sosial yang berlaku kalau aku belum bisa memaafkan. Aku juga tidak mau menggerakkan otot bibir ku untuk berpura-pura memaafkannya dengan cara yang ia mau. Aku mau jadi manusia biasa dulu, aku tidak mau sok-sok ideal seperti orang lain yang mencoba tetap heroik meski dada kirinya ditikam kecewa dan kekesalan.



30 hari menulis buruk

Day 7

Senin, 27 Maret 2023

SEUSAI PELANGI MELUMPUHKAN HUJAN

 


Lawan cinta bukan benci, namum kekasaran, dan kekasaran yang terkasar adalah pengabaian.

Seusai pelangi melumpuhkan hujan, perempuan itu menimbulkan tanya, “mengapa ia mengabaikan aku? Apakah rasa sayang itu mulai pudar? Demikian, pengabaian adalah sebuah citra buruk terhadap cinta. Pengabaian merupakan luka pertama yang paling menyakitkan, sesederhana kau mengirim pesan kepada seseorang dan hanya dua centang biru sampai seminggu. Luka pengabaian adalah luka serius, dan genetika kita sudah menyimpan memori pengabaian sebagai tanda bahaya. 

Perempuan itu dengan mata memerah mengucap, “akan ku buang semua impian tentang kita di masa depan, karena telah tersingkap dirimu yang tertutup kabut, sesal ku menciptakan kekesalan untuk semua rasa yang kau ciptakan, wajahmu membuat pikiranku penuh kebencian akibat pengabaian. Semua berlalu sebelum ku sadar dari fatamorgana ini, sebelumnya mengasihi mu adalah hal terindah dalam perjalanan hidupku. Setelah aku terhenyak dari kepalsuan, barulah aku tersadar bahwa aku muak terhadap pengabaianmu. Nyanyian yang penuh dengan kata-kata merupakan bentuk pengungkapan luka yang ku rasakan. Sebab, kenangan yang kita ukir telah menertawakan kesedihan ku.

Demikianlah, perempuan dengan pipi yang dibasahi air mata itu. Ucap ku, “tidak masalah air mata mendidih atau mata air membasahi pipi, kau tetap layang mendapati kasih.


Cinta adalah kemampuan untuk membuat sesuatu yang tak terlihat menjadi tampak dan hasrat untuk selalu merasakan yang tak terlihat di dalam diri seseorang. (Ibn Arabi)


30 hari menulis buruk

Day 6

Minggu, 26 Maret 2023

PERIHAL PATAH HATI YANG DISENGAJA

 Gerimis di luar semakin tipis. Kau ingin keluar melihat-lihat dunia di sekitar tempat tinggal mu


. Kau urung meminjam motor dari kawan, pikirmu memikul payung sepertinya bisa menjadi pengalaman menarik.

Barangkali kenangan adalah benda yang tajam dan menawan: sepucuk mawar indah nan eksotis yang mengundang khalayak memetiknya, meski harus meneteskan darah semerah kelopaknya. Seberapa pedih kah hati manusia yang patah itu? Hampir semua manusia mengalaminya, kecuali bila ada yang terlahir tanpa segenggam hati, dan punya cara masing-masing mengatasi frustasi itu. Seorang kawan perempuan selepas sholat mengutarakan tanya, “bila kelak kau berjalan-jalan santai, melewati gerai-gerai dan etalase pertokoan atau penjual jasa, kabari aku bila kau temukan satu dokter spesialis penghapus ingatan”.

Wajar bila manusia selalu menolak pengalaman pahit untuk ia simpan. Tidak ada yang pernah berkehendak untuk sial, atau bercita-cita agar ekspetasinya selalu terbunuh realitas. Manusia cenderung menjauh dari stimulus-stimulus negatif yang menyakitkan. Tapi bagi orang normal kebanyakan, ingatan buruk selalu hendak disingkirkan entah secara sadar ataupun tidak sadar. Stimulus negatif itu dikubur dalam-dalam hingga ke dasar alam bawah sadar manusia. Kemudian, alam bawah sadar berperan berperan penting dalam tiap laku manusia, demi kita terselamatkan dan menghindari stimulus negatif yang pernah ia alami. 

Paradoksikalitas kenangan begitu tajam, bagi yang dimabuk ekstase cinta adalah harta karun, namun dapat menyebabkan racun bagi hatinya yang patah dan remuk berkeping-keping. Perempuan itu mendadak gejolak dendam gugur di tengah proses penghapusan ingatan, ada sebuah takut yang hinggap pada bagian terdalam pada diri perempuan itu yang dia takut hilang, ada sebuah sesal yang santai menanti dan menyiapkan rengkuhannya, tepat setelah perempuan itu terhenyak dan tidak menyadari bahwa tahun-tahun yang dia lewati, telah dijejali oleh laki-laki yang baru dia hapus total.

Di tengah proses penghancuran ingatan, perempuan itu tengah berjibaku dengan dirinya sendiri; ia menimbang-nimbang keputusan itu lagi, dalam mimpi dan bersiasat agar kenangan yang awalnya ia suruh singkirkan akan ia lindungi dengan sekuat pikiran, dan sekuat hati. Memang demikianlah, “kematian bukanlah ketika masa depan direnggut darimu, namun lantaran masa lalu lenyap dan meninggalkanmu selamanya ‘lupa’ ialah kematian eksistensial mendahului biologis.

Kenangan memang sesuatu yang subtil, menduduki pikiran dan hati manusia. Terkadang kenangan, menyabotase akal sehat, hingga kuasa akan tubuh terampas. Beberapa orang memilih untuk mengakhiri penderitaan mereka terhadap masa lalu, menyerah dan terlalu getir untuk berdamai dengan ingatan di masa depan.

Aan Mansyur berujar dalam novelnya perihal mantan kekasihnya, “aku tidak ingin menipu kenangan dengan melupakannya. Meski kenangan punya banyak cara untuk menjerat dan membunuh majikannya.



30 hari menulis buruk. 

Day 5


Sang Penakluk