Pengikut

Minggu, 24 September 2023

JANGAN MERASA PALING ISTIMEWA; MENYERAHLAH, HIDUP SUDAH ADA PEMENANGNYA


Apakah kamu merasa bahwa kamu diciptakan untuk tujuan besar tertentu? Bahwa ketika kamu dilahirkan, misi hidupmu ditulis untuk mengatasi sesuatu yang besar dan tiada tara derajatnya. Apakah kamu merasa mempunyai peran penting dalam sebuah episode rangkaian panjang sejarah peradaban manusia? Apakah kamu dianggap istimewa dalam beberapa hal atau sudut pandang?

Kamu mungkin merasa bahwa istimewa, setidaknya dalam lingkaran sosial yang sempit, kecil, dan terbatas. Memang keistimewaan tak lebih dari ukuran atom jika dilihat melalui mikroskop raksasa. Kamu hanyalah sebuah partikel jika dilihat dari peta, atau dari bola dunia, atau dari peta alam semesta. Kamu bukan siapa-siapa.

Keistimewaan, bagi Mark Manson adalah tirani yang kerap mendominasi pikiran kita dengan tangan besi. Setiap orang setidaknya mengira ada konsep khusus yang ada di alam semesta ini. Mungkin kita menganggap diri kita istimewa, atau agama kita, atau ideologi kita, atau wilayah kita, atau negara kita, atau orang tua kita, atau anak-anak kita, atau ras kita, ataupun suku kita.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Memang cara berpikir yang mengistimewakan sesuatu sama saja dengan cara orang-orang kafir terdahulu memahat berhala-berhalanya. Semakin sering kita mengatribusikan hak istimewa pada identitas tertentu, semakin besar khayalan menjadi tuhan, yang menjadi tirani dalam kesadaran dan bahkan alam bawah sadar kita. Semakin banyak titik buta hitam pekat yang menutupi kewarasan kita dengan kabut ilusi yang kotor.

Harari membahas sesuatu yang menarik tentang hal ini. Hanya karena Charles Darwin dan George Mendel beragama Kristen, tidak berarti biologi termasuk dalam agama Kristen. Hanya karena Albert Einstein adalah seorang Yahudi yang bahkan memberikan dukungan politik terhadap kebangkitan Zionisme tidak berarti Fisika adalah penemuan Yahudi. Islam tidak dibicarakan oleh Harari mengenai hal ini. Barangkali profesor botak itu kebingungan ketika mencari inovasi ilmiah yang dipelopori umat Islam.

Meski begitu, masih banyak cendekiawan Muslim konservatif yang menjunjung tinggi penemuan ilmuwan Islam kuno yang masih mereka banggakan hingga saat ini. Seperti ilmu matematika yang diciptakan oleh Al-Jabbar, risalah sejarah Ibnu Khaldun yang menginspirasi para sejarawan Barat, Ibnu Rusyd yang mempengaruhi hadirnya sekularisme, Al-Kindi yang terkenal sebagai seorang alkemis hebat, dan masih banyak lagi. Namun, meniru intonasi Harari, matematika, sejarah, sekularisme, alkimia, bukanlah penemuan Islam. Tidak ada matematika Islam, sejarah Islam, (khususnya) sekularisme Islam, dan alkimia Islam. Dan jika kita dapat menambahkan lebih banyak olok-olok terhadap ibadah khayalan ini, kita dapat mengutip Bertrand Russel dari pamfletnya yang terkenal, History of Western Philosophy (Sejarah Filsafat Barat): “Ilmuwan Islam tidak menciptakan apa pun. Mereka hanyalah komentator yang hebat.”

Tapi kita harus mahfum, kupas selapis demi selapis bawang merah kesadaran kita meski akan membuat pelupuk mata kita meneteskan air mata, bahwa dunia fisika akan tetap berputar meski Yahudi bukan porosnya, bahwa biologi akan tetap berputar meski Kristen menjadi porosnya. bukan porosnya, dan seterusnya dan seterusnya.

Kami bukan apa-apa. Kita hanyalah remah-remah kecil dari jalan yang sepi, yang kita coba beri makna, yang kita coba hargai sebagai sesuatu yang istimewa, yang pada kenyataannya tidak ada apa-apanya. Kami tidak istimewa.

Barangkali, dunia hari ini merupakan gema dari zaman terdahulu, kamu harus berpikir bahwa neraka adalah orang lain, dan kamu tidak berguna. Menyerahlah hidup yang tidak dipertaruhkan akan membuat kita tidak kalah taruhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar