Pengikut

Senin, 10 Juli 2023

Reminisensi



Akhir-akhir ini jariku tak lagi berbenah. Suara-suara papan tik tidak lagi seperti di masa-masa dahulu, ketika gairah dalam tungku dadaku bergetar. Ruang tempatku tinggal, waktu yang berputar mengelilingiku, orang-orang yang aku pedulikan, tak lagi memancarkan warna yang dapat ku tangkap dengan kata-kata.

Padahal, dahulu kata-kata seperti kupu-kupu di tengah taman rahasia yang tersimpan rapi di dalam benakku. Kini kok rasanya makin hambar saja. Aku memang masih menulis, masih melahirkan kata-kata dalam batok kepalaku. Tapi, yang lahir hanya kata-kata seperti menyalin apa yang ku lihat dan ku dengar.

Di ujung tulisan ini, aku mengerti bahwa kesendirian dan kesunyian adalah dua hal yang berbeda. Kesunyian merupakan solilokui paling hangat, percakapan dengan diri sendiri. Juga merupakan proses bercengkrama batin. Tahun ini banyak pelajaran yang didapat. Kehilangan, kesabaran yang setipis lubang jarum di permulaan umut ke-23 tahun, semua demi kalimat penghiburan yang menjelma sebagai ungkapan terima kasih kepada diri, karena sudah mau berjuang sampai sini.

Terima kasih, karena tidak putus asa setiap kali kesempatan untuk berputus asa itu ada, untuk tidak menyerah ketika situasi tampaknya tidak memberi pilihan lain, untuk terus mencari-cari cara agar tidak kehilangan daya bahagia. Tahun ini seperti warna hujan asam dan arang awan. Tapi akhirnya belajar seratus musim panas bisa tumbuh dalam dada bila mau percaya tidak ada yang bisa menerima kita apa adanya selain diri sendiri.

Percayalah, apa yang tidak bisa membunuhmu akan membuatmu lebih tangguh. Tuhan memberikan tahun yang tak tertahankan sulitnya, tapi tidak memilih tunduk dan takluk. Atas dedikasi seperti itu, aku berterima kasih berkali-kali.

Tetap sehat dan kuat, dan terima kasih sudah berjuang. Semoga selepas 22 Tahun pergi, kita sudah bersedia menjadi diri kita dalam versi yang paling kita sukai.

waktu adalah pandai besi yang adil, ia memahat sesuatu yang temporer lewat kenangan dan kamera. ingatan mencacah titik demi titik, membentuk garis yang tak kita izinkan patah karena interupsi. agar apa yang ditabung dalam benak kita, tidak selalu pecah air mata. setiap pembacaan akan masa lalu selalu mengandung ekspektasi ke masa depan: agar tradisi bisa umur panjang, lolos dari kemajuan yang sukar ditolak.

Mengulah hari kelahiran untuk ke -23 kalinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar