Salah satu wajah
yang paling mudah diingat adalah wajah bapak. Namun, berbeda dengan Elektra kompleks
(oposisi eedipus kompleks) antara anak perempuan dan ayahnya, hubungan antara
anak laki-laki dan bapaknya adalah hubungan yang berbelit-belit, kadang
diselimuti keangkuhan yang hangat, dan kerap bersembunyi dibalik sosok ibu
sebagai perantara cinta masing-masing. Bahkan, untuk menyebut kata “cinta” atau
“rindu” kepada sosok bapak, bisa membuat seorang lelaki kelu.
Bahasa laki-laki,
cinta merupakan sesuatu yang feminism sebagai kata-kata. Justru karena itu,
laki-laki menjadikan diam sebagai perisainya. Cinta seorang laki-laki justru
diaksentuasi lewat laku dan tindakan.
Pada novel
klasik rusia dari salah satu sastrawan dari negeri itu yang berjudul “Ayah”,
yaitu Ivan Turgenev, kita dapat membaca hubungan kebatinan yang berkelindan
antara seorang anak dan seorang ayah. Dalam ketegangan antara gaya berpikir nihilistik
dan aristokrasi yang coba diangkat sebagai dialektika gagasan, kita dapat
temukan sosok bapak yang diam-diam
selalu khawatir anak-anaknya tak dapat menemui mimpi dan cita-citanya. Dalam tradisi
feudal dan patriarki rusia pada abad itu, mengekspresikan cinta sebagai seorang
laki-laki adalah kutukan yang membuat laki-laki terbelenggu egonya sendiri.
Sampai hari ini pun, kita menerima warisan belenggu itu. Dengan demikian
patriarki bukan sekadar permasalahan perempuan.
Relasi seorang
anak laki-laki dan bapakknya memang tak gampang dijelaskan. Lagu karya Iwan
Skuter “bapak”, sejauh ini lagu yang mengekspresikan kerinduan dan rasa kasih,
melemaskan sedikit ego dan rasa malu sebagai laki-laki, lagu itu mewakili ego
yang tak dapat diakui oleh banyak laki-laki di muka bumi ini.
Sang Penakluk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar