Gerimis di luar semakin tipis. Kau ingin keluar melihat-lihat dunia di sekitar tempat tinggal mu
. Kau urung meminjam motor dari kawan, pikirmu memikul payung sepertinya bisa menjadi pengalaman menarik.
Barangkali kenangan adalah benda yang tajam dan menawan: sepucuk mawar indah nan eksotis yang mengundang khalayak memetiknya, meski harus meneteskan darah semerah kelopaknya. Seberapa pedih kah hati manusia yang patah itu? Hampir semua manusia mengalaminya, kecuali bila ada yang terlahir tanpa segenggam hati, dan punya cara masing-masing mengatasi frustasi itu. Seorang kawan perempuan selepas sholat mengutarakan tanya, “bila kelak kau berjalan-jalan santai, melewati gerai-gerai dan etalase pertokoan atau penjual jasa, kabari aku bila kau temukan satu dokter spesialis penghapus ingatan”.
Wajar bila manusia selalu menolak pengalaman pahit untuk ia simpan. Tidak ada yang pernah berkehendak untuk sial, atau bercita-cita agar ekspetasinya selalu terbunuh realitas. Manusia cenderung menjauh dari stimulus-stimulus negatif yang menyakitkan. Tapi bagi orang normal kebanyakan, ingatan buruk selalu hendak disingkirkan entah secara sadar ataupun tidak sadar. Stimulus negatif itu dikubur dalam-dalam hingga ke dasar alam bawah sadar manusia. Kemudian, alam bawah sadar berperan berperan penting dalam tiap laku manusia, demi kita terselamatkan dan menghindari stimulus negatif yang pernah ia alami.
Paradoksikalitas kenangan begitu tajam, bagi yang dimabuk ekstase cinta adalah harta karun, namun dapat menyebabkan racun bagi hatinya yang patah dan remuk berkeping-keping. Perempuan itu mendadak gejolak dendam gugur di tengah proses penghapusan ingatan, ada sebuah takut yang hinggap pada bagian terdalam pada diri perempuan itu yang dia takut hilang, ada sebuah sesal yang santai menanti dan menyiapkan rengkuhannya, tepat setelah perempuan itu terhenyak dan tidak menyadari bahwa tahun-tahun yang dia lewati, telah dijejali oleh laki-laki yang baru dia hapus total.
Di tengah proses penghancuran ingatan, perempuan itu tengah berjibaku dengan dirinya sendiri; ia menimbang-nimbang keputusan itu lagi, dalam mimpi dan bersiasat agar kenangan yang awalnya ia suruh singkirkan akan ia lindungi dengan sekuat pikiran, dan sekuat hati. Memang demikianlah, “kematian bukanlah ketika masa depan direnggut darimu, namun lantaran masa lalu lenyap dan meninggalkanmu selamanya ‘lupa’ ialah kematian eksistensial mendahului biologis.
Kenangan memang sesuatu yang subtil, menduduki pikiran dan hati manusia. Terkadang kenangan, menyabotase akal sehat, hingga kuasa akan tubuh terampas. Beberapa orang memilih untuk mengakhiri penderitaan mereka terhadap masa lalu, menyerah dan terlalu getir untuk berdamai dengan ingatan di masa depan.
Aan Mansyur berujar dalam novelnya perihal mantan kekasihnya, “aku tidak ingin menipu kenangan dengan melupakannya. Meski kenangan punya banyak cara untuk menjerat dan membunuh majikannya.
30 hari menulis buruk.
Day 5
Sang Penakluk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar