Pengikut

Jumat, 24 Maret 2023

IMAJINASI



 Terkadang kita dipermainkan oleh imajinasi, menilai orang hanya berdasarkan cara berpakainanya. (Blaise Pascal)

Imajinasi merupakan sebuah kekuatan yang powerfull dalam diri manusia sehingga dapat mengesampingkan penalaran manusia. Sayangnya, imajinasi dapat menganggap sesuatu secara benar ataupun salah, padahal itu bukanlah entitas yang real.

Seringkali imajinasi membawa kita pada sisi kepalsuan atau kesalahan. Tanpa kita sadari, imajinasi menjadi satu dari sekian banyak sumber kesalahan terbesar manusia. Tidak jarang kita mendefinisikan keindahan, keadilan, dan kebahagiaan dengan sesuatu yang palsu. Begitu juga, imajinasi melahirkan kepercayaan kita terhadap orang lain apa pun alasannya. Misalnya kita lebih mempercayai dokter dan pengacara karena mereka memiliki atribut-atribut khusus dalam dirinya. Sebaliknya, kita justru sering menyepelekan seseorang yang terlihat lusuh atau aneh, walaupun orang itu berbicara dengan akal sehat.

Fragmen imajinasi ditujukan Pascal kepada orang-orang beragama yang telah terpengaruh pemikiran bebas. Pascal berpendapat bahwa mereka justru telah telah disesatkan oleh kekuatan imajinasi daripada penalaran meskipun mereka memiliki penalaran lebih baik dan kritis. Saat itu, ia membuat sebuah taruhan yang dirancang untuk memberikan alasan para libertins (orang-orang yang keluar dari agama) agar kembai pada agama masing-masing. Pascal membuat taruhan mengenai kemungkinan untung dan rugi tentang eksistensi Tuhan, Pascal berpendapat bahwa apabila kita bertaruh bahwa Tuhan itu tidak ada, maka kita mempunyai resiko besar yakni kehilangan kebahagian tanpa batas surga. Ia juga berpendapat, apabila kita bertaruh bahwa Tuhan itu tidak ada, kita hanya kehilangan hal-hal remeh dan mendapatkan hal-hal besar. Atas dasar ini Pascal percaya Tuhan adalah hal yang lebih rasional daripada merasionalisasikan Tuhan lalu meninggalkannya.

Kita terlalu terpukau pada imajinasi-imajinasi yang terlihat rasional, tetapi ketika ditelaah justru sangat tidak masuk akal. Sampai sekarang, imajinasi ini masih kita junjung, bukan hanya perihal agama, tetapi juga kebudayaan, pendidikan, dan sains.


30 hari menulis buruk

Day 3.


Sang Penakluk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar