Berbicara tentang eksistensi Tuhan, memang tidak bisa teraba oleh kasat mata manusia. Namun bagi penganut theisme, keberadaan tuhan dapat dirasakan secara nyata melalui hati sanubari. Konsep ini bertolak belakang dengan atheisme, yaitu sebuah pandangan filosofi yang menolak Tuhan bahkan tidak memercayai akan keberadaannya.
Ada beberapa filsuf yang menolak akan keberadaan Tuhan, yaitu Karl Marx, ia mengatakan bahwa “manusia itu pada hakekatnya tidak beragama, namun ketimpangan sosial-ekonomi yang membuat agama ada. Menurut Marx, ketimpangan sosial-ekonomi yang dimiliki kaum proletar menjadi alasan mereka menganut agama. Kaum proletar yang tak berdaya tertindas oleh kekuasaan sistem kaum borjuis, membuat mereka akhirnya tidak tahan dan lari kepada agama. Dari situ Marx beranggapan, bahwa agama merupakan bentuk protes sekaligus ungkapan penderitaan manusia terhadap ketimpangan sosial-ekonomi. Jika sistem ekonomi memberikan kesejahteraan yang merata, maka agama tidak pernah lahir.
Kemudian Jean Paul Sartre, ia mengatakan bahwa, “kehidupan manusia dikatakan bermakna apabila ia memiliki kebebasan. Keberadaan Tuhan hanya akan menghalangi kebebasan. Menurut Sartre, agar kehidupan manusia bermakna maka eksistensi Tuhan tidak boleh diterima. Baginya, manusia akan kehilangan kebebasan di hadapan Tuhan. Pandangan Sartre tersebut menyiratkan Tuhan sebagai penguasa absolut dan majikan yang kejam, sedangkan manusia sebagai hamba tak berdaya yang diperbudak. Hal ini tentu bertentangan dengan pandangan orang yang beragama, karena sejatinya Tuhan tidak pernah menghalangi kebebasan manusia untuk bertindak.
Sejarah-sejarah agama itu syarat akan kekerasan yang bersinggungan dengan eksistensi Tuhan. Menurut Onfray daripada percaya dengan agama, lebih baik menjadi manusia hedonis dan atheis.
30 hari menulis buruk
Hari ke 1

Tidak ada komentar:
Posting Komentar