Pengikut

Kamis, 30 Maret 2023

THE JACK KOPI


 Kopi punya sejarah sehitam warnanya. Gubernur mekkah pernah mengharamkan kopi pada tahun 1511. Saat itu namanya qahwa. Minum kopi punya efek yang sama dengan minum arak, efek dari kopi dapat menyebabkan semangat yang berlebihan dan susah tidur. Karena arak haram maka kopi pun diharamkan. Warga Mekkah harus menikmati kopi secara diam-diam. Para penjual kafein harus melakukan transaksi secara hati-hati.

Ternyata ada zaman di mana ba kopi sama deng ba gate.

Aku tidak bisa membayangkan betapa sulitnya saat itu untuk menyeruput segelas kopi, harus melakukan transaksi secara diam-diam, di gang-gang sempit yang tak kelihatan oleh orang lain. Bahkan di abad ke-17 di Turki, Sultan Murad IV bukan hanya mengharamkan, tetapi menjatuhkan hukuman mati untuk warga yang kedapatan minum kopi. Aku yang hidup di zaman ini sangat bersyukur bisa menyeruput kopi dengan bebas sambil menghisap roko a-plus kesukaan ku.

Padahal kedai kopi menjadi ruang publik pendatang baru. Di dalamnya orang berkumpul, diskusi, mendengar syair dan bermain catur. Kedai kopi menandai aktivitas intelektual yang kuat, sehingga menjadi saingan sengit masjid sebagai tempat beraktivitas. Bahkan beberapa ulama mengkritik keras kedai kopi karena dianggap lebih jahat dari tempat minum arak.

Namun walaupun dipersekusi berkali-kali, kedai kopi lolos dari intaian kematian. Seleksi alam akan memilih siapa yang layak bertahan hidup dari goncangan zaman. Agama dan politik ternyata tidak lebih tangguh dari kopi. Kedai kopi tetap berdiri, dan sebagaimana gen, ia akan berlipat ganda, memperbanyak keturunan, mewariskan kebenaran dari satu cangkang ke cangkang lain. Ia bisa menetas sebagai eksistensialisme Prancis abad ke-20 atau Jack Kopi abad ke-21.

Jack Kopi sebagai ruang publik menjadi sarang parrhesia. Sesuatu yang oleh Foucault disebut “keberanian menyampaikan kebenaran meski dihantui resiko bahaya”. Proses diskursus Jack Kopi terbuka untuk siapa saja: pembeli, penjual asongan, aktivis, intelektual, pengamen, politisi, dan masih banyak lagi. Jack Kopi tidak sekadar menawarkan ruang, tapi juga kebiasaan: Jack Kopi menawarkan nilai komunitas, di mana orang berdialog dan berdebat dengan semangat demokrasi radikal. Di mana semua orang bebas berpendapat, sembari melindungi hak semua orang untuk bebas berpendapat.

Jack kopi merupakan suatu upaya untuk membuka pemikiran yang baru. Dengan menggunakan konsep ruang publik Jurgen Habermas, kita akan melihat Jack Kopi sebagai ruang interaksi dan bagaimana mereka membentuk bisnis, kehidupan dan tradisi masyarakat. 


Jack Kopi menawarkan kita cara untuk melihat hubungan kita dengan dunia yang lebih besar dan melihat bahwa terkadang pilihan kita sebenarnya bukan milik kita sendiri. 


Jack Kopi menjadi saksi dari banyak hubungan yang telah dibangun. Banyak orang yang nyaman di sini "untuk berbicara, menangis, tertawa, bersantai, menyelesaikan masalah, atau sekadar menyendiri. 


Menikmati kopi di "Jack Kopi" bukan hanya sekadar menikmati kopi biasa, ketika seseorang mengajak anda duduk dalam satu meja untuk minum kopi, itu bisa jadi murni sosial, bisa juga tentang bisnis, politik, atau bagaimana kita tetap terhubung dengan orang lain. 


30 hari menulis buruk

Day 9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar