Pengikut

Jumat, 31 Maret 2023

IBU: JARAK MENGASAH RINDU TETAP LEMBUT


Cinta adalah kata kerja yang benci menyerah,

empat tahun silam aku melihat kau mekar sempurna sebagai kupu-kupu kaca. Dengan kepala tertunduk, kau melintasi satu kalender ke kalender berbeda, berlari melupakan dunia sampai kau lupa cara berlari.

Perempuan itu layaknya dalam taman imajiner berhias megah kesunyian, kau melintas dengan sayap-sayap kertas berasal dari buku kegemaran ku.kita menyeduh secangkir absurdisme, dikelilingi musik klasik dari kucing pemain biola dan bunga matahari yang senang menari.

Semua perempuan adalah dewi kali. Di kulitnya kita petik kehidupan dan di rahimnya kematian akan pulang, kita mencintai kehidupan sebesar kita membenci kematian. Kita mencintai perempuan sebesar kita membencinya. Sebab apa yang paling mungkin kita cintai adalah apa yang paling mungkin melukai kita. Cinta seperti tiket VIP untuk akses ekslusif ke sisi paling rawan dari dalam diri. Kita pun tak bisa memilih kepada siapa hati ini harus dijatuhkan.

Kala itu, perempuan dengan mata sayu itu selalu senang mendekorasi rumahnya, aku melihat ada empat ruang yang paling ia suka: ruang depan, ruang tengah, dapur, dan ruang belakang.

Barangkali hidup adalah doa yang Panjang, ataupun antrian yang Panjang, segera setelah ku temukan bintang yang kutahajudkan di kedua matamu, tak akan kulepaskan kau dari lengan  meski berhadapan dengan berkali-kali lipat bahaya.

Hari ini ibu, aku tak mau kau menangis. Pada suatu tahun yang tidak aku tahu, harapan memang pernah melukai lengan kiri mu dengan air mata. Tapi hari ini, aku tidak ingin kau menangis, setidaknya sebelum hari ini beranjak. Aku tak ingin bicara lebih banyak. Tapi ku harap kau tahu, betapa besar rasa syukur mengetahui perempuan sepertimu pernah lahir di dunia ini.

Aku ingin menanam doa yang seharum seruni dan seluas bumantara untuk kebahagiaan-kebahagian yang jauh menanti di masa depan. Marathon kita masih Panjang, lebih pelitlah pada kesedihan. Aku akan belajar lebih giat melucu agar rengut pipimu pergi jauh-jauh. Waktu lebih sukar dihabiskan dengan harapan yang keras kepala.

 Jarak ini selalu mengasah rindu tetap lembut, jarak merupakan tungku, menghangatkan lengan agar siap mendekap sesuatu yang jauh.


30 hari menulis dengan buruk

Day 10 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar