Cinta adalah kata kerja yang benci menyerah,
empat tahun silam aku melihat kau mekar sempurna
sebagai kupu-kupu kaca. Dengan kepala tertunduk, kau melintasi satu kalender ke
kalender berbeda, berlari melupakan dunia sampai kau lupa cara berlari.
Perempuan itu layaknya dalam taman imajiner berhias megah
kesunyian, kau melintas dengan sayap-sayap kertas berasal dari buku kegemaran
ku.kita menyeduh secangkir absurdisme, dikelilingi musik klasik dari kucing
pemain biola dan bunga matahari yang senang menari.
Semua perempuan adalah dewi kali. Di kulitnya kita
petik kehidupan dan di rahimnya kematian akan pulang, kita mencintai kehidupan
sebesar kita membenci kematian. Kita mencintai perempuan sebesar kita
membencinya. Sebab apa yang paling mungkin kita cintai adalah apa yang paling
mungkin melukai kita. Cinta seperti tiket VIP untuk akses ekslusif ke sisi
paling rawan dari dalam diri. Kita pun tak bisa memilih kepada siapa hati ini
harus dijatuhkan.
Kala itu, perempuan dengan mata sayu itu selalu senang
mendekorasi rumahnya, aku melihat ada empat ruang yang paling ia suka: ruang
depan, ruang tengah, dapur, dan ruang belakang.
Barangkali hidup adalah doa yang Panjang, ataupun antrian
yang Panjang, segera setelah ku temukan bintang yang kutahajudkan di kedua matamu,
tak akan kulepaskan kau dari lengan
meski berhadapan dengan berkali-kali lipat bahaya.
Hari ini ibu, aku tak mau kau menangis. Pada suatu
tahun yang tidak aku tahu, harapan memang pernah melukai lengan kiri mu dengan
air mata. Tapi hari ini, aku tidak ingin kau menangis, setidaknya sebelum hari
ini beranjak. Aku tak ingin bicara lebih banyak. Tapi ku harap kau tahu, betapa
besar rasa syukur mengetahui perempuan sepertimu pernah lahir di dunia ini.
Aku ingin menanam doa yang seharum seruni dan seluas bumantara
untuk kebahagiaan-kebahagian yang jauh menanti di masa depan. Marathon kita
masih Panjang, lebih pelitlah pada kesedihan. Aku akan belajar lebih giat
melucu agar rengut pipimu pergi jauh-jauh. Waktu lebih sukar dihabiskan dengan
harapan yang keras kepala.
Jarak ini selalu mengasah rindu tetap lembut, jarak merupakan tungku, menghangatkan lengan agar siap mendekap sesuatu yang jauh.
30 hari menulis dengan buruk
Day 10

Tidak ada komentar:
Posting Komentar