Pengikut

Sabtu, 01 April 2023

WAKTU MERUPAKAN PANDAI BESI YANG BIJAKSANA

 


Waktu adalah pandai besi yang bijaksana, orang-orang kadang terpedaya oleh kebahagiaan palsu, yang akhirnya menghancurkan mereka sendiri.

Kala itu, aku pernah melepas sesuatu yang telah dua tahun menemani petualangan ku, melepas hal itu, seperti kehilangan salah satu organ tubuh ataupun kehilangan salah satu indera. Pernah pada suatu malam, kesepian merajam-rajam tanpa belas kesihan. Namun, begitulah kadang perlu kehilangan banyak hal untuk menyadari kita tidak butuh banyak dalam hidup.

Kala itu, aku belum tahu kalua kehilangan adalah rute kita menemukan sesuatu yang lebih penting daripada memiliki seluruh isi bumi. Aku menemukan diriku dengan wajah yang kanak-kanak seceria kuning pagi yang langsung memeluk kaki ku.

Aku pun sadar kalua menyukai seseorang kita menyukai diri sendiri adalah kesalahan yang tidak bisa dibiarkan. Aku adalah korban dari kecerobohan itu. Kehilangan lantas sepersis wajah orang tua berjenggot putih tebal, menjadi bijaksana dihadapan ku. Pelan-pelan ia bergradasi dari warna hitam jurang yang menjadi cahaya-cahaya kecil seperti kunang-kunang.

Bahagia itu ternyata kita yang buat. Tombolnya terdapat pada dalam diri kita yang perlu sedikit usaha dan ketelitian mencarinya. Terlalu lama menjadikan orang lain sebagai standar menjalani hidup membuat kita lupa kalua kekuatan dan keberanian selalu berasal dari dalam diri.

Memang tidak nyaman mencari tombol kebahagiaan itu. Ada banyak lapisan ego yang perlu kita damaikan, ada kegelapan yang mencolok mata, ada jurang Bahasa yang perlu didamaikan dalam diri. Aku menyebut proses ini sebagai kenalan dengan diri sendiri. Mengenal lebih dekat dan dekap anak kecil seceria kuning pagi yang tumbuh dalam diri. Membuat aku mahfum, “kehilangan dan menemukan itu ternyata beriringan, kita tidak dapat menerima yang terakhir tanpa menerima yang pertama.

Pada akhirnya, kesendirian adalah sebaik-baiknya rumah yang paling setia, seperti kata Nietzsche dalam sabda Zarathustra. Kesendirian adalah satu-satunya yang tak akan bisa menghianati kita bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun.

Aku percaya bahwa waktu adalah pandai besi yang bijaksana, ia akan berkali-kali mengizinkan kita dilahap api dan dipeluk sungai es, ia kan berkali-kali membuat kita terbentur, terbenur, lalu terbentuk menjadi manusia paling bahagia dengan kesendiriannya.

 

“O kesendirian, rumahku! Aku telah hidup liar terlalu lama di negeri-negeri asing untuk bisa Kembali padamu tanpa air mata!” (Sabda Zarathustra).


30 hari menulis buruk

Day 11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar