Waktu adalah pandai besi yang bijaksana, orang-orang kadang terpedaya oleh kebahagiaan palsu, yang akhirnya menghancurkan mereka sendiri.
Kala itu, aku pernah
melepas sesuatu yang telah dua tahun menemani petualangan ku, melepas hal itu,
seperti kehilangan salah satu organ tubuh ataupun kehilangan salah satu indera.
Pernah pada suatu malam, kesepian merajam-rajam tanpa belas kesihan. Namun,
begitulah kadang perlu kehilangan banyak hal untuk menyadari kita tidak butuh
banyak dalam hidup.
Kala itu, aku belum tahu kalua
kehilangan adalah rute kita menemukan sesuatu yang lebih penting daripada
memiliki seluruh isi bumi. Aku menemukan diriku dengan wajah yang kanak-kanak
seceria kuning pagi yang langsung memeluk kaki ku.
Aku pun sadar kalua menyukai
seseorang kita menyukai diri sendiri adalah kesalahan yang tidak bisa
dibiarkan. Aku adalah korban dari kecerobohan itu. Kehilangan lantas sepersis
wajah orang tua berjenggot putih tebal, menjadi bijaksana dihadapan ku. Pelan-pelan
ia bergradasi dari warna hitam jurang yang menjadi cahaya-cahaya kecil seperti
kunang-kunang.
Bahagia itu ternyata kita
yang buat. Tombolnya terdapat pada dalam diri kita yang perlu sedikit usaha dan
ketelitian mencarinya. Terlalu lama menjadikan orang lain sebagai standar menjalani
hidup membuat kita lupa kalua kekuatan dan keberanian selalu berasal dari dalam
diri.
Memang tidak nyaman
mencari tombol kebahagiaan itu. Ada banyak lapisan ego yang perlu kita damaikan,
ada kegelapan yang mencolok mata, ada jurang Bahasa yang perlu didamaikan dalam
diri. Aku menyebut proses ini sebagai kenalan dengan diri sendiri. Mengenal lebih
dekat dan dekap anak kecil seceria kuning pagi yang tumbuh dalam diri. Membuat aku
mahfum, “kehilangan dan menemukan itu ternyata beriringan, kita tidak dapat
menerima yang terakhir tanpa menerima yang pertama.
Pada akhirnya,
kesendirian adalah sebaik-baiknya rumah yang paling setia, seperti kata Nietzsche
dalam sabda Zarathustra. Kesendirian adalah satu-satunya yang tak akan bisa
menghianati kita bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun.
Aku percaya bahwa waktu
adalah pandai besi yang bijaksana, ia akan berkali-kali mengizinkan kita dilahap
api dan dipeluk sungai es, ia kan berkali-kali membuat kita terbentur, terbenur,
lalu terbentuk menjadi manusia paling bahagia dengan kesendiriannya.
“O kesendirian, rumahku! Aku
telah hidup liar terlalu lama di negeri-negeri asing untuk bisa Kembali padamu
tanpa air mata!” (Sabda Zarathustra).
30 hari menulis buruk
Day 11

Tidak ada komentar:
Posting Komentar