Pengikut

Sabtu, 08 April 2023

KESENANGAN YANG BERLEBIHAN ADALAH AKAR DARI KEJAHATAN



Manusia merupakan mahkluk yang diciptakan penuh kelemahan. Salah satu kekurangan manusia sekaligus kelemahan terbesar yaitu hasrat. Bagaikan arus sungai deras yang selalu mendominasi hidup manusia, hasrat menguasai setiap tindakan, sikap dan cara manusia berpikir. Sejak awal manusia telah digulir kea rah jurang yang nyata saat peristiwa buah khuldi dan hingga hari ini peristiwa buah khuldi itu masih saja berulang kali terjadi. Bukan berarti manusia tidak pernah belajar dari pengalaman, manusia telah memahami kesalahan yang dilakukan nenek moyang mereka dan mereka dengan sadar menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam jurang yang sama. Bukan karena jurang yang terjal ini adalah sebuah ketakutan, karena tidak mungkin iblis membuat jebakan tanpa dibungkus secara manis dan nikmat.

Kecenderungan manusia untuk selalu memuaskan hasratnya ini disebut Hedonisme. Suatu pemahaman yang mengagungkan kebahagiaan dan kesenangan, kita dapat menyebut ini seperti sebuah wabah yang menyebar secara besar-besaran di panggung global. Tak pelak lagi seiring berkembangnya tuntutan zaman semakin terbaharui pula kebutuhan manusia. Jika ada orang yang mengatakan bahwa kita beruntung hidup di era di mana semuanya serba praktis dan mudah maka aku akan tersinggung karena menurutku, tepatnya ini adalah era di mana konsumerisme mengendalikan otak manusia demi memuaskan kebutuhan material individu yang lalu meracuni kehidupan banyak umat bahkan dengan berkedok ilmu pengetahuan dan teknologi. Semuanya semata-mata untuk saling memuaskan, dan tanpa disadari, manusia kehilangan hakikatnya sebagai manusia di muka bumi ini.

Seakan-akan tidak mungkin terelakan, bagaimana virus hedonism itu merasuk lalu merusak ideologi kita. Bagai tersihir, kita masuk ke zona yang dikutuk dan melupakan fitrah diri sebagai mahkluk yang harus melaksanakan kewajiban. Pada sebuah buku dikatakan, ada seorang biarawati di awal abad ke-19 di Prancis mengatakan “bahwa manusia diciptakan dengan pilihannya sendiri dan semua umat manusia berhak untuk bersenang-senang sesukanya dengan jaminan dia tidak boleh melupakan kewajibannya sebagai mahkluk sehingga tercipta keseimbangan tanpa adanya dominasi duniawi dan surgawi. Aku sangat menghargai argument perempuan ini karena mencerahkan sedikit kegelapan dalam kegalauanku.

Pada pandanganku, kesenangan yang berlebihan adalah akar dari kejahatan dan aku yakin semua orang setuju akan hal itu. Banyak hal buruk yang terlahir dari kesenangan yang berlebihan. Tamak, rakus, sombong dan lain sebagainya kian merasuk pribadi manusia dan merusak fitrahnya. Bila Tuhan ingin manusia menyembahnya kenapa harus diciptakan kenikmatan duniawi? Bukankah ini lah penyebab manusia murtad dari Tuhannya? Aku akan berspekulasi bahwa kenikmatan yang kau sediakan di dunia harusnya digunakan dengan bijaksana dan mungkin itulah esensinya. Untuk senantiasa terjaga dari sikap yang berlebih-lebihan.

Aku pun tidak muluk-muluk, aku adalah orang dengan segudang kebutuhan sekaligus membenci pola hidup yang berlebihan. Memang benar bahwa lawan paling besar manusia itu dirinya sendiri. Untuk memenangkan kompetisi dunia, aku harus menjinakan kebutuhan hasratku terlebih dahulu.  


30 hari menulis buruk.

day 13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar