Pria kurus itu pukul lima selepas subuh, masih terjaga di kursi malas, melongo dengan mata muram dan otak berkabut pada gawai untuk chatan whatsapp sama perempuan yang belum pernah ia temui. Kenapa? kamu tidak tahu. Inersia mempermudah kamu terikat di sana dan tetap chatan daripada bangkit dari kursi lalu pergi ke ranjang tidur ataupun melihat mentari yang indah di luar sana.
Pria kurus itu menatap dunia. Ia mempunyai hobi mengamati
sekelilingnya, mempelajari perilaku orang dalam setiap situasi. Ia melihat ada
ilusi termanis dan paling berbahaya seputar rutinitas manusia. Ilusi itu seperti
setengah iblis dan setengah malaikat. Tangan kirinya melambangkan surga
dan tangan kanannya menyembunyikan tragedi. Orang menyebutnya Cinta,
sebuah kata yang sepertinya mempunyai konotasi positif. Namun bukankah
Cinta banyak mengajarkan orang bagaimana cara menangis, apa itu perpisahan,
rasa sakit, trauma, bahkan yang lebih parah lagi, bunuh diri. Apa
maksudnya cinta itu paradoks? Ia menawarkan segala keindahan dan
keanggunan yang membentang dari Timur ke Barat, Utara hingga Selatan. Di
sisi lain, mereka menakuti kita dengan kehancuran dan kengerian.
Menurut pria tersebut, jatuh cinta merupakan fenomena pikiran yang
merayapi dan menyelimuti hasrat manusia. Jatuh cinta adalah ilusi
terbesar, yang bahkan seorang pesulap pun tidak bisa menciptakannya. Saat
orang sedang jatuh cinta, dia mengira dirinya mempunyai sayap, dan ingin
terbang membawakan bunga untuk wanita yang dicintainya, ingin memeluknya,
padahal kenyataannya sayap wanita itu memegang pisau dan duri yang siap
memakannya dengan kuat. merangkul. Dalam diri Kahlil Gibran, lelaki kurus
belajar bahwa datanglah cinta ketika dia memanggilmu, meski jalan yang kamu
lalui terjal dan berkelok-kelok. Ia mengetahui bahwa Cinta membuat orang
menjadi MASOCICS (suka menyiksa diri sendiri).
Pada awalnya kita tidak pernah benar-benar mencintai wanita itu
secara objektif, apa adanya (das sein). Kita
hanya mencintai wanita itu sebagaimana mestinya (das sollen). Bagaimana kita bisa mengagumi seseorang yang kita
tidak pernah temui? yang kita tidak tahu dia berasal dari mana, siapa dia,
siapa orang tuanya, kebiasaan buruknya. Kita hanya mengagumi seseorang
sebatas kita tidak benar-benar mengenalnya secara mendalam. Kita hanya
menyukai apa yang kita bayangkan tentang dia (das sollen). Kita sangat menyukai cara kerja sensasi sensorik
saat bertemu dengan wujud perempuan. Kita menyukai mekanisme visualisasi
wajahnya yang menawan, mungkin kita menyukai aroma parfumnya, kita menyukai
tekstur kulitnya yang lembut, atau mungkin kita menyukai suaranya yang merdu. Di
mana cinta kita pada wanita itu? Apa yang kita sukai adalah apa yang kita
lihat, kita rasakan, kita dengar, kita cium, dan kita rasakan. Ternyata
kita tidak mencintai wanita itu secara objektif (das sein), kita hanya mencintai apa yang melekat pada dirinya. Kita
hanya mencintai dari wangi tubuhnya, kecantikannya yang menawan, masakannya,
suaranya, kelembutan belaiannya, dan sebagainya. Tapi apakah aroma tubuhnya
adalah miliknya? Tidak. Apakah suara itu miliknya? Tidak. Apakah
dia membelai dia? Tidak. Kecantikan apa dia? Tidak. Apakah dia
yang dilihat, diraba, dikecap, didengar, dicium? Tentu saja tidak. Kita
tidak pernah mencintai wanita itu, yang kita cintai itulah yang melekat pada
dirinya.
Tampaknya pria kurus itu sedang melukis kegelapan di dunianya yang
membeku meski hanya sesaat. Ia meruntuhkan segala konsep dan gagasan yang
telah ia bangun. Bagaikan menghancurkan istana intelektual yang dibangun
melalui perantara para pemikir besar yang pernah ia baca atau temui. Dia
ingat Nietzche, yang mengatakan: "Bersikaplah hormat di depan kebenaran
seperti Anda berada di depan seorang wanita". Dia selalu menggunakan
analogi ini untuk menjelaskan kebenaran. Nietzsche mengatakan kebenaran
itu ibarat wanita yang selalu mengajak keturunan Adam menelanjanginya dan
menyentuh lubuk hatinya. Namun jangan pernah mencoba melakukannya, karena
kamu tidak tahu, ada tragedi kesedihan kegelisahan kekhawatiran ketakutan
apa yang tersembunyi di balik topeng keindahan keanggunan keperawanan keindahan
yang bersinar dan melindungi fisik luar yang kuat secara ajaib. Biarkan
dia seperti itu tanpa kamu buka, biarkan dia terlihat seperti itu, dan cukup
kamu memandangnya dari kejauhan sambil mengatakan “betapa menawannya wanita
itu/kebenarannya” sebenarnya sama saja dengan “betapa manisnya kebohongan”.
Pria kurus yang sibuk berpikir dan berimajinasi itu pun sudah
lelah seperti dirinya, menahan amarahnya karena merasa tertipu dengan dunia dan
segala kepalsuan yang menyelimutinya. Dia tahu ketika dia keluar dari gua
yang dibangun di tengkoraknya, dia akan kembali menjadi manusia palsu. Manusia
diasuh oleh Anjing dalam dirinya sendiri. Dia muak dan ingin menangis dalam
kegelapan di awal bulan oktober. Ia ingin berkeluh kesah di bawah teriknya
senja yang di awal paragraf diharapkan sebagai harapan yang menuntun perahunya
menghantam karang dan membawanya ke gerbang kebenaran. Sekarang apa yang
dia lihat, apa yang dia lihat, adalah kebenaran yang dilihat oleh manusia gua
Plato yang memaksanya untuk kembali ke dalam gua dan melihat dunia dari
bayangan, dari ilusi, dari landasan yang sebenarnya bukan landasan, (das sollen) bukan dunia sebagaimana
adanya (das sein).
Ia berpikir selama ini ia hidup dalam keadaan yang paling
menyedihkan, hidup dalam kekecewaan atas harapan. Ia pernah belajar bahwa
harapan menguatkan manusia, memberikan motivasi bagi kelangsungan hidup umat
manusia. Namun, semakin tinggi dan besar harapan yang dibangun, dan
semakin bertentangan dengan kenyataan, maka ia akan semakin dilumuri dengan
kekecewaan yang mendalam. Jadi dia ingin memilih untuk tidak berharap sama
sekali. Dan ketika dia melihat ke luar jendela, sebelum dia menyadarinya,
dia kehilangan Mentari yang disangkanya masih menggantung di atas kepalanya,
Mentari telah menghilang dan siap tenggelam di ufuk Barat, bahkan tanpa sempat
mengucapkan selamat tinggal padanya. Dia tahu bahwa pagi hari tidak
memberikan banyak ketenangan, dan kenyataannya senja selalu menawarkan
kebenaran yang pahit. bahwa hidup hanyalah reproduksi kebohongan yang
terus menerus. Hidup adalah kartun yang hidup. Dan dibalik dadanya,
Anjing menggonggong penuh kemenangan mengejek pikiran angker itu, "Aku
Menang!"
“Aku pun, pernah dalam titik mangsa tertentu merasa tersesat,”. Aku
merasa sendirian, terisolasi, putus asa. aku juga, sering terjaga pada malam
buta tanpa alasan yang jelas, berpikir jangan-jangan terdapat sesuatu yang
keliru dalam diri ku, berpikir bahwa terdapat kekuatan tak kasat mata berdri di
antara aku dan mimpi. Aku tahu bahwa kamu meraskannya juga. Bahwa kamu tersesat
di suatu jalan setapak rahasia. kamu hanya tidak tahu, apa itu.”
Kebenarannya, semua orang mengalami hal serupa, itu merupakan
fakta dari kondisi manusia. Kita semua merasa tak berdaya untuk menyetarakan
perasaan rasa bersalah yang menyusup ke relung eksistensi kita. Kita semua
menderita dan merupakan korban dari sesuatu, terkhusus ketika kita masih muda.
Kita menghabiskan sisa usia untuk mengompensasi seluruh penderitaan tersebut. Dan terdapat momen dalam hidup ketika sesuatu tidak berjalan
sesuai harapan, kita kecewa.
Tapi seperti pergulatan banyak orang, Kamu membungkus diri sendiri
dengan kesakitan yang kamu lupakan dari mana rasa sakit itu datang, dan
perselisihan seperti itu tidak hanya terjadi kepada kamu. Justru, itu hal yang
universal. Dan karena kamu melupakan hal ini.
Maka sekali lagi, izinkan aku mengungkapkan keprihatinan yang
mendalam kepada lelaki yang bermata sayu dan kurus itu, akibat trauma dan
pesimisme yang lahir dari keterkejutan yang hebat, ia merutuki dirinya sendiri
yang diliputi banyak ekspektasi atau harapan. Sampai dia mau tak ada
harapan, sampai nanti ayo kita tuntut lagi. Bukankah saat dia berkata “Aku
tidak mau berharap lagi”, saat itulah dia “berharap”. Sekali lagi,
kontradiksi pada akhirnya. Hal serupa terjadi misalnya pada dalil
“kebenaran itu relatif”, dan ketika orang yang berpendapat seperti itu tetap
teguh dengan dalilnya, maka ia telah memutlakkan kebenaran, bahwa “kebenaran
itu relatif” adalah mutlak.
Harapan hanya memperpanjang kesengsaraan manusia
˷Nietzsche˷

Tidak ada komentar:
Posting Komentar