Pengikut

Selasa, 28 Maret 2023

MATA YANG TERLATIH MENGGALI INGATAN

 


Hiruk pikuk kehidupan membawakan manusia pada rasa bersalah akan yang pernah ia lakukan kepada seseorang. Selepas hujan reda, di malam ke-7 bulan ramadhan ini secara tak sengaja aku membuka handphone ku, sebuah pesan dari masa lalu yang menimbulkan tanya, “aku minta maaf”, sebuah kata  minta maaf itu benar-benar tertulis di kontak sosial media itu, aku sentak terheran, minta maaf itu benar-benar upaya yang sulit, jadi kenapa harus repot-repot membuat janji yang tak berniat ditepati? Kenapa harus repot-repot menanam harap pada orang lain kalau tidak mampu bertanggung jawab dengan ekspetasi orang itu? Kenapa perlu membuat sakit hati orang lain kalau tidak siap diborgol rasa bersalah itu?

Aku percaya betul, ia datang bukan intensi minta maaf, ia hanya mau aku membebaskan dia dari rasa bersalah, permohonan itu hanya ekspresi ketidakberdayaan dia dari rasa bersalah yang korosif dalam mental.

Kedatangannya bak bola liar yang menggelinding dengan cepat ke arah ku, yang membuat aku mahfum “kalau memaafkan dan membebaskan seseorang dari rasa bersalah adalah dua hal yang berbeda”. Memaafkan adalah suatu perkara sulit jika sebuah luka yang diberikan sangat menyakitkan. Aku mungkin bisa berkata bahwa telah memaafkan perempuan itu untuk supaya ia bisa terbebas dari rasa bersalahnya, namun kata-kata palsu itu terasa tidak adil untuk ku. Kata-kata itu justru jadi berat di lidah untuk hal sepersonal ini.

Pada akhirnya pikir ku, “tidak apa-apa aku tidak bisa memaafkan sekarang, namun apakah aku membenci perempuan itu?” Aku tidak lagi membenci mu, setelah proses pergulatan sampai hari ini, tidak pernah aku mengalami lompatan perubahan perspektif seintens ini,  seperti ada revolusi yang bekerja dari dalam diri. Aku justru terlatih memetik hikmah rahasia di tiap peristiwa traumatis, lalu aku menyadari rasa syukur sangat langkah, karena ia tercecer di tanah-tanah tandus yang angker. Dan tragedi pada akhirnya hanya komedi yang tertunda.

Belum bisa memaafkan mu, memang itu tidak bisa disangkal. Maaf memang akan datang dengan sendirinya, bahkan tanpa perantara bahasa, ia akan bisa kita pahami bahkan lewat perantara ekspresi. Maaf adalah komunikasi yang melibatkan intuisi. Segunung logika dan sebanyak apa pun busa kata-kata tak akan sanggup mewakilinya. Tapi aku pun bersyukur atas kesalahan yang diberikan. Aku bahkan mensyukuri atas ketidaknyamanan atas teklingan dari belakang itu, sebab bisa mendapatkan ide seperti ini,

Kepada dirimu yang hanya lagi mau mengekspresikan rasa bersalahnya, aku justru yang mau minta maaf sebagaimana tata krama sosial yang berlaku kalau aku belum bisa memaafkan. Aku juga tidak mau menggerakkan otot bibir ku untuk berpura-pura memaafkannya dengan cara yang ia mau. Aku mau jadi manusia biasa dulu, aku tidak mau sok-sok ideal seperti orang lain yang mencoba tetap heroik meski dada kirinya ditikam kecewa dan kekesalan.



30 hari menulis buruk

Day 7

1 komentar: