Beberapa orang terlahir ke dunia dengan tangan-tangan yang siap
menyambut. Dengan rumah yang tidak hanya beratap, tapi juga bernapas. Hangat.
Penuh.
Aku tidak terlahir di sana.
Aku terlahir di ruang yang sempit, di mana dinding-dindingnya
menyimpan lebih banyak kekhawatiran daripada tawa. Di mana pertanyaan tentang
besok selalu lebih besar dari pertanyaan tentang hari ini. Keluarga kami tidak
kekurangan dalam arti yang paling dramatis, tapi kami juga tidak pernah
benar-benar berkecukupan. Ada masa di mana makan adalah soal prioritas, bukan
selera. Ada masa di mana "cukup" adalah kemewahan yang kami rayakan
diam-diam.
Tapi kemiskinan yang paling dalam bukan soal uang.
Kemiskinan yang paling dalam adalah ketika ayahmu pergi, bukan
karena maut, tapi karena memilih pergi.
Aku masih kecil ketika itu terjadi. Terlalu kecil untuk memahami
sepenuhnya, tapi cukup besar untuk merasakan bahwa sesuatu yang besar telah
runtuh. Ayahku pergi bersama perempuan lain. Meninggalkan kami di rumah yang
tiba-tiba terasa seperti kulit tanpa isi. Meninggalkan ibu dengan mata yang
berubah setelah malam itu, dengan punggung yang tetap tegak di depanku tapi aku
tahu, di baliknya, ada sesuatu yang sedang runtuh perlahan.
Aku tidak pernah benar-benar diberi penjelasan yang cukup. Anak
kecil memang jarang diberi penjelasan yang cukup. Hanya ada kekosongan di kursi
makan, kekosongan di hari-hari yang dulunya biasa, dan kekosongan yang anehnya
tidak ada yang berani menamainya.
Jadi aku menyebutnya sendiri, dalam bahasa yang aku ciptakan
sendiri, dalam diam.
Ibu adalah perempuan yang kuat. Aku tahu itu. Semua orang di
sekitar kami tahu itu. Ia bekerja keras dengan cara yang tidak pernah ia
keluhkan di depanku. Ia memastikan ada nasi di meja, ada seragam yang bersih,
ada uang jajan yang meski sedikit, selalu ada. Ia adalah fondasi yang tidak
pernah benar-benar goyah di permukaan.
Tapi luka ibu adalah luka yang lain jenisnya.
Luka ibu adalah luka yang tidak pernah diberi waktu untuk
disembuhkan, karena hidup tidak memberi ibu kemewahan untuk berhenti dan
merasakannya. Luka ibu hidup di sela-sela kelelahan, di ujung-ujung malam yang
panjang, di cara ia kadang menatap ke arah yang tidak ada apa-apanya dengan
pandangan yang jauh sekali. Luka ibu tinggal di dalam kata-kata yang ia simpan
terlalu rapat dan tidak pernah ia keluarkan di depanku, mungkin karena ia ingin
melindungi aku, atau mungkin karena ia sendiri tidak tahu bagaimana cara
menyampaikannya.
Dan luka terbesar ibu adalah ketidakmampuannya untuk memaafkan.
Bukan karena ibu jahat. Bukan karena ibu lemah. Tapi karena
pengkhianatan seperti itu, pengkhianatan yang memilih perempuan lain di atas
keluarga, di atas anak-anak, di atas janji yang pernah diucapkan, adalah jenis
luka yang tidak datang dengan petunjuk cara sembuhnya. Ibu menyimpan amarah itu
seperti menyimpan sesuatu yang berharga. Amarah itu adalah satu-satunya cara ia
membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia berhak untuk merasa disakiti. Bahwa
apa yang terjadi adalah nyata. Bahwa ia bukan gila ketika merasa hancur.
Dan aku, sebagai anaknya, tumbuh di antara dua hal itu sekaligus.
Ketabahan ibu yang luar biasa, dan luka ibu yang tidak pernah benar-benar
padam.
Ketika kecil, aku belajar membaca suasana sebelum aku belajar
membaca buku.
Aku belajar kapan harus diam, kapan harus menghilang ke sudut
kamar, kapan harus berpura-pura tidur agar ibu tidak merasa harus menjaga
perasaanku di saat ia sendiri sedang kehabisan tenaga untuk menjaga perasaannya
sendiri. Aku belajar bahwa kebutuhanku adalah sesuatu yang harus diukur dulu
sebelum diungkapkan. Bahwa ada waktu yang tepat dan waktu yang tidak tepat. Dan
seiring waktu, aku berhenti mengukur, lalu mulai menelan saja.
Kemandirian itu datang bukan karena aku anak yang luar biasa. Ia
datang karena tidak ada pilihan lain.
Aku tumbuh menjadi anak yang tidak banyak bertanya, tidak banyak
mengeluh, tidak banyak meminta. Di sekolah aku terlihat baik-baik saja. Di
depan teman-teman aku terlihat cukup. Tidak ada yang tahu bahwa di rumah, kami
sedang belajar bertahan dengan cara yang paling pelan dan paling sunyi.
Tidak ada yang tahu bahwa kadang aku iri, bukan pada anak-anak yang
lebih kaya, tapi pada mereka yang bisa pulang ke rumah dan disambut oleh
sesuatu yang lebih dari sekadar kelelahan dan diam.
Nama ayah jarang disebut di rumah kami.
Tapi ia hadir di mana-mana, justru karena tidak pernah disebut.
Ia hadir di cara ibu mengeraskan rahangnya ketika ada yang tidak
sengaja menyebut nama lelaki. Ia hadir di cara ibu bekerja begitu keras
seolah-olah kelelahan adalah pelarian terbaik dari pikiran yang tidak mau
berhenti. Ia hadir di cara kami, anak-anaknya, belajar diam tentang hal-hal
yang paling penting, karena rumah kami tidak punya ruang untuk bicara tentang
luka.
Aku tumbuh tidak tahu bagaimana cara berbicara tentang perasaan.
Bukan karena tidak punya perasaan. Justru sebaliknya. Aku punya
terlalu banyak. Tapi tidak ada yang pernah mengajari aku bahwa perasaan itu
boleh dikeluarkan. Bahwa marah itu boleh diakui. Bahwa sedih itu boleh
disampaikan. Di rumah kami, bertahan adalah bahasa utamanya. Dan bertahan tidak
punya kosakata untuk hal-hal seperti itu.
Pernah, sekali, aku bertanya pada ibu tentang ayah.
Aku lupa persis kata-katanya, tapi aku ingat cara ibu terdiam
sebentar, seperti menimbang sesuatu yang berat, lalu menjawab singkat dengan
nada yang tidak marah tapi juga tidak hangat. Sebuah jawaban yang cukup untuk
menutup pertanyaan tapi tidak cukup untuk menutup lubang yang pertanyaan itu
ciptakan.
Aku tidak pernah bertanya lagi setelah itu.
Dan ibu tidak pernah memulai pembicaraan itu sendiri. Kami
bertumbuh dalam kesepakatan diam yang tidak pernah kami buat secara resmi.
Bahwa ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan tidak dikatakan. Bahwa kelangsungan
hidup lebih penting dari pemahaman.
Mungkin ibu benar. Mungkin di saat itu, itu adalah keputusan
terbaik yang bisa ia buat. Tapi akibatnya, aku tumbuh dengan potongan-potongan
cerita yang tidak pernah lengkap. Dengan pertanyaan yang menggantung tanpa
jawaban. Dengan gambaran tentang ayah yang aku susun sendiri dari bayang-bayang
dan dari apa yang tidak dikatakan siapapun.
Yang paling sulit bukan membenci ayah.
Yang paling sulit adalah tidak tahu harus menaruh rasa apa.
Aku tidak cukup mengenalnya untuk membenci dengan benar. Aku tidak
punya kenangan yang cukup hangat untuk dirindukan. Yang aku punya hanyalah
kekosongan berbentuk manusia, dan kebingungan tentang bagaimana seharusnya aku
merespons kekosongan itu.
Apakah aku harus marah? Aku coba. Tapi marahnya terasa aneh,
seperti marah pada bayangan.
Apakah aku harus sedih? Aku coba juga. Tapi sedihnya tidak punya
objek yang jelas untuk ditangisi.
Pada akhirnya yang tersisa adalah semacam kehilangan yang tidak
bisa diberi nama dengan tepat. Kehilangan bukan pada sosok yang aku kenal, tapi
pada versi hidup yang seharusnya bisa aku jalani. Pada ayah yang seharusnya
ada. Pada masa kecil yang seharusnya tidak harus sekeras ini.
Ibu tidak pernah sembuh dari luka itu, aku tahu sekarang.
Dan itu bukan kesalahannya.
Beberapa luka memang tidak dirancang untuk sembuh sepenuhnya.
Beberapa luka hanya bisa dikelola, dipelajari cara hidup bersamanya, agar tidak
sampai memakan segalanya. Ibu melakukan itu dengan caranya sendiri, dengan cara
yang tidak sempurna, dengan cara yang kadang tanpa sengaja meninggalkan bekas
di kami juga.
Tapi ibu juga tidak pernah pergi.
Dan dalam kamus hidup kami yang sederhana dan keras, itu bukan hal
kecil. Itu adalah segalanya.
Aku dewasa dengan kebiasaan-kebiasaan yang baru belakangan ini aku
sadari akarnya dari mana.
Aku tidak terbiasa meminta tolong, karena sejak kecil aku belajar
bahwa orang-orang di sekitarku sudah terlalu berat bebannya. Aku tidak terbiasa
bercerita, karena tidak ada yang pernah mengajakku bercerita terlebih dahulu.
Aku tidak terbiasa mengekspresikan kebutuhan emosionalku, karena di rumah kami,
kebutuhan yang terlihat hanyalah kebutuhan yang bisa diukur dengan uang dan
makanan.
Aku mencari kehangatan di tempat-tempat yang salah, pada
orang-orang yang juga tidak tahu cara memberikannya dengan benar. Aku salah
membaca perhatian kecil sebagai cinta besar, karena aku tidak pernah belajar
bedanya dari rumah. Aku terlalu bertahan, terlalu menyimpan, terlalu diam.
Dan ketika orang-orang mendekat dan bertanya "kamu baik-baik
saja?", aku selalu menjawab iya, karena aku tidak tahu cara lain untuk
menjawabnya.
Tapi ini bukan cerita tentang menyalahkan.
Ibu mencintai kami dengan cara yang ia bisa. Dengan cara yang ia
pelajari dari hidupnya sendiri yang juga tidak mudah. Dengan cara yang terbatas
oleh kelelahan, oleh luka, oleh kemiskinan yang tidak hanya soal materi tapi
juga soal waktu dan ruang untuk hadir sepenuhnya.
Ayah, aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin ia juga
punya lukanya sendiri yang tidak pernah ia akui. Mungkin ia juga adalah produk
dari rumah yang dingin dan sunyi. Tapi pilihannya tetap adalah pilihannya. Dan
konsekuensinya tetap harus kami tanggung, aku dan ibu, dan semua yang tersisa
di rumah yang ia tinggalkan.
Ada hal-hal yang tidak bisa dimaafkan dengan mudah. Dan ada hal-hal
yang meskipun pada akhirnya dimaafkan, bekasnya tetap tinggal.
Itu bukan kelemahan. Itu hanya kemanusiaan.
Yang paling aku takuti sekarang bukan masa lalunya.
Yang paling aku takuti adalah mewariskannya.
Bahwa diamku yang aku pelajari dari rumah akan menjadi diam yang
aku ajarkan tanpa sadar pada orang-orang yang kelak ada di dekatku. Bahwa
ketidakmampuanku untuk hadir secara emosional akan menjadi pola yang berulang.
Bahwa luka yang tidak pernah diberi nama di rumah kami akan terus berjalan,
turun ke bawah, tanpa ada yang menyadari kapan rantainya dimulai.
Maka aku mulai belajar menamai.
Perlahan. Tidak sempurna. Sering kali canggung dan terasa asing di
mulutku sendiri.
Aku belajar mengatakan "aku sedih" ketika aku sedih.
Belajar mengatakan "aku butuh bantuan" ketika aku butuh bantuan.
Belajar duduk dengan perasaan yang tidak nyaman alih-alih langsung menguburnya
di bawah kesibukan. Belajar bahwa menjadi rapuh bukan berarti menjadi lemah.
Bahwa meminta tolong bukan berarti membebani.
Ini bukan hal yang mudah dipelajari di usia yang sudah tidak muda.
Tapi lebih baik terlambat daripada tidak pernah.
Untuk ibu yang lukanya tidak pernah sembuh, aku ingin berkata bahwa
aku tidak menghakimi.
Aku tahu betapa beratnya menjaga rumah sendirian. Aku tahu betapa
melelahkannya menjadi kuat setiap hari tanpa ada yang bertanya apakah kamu
baik-baik saja. Aku tahu betapa sulitnya memaafkan sesuatu yang tidak hanya
menyakiti kamu sebagai perempuan, tapi juga sebagai ibu, sebagai manusia yang
percaya dan kemudian dikhianati.
Kamu tidak harus memaafkannya untuk sembuh.
Tapi aku berharap, suatu hari, kamu bisa menaruh amarah itu dengan
lembut. Bukan membuangnya, karena ia adalah bagian dari ceritamu. Tapi
menaruhnya di tempat yang tidak lagi membakarmu dari dalam.
Kamu layak untuk itu.
Dan untuk anak kecil yang dulu adalah aku, yang belajar diam
sebelum belajar bersuara, yang belajar bertahan sebelum belajar hidup, yang
tumbuh terlalu cepat karena tidak ada pilihan lain.
Kamu sudah cukup berjuang.
Luka itu bukan salahmu. Kemiskinan itu bukan salahmu. Kepergian
ayah itu bukan salahmu. Kamu tidak memilih dilahirkan di tengah cerita yang
sudah terlanjur rumit sebelum kamu sempat mengerti apa itu kerumitan.
Dan kamu berhak, meskipun terlambat, untuk menciptakan ruang yang
lebih hangat. Untuk dirimu sendiri. Untuk orang-orang yang kamu sayangi. Untuk
generasi yang mungkin kelak akan mewarisi ceritamu, agar yang mereka warisi
bukan lagi diamnya, tapi keberanianmu untuk akhirnya bersuara.
Sunyi yang dulu diwariskan padaku tidak harus aku teruskan.
Rantai bisa diputus. Pola bisa diubah. Luka bisa berhenti di sini,
di tangan yang sadar, di hati yang mau belajar.
Dan itu, mungkin, adalah warisan terbaik yang bisa aku siapkan.
Bukan kesempurnaan. Bukan keluarga yang bebas dari luka. Tapi
kesadaran bahwa luka perlu diakui, perlu dipahami, dan perlu dihentikan
perjalanannya.
Supaya tidak ada lagi anak kecil yang tumbuh mewarisi sunyi, ketika
yang ia butuhkan sejak awal hanyalah dekapan.
30 Hari Menulis
Buruk
Hari Ke-4

Tidak ada komentar:
Posting Komentar