Ada paradoks yang jarang kita bicarakan. Betapa seseorang bisa
merasa paling sendiri justru ketika sedang dikelilingi orang banyak.
Bukan di kamar yang gelap. Bukan di malam minggu tanpa rencana.
Tapi di tengah meja makan yang ramai, di antara tawa yang saling bersahutan, di
sela percakapan yang terus bergulir di sanalah, kadang, rasa itu paling keras
bersuara. Seperti ada jarak tipis yang tidak terlihat mata, tapi terasa di
tulang.
Kita sudah sangat mahir berpura-pura hadir.
Generasi ini tumbuh dengan keterampilan baru yang tidak diajarkan
di sekolah, keterampilan tampak baik-baik saja. Kita belajar memilih foto yang
tepat, menyusun kalimat yang terdengar ringan, membalas pesan dengan nada yang
tidak membebani siapa-siapa. Kita tahu cara mengisi ruang sosial dengan cukup tidak
terlalu banyak, tidak terlalu sedikit agar tidak ada yang bertanya lebih dalam.
Dan kita melakukan ini dengan sangat baik, sehingga bahkan
orang-orang terdekat pun tidak tahu bahwa di balik semua itu, ada yang sedang
kelelahan.
Bukan lelah karena kurang tidur. Tapi lelah karena terlalu lama
menjadi versi diri yang bisa diterima semua orang.
Saya pernah berada di sebuah pesta ulang tahun teman yang sudah
saya kenal bertahun-tahun. Ruangan penuh, musik cukup keras untuk mengisi jeda
yang canggung, makanan tersebar di mana-mana. Semua orang terlihat menikmati
malam itu. Saya pun ikut tertawa, ikut menyahut, ikut mengangkat gelas.
Tapi di suatu titik, saya pergi ke balkon sendirian dengan alasan
menghirup udara segar. Dan di sana, sambil memandang lampu-lampu kota yang
tidak pernah benar-benar padam, saya menyadari satu hal: saya tidak tahu siapa
di dalam ruangan itu yang bisa saya ajak bicara dengan jujur, tanpa
mempertimbangkan lebih dulu bagaimana mereka akan merespons.
Bukan karena mereka orang yang buruk. Tapi karena saya sudah lupa
cara memulainya.
Ada bentuk kesepian yang lahir bukan dari ketiadaan hubungan, tapi
dari hubungan yang berhenti tumbuh. Percakapan yang selalu membahas hal yang
sama. Teman yang bertahun-tahun dekat tapi entah sejak kapan hanya tersisa
basa-basi yang sopan. Hubungan yang masih berdiri tapi sudah tidak ada yang
menghuni di dalamnya.
Kita menyebutnya "masih teman baik" karena tidak tahu
kata apa yang lebih tepat untuk menggambarkan kedekatan yang perlahan jadi
asing.
Dan yang menyedihkan bukan jarak itu sendiri, melainkan fakta bahwa
kita seringkali sadar tapi tidak tahu harus berbuat apa. Menghubungi setelah
lama diam terasa janggal. Membuka percakapan yang terlalu dalam terasa
tiba-tiba. Maka kita diam. Dan mereka pun diam. Dan jarak itu mengeras menjadi
sesuatu yang lebih sulit dijangkau.
Di kota-kota besar, ada gaya hidup yang mengagungkan kemandirian.
Tinggal sendiri dianggap pencapaian. Tidak membutuhkan orang lain dianggap
kedewasaan. Tidak mudah terbawa perasaan dianggap kestabilan.
Kita membangun diri menjadi pulau-pulau kecil yang rapi, bersih,
cukup, dan jauh.
Lalu kita heran kenapa malam terasa panjang.
Saya tidak sedang menyalahkan kemandirian. Kemampuan untuk berdiri
sendiri adalah hal yang sungguh berharga. Tapi ada bedanya antara memilih untuk
tidak bergantung dan tidak lagi tahu bagaimana cara bersandar bahkan ketika
kita ingin.
Kemandirian yang sehat seharusnya membuat kita bebas memilih
kedekataan, bukan membuat kita lupa bahwa kedekatan itu mungkin.
Yang aneh dari keramaian adalah ia bisa menjadi tempat bersembunyi
yang sempurna.
Selama ada agenda, ada notifikasi, ada orang yang menunggu balasan,
ada jadwal yang harus dipenuhi kita tidak perlu duduk berdua dengan diri
sendiri. Kesibukan adalah kebisingan yang ramah, yang mengisi kepala dengan
cukup suara sehingga pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman tidak sempat
diucapkan.
Pertanyaan seperti, apakah saya bahagia, atau hanya sibuk?
Apakah saya benar-benar dekat dengan orang-orang ini, atau hanya
terbiasa bersama mereka?
Apakah saya memilih hidup yang saya jalani, atau hanya mengikuti
arus yang terlanjur deras?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu ingin kita hadapi. Maka kita
pilih ramai. Kita pilih penuh. Kita pilih terus bergerak supaya tidak perlu
berhenti dan melihat ke dalam.
Tapi ada momen-momen di mana keramaian itu retak.
Biasanya datang tanpa undangan. Mungkin di perjalanan pulang yang
terlalu panjang. Mungkin di detik setelah mematikan layar dan sebelum
memejamkan mata. Mungkin di hari yang terlalu biasa, ketika tidak ada yang
salah tapi tidak ada yang benar-benar terasa hidup juga.
Di sana, di celah kecil itu, kesepian muncul bukan sebagai musuh
yang harus dikalahkan, tapi sebagai sesuatu yang lebih menyerupai cermin. Ia
tidak berteriak. Ia hanya menunjuk.
Dan yang ia tunjukkan seringkali bukan kekosongan, melainkan
sesuatu yang sudah lama tidak kita perhatikan: bahwa kita rindu dikenal, bukan
sekadar dikenal keberadaannya, tapi dikenal isinya.
Saya teringat sebuah penelitian yang pernah saya baca bahwa salah
satu faktor terkuat yang memengaruhi kebahagiaan manusia bukan kekayaan, bukan
kesuksesan karier, tapi kualitas hubungan. Bukan jumlahnya. Kualitasnya.
Artinya satu percakapan yang sungguh-sungguh bisa lebih
menyembuhkan dari seratus interaksi yang sopan tapi kosong.
Kita tahu ini secara intuitif. Kita tahu rasanya punya satu teman
yang bisa kita telpon pukul dua pagi tanpa perlu menjelaskan mengapa. Kita tahu
betapa ringannya duduk bersama seseorang yang tidak membuat kita merasa perlu
menjadi siapa-siapa.
Tapi kita juga tahu betapa sulitnya menemukan, atau mempertahankan,
ruang seperti itu di tengah kehidupan yang terus bergerak.
Yang ironis adalah semakin banyak cara kita untuk terhubung,
semakin kita lupa bagaimana cara benar-benar hadir.
Kita bicara sambil melirik layar. Kita mendengar tapi setengah
menyusun respons. Kita hadir secara fisik tapi pikiran sedang di tempat lain.
Dan secara perlahan, kebiasaan setengah-hadir ini menjadi norma, sesuatu yang
tidak lagi terasa aneh karena semua orang melakukannya.
Tapi tubuh kita tahu. Ada bagian dalam diri yang bisa membedakan
antara ditemani dan benar-benar diperhatikan. Dan bagian itu, ketika terlalu
lama diabaikan, menjadi sumber dari rasa sunyi yang tidak bisa dijelaskan
dengan kata-kata sederhana.
Saya tidak punya solusi yang rapi untuk ini. Saya tidak percaya
pada daftar langkah-langkah yang menjanjikan koneksi yang lebih dalam dalam
tiga puluh hari.
Yang saya percaya adalah bahwa mengakui rasa ini sudah merupakan
sesuatu. Tidak terburu-buru mengisinya dengan keramaian berikutnya. Duduk
sebentar bersamanya dan bertanya, apa sebenarnya yang sedang dibutuhkan.
Kadang jawabannya sederhana: satu percakapan yang jujur.
Menghubungi seseorang yang sudah lama tidak dihubungi, bukan dengan alasan
tertentu, tapi hanya karena ingin tahu kabarnya. Membiarkan diri menjadi
sedikit lebih rentan dari yang biasanya kita izinkan.
Bukan karena itu mudah. Tapi karena itulah, justru, yang paling
kita butuhkan.
30 Hari Menulis
Buruk
Hari Ke-5
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar