Pengikut

Kamis, 19 Februari 2026

WACANA KITA TIDAK SEJUJUR ITU

 



Politik identitas sering dituduh sebagai penyakit demokrasi modern. Ia dianggap memecah belah, mempersempit cakrawala solidaritas, dan mengubah ruang publik menjadi arena perang pengakuan yang tak berkesudahan. Namun tuduhan itu terlalu mudah dan terlalu cepat. Sebelum menghakimi, kita perlu membaca lebih dalam dari mana ia lahir, apa yang sesungguhnya ia kerjakan, dan mengapa ia terus hidup bahkan di tengah kritik paling keras sekalipun.

Politik identitas tidak muncul dari kehampaan. Ia lahir dari pengalaman nyata kelompok-kelompok yang terluka, yang terpinggirkan, yang nama mereka disebut hanya ketika dibutuhkan dan dilupakan ketika hak-hak mereka ditagih. Ketika perempuan menuntut didengar bukan sebagai ibu atau istri tetapi sebagai subjek politik yang otonom, ketika minoritas etnis menolak diperlakukan sebagai dekorasi dalam narasi nasional yang homogen, ketika komunitas yang selama ini tak kasatmata mulai memberi nama pada kesakitan mereka, itu semua adalah bentuk-bentuk dari apa yang kita sebut politik identitas. Ia bukan teori akademik yang turun dari menara gading. Ia adalah respons terhadap dunia yang memang tidak adil.

Kesalahan terbesar dalam memahami politik identitas adalah menganggap identitas sebagai sesuatu yang alami, tetap, dan sudah ada sejak semula. Padahal identitas adalah konstruksi sosial, historis, dan politis. Tidak ada yang dilahirkan sebagai "minoritas" atau "mayoritas" dalam pengertian yang sudah jadi. Kategori-kategori itu dibentuk oleh kekuasaan, diperkuat oleh institusi, dan diwariskan melalui bahasa dan kebiasaan.

Stuart Hall, salah satu pemikir tentang identitas, menegaskan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang kita miliki melainkan sesuatu yang terus-menerus kita produksi. Identitas selalu dalam proses, selalu dalam pembentukan. Ini bukan kelemahan, ini adalah hakikatnya. Identitas etnis yang tampak kuno dan tak tergoyahkan sebenarnya sering kali merupakan produk politik kolonial yang baru berusia dua ratus tahun. Identitas nasional yang terasa seperti darah dan tanah sesungguhnya ditenun dari narasi-narasi yang dipilih secara selektif, dari sejarah yang ditulis oleh mereka yang menang. Ketika kita memahami identitas sebagai konstruksi, pertanyaannya bukan lagi apakah identitas itu benar atau palsu, tetapi bagaimana ia dikonstruksi, oleh siapa, untuk kepentingan apa, dan siapa yang paling menanggung beban dari konstruksi itu.

Axel Honneth, dalam kerangka teori pengakuannya, menunjukkan bahwa perjuangan untuk diakui adalah salah satu motor terdalam dari konflik sosial. Manusia tidak hanya membutuhkan materi untuk bertahan hidup. Mereka membutuhkan pengakuan atas martabat mereka, atas kekhasan mereka, atas hak mereka untuk ada sebagai diri mereka sendiri. Ketika pengakuan itu ditolak, ketika seseorang diperlakukan seolah tidak ada atau seolah keberadaannya adalah beban, luka yang ditimbulkan bukan sekadar luka psikologis. Ia adalah luka politis.

Di sinilah politik identitas menemukan energinya yang paling dalam. Ia adalah perlawanan terhadap ketidakpengakuan. Gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat bukan hanya perjuangan untuk kesetaraan hukum formal. Ia adalah tuntutan agar kemanusiaan orang kulit hitam diakui secara penuh dan tanpa syarat dalam sebuah masyarakat yang selama berabad-abad membangun kemakmurannya di atas penyangkalan kemanusiaan itu. Gerakan feminisme bukan hanya soal upah yang setara atau kursi yang sama di meja kekuasaan. Ia adalah penolakan terhadap tatanan simbolik yang menempatkan perempuan sebagai objek, bukan subjek dari sejarah.

Namun di sini pula letak komplikasinya. Ketika perjuangan pengakuan berhasil memasuki arena politik formal, ia sering mengalami transformasi yang tak terduga. Pengakuan bisa dijinakkan menjadi komoditas, menjadi representasi yang dangkal tanpa perubahan struktural yang nyata. Sebuah perusahaan besar bisa mengangkat foto-foto keberagaman dalam kampanye iklannya sambil terus membayar buruhnya dari kelompok-kelompok yang sama dengan upah minimum. Negara bisa merayakan keragaman budaya sambil terus menjalankan kebijakan yang secara sistematis memarjinalkan kelompok-kelompok tersebut. Pengakuan tanpa redistribusi adalah topeng.

Salah satu analisis tentang politik identitas datang dari kritik terhadap hubungannya dengan kapitalisme. Nancy Fraser mengingatkan kita bahwa ada bahaya besar ketika perjuangan atas pengakuan identitas dipisahkan dari perjuangan atas redistribusi ekonomi. Ketika keduanya diputus, yang terjadi adalah apa yang ia sebut sebagai progresivisme yang ramah terhadap pasar sebuah feminisme, yang merayakan perempuan CEO sambil melupakan jutaan perempuan yang membersihkan kantor-kantor tempat para CEO itu bekerja.

Kapitalisme ternyata sangat pandai menyerap dan mendaur ulang logika identitas. Identitas menjadi niche pasar. Keberagaman menjadi nilai merek. Perbedaan yang semula subversif diubah menjadi daya tarik konsumen. Produk dijual bukan hanya sebagai barang, tetapi sebagai pernyataan identitas. Kamu bukan hanya membeli sepatu, kamu membeli cara menjadi diri sendiri. Kamu bukan hanya berlangganan layanan streaming, kamu bergabung dengan komunitas yang punya selera tertentu. Hasrat untuk diakui, untuk dilihat, untuk menjadi bagian dari sesuatu yang bermakna, semuanya dikapitalisasi dengan sangat efisien. Ini tidak berarti bahwa semua ekspresi identitas adalah palsu atau sekadar permainan kapitalisme. Namun ia menuntut kita untuk lebih kritis ekspresi identitas seperti apa yang sungguh-sungguh menantang tatanan yang ada, dan mana yang hanya memperkaya tatanan itu dengan sentuhan warna-warni keberagaman?

Salah satu ketegangan dalam politik identitas adalah bahwa identitas dapat sekaligus menjadi perisai dan penjara. Sebagai perisai, identitas memberikan solidaritas, rasa memiliki, dan kekuatan kolektif bagi mereka yang selama ini rentan dan terisolasi. Seorang perempuan muda yang tumbuh merasa aneh dengan dirinya sendiri bisa menemukan komunitas yang membuatnya merasa tidak sendirian. Seorang imigran generasi pertama yang tersesat di antara dua dunia bisa menemukan bahasa untuk menceritakan pengalamannya. Ada sesuatu yang nyata dan berharga dalam kekuatan itu.

Namun identitas juga bisa menjadi penjara ketika ia mulai mendefinisikan secara ketat siapa kita dan siapa yang bukan bagian dari kita. Ketika identitas kelompok mulai memaksakan keseragaman internal, ketika perbedaan di dalam kelompok disensor demi menjaga kemurnian narasi, ketika seseorang dihakimi bukan berdasarkan apa yang ia pikirkan dan lakukan tetapi berdasarkan kategori identitas yang ia sandang, maka politik identitas berbalik menjadi bentuk represi yang baru, hanya dengan arah yang berbeda. Wendy Brown, dalam kritiknya yang tajam, menunjukkan bagaimana politik identitas bisa terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai "wounded attachments", keterikatan pada luka. Ketika identitas kelompok dibangun terutama di atas narasi penderitaan dan viktimisasi, ada risiko bahwa penderitaan itu menjadi fondasi dari rasa diri yang tidak mau sembuh, karena sembuh berarti kehilangan diri. Luka menjadi modal, bukan sesuatu yang perlu diatasi. Ini bukan berarti penderitaan tidak nyata atau tidak penting. Ia nyata dan penting. Tetapi penderitaan saja tidak cukup sebagai basis untuk membangun proyek politik yang emansipatoris.

Kritik paling keras terhadap politik identitas datang dari spektrum kiri sendiri. Mereka yang percaya bahwa perjuangan kelas harus menjadi sumbu utama perubahan sosial melihat politik identitas sebagai kekuatan yang memecah-belah solidaritas antar kelas. Ketika kaum pekerja terbagi-bagi dalam kotak-kotak identitas yang saling bersaing, ketika perhatian publik habis untuk perdebatan tentang representasi simbolik daripada struktur ekonomi yang menghisap, maka kapitalisme justru aman karena musuhnya sibuk berperang satu sama lain.

Ini adalah kritik yang layak didengar, meski tidak seluruhnya tepat. Sejarah menunjukkan bahwa gerakan kelas yang mengabaikan dimensi ras, gender, dan identitas lainnya tidak lebih unggul dalam membangun solidaritas yang sejati. Ketika gerakan buruh di Amerika pada awal abad dua puluh membangun solidaritas di atas pengucilan pekerja kulit hitam dan perempuan, solidaritas itu palsu sejak awalnya dan mudah dibelah ketika kekuasaan membutuhkannya. Gerakan yang benar-benar emansipatoris harus mampu memegang dua hal sekaligus perjuangan melawan eksploitasi ekonomi dan perjuangan melawan dominasi berbasis identitas, karena keduanya tidak pernah terpisah dalam kehidupan nyata orang-orang yang paling tertindas.

Internet dan media sosial telah mengubah dinamika politik identitas secara dramatis. Di satu sisi, platform digital memberikan suara kepada mereka yang selama ini tidak memiliki akses ke media arus utama. Narasi-narasi yang selama puluhan tahun tidak dianggap layak diberitakan kini bisa menyebar secara viral. Gerakan-gerakan seperti #MeToo atau #BlackLivesMatter mendapatkan jangkauan global yang tidak akan mungkin terjadi di era sebelum internet. Namun di sisi lain, logika platform digital bekerja dengan cara yang mengkhawatirkan. Algoritma dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan, dan keterlibatan paling mudah dipicu oleh emosi yang kuat kemarahan, rasa terancam, kebanggaan kelompok, kebencian terhadap musuh. Identitas kelompok menjadi semakin kaku dan reaktif karena setiap hari diperkuat oleh gelembung informasi yang hanya memperlihatkan cerminan keyakinan kita sendiri. Perbedaan yang semula bisa dijembatani oleh dialog menjadi jurang yang terasa tak terdamaikan karena tidak ada ruang untuk menemukan kompleksitas satu sama lain.

Lebih jauh lagi, politik identitas di era digital mudah dibajak. Ketakutan identitas adalah bahan bakar yang paling efisien untuk populisme otoriter. Pemimpin-pemimpin yang tidak punya agenda emansipatoris apapun bisa mengeksploitasi perasaan terancam dari kelompok mayoritas yang merasa kehilangan dominasinya, dan mengubah perasaan itu menjadi dukungan bagi kebijakan yang justru memperdalam ketidakadilan.

 
30 Hari Menulis Buruk
Hari Ke-1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar