Dulu, nenek saya pernah bilang sesuatu yang saya anggap sebagai
pepatah bijak. Katanya, "Orang yang merantau itu berani, nak. Dia pergi
bukan karena tak cinta kampung, tapi karena kampung tak punya cukup cinta
untuknya." Waktu itu saya tertawa kecil, menganggap kalimat itu puitis dan
penuh makna hidup yang dalam. Sekarang, setelah beberapa tahun menjadi salah
satu dari jutaan tubuh yang berdesakan di kota orang, saya baru paham: itu
bukan kebijaksanaan. Itu sebuah ratapan yang dibungkus rapi agar tidak
terdengar seperti keluhan. Agar kita, generasi yang mewarisi ketimpangan ini,
tidak merasa sedang dikorbankan. Agar kita tetap tersenyum sambil mengangkut
koper ke terminal bus paling larut malam.
Merantau, dalam imajinasi kolektif kita, selalu dikisahkan sebagai
babak heroik. Ada dramaturgi yang dibangun sedemikian rupa: pemuda desa yang
gigih, berangkat dengan tekad membara, lalu kembali dengan mobil dan dompet
tebal. Narasi itu hidup subur di sinetron, di ceramah motivasi, di pidato
wisuda. Kita dibesarkan dengan mitos bahwa jarak adalah investasi, bahwa rindu
adalah harga yang wajar dibayar demi kemakmuran. Tapi tidak ada yang pernah
berani bercerita tentang sisi lainnya, tentang kamar kos tiga kali dua meter
yang berbagi dinding tipis dengan tetangga yang bahkan namanya tidak kita
kenal. Tentang mie instan yang dimakan dua kali sehari bukan karena pilihan
gaya hidup, melainkan karena itu satu-satunya yang masih masuk akal setelah UMR
dipotong biaya kontrakan, ongkos transport, dan cicilan ini-itu yang entah
kapan lunas. Tentang tangis yang ditahan di toilet kantor karena menangis di
tempat terbuka di kota ini terasa seperti kelemahan yang bisa membunuh karir.
Mari kita bicara jujur sebentar, tanpa eufemisme, tanpa bungkusan
narasi yang mengharukan.
Kenapa kita merantau? Bukan karena jiwa kita dipenuhi semangat
petualangan. Bukan karena kita terinspirasi kisah Malin Kundang atau Siti
Nurbaya versi modern. Kita merantau karena di tempat kita tumbuh, tidak ada
pilihan yang layak. Lapangan pekerjaan yang tersedia di daerah, kalau pun ada,
kerap tidak sebanding dengan tingkat pendidikan yang sudah kita capai dengan
susah payah. Gaji yang ditawarkan tidak cukup untuk hidup dengan martabat,
apalagi untuk menabung dan membangun masa depan. Akses ke modal usaha tersumbat
birokrasi yang melelahkan atau terhalang jaringan pertemanan yang tidak kita
miliki karena kita bukan anak siapa-siapa. Sementara itu, kota-kota besar terus
memancarkan cahaya seperti bintang yang menarik semua mata. Lowongan kerja,
peluang bisnis, infrastruktur yang layak, fasilitas kesehatan yang tidak
membuat kita harus berdoa dua kali lebih keras, semua berputar di orbit yang
sama: pusat.
Maka kita pun berangkat. Bukan dengan gagah. Tapi dengan satu tas
besar berisi pakaian, beberapa lembar uang titipan orang tua yang senyatanya
adalah tabungan mereka bertahun-tahun, dan setumpuk harapan yang belum tentu
ada tempat berpijaknya di kota tujuan.
Dan negara, dalam diam yang nyaman, membiarkan ini terjadi. Lebih
dari itu, merayakannya. Lihat saja bagaimana pemerintah berbangga dengan angka
remitansi, uang kiriman para perantau yang mengalir ke daerah. Seolah itu
adalah indikator keberhasilan. Padahal di balik angka itu, tersimpan jutaan
cerita tentang keluarga yang terpisah, tentang orang tua yang menua tanpa
anak-anaknya di sisi, tentang anak-anak yang tumbuh lebih akrab dengan suara
panggilan video daripada pelukan nyata dari ayah atau ibu yang sedang berjuang
di kota lain.
Ada yang paling menyakitkan dari seluruh konstruksi merantau ini,
dan sering kali luput dari perbincangan. Kita, para perantau, perlahan
kehilangan tempat untuk pulang.
Bukan dalam arti fisik. Rumah di kampung masih ada. Ibu masih
memasak nasi dan lauk kesukaan kita setiap kali kita kembali. Tetangga masih
menyapa dari balik pagar. Tapi ada sesuatu yang sudah berbeda dan tidak bisa dikembalikan
ke keadaan semula. Kita sudah berubah karena kota memaksa kita berubah. Cara
berbicara, cara berpakaian, cara berpikir, cara menghadapi masalah. Kita datang
ke kampung dengan versi diri yang sudah terkikis dan dibentuk ulang oleh ritme
metropolitan yang tidak pernah berhenti. Dan kampung, dengan segala kearifannya
yang diam, menatap kita dengan tatapan yang tidak sepenuhnya mengenali.
Anak-anak kecil di gang rumah lama memanggil kita "Kak"
dengan nada sungkan, seolah kita adalah tamu penting yang harus diperlakukan
dengan protokol. Padahal dulu, kita berlari bersama mereka di jalanan yang
sama, mengejar layang-layang yang putus talinya. Teman-teman lama sudah punya
kehidupan masing-masing, topik obrolan tak lagi sama, dan ada jarak yang tak kasat
mata tapi terasa seperti jurang saat kita mencoba mengisi kekosongan dalam
percakapan. Di kota perantauan, kita tidak pernah benar-benar diterima sebagai
bagian dari kota itu. Di kampung halaman, kita tidak lagi sepenuhnya bagian
dari sana. Kita menjadi manusia tanpa tanah yang benar-benar milik kita.
Identitas yang terbelah ini bukan sekadar drama psikologis yang
bisa diselesaikan dengan seminggu terapi atau journaling pagi hari. Ini adalah
luka struktural. Luka yang diproduksi oleh sistem yang memang tidak pernah
dirancang untuk membuat kita tetap utuh.
Bicara soal sistem, inilah yang paling jarang kita mau akui karena
mengakuinya terasa seperti menyerah pada kenyataan yang terlalu besar untuk
dilawan.
Ketimpangan antara pusat dan daerah di negara ini bukan sebuah
kebetulan. Bukan juga warisan takdir yang tidak bisa diubah. Ini adalah hasil
dari serangkaian keputusan kebijakan yang, selama berpuluh-puluh tahun, terus
memilih untuk memusatkan sumber daya, infrastruktur, investasi, dan peluang di
beberapa titik saja. Jalan tol yang mulus dan lebar dibangun di pulau yang
sudah gemuk dengan fasilitas, sementara di pulau-pulau lain, akses jalan ke
rumah sakit masih berbilang jam perjalanan lewat medan yang tidak bersahabat.
Universitas dengan akreditasi tertinggi, dengan fasilitas laboratorium canggih
dan jejaring alumni yang kuat, menumpuk di kota-kota yang sudah dari sananya
punya segalanya. Ekosistem startup, modal ventura, peluang kolaborasi industri,
semuanya punya gravitasi yang sama: Jakarta dan sekitarnya, atau paling jauh
Bandung dan Surabaya.
Otonomi daerah yang seharusnya menjadi instrumen pemerataan, dalam
praktiknya, kerap menjadi arena korupsi lokal yang justru menggerus anggaran
pembangunan yang harusnya mengalir ke rakyat. Sumber daya alam yang berlimpah
di berbagai daerah diekstraksi dan keuntungannya mengalir ke tempat lain,
meninggalkan bekas tambang, hutan gundul, dan komunitas lokal yang tetap miskin
di atas tanahnya sendiri. Ini bukan narasi yang saya karang-karang. Ini adalah
pola yang terdokumentasi, yang bisa dilacak dalam laporan Badan Pusat
Statistik, dalam penelitian akademis, dalam liputan jurnalisme investigatif
yang sering kali tidak mendapat ruang di halaman utama karena kalah seksi
dibanding drama politik ibukota.
Dan dalam ketimpangan yang dipelihara ini, merantau menjadi solusi
individual untuk masalah yang hakikatnya kolektif dan struktural. Kita, para
perantau, sebenarnya sedang menambal kebocoran kapal yang seharusnya diperbaiki
dari akarnya. Setiap bulan kita transfer uang ke kampung, kita pikir kita
sedang membantu keluarga. Dan iya, memang begitu. Tapi dalam skala yang lebih
besar, kita sedang mensubsidi kegagalan negara dalam mendistribusikan
kesejahteraan secara adil. Kita menjadi penyangga sistem yang bocor, agar
sistem itu tidak perlu repot-repot memperbaiki dirinya sendiri.
Ada juga dimensi yang lebih personal dan lebih menyayat, yang
jarang punya ruang untuk dibicarakan bahkan di antara sesama perantau.
Kita datang ke kota dengan membawa mimpi yang ukurannya sering
tidak sebanding dengan modal yang kita punya. Generasi pertama dalam keluarga
yang berhasil lulus kuliah, atau bahkan sekadar yang pertama pernah melihat
gedung pencakar langit dengan mata kepala sendiri. Kita masuk ke dalam
ekosistem yang tidak pernah dirancang untuk menyambut kita dengan tangan
terbuka. Perusahaan-perusahaan besar yang kita lamar memang membutuhkan tenaga
kita, tapi tidak membutuhkan cerita kita, tidak membutuhkan latar belakang
kita, tidak membutuhkan semua kompleksitas yang kita bawa dari kampung. Mereka
butuh output, bukan manusia utuh.
Maka kita belajar menyembunyikan diri. Kita melunakinaksen daerah
karena sadar bahwa cara bicara kita sering menjadi bahan tawa yang dibungkus
candaan. Kita berhati-hati memilih cerita yang boleh dibagi di kantor karena
takut dianggap kampungan, kurang wawasan, atau tidak cocok dengan kultur
profesional yang sebenarnya hanyalah kultur kelas menengah perkotaan yang sudah
dinaturalisasi menjadi standar universal. Kita bekerja dua kali lebih keras
untuk membuktikan bahwa kita layak berada di ruangan yang sama dengan mereka
yang lahir dan besar di kota ini, yang modalnya sudah jauh berbeda sejak awal.
Dan di ujung bulan, setelah semua pengorbanan itu, kita masih
sering terbentur pada realita bahwa kenaikan gaji tidak mengejar inflasi, bahwa
rumah di kota ini adalah mimpi yang semakin menjauh setiap tahunnya, bahwa
tabungan kita terkuras habis bukan untuk investasi masa depan tapi untuk biaya
hidup yang terus merangkak naik. Kita berjuang keras, tapi papan permainannya
sendiri sudah miring sejak sebelum kita duduk untuk bermain.
Yang paling ironis dari seluruh cerita ini adalah bahwa kita, para
perantau, sering kali menjadi pembela sistem yang memarginalisasi kita.
Kita berkata kepada adik-adik kita, kepada anak-anak tetangga di
kampung, kepada siapapun yang mau mendengar: "Rantaulah. Jangan mau mati
di kampung. Kalau mau sukses, harus berani keluar dari zona nyaman." Kita
meneruskan narasi yang sama yang pernah membawa kita ke sini, narasi yang
mengindividualisasi masalah struktural, yang mengubah kegagalan sistem menjadi
kegagalan personal, yang membuat orang yang tidak berhasil merantau terasa
seperti orang yang kurang berani, kurang gigih, kurang ambisius.
Kita tidak bermaksud jahat. Kita hanya menyampaikan apa yang sudah
kita alami sendiri sebagai kebenaran. Tapi tanpa kita sadari, kita sedang
menjadi agen reproduksi dari sebuah sistem yang seharusnya kita pertanyakan.
Kita mewariskan solusi sementara sebagai jalan hidup yang permanen. Dan siklus
itu berputar terus: generasi demi generasi berangkat, generasi demi generasi
terbagi antara kota dan kampung, generasi demi generasi membayar dengan jarak
dan kesunyian demi bisa mengirimkan uang ke tanah yang tidak pernah benar-benar
mampu menghidupi mereka.
Pertanyaannya bukan lagi apakah merantau itu baik atau buruk sebagai
pilihan individual. Karena dalam kondisi yang ada, sering kali itu bukan
pilihan, melainkan satu-satunya jalan yang terlihat terbuka. Pertanyaannya
adalah: sampai kapan kita mau menerima kondisi ini sebagai sesuatu yang alami
dan tidak bisa diubah?
Sampai kapan kita membiarkan keberanian merantau menutupi kegagalan
negara dalam menciptakan ekosistem yang adil di setiap sudut wilayahnya? Sampai
kapan remitansi para perantau dijadikan plester penutup luka sistemik yang
tidak pernah benar-benar diobati? Sampai kapan kata "merantau" kita
peluk sebagai identitas kebanggaan, sementara di baliknya tersimpan pengakuan
diam-diam bahwa tempat asal kita tidak pernah cukup dirawat untuk ditinggali?
Saya tidak punya jawaban yang rapi dan memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan
itu. Tidak ada satu pun dari kita yang punya. Yang ada hanyalah tubuh-tubuh
lelah di kota orang, yang setiap malam menatap langit-langit kamar kos sambil
mencoba mengingat bagaimana rasanya tidur di bawah atap yang benar-benar milik
kita. Yang ada hanyalah tangan-tangan yang terus mengetik pesan ke orang tua di
kampung, "Iya, Pak. Iya, Bu. Di sini baik-baik saja," bahkan di
hari-hari ketika kita sama sekali tidak baik-baik saja.
Merantau bukan produk dari keberanian kita. Merantau adalah produk
dari sistem yang tidak pernah selesai berhutang kepada kita.
Dan selama hutang itu tidak pernah benar-benar ditagih, kita akan terus berangkat. Dengan koper yang sama, dengan harapan yang sama, dengan luka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa pernah tahu kapan perjalanan ini akan menemukan tempat perhentian yang tidak terasa seperti tempat asing.
30 Hari Menulis Buruk
Hari ke-3
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar