Pengikut

Sabtu, 21 Februari 2026

Merantau dan Luka yang Diwariskan

 


Dulu, nenek saya pernah bilang sesuatu yang saya anggap sebagai pepatah bijak. Katanya, "Orang yang merantau itu berani, nak. Dia pergi bukan karena tak cinta kampung, tapi karena kampung tak punya cukup cinta untuknya." Waktu itu saya tertawa kecil, menganggap kalimat itu puitis dan penuh makna hidup yang dalam. Sekarang, setelah beberapa tahun menjadi salah satu dari jutaan tubuh yang berdesakan di kota orang, saya baru paham: itu bukan kebijaksanaan. Itu sebuah ratapan yang dibungkus rapi agar tidak terdengar seperti keluhan. Agar kita, generasi yang mewarisi ketimpangan ini, tidak merasa sedang dikorbankan. Agar kita tetap tersenyum sambil mengangkut koper ke terminal bus paling larut malam.

Merantau, dalam imajinasi kolektif kita, selalu dikisahkan sebagai babak heroik. Ada dramaturgi yang dibangun sedemikian rupa: pemuda desa yang gigih, berangkat dengan tekad membara, lalu kembali dengan mobil dan dompet tebal. Narasi itu hidup subur di sinetron, di ceramah motivasi, di pidato wisuda. Kita dibesarkan dengan mitos bahwa jarak adalah investasi, bahwa rindu adalah harga yang wajar dibayar demi kemakmuran. Tapi tidak ada yang pernah berani bercerita tentang sisi lainnya, tentang kamar kos tiga kali dua meter yang berbagi dinding tipis dengan tetangga yang bahkan namanya tidak kita kenal. Tentang mie instan yang dimakan dua kali sehari bukan karena pilihan gaya hidup, melainkan karena itu satu-satunya yang masih masuk akal setelah UMR dipotong biaya kontrakan, ongkos transport, dan cicilan ini-itu yang entah kapan lunas. Tentang tangis yang ditahan di toilet kantor karena menangis di tempat terbuka di kota ini terasa seperti kelemahan yang bisa membunuh karir.

Mari kita bicara jujur sebentar, tanpa eufemisme, tanpa bungkusan narasi yang mengharukan.

Kenapa kita merantau? Bukan karena jiwa kita dipenuhi semangat petualangan. Bukan karena kita terinspirasi kisah Malin Kundang atau Siti Nurbaya versi modern. Kita merantau karena di tempat kita tumbuh, tidak ada pilihan yang layak. Lapangan pekerjaan yang tersedia di daerah, kalau pun ada, kerap tidak sebanding dengan tingkat pendidikan yang sudah kita capai dengan susah payah. Gaji yang ditawarkan tidak cukup untuk hidup dengan martabat, apalagi untuk menabung dan membangun masa depan. Akses ke modal usaha tersumbat birokrasi yang melelahkan atau terhalang jaringan pertemanan yang tidak kita miliki karena kita bukan anak siapa-siapa. Sementara itu, kota-kota besar terus memancarkan cahaya seperti bintang yang menarik semua mata. Lowongan kerja, peluang bisnis, infrastruktur yang layak, fasilitas kesehatan yang tidak membuat kita harus berdoa dua kali lebih keras, semua berputar di orbit yang sama: pusat.

Maka kita pun berangkat. Bukan dengan gagah. Tapi dengan satu tas besar berisi pakaian, beberapa lembar uang titipan orang tua yang senyatanya adalah tabungan mereka bertahun-tahun, dan setumpuk harapan yang belum tentu ada tempat berpijaknya di kota tujuan.

Dan negara, dalam diam yang nyaman, membiarkan ini terjadi. Lebih dari itu, merayakannya. Lihat saja bagaimana pemerintah berbangga dengan angka remitansi, uang kiriman para perantau yang mengalir ke daerah. Seolah itu adalah indikator keberhasilan. Padahal di balik angka itu, tersimpan jutaan cerita tentang keluarga yang terpisah, tentang orang tua yang menua tanpa anak-anaknya di sisi, tentang anak-anak yang tumbuh lebih akrab dengan suara panggilan video daripada pelukan nyata dari ayah atau ibu yang sedang berjuang di kota lain.

Ada yang paling menyakitkan dari seluruh konstruksi merantau ini, dan sering kali luput dari perbincangan. Kita, para perantau, perlahan kehilangan tempat untuk pulang.

Bukan dalam arti fisik. Rumah di kampung masih ada. Ibu masih memasak nasi dan lauk kesukaan kita setiap kali kita kembali. Tetangga masih menyapa dari balik pagar. Tapi ada sesuatu yang sudah berbeda dan tidak bisa dikembalikan ke keadaan semula. Kita sudah berubah karena kota memaksa kita berubah. Cara berbicara, cara berpakaian, cara berpikir, cara menghadapi masalah. Kita datang ke kampung dengan versi diri yang sudah terkikis dan dibentuk ulang oleh ritme metropolitan yang tidak pernah berhenti. Dan kampung, dengan segala kearifannya yang diam, menatap kita dengan tatapan yang tidak sepenuhnya mengenali.

Anak-anak kecil di gang rumah lama memanggil kita "Kak" dengan nada sungkan, seolah kita adalah tamu penting yang harus diperlakukan dengan protokol. Padahal dulu, kita berlari bersama mereka di jalanan yang sama, mengejar layang-layang yang putus talinya. Teman-teman lama sudah punya kehidupan masing-masing, topik obrolan tak lagi sama, dan ada jarak yang tak kasat mata tapi terasa seperti jurang saat kita mencoba mengisi kekosongan dalam percakapan. Di kota perantauan, kita tidak pernah benar-benar diterima sebagai bagian dari kota itu. Di kampung halaman, kita tidak lagi sepenuhnya bagian dari sana. Kita menjadi manusia tanpa tanah yang benar-benar milik kita.

Identitas yang terbelah ini bukan sekadar drama psikologis yang bisa diselesaikan dengan seminggu terapi atau journaling pagi hari. Ini adalah luka struktural. Luka yang diproduksi oleh sistem yang memang tidak pernah dirancang untuk membuat kita tetap utuh.

Bicara soal sistem, inilah yang paling jarang kita mau akui karena mengakuinya terasa seperti menyerah pada kenyataan yang terlalu besar untuk dilawan.

Ketimpangan antara pusat dan daerah di negara ini bukan sebuah kebetulan. Bukan juga warisan takdir yang tidak bisa diubah. Ini adalah hasil dari serangkaian keputusan kebijakan yang, selama berpuluh-puluh tahun, terus memilih untuk memusatkan sumber daya, infrastruktur, investasi, dan peluang di beberapa titik saja. Jalan tol yang mulus dan lebar dibangun di pulau yang sudah gemuk dengan fasilitas, sementara di pulau-pulau lain, akses jalan ke rumah sakit masih berbilang jam perjalanan lewat medan yang tidak bersahabat. Universitas dengan akreditasi tertinggi, dengan fasilitas laboratorium canggih dan jejaring alumni yang kuat, menumpuk di kota-kota yang sudah dari sananya punya segalanya. Ekosistem startup, modal ventura, peluang kolaborasi industri, semuanya punya gravitasi yang sama: Jakarta dan sekitarnya, atau paling jauh Bandung dan Surabaya.

Otonomi daerah yang seharusnya menjadi instrumen pemerataan, dalam praktiknya, kerap menjadi arena korupsi lokal yang justru menggerus anggaran pembangunan yang harusnya mengalir ke rakyat. Sumber daya alam yang berlimpah di berbagai daerah diekstraksi dan keuntungannya mengalir ke tempat lain, meninggalkan bekas tambang, hutan gundul, dan komunitas lokal yang tetap miskin di atas tanahnya sendiri. Ini bukan narasi yang saya karang-karang. Ini adalah pola yang terdokumentasi, yang bisa dilacak dalam laporan Badan Pusat Statistik, dalam penelitian akademis, dalam liputan jurnalisme investigatif yang sering kali tidak mendapat ruang di halaman utama karena kalah seksi dibanding drama politik ibukota.

Dan dalam ketimpangan yang dipelihara ini, merantau menjadi solusi individual untuk masalah yang hakikatnya kolektif dan struktural. Kita, para perantau, sebenarnya sedang menambal kebocoran kapal yang seharusnya diperbaiki dari akarnya. Setiap bulan kita transfer uang ke kampung, kita pikir kita sedang membantu keluarga. Dan iya, memang begitu. Tapi dalam skala yang lebih besar, kita sedang mensubsidi kegagalan negara dalam mendistribusikan kesejahteraan secara adil. Kita menjadi penyangga sistem yang bocor, agar sistem itu tidak perlu repot-repot memperbaiki dirinya sendiri.

Ada juga dimensi yang lebih personal dan lebih menyayat, yang jarang punya ruang untuk dibicarakan bahkan di antara sesama perantau.

Kita datang ke kota dengan membawa mimpi yang ukurannya sering tidak sebanding dengan modal yang kita punya. Generasi pertama dalam keluarga yang berhasil lulus kuliah, atau bahkan sekadar yang pertama pernah melihat gedung pencakar langit dengan mata kepala sendiri. Kita masuk ke dalam ekosistem yang tidak pernah dirancang untuk menyambut kita dengan tangan terbuka. Perusahaan-perusahaan besar yang kita lamar memang membutuhkan tenaga kita, tapi tidak membutuhkan cerita kita, tidak membutuhkan latar belakang kita, tidak membutuhkan semua kompleksitas yang kita bawa dari kampung. Mereka butuh output, bukan manusia utuh.

Maka kita belajar menyembunyikan diri. Kita melunakinaksen daerah karena sadar bahwa cara bicara kita sering menjadi bahan tawa yang dibungkus candaan. Kita berhati-hati memilih cerita yang boleh dibagi di kantor karena takut dianggap kampungan, kurang wawasan, atau tidak cocok dengan kultur profesional yang sebenarnya hanyalah kultur kelas menengah perkotaan yang sudah dinaturalisasi menjadi standar universal. Kita bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan bahwa kita layak berada di ruangan yang sama dengan mereka yang lahir dan besar di kota ini, yang modalnya sudah jauh berbeda sejak awal.

Dan di ujung bulan, setelah semua pengorbanan itu, kita masih sering terbentur pada realita bahwa kenaikan gaji tidak mengejar inflasi, bahwa rumah di kota ini adalah mimpi yang semakin menjauh setiap tahunnya, bahwa tabungan kita terkuras habis bukan untuk investasi masa depan tapi untuk biaya hidup yang terus merangkak naik. Kita berjuang keras, tapi papan permainannya sendiri sudah miring sejak sebelum kita duduk untuk bermain.

Yang paling ironis dari seluruh cerita ini adalah bahwa kita, para perantau, sering kali menjadi pembela sistem yang memarginalisasi kita.

Kita berkata kepada adik-adik kita, kepada anak-anak tetangga di kampung, kepada siapapun yang mau mendengar: "Rantaulah. Jangan mau mati di kampung. Kalau mau sukses, harus berani keluar dari zona nyaman." Kita meneruskan narasi yang sama yang pernah membawa kita ke sini, narasi yang mengindividualisasi masalah struktural, yang mengubah kegagalan sistem menjadi kegagalan personal, yang membuat orang yang tidak berhasil merantau terasa seperti orang yang kurang berani, kurang gigih, kurang ambisius.

Kita tidak bermaksud jahat. Kita hanya menyampaikan apa yang sudah kita alami sendiri sebagai kebenaran. Tapi tanpa kita sadari, kita sedang menjadi agen reproduksi dari sebuah sistem yang seharusnya kita pertanyakan. Kita mewariskan solusi sementara sebagai jalan hidup yang permanen. Dan siklus itu berputar terus: generasi demi generasi berangkat, generasi demi generasi terbagi antara kota dan kampung, generasi demi generasi membayar dengan jarak dan kesunyian demi bisa mengirimkan uang ke tanah yang tidak pernah benar-benar mampu menghidupi mereka.

Pertanyaannya bukan lagi apakah merantau itu baik atau buruk sebagai pilihan individual. Karena dalam kondisi yang ada, sering kali itu bukan pilihan, melainkan satu-satunya jalan yang terlihat terbuka. Pertanyaannya adalah: sampai kapan kita mau menerima kondisi ini sebagai sesuatu yang alami dan tidak bisa diubah?

Sampai kapan kita membiarkan keberanian merantau menutupi kegagalan negara dalam menciptakan ekosistem yang adil di setiap sudut wilayahnya? Sampai kapan remitansi para perantau dijadikan plester penutup luka sistemik yang tidak pernah benar-benar diobati? Sampai kapan kata "merantau" kita peluk sebagai identitas kebanggaan, sementara di baliknya tersimpan pengakuan diam-diam bahwa tempat asal kita tidak pernah cukup dirawat untuk ditinggali?

Saya tidak punya jawaban yang rapi dan memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Tidak ada satu pun dari kita yang punya. Yang ada hanyalah tubuh-tubuh lelah di kota orang, yang setiap malam menatap langit-langit kamar kos sambil mencoba mengingat bagaimana rasanya tidur di bawah atap yang benar-benar milik kita. Yang ada hanyalah tangan-tangan yang terus mengetik pesan ke orang tua di kampung, "Iya, Pak. Iya, Bu. Di sini baik-baik saja," bahkan di hari-hari ketika kita sama sekali tidak baik-baik saja.

Merantau bukan produk dari keberanian kita. Merantau adalah produk dari sistem yang tidak pernah selesai berhutang kepada kita.

Dan selama hutang itu tidak pernah benar-benar ditagih, kita akan terus berangkat. Dengan koper yang sama, dengan harapan yang sama, dengan luka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa pernah tahu kapan perjalanan ini akan menemukan tempat perhentian yang tidak terasa seperti tempat asing.

30 Hari Menulis Buruk 

Hari ke-3

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar