Pengikut

Jumat, 20 Februari 2026

Bulan Suci Tidak Menyucikan Dosa-Dosa Negara

 


Ramadan datang lagi. Ia tiba dengan segala kekhidmatannya, membawa aroma sahur yang mengepul, lantunan ayat-ayat suci yang mengalun dari corong masjid, dan janji pembaruan diri yang kita ucapkan setiap tahun dengan penuh harap. Namun di balik khusyuknya ibadah jutaan rakyat biasa, ada sesuatu yang terus mengganjal, sesuatu yang tidak bisa dibungkam oleh beduk sekalipun. Negara ini, dengan segala aparatnya yang megah dan retorikanya yang fasih, tampaknya belum menemukan cara untuk ikut berpuasa. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menahan nafsu kuasa, nafsu korupsi, dan nafsu untuk terus-menerus mengkhianati rakyat yang memilihnya.

Bulan suci tidak otomatis menyucikan dosa-dosa negara. Inilah kenyataan pahit yang perlu kita ucapkan lantang, meski terasa tidak sopan disampaikan di tengah bulan yang penuh berkah ini.

Ada ironi yang dalam ketika kita menyaksikan para pejabat negara berlomba-lomba tampil saleh di bulan Ramadan. Mereka hadir di acara buka puasa bersama, berswafoto di masjid-masjid besar, menyumbangkan sembako untuk kamera, dan berpidato tentang pentingnya kejujuran dan amanah. Namun ketika bulan ini usai, ketika takbir Idul Fitri belum juga habis gemanya, roda-roda kekuasaan kembali berputar dengan cara yang sama. Proyek siluman kembali berjalan, kebijakan yang menguntungkan segelintir orang kembali diterbitkan, dan rakyat kembali ditinggalkan dengan tangan hampa.

Dalam khazanah Islam, ada konsep yang disebut riya, yakni beribadah bukan karena Allah, melainkan karena ingin dilihat manusia. Para ulama menyebutnya sebagai syirik kecil, sebuah pengkhianatan paling halus terhadap esensi keimanan. Dan jika kita jujur, maka pameran kesalehan musiman yang dipertontonkan para elit kekuasaan setiap Ramadan adalah riya yang paling vulgar. Ia bukan sekadar dosa pribadi, melainkan dosa sistemik yang meracuni kepercayaan publik dan mengerdilkan makna spiritualitas di ruang sosial.

Negara yang sehat seharusnya tidak membutuhkan Ramadan sebagai panggung. Ia cukup bekerja dengan benar setiap hari, dua belas bulan penuh, tanpa perlu jubah kesalehan yang baru diturunkan dari lemari setiap kali kalender Hijriah menunjukkan bulan kesembilan.

Salah satu fenomena paling menyedihkan dalam kehidupan berbangsa kita adalah kenyataan bahwa angka korupsi tidak pernah benar-benar turun meski setiap tahun kita melewati Ramadan. Komisi Pemberantasan Korupsi, meski telah mengalami berbagai gelombang reformasi dan kontroversi, tetap mencatat bahwa praktik-praktik koruptif terjadi tanpa memandang musim. Ia terjadi di bulan Muharram, terjadi di bulan Rajab, dan ia terjadi pula, dengan tidak malunya, di bulan Ramadan itu sendiri.

Ini bukan sekadar soal statistik. Ini adalah soal watak. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya berbicara tentang asabiyyah, yakni solidaritas kelompok yang menjadi fondasi kekuatan sebuah peradaban. Namun ia juga memperingatkan bahwa ketika solidaritas itu berubah menjadi nepotisme, ketika yang diperkuat bukan rakyat melainkan klan dan kroni, maka peradaban itu sedang menggali kuburnya sendiri. Apa yang kita saksikan hari ini dalam praktik-praktik oligarki yang menggurita di negeri ini adalah persis yang diperingatkan Ibnu Khaldun tujuh abad silam. Para pemimpin yang sibuk mengamankan posisi keluarga, mengalirkan proyek kepada kolega dekat, dan membangun dinasti kekuasaan di atas pondasi uang rakyat.

Korupsi di negeri ini bukan lagi sekadar penyakit individual. Ia telah bermetastasis menjadi budaya. Dan budaya tidak bisa disembuhkan hanya dengan satu bulan berpuasa, apalagi jika puasanya pun dilakukan setengah hati. Salah satu tanda paling nyata bahwa sebuah negara sedang dalam kondisi sakit adalah ketika hukum tidak lagi berdiri tegak di atas kebenaran, melainkan membungkuk di hadapan kekuasaan. Kita telah menyaksikan ini dalam berbagai episode yang berulang seperti siklus yang tidak pernah belajar dari dirinya sendiri.

Proses hukum yang terasa cepat kilat ketika menyasar aktivis dan pengkritik, namun menjadi lambat seperti siput ketika berhadapan dengan mereka yang punya koneksi di lingkaran dalam kekuasaan. Putusan pengadilan yang mengundang lebih banyak tanda tanya daripada kepastian. Undang-undang yang lahir bukan dari semangat melindungi rakyat, tetapi dari kebutuhan untuk mengamankan kepentingan sekelompok orang yang kebetulan sedang duduk di kursi panas pengambil keputusan.

Plato dalam The Republic pernah menulis bahwa ketidakadilan dalam negara ibarat penyakit dalam tubuh. Pada mulanya ia terasa seperti demam ringan yang bisa ditoleransi. Namun jika dibiarkan, ia akan merambat ke organ-organ vital dan membunuh tubuh itu dari dalam. Kita sudah terlalu lama membiarkan demam ini. Kita sudah terlalu sering berkata, "Ah, begitulah hukum di sini," seolah ketidakadilan adalah kodrat alam yang tidak bisa diubah, bukan pilihan manusia yang bisa diperbaiki.

Ramadan mengajarkan qiyamul lail, yakni berdiri di sepertiga malam untuk bermunajat. Dalam sunyi itu, seorang hamba diajak untuk berdiri tegak di hadapan Tuhannya, tanpa topeng, tanpa jabatan, tanpa atribut kekuasaan yang biasa ia kenakan di siang hari. Pertanyaannya adalah, apakah para penegak hukum kita juga berdiri tegak dalam sunyi Ramadan itu? Ataukah mereka hanya berdiri tegak di depan kamera?

Negeri ini kaya. Ini bukan klaim kosong, melainkan fakta geografis yang bisa dibuktikan dengan peta manapun. Kita duduk di atas salah satu cadangan sumber daya alam terbesar di dunia. Hutan-hutan kita menyimpan keanekaragaman hayati yang membuat para ilmuwan dari belahan dunia manapun berdecak kagum. Lautan kita adalah salah satu yang paling kaya ikannya di muka bumi. Perut bumi kita menyimpan mineral dan energi yang cukup untuk menyejahterakan ratusan juta manusia selama generasi-generasi yang akan datang.

Namun, ada yang salah bukan pada kayanya alam, melainkan pada cara kita mengelolanya. Lebih tepatnya, pada cara segelintir orang menguasai pengelolaannya.

Data ketimpangan di Indonesia berbicara sendiri dengan suaranya yang berat. Sebagian kecil populasi menguasai sebagian besar kekayaan nasional, sementara jutaan orang masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan paling dasar, untuk makan tiga kali sehari, untuk menyekolahkan anak, untuk mendapat layanan kesehatan yang bermartabat. Kemiskinan yang berlangsung di negeri sekaya ini bukan bencana alam. Ia adalah hasil dari serangkaian keputusan politik dan ekonomi yang secara konsisten mengutamakan modal besar di atas manusia kecil.

Al-Quran Surah Al-Hasyr ayat 7 berbicara tentang distribusi kekayaan. Ia menegaskan bahwa harta seharusnya tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya saja. Ini bukan sekadar anjuran moral, ini adalah prinsip tata kelola yang jika dilanggar akan menghasilkan ketidakstabilan sosial yang mengerikan. Dan kita sedang menggoda ketidakstabilan itu setiap hari, ketika orang-orang yang berpuasa di siang hari tahu bahwa setelah berbuka nanti, meja makan mereka tidak akan pernah sepadan dengan meja makan para penguasa yang mengatasnamakan mereka.

Di atas semua itu, ada ancaman yang lebih fundamental. Demokrasi kita sedang digerogoti dari dalam. Bukan oleh musuh asing, bukan oleh ideologi eksternal, melainkan oleh para pemain dalam sistem itu sendiri yang menemukan cara-cara cerdas untuk membengkokkan aturan tanpa secara terang-terangan melanggarnya.

Kita menyebutnya democratic backsliding, kemunduran demokrasi yang terjadi bukan melalui kudeta militer yang dramatis, melainkan melalui erosi bertahap yang hampir tidak terasa. Lembaga-lembaga independen yang perlahan-lahan kehilangan independensinya. Ruang sipil yang semakin menyempit bagi mereka yang berani bersuara kritis. Pemilihan umum yang secara prosedural berjalan, namun secara substansi semakin jauh dari semangat kedaulatan rakyat yang sejati. Dinasti politik yang tumbuh subur justru di era yang mengklaim dirinya demokratis.

Alexis de Tocqueville, pemikir Prancis yang mengagumi dan sekaligus mengkhawatirkan demokrasi, pernah mengingatkan tentang bahaya apa yang ia sebut sebagai tyranny of the majority, tirani mayoritas yang membenarkan apapun selama ada dukungan angka. Namun apa yang kita hadapi hari ini bahkan lebih berbahaya dari itu. Kita menghadapi situasi di mana angka-angka itu sendiri bisa direkayasa, di mana narasi bisa diproduksi massal, dan di mana batas antara popularitas dan legitimasi sejati menjadi kabur.

Ramadan mengajarkan bahwa tidak semua yang diinginkan nafsu itu baik. Puasa adalah latihan paling keras melawan logika "karena bisa, maka boleh." Dan logika inilah yang paling menular di lingkaran kekuasaan kita hari ini. Karena punya kuasa, maka boleh. Karena punya suara mayoritas, maka boleh. Karena tidak ada yang berani menggugat, maka boleh.

Tidak. Tidak selamanya begitu. Sejarah selalu menyediakan tagihan untuk logika semacam ini, dan tagihannya tidak pernah murah.

Salah satu gejala paling mengkhawatirkan dari sebuah negara yang kehilangan kompasnya adalah ketika suara-suara yang kritis mulai dibungkam, bukan dengan cara-cara kasar yang mudah diidentifikasi sebagai pelanggaran, melainkan dengan cara-cara halus yang sulit dilawan. Pasal-pasal karet dalam undang-undang yang bisa ditafsirkan seluas-luasnya untuk menjerat siapapun yang dianggap mengganggu. Algoritma informasi yang dengan mudah dimanfaatkan untuk menenggelamkan narasi-narasi tertentu. Tekanan ekonomi yang membuat media harus berhitung dua kali sebelum menayangkan laporan investigasi yang sensitif.

Mereka yang diam bukan karena tidak tahu. Mereka yang mengalihkan pandangan bukan karena tidak melihat. Mereka takut. Dan ketakutan kolektif dalam sebuah ruang publik adalah tanda paling jelas bahwa kebebasan sudah dalam kondisi kritis.

Dalam tradisi Islam, ada konsep amar makruf nahi mungkar, yakni menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ia bukan sekadar anjuran individual, melainkan kewajiban sosial yang membentuk tatanan masyarakat yang sehat. Namun kewajiban ini hanya bisa dijalankan dalam atmosfer di mana orang tidak takut untuk berkata benar. Ketika atmosfer itu rusak, ketika kebenaran menjadi komoditas yang berbahaya untuk diucapkan, maka masyarakat itu sedang kehilangan salah satu imunitas terpentingnya.

Ramadan, dalam khazanah spiritualnya yang terdalam, adalah bulan di mana kebenaran pertama kali diturunkan. Syahru Ramadhanal ladzi unzila fihil Quran. Bulan ini adalah peringatan bahwa kebenaran selalu punya waktu untuk hadir, bahwa ia tidak bisa selamanya disembunyikan oleh kekuasaan manapun. Dan kita perlu ingat ini, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai keberanian yang perlu kita terjemahkan dalam tindakan nyata.

Edward Gibbon menulis tentang Romawi. Ibn Khaldun menulis tentang peradaban Islam. Arnold Toynbee menulis tentang dua puluh tiga peradaban yang pernah ada dan kemudian musnah. Semuanya sampai pada kesimpulan yang serupa dengan jalan yang berbeda-beda, bahwa kehancuran sebuah peradaban hampir tidak pernah datang dari luar. Ia datang dari dalam. Ia dimulai ketika para pemimpin kehilangan rasa takut kepada konsekuensi moral dari tindakan mereka. Ketika korupsi dianggap wajar. Ketika rakyat dianggap sebagai pengganggu yang harus dikelola, bukan sebagai tuan yang harus dilayani.

Kita berada di persimpangan yang serius. Dan Ramadan ini, seperti Ramadan-Ramadan sebelumnya, datang dengan tawaran yang sama. Tawaran untuk berhenti sejenak. Untuk memeriksa ke mana arah langkah kita. Untuk bertanya, dengan jujur tanpa basa-basi, apakah yang sedang kita bangun ini benar-benar sebuah peradaban yang layak diwariskan kepada anak cucu kita.

Muhasabah kebangsaan ini tidak bisa lagi ditunda. Ia tidak bisa lagi diwakilkan kepada ritual seremonial yang kosong. Ia membutuhkan keberanian untuk melihat ke cermin dan mengakui bahwa ada yang salah. Bahwa jalan yang sedang kita tempuh ini perlu dikoreksi. Bahwa amanah yang dipercayakan rakyat kepada pemimpin-pemimpinnya belum ditunaikan dengan sepenuh hati.

Dan jika keberanian itu tidak juga muncul dari mereka yang sedang berkuasa, maka sejarah akan mencatat dengan tintanya yang tidak bisa dihapus, bahwa ada sebuah bangsa yang pernah punya kesempatan untuk berbelok, namun memilih untuk terus melaju menuju jurangnya sendiri.


30 Hari Menulis Buruk 

Hari ke-2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar