Pengikut

Rabu, 25 Februari 2026

ANAK RANTAU

 


Semenjak merantau, kata pulang terasa berubah makna. Dulu, pulang itu sederhana. Ia adalah alamat yang sama. Kamar dengan susunan yang tak pernah benar-benar berubah. Suara pintu dibuka tanpa perlu mengetuk. Aroma dapur yang entah bagaimana selalu terasa menenangkan.

Sekarang, pulang lebih sering berarti kembali ke tempat kos yang sunyi setelah hari yang panjang. Kembali ke ruang yang aku sewa, bukan yang benar-benar kumiliki.

Aneh ya, jarak ternyata bukan cuma soal kilometer. Ia perlahan mengubah cara kita merasa. Rumah tetap di sana, orang-orang tetap menunggu, tapi ada bagian dari diri yang seperti tertinggal di antara dua dunia.

Saat mudik, aku datang sebagai tamu yang sangat dikenal. Disambut hangat, tapi tak lagi sepenuhnya sama. Ada cerita-cerita yang tak lagi bisa aku ikuti dari awal. Ada kebiasaan-kebiasaan yang tanpa sadar sudah berubah. Dan aku sadar, mungkin yang berubah bukan rumahnya. Tapi aku..

Aku rindu pulang yang dulu yang tidak perlu direncanakan, yang tidak perlu dihitung cutinya, yang tidak terasa seperti perjalanan panjang.

Mungkin, pada akhirnya, pulang bukan sesuatu yang hilang atau pergi dari hidup kita. Ia hanya berubah cara hadirnya. Ia tidak lagi selalu berupa tempat yang bisa langsung kita datangi kapan saja, melainkan menjadi kenangan, nilai, dan rasa yang kita bawa kemanapun kita melangkah. Meski raga sedang jauh, ada bagian dari diri yang tetap tahu ke mana ia ingin kembali.


30 Hari Menulis Buruk

Hari Ke-7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar