Semenjak merantau, kata pulang terasa berubah makna. Dulu, pulang
itu sederhana. Ia adalah alamat yang sama. Kamar dengan susunan yang tak pernah
benar-benar berubah. Suara pintu dibuka tanpa perlu mengetuk. Aroma dapur yang
entah bagaimana selalu terasa menenangkan.
Sekarang, pulang lebih sering berarti kembali ke tempat kos yang
sunyi setelah hari yang panjang. Kembali ke ruang yang aku sewa, bukan yang
benar-benar kumiliki.
Aneh ya, jarak ternyata bukan cuma soal kilometer. Ia perlahan
mengubah cara kita merasa. Rumah tetap di sana, orang-orang tetap menunggu,
tapi ada bagian dari diri yang seperti tertinggal di antara dua dunia.
Saat mudik, aku datang sebagai tamu yang sangat dikenal. Disambut
hangat, tapi tak lagi sepenuhnya sama. Ada cerita-cerita yang tak lagi bisa aku
ikuti dari awal. Ada kebiasaan-kebiasaan yang tanpa sadar sudah berubah. Dan
aku sadar, mungkin yang berubah bukan rumahnya. Tapi aku..
Aku rindu pulang yang dulu yang tidak perlu direncanakan, yang
tidak perlu dihitung cutinya, yang tidak terasa seperti perjalanan panjang.
Mungkin, pada akhirnya, pulang bukan sesuatu yang hilang atau pergi
dari hidup kita. Ia hanya berubah cara hadirnya. Ia tidak lagi selalu berupa
tempat yang bisa langsung kita datangi kapan saja, melainkan menjadi kenangan,
nilai, dan rasa yang kita bawa kemanapun kita melangkah. Meski raga sedang
jauh, ada bagian dari diri yang tetap tahu ke mana ia ingin kembali.
30 Hari Menulis Buruk
Hari Ke-7
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar