Pengikut

Kamis, 26 Februari 2026

Teknologi dan Moral




Dulu, ketika matahari belum sepenuhnya tenggelam di balik bukit, anak-anak kampung sudah berlarian di halaman rumah. Suara tawa mereka memenuhi udara sore yang sejuk, bercampur dengan aroma tanah basah setelah hujan dan harumnya asap dapur dari rumah-rumah kayu yang berdiri berdampingan. Mereka bermain petak umpet di balik pohon mangga tua, berlomba layang-layang di ladang yang lapang, dan duduk melingkar mendengarkan cerita dari kakek atau nenek yang penuh dengan hikmat kehidupan. Itulah dunia nyata. Dunia yang terasa, yang hangat, yang hidup.

Namun hari itu kini terasa seperti mimpi yang semakin jauh.

Raka adalah anak dua belas tahun yang tinggal di sebuah desa kecil di Yogyakarta. Ayahnya bekerja sebagai pegawai kantoran, ibunya seorang guru sekolah dasar. Mereka bukan keluarga kaya, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli sebuah tablet untuk keperluan belajar Raka semasa pandemi beberapa tahun lalu.

Awalnya tablet itu hanya digunakan untuk mengikuti kelas daring. Raka membuka aplikasi belajar, mengerjakan tugas, lalu menutupnya kembali. Ibunya masih sempat mengawasi. Ayahnya masih sempat mengajak ngobrol di meja makan. Hidup berjalan seperti biasa.

Tetapi perlahan, tanpa ada yang menyadari, sesuatu mulai berubah.

Suatu malam, Raka tidak bisa tidur. Ia membuka tablet, sekadar ingin menonton satu video pendek. Lalu satu video menjadi dua, dua menjadi lima, lima menjadi dua puluh. Jam di sudut layar menunjukkan pukul dua dini hari, tetapi matanya masih terpaku pada konten yang silih berganti. Ada video komedi, ada klip orang bermain game, ada berita aneh dari negeri jauh, ada anak seumurannya yang bisa membuat jutaan orang tertawa hanya dengan merekam dirinya sendiri selama tiga puluh detik.

Ini menarik, pikir Raka.

Dan sejak malam itu, dunia Raka perlahan berpindah ke dalam layar.

Ibu Raka, Bu Sari, adalah wanita yang teliti dan penuh perhatian. Ia seorang guru yang setiap hari mengajar puluhan murid tentang pentingnya budi pekerti dan sopan santun. Namun justru di rumahnya sendiri, ada sesuatu yang luput dari pengamatannya.

Ia mulai menyadari ketika suatu pagi Raka duduk di meja makan dengan mata yang sayu dan wajah yang pucat. Piringnya hampir tidak tersentuh. Tangannya terus menggenggam tablet di bawah meja, jemarinya bergerak pelan seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

"Raka, makan dulu, Nak," kata Bu Sari lembut.

Raka hanya mengangguk tanpa mengangkat wajah.

"Raka."

"Iya, Bu," jawabnya singkat, masih tanpa menatap ibunya.

Bu Sari menarik napas panjang. Ia ingat betul bagaimana dulu Raka selalu bercerita panjang lebar saat sarapan. Tentang mimpinya semalam, tentang teman-temannya di sekolah, tentang pertanyaan-pertanyaan aneh yang muncul di kepalanya yang selalu membuat suami istri itu tersenyum geli. Kini meja makan terasa sunyi meski mereka bertiga duduk berdampingan.

Percakapan keluarga perlahan mati.

Bukan karena pertengkaran. Bukan karena ada masalah besar. Tetapi karena masing-masing sudah memiliki dunianya sendiri di dalam genggaman tangan. Ayah Raka pun tidak luput. Setelah pulang kerja, ia langsung tenggelam dalam berita-berita di ponselnya, sesekali tertawa sendiri melihat video lucu, lupa bahwa ada anak yang duduk di seberang meja sedang diam-diam merindukan sosoknya.

Di dalam tablet Raka, ada sebuah dunia yang jauh lebih berwarna dari kenyataan yang ia jalani setiap hari. Ada kreator konten yang hidupnya tampak sempurna, selalu tertawa, selalu berpetualang, selalu dikelilingi teman-teman yang menyenangkan. Ada game online yang memberinya rasa pencapaian instan, di mana ia bisa menjadi pahlawan dalam hitungan menit. Ada kolom komentar yang penuh dengan pujian bagi mereka yang tampil berani, tampil lucu, tampil kontroversial.

Raka mulai belajar dari dunia itu.

Ia belajar bahwa untuk diperhatikan, seseorang harus tampil mencolok. Ia belajar bahwa kesabaran tidak lagi dihargai ketika segalanya bisa didapat dengan cepat. Ia belajar bahwa kata-kata pedas di kolom komentar adalah hal yang lumrah, bahkan dianggap lucu. Dan tanpa disadari, nilai-nilai itu perlahan meresap ke dalam cara berpikirnya, cara berbicara, cara ia memandang orang-orang di sekitarnya.

Suatu hari di sekolah, seorang temannya bernama Dito tidak sengaja menumpahkan minuman ke buku Raka. Dito langsung meminta maaf dengan wajah panik dan malu.

Raka menatapnya sejenak lalu berkata dengan nada dingin, "Dasar nggak bisa jaga diri."

Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa rasa bersalah, tanpa mempertimbangkan perasaan Dito yang langsung menunduk sedih. Raka bahkan tidak menyadari betapa jauh berubahnya ia. Dulu ia adalah anak yang paling cepat memaafkan, yang paling sering mengajak temannya berdamai setelah bertengkar. Kini rasa empati itu seolah menipis, terkikis sedikit demi sedikit oleh budaya digital yang mengajarkan bahwa reaksi cepat dan keras adalah bentuk kepercayaan diri.

Di ujung gang tempat Raka tinggal, ada seorang lelaki tua bernama Pak Darmo. Usianya hampir tujuh puluh tahun, rambutnya putih seperti kapas, punggungnya sedikit membungkuk karena usia. Setiap sore ia duduk di bangku kayu di depan rumahnya, menikmati secangkir teh sambil memandangi jalan yang kini sepi dari anak-anak berlarian.

Dulu, Pak Darmo adalah tempat anak-anak kampung berkumpul. Ia selalu punya cerita, selalu punya teka-teki, selalu punya nasihat yang disampaikan dengan cara yang tidak menggurui. Anak-anak duduk melingkarinya seperti murid mengelilingi seorang bijak. Mereka belajar tentang kerja keras, tentang rasa malu yang menjaga martabat, tentang pentingnya menjaga lidah karena kata-kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik kembali.

Namun kini bangku itu sering kosong dari tamu. Anak-anak tidak lagi datang. Mereka ada di balik pintu masing-masing, ditemani layar yang bersinar.

Pada suatu sore yang langka, Raka kebetulan melewati rumah Pak Darmo dalam perjalanan pulang dari warung. Pak Darmo memanggil dengan suara yang ramah.

"Raka! Kemari sebentar, Nak."

Raka awalnya enggan. Ia ingin segera pulang dan melanjutkan game yang sempat ia tinggalkan. Tetapi ada sesuatu dalam nada suara lelaki tua itu yang membuatnya berhenti. Mungkin karena suara itu terasa berbeda dari suara-suara yang ia dengar setiap hari melalui headset, suara yang hangat dan sungguh-sungguh memanggil namanya.

Ia pun duduk.

Pak Darmo tidak langsung bercerita. Ia menuangkan teh ke cangkir kecil dan menyodorkannya kepada Raka. Mereka duduk diam sebentar, menikmati sore yang mulai beranjak keemasan.

"Kamu tahu," kata Pak Darmo akhirnya, "dulu kakekmu dan aku sering duduk di sini. Kami tidak punya banyak uang, tidak punya banyak benda. Tapi kami kaya cerita."

Raka menatap lelaki tua itu dengan sedikit penasaran.

"Sekarang orang punya segalanya," lanjut Pak Darmo pelan, "tapi semakin sedikit yang mau duduk diam dan mendengarkan."

Kata-kata itu sederhana. Tidak ada efek suara, tidak ada animasi, tidak ada notifikasi yang menyertainya. Tetapi entah mengapa, kalimat itu menghunjam jauh ke dalam dada Raka dengan cara yang belum pernah ia rasakan dari konten manapun yang pernah ia tonton.

Malam itu Raka pulang dengan pikiran yang berbeda. Ia berbaring di tempat tidurnya, tablet teronggok di sisi ranjang, tetapi ia tidak langsung meraihnya seperti biasa. Ia menatap langit-langit kamarnya dan membiarkan pikirannya mengembara.

Ia teringat Dito yang menunduk sedih setelah ia berkata kasar. Ia teringat ibunya yang memanggil namanya di meja makan sementara matanya masih tertancap di layar. Ia teringat ayahnya yang sudah beberapa minggu tidak mengajaknya bicara tentang apapun yang berarti.

Dan ia teringat kata-kata Pak Darmo.

Semakin sedikit yang mau duduk diam dan mendengarkan.

Keesokan harinya, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Raka turun ke meja makan tanpa membawa tablet. Ibunya menatapnya dengan heran. Ayahnya juga menoleh.

"Nggak bawa tablet, Ka?" tanya ayahnya.

"Nggak," jawab Raka singkat. Lalu setelah jeda sejenak ia menambahkan, "Ayah tadi bilang mau cerita soal waktu ayah masih sekolah dulu. Aku mau dengerin."

Bu Sari menghentikan tangannya yang sedang menuang air. Ia menatap suaminya, lalu menatap anaknya. Ada sesuatu yang menghangat di sudut matanya.

Ayah Raka tersenyum, meletakkan ponselnya menghadap bawah di atas meja, dan mulai bercerita.


30 Hari Menulis  Buruk

Hari Ke-8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar