Dulu, ketika matahari belum sepenuhnya tenggelam di balik bukit,
anak-anak kampung sudah berlarian di halaman rumah. Suara tawa mereka memenuhi
udara sore yang sejuk, bercampur dengan aroma tanah basah setelah hujan dan
harumnya asap dapur dari rumah-rumah kayu yang berdiri berdampingan. Mereka
bermain petak umpet di balik pohon mangga tua, berlomba layang-layang di ladang
yang lapang, dan duduk melingkar mendengarkan cerita dari kakek atau nenek yang
penuh dengan hikmat kehidupan. Itulah dunia nyata. Dunia yang terasa, yang
hangat, yang hidup.
Namun hari itu kini terasa seperti mimpi yang semakin jauh.
Raka adalah anak dua belas tahun yang tinggal di sebuah desa kecil
di Yogyakarta. Ayahnya bekerja sebagai pegawai kantoran, ibunya seorang guru
sekolah dasar. Mereka bukan keluarga kaya, tetapi cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli sebuah tablet untuk keperluan belajar
Raka semasa pandemi beberapa tahun lalu.
Awalnya tablet itu hanya digunakan untuk mengikuti kelas daring.
Raka membuka aplikasi belajar, mengerjakan tugas, lalu menutupnya kembali.
Ibunya masih sempat mengawasi. Ayahnya masih sempat mengajak ngobrol di meja
makan. Hidup berjalan seperti biasa.
Tetapi perlahan, tanpa ada yang menyadari, sesuatu mulai berubah.
Suatu malam, Raka tidak bisa tidur. Ia membuka tablet, sekadar
ingin menonton satu video pendek. Lalu satu video menjadi dua, dua menjadi
lima, lima menjadi dua puluh. Jam di sudut layar menunjukkan pukul dua dini
hari, tetapi matanya masih terpaku pada konten yang silih berganti. Ada video
komedi, ada klip orang bermain game, ada berita aneh dari negeri jauh, ada anak
seumurannya yang bisa membuat jutaan orang tertawa hanya dengan merekam dirinya
sendiri selama tiga puluh detik.
Ini menarik, pikir Raka.
Dan sejak malam itu, dunia Raka perlahan berpindah ke dalam layar.
Ibu Raka, Bu Sari, adalah wanita yang teliti dan penuh perhatian.
Ia seorang guru yang setiap hari mengajar puluhan murid tentang pentingnya budi
pekerti dan sopan santun. Namun justru di rumahnya sendiri, ada sesuatu yang
luput dari pengamatannya.
Ia mulai menyadari ketika suatu pagi Raka duduk di meja makan
dengan mata yang sayu dan wajah yang pucat. Piringnya hampir tidak tersentuh.
Tangannya terus menggenggam tablet di bawah meja, jemarinya bergerak pelan
seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Raka, makan dulu, Nak," kata Bu Sari lembut.
Raka hanya mengangguk tanpa mengangkat wajah.
"Raka."
"Iya, Bu," jawabnya singkat, masih tanpa menatap ibunya.
Bu Sari menarik napas panjang. Ia ingat betul bagaimana dulu Raka
selalu bercerita panjang lebar saat sarapan. Tentang mimpinya semalam, tentang
teman-temannya di sekolah, tentang pertanyaan-pertanyaan aneh yang muncul di
kepalanya yang selalu membuat suami istri itu tersenyum geli. Kini meja makan
terasa sunyi meski mereka bertiga duduk berdampingan.
Percakapan keluarga perlahan mati.
Bukan karena pertengkaran. Bukan karena ada masalah besar. Tetapi
karena masing-masing sudah memiliki dunianya sendiri di dalam genggaman tangan.
Ayah Raka pun tidak luput. Setelah pulang kerja, ia langsung tenggelam dalam
berita-berita di ponselnya, sesekali tertawa sendiri melihat video lucu, lupa
bahwa ada anak yang duduk di seberang meja sedang diam-diam merindukan
sosoknya.
Di dalam tablet Raka, ada sebuah dunia yang jauh lebih berwarna
dari kenyataan yang ia jalani setiap hari. Ada kreator konten yang hidupnya
tampak sempurna, selalu tertawa, selalu berpetualang, selalu dikelilingi
teman-teman yang menyenangkan. Ada game online yang memberinya rasa pencapaian
instan, di mana ia bisa menjadi pahlawan dalam hitungan menit. Ada kolom
komentar yang penuh dengan pujian bagi mereka yang tampil berani, tampil lucu,
tampil kontroversial.
Raka mulai belajar dari dunia itu.
Ia belajar bahwa untuk diperhatikan, seseorang harus tampil
mencolok. Ia belajar bahwa kesabaran tidak lagi dihargai ketika segalanya bisa
didapat dengan cepat. Ia belajar bahwa kata-kata pedas di kolom komentar adalah
hal yang lumrah, bahkan dianggap lucu. Dan tanpa disadari, nilai-nilai itu
perlahan meresap ke dalam cara berpikirnya, cara berbicara, cara ia memandang
orang-orang di sekitarnya.
Suatu hari di sekolah, seorang temannya bernama Dito tidak sengaja
menumpahkan minuman ke buku Raka. Dito langsung meminta maaf dengan wajah panik
dan malu.
Raka menatapnya sejenak lalu berkata dengan nada dingin,
"Dasar nggak bisa jaga diri."
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa rasa bersalah, tanpa
mempertimbangkan perasaan Dito yang langsung menunduk sedih. Raka bahkan tidak
menyadari betapa jauh berubahnya ia. Dulu ia adalah anak yang paling cepat
memaafkan, yang paling sering mengajak temannya berdamai setelah bertengkar.
Kini rasa empati itu seolah menipis, terkikis sedikit demi sedikit oleh budaya
digital yang mengajarkan bahwa reaksi cepat dan keras adalah bentuk kepercayaan
diri.
Di ujung gang tempat Raka tinggal, ada seorang lelaki tua bernama
Pak Darmo. Usianya hampir tujuh puluh tahun, rambutnya putih seperti kapas,
punggungnya sedikit membungkuk karena usia. Setiap sore ia duduk di bangku kayu
di depan rumahnya, menikmati secangkir teh sambil memandangi jalan yang kini
sepi dari anak-anak berlarian.
Dulu, Pak Darmo adalah tempat anak-anak kampung berkumpul. Ia
selalu punya cerita, selalu punya teka-teki, selalu punya nasihat yang
disampaikan dengan cara yang tidak menggurui. Anak-anak duduk melingkarinya
seperti murid mengelilingi seorang bijak. Mereka belajar tentang kerja keras,
tentang rasa malu yang menjaga martabat, tentang pentingnya menjaga lidah karena
kata-kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik kembali.
Namun kini bangku itu sering kosong dari tamu. Anak-anak tidak lagi
datang. Mereka ada di balik pintu masing-masing, ditemani layar yang bersinar.
Pada suatu sore yang langka, Raka kebetulan melewati rumah Pak
Darmo dalam perjalanan pulang dari warung. Pak Darmo memanggil dengan suara
yang ramah.
"Raka! Kemari sebentar, Nak."
Raka awalnya enggan. Ia ingin segera pulang dan melanjutkan game
yang sempat ia tinggalkan. Tetapi ada sesuatu dalam nada suara lelaki tua itu
yang membuatnya berhenti. Mungkin karena suara itu terasa berbeda dari
suara-suara yang ia dengar setiap hari melalui headset, suara yang hangat dan
sungguh-sungguh memanggil namanya.
Ia pun duduk.
Pak Darmo tidak langsung bercerita. Ia menuangkan teh ke cangkir
kecil dan menyodorkannya kepada Raka. Mereka duduk diam sebentar, menikmati
sore yang mulai beranjak keemasan.
"Kamu tahu," kata Pak Darmo akhirnya, "dulu kakekmu
dan aku sering duduk di sini. Kami tidak punya banyak uang, tidak punya banyak
benda. Tapi kami kaya cerita."
Raka menatap lelaki tua itu dengan sedikit penasaran.
"Sekarang orang punya segalanya," lanjut Pak Darmo pelan,
"tapi semakin sedikit yang mau duduk diam dan mendengarkan."
Kata-kata itu sederhana. Tidak ada efek suara, tidak ada animasi,
tidak ada notifikasi yang menyertainya. Tetapi entah mengapa, kalimat itu
menghunjam jauh ke dalam dada Raka dengan cara yang belum pernah ia rasakan
dari konten manapun yang pernah ia tonton.
Malam itu Raka pulang dengan pikiran yang berbeda. Ia berbaring di
tempat tidurnya, tablet teronggok di sisi ranjang, tetapi ia tidak langsung
meraihnya seperti biasa. Ia menatap langit-langit kamarnya dan membiarkan
pikirannya mengembara.
Ia teringat Dito yang menunduk sedih setelah ia berkata kasar. Ia
teringat ibunya yang memanggil namanya di meja makan sementara matanya masih
tertancap di layar. Ia teringat ayahnya yang sudah beberapa minggu tidak
mengajaknya bicara tentang apapun yang berarti.
Dan ia teringat kata-kata Pak Darmo.
Semakin sedikit yang mau duduk diam dan mendengarkan.
Keesokan harinya, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Raka
turun ke meja makan tanpa membawa tablet. Ibunya menatapnya dengan heran.
Ayahnya juga menoleh.
"Nggak bawa tablet, Ka?" tanya ayahnya.
"Nggak," jawab Raka singkat. Lalu setelah jeda sejenak ia
menambahkan, "Ayah tadi bilang mau cerita soal waktu ayah masih sekolah
dulu. Aku mau dengerin."
Bu Sari menghentikan tangannya yang sedang menuang air. Ia menatap
suaminya, lalu menatap anaknya. Ada sesuatu yang menghangat di sudut matanya.
Ayah Raka tersenyum, meletakkan ponselnya menghadap bawah di atas
meja, dan mulai bercerita.
30 Hari Menulis Buruk
Hari Ke-8
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar