Sebait syair lamayang selalu terngiang setiap kali
banjir datang merendam kampung
dan tanah longsor menelan jalan
"…Hutan habis, bukit gundul,
air tak punya rumah lagi."Tahun berganti, kian hari Sumatera semakin kehilangan dirinya sendiri. Pulau yang pernah dijuluki "Zamrud Khatulistiwa" dengan rimba tropisnya yang tak tertembus, sungai-sungainya yang jernih, dan tanahnya yang subur seperti dijanjikan langit kini perlahan menjelma menjadi peta bencana yang diperbarui setiap musim hujan tiba. Banjir bandang di Sumatera Barat, longsor di Tapanuli, kebakaran gambut di Riau dan Jambi, hingga jebolnya tanggul-tanggul kecil yang selama ini menjadi tumpuan hidup petani pesisir. Semua itu bukan sekadar bencana alam. Semua itu adalah tagihan. Tagihan atas hutang yang terus-menerus kita ambil dari alam tanpa pernah berniat melunasinya.
Orang-orang tua di sana menyebutnya tanah yang bernapas. Mereka tahu, selama gambut basah, selama rimba masih berdiri, tidak akan ada api yang mampu menjalar jauh. Tidak akan ada banjir yang datang tiba-tiba dan menelan rumah semalaman.
Kini, separuh dari gambut itu telah dikeringkan, disalurkan airnya melalui kanal-kanal buatan, lalu ditanami sawit dan akasia untuk kebutuhan industri kertas dan minyak nabati global. Di atas kertas, angka ekspor terlihat membanggakan. Di lapangan, setiap kemarau panjang tiba, gambut yang telah kehilangan airnya itu menyala. Asapnya menyelimuti Pekanbaru, Palembang, bahkan menyeberang ke Malaysia dan Singapura. Anak-anak sekolah dipulangkan lebih awal. Orang-orang tua dengan paru-paru rapuh berbaring di rumah sakit yang penuh sesak. Dan pemerintah, dengan sigapnya, turun tangan bukan untuk memulihkan gambut, melainkan untuk memadamkan api yang memang sudah telanjur dinyalakan oleh kebijakan-kebijakan yang mereka sendiri tandatangani.
Di Sumatera Barat, ceritanya sedikit berbeda namun lukanya sama dalamnya.
Pegunungan Bukit Barisan yang membentang sepanjang punggung pulau ini adalah menara air alami terbesar yang pernah diciptakan alam di kawasan Asia Tenggara. Hutan-hutannya menyerap hujan, menyimpannya perlahan, lalu melepaskannya melalui sungai-sungai yang mengaliri sawah, ladang, dan permukiman di bawahnya. Sistem yang sempurna. Sistem yang bekerja tanpa subsidi, tanpa proyek, tanpa upacara peresmian.
Tetapi satu demi satu, kawasan hutan di lereng-lereng itu dibuka. Ada yang legal, ada yang tidak. Ada yang atas nama transmigrasi, ada yang atas nama perkebunan, ada yang sekadar atas nama keserakahan yang tidak memerlukan nama sama sekali. Ketika hujan turun deras dan hujan di Sumatera memang tidak pernah main-main tidak ada lagi yang menahannya. Air mengalir deras menuruni lereng, membawa serta tanah, batu, dan apa pun yang berdiri di jalannya. Banjir bandang di Masang, di Pasaman, di Pesisir Selatan bukan datang dari langit yang murka. Ia datang dari lereng yang telah kami kosongkan dengan tangan kami sendiri.
Korbannya selalu sama: petani, nelayan, perempuan yang sedang memasak ketika air tiba-tiba masuk dari bawah pintu, anak-anak yang sedang tidur ketika dinding rumah runtuh dihantam lumpur.
Seorang kawan yang bekerja sebagai peneliti kehutanan pernah bercerita kepada saya dengan nada yang lebih menyerupai kepasrahan daripada kemarahan. Ia bilang, "Kita sudah tahu semua ini. Semua sudah dihitung, sudah ditulis dalam laporan, sudah dipresentasikan berkali-kali. Tapi setiap kali ada izin baru yang mau diterbitkan, laporan itu masuk laci."
Saya terdiam mendengarnya.
Bukan karena kaget. Justru karena tidak kaget. Di sinilah letak tragedi sesungguhnya: bahwa bencana di Sumatera bukan tragedi yang tiba-tiba dan tak terduga. Ia adalah tragedi yang telah lama diperkirakan, telah lama diperingatkan, dan tetap dibiarkan terjadi karena ada yang lebih menggiurkan daripada mencegahnya. Konsesi tambang. Izin perkebunan. Proyek infrastruktur yang membelah hutan tanpa kajian mendalam. Semuanya menjanjikan angka-angka yang terlihat indah dalam presentasi investasi, sementara bencana yang lahir karenanya tidak pernah masuk dalam kolom neraca mana pun.
Yang paling menyakitkan adalah betapa mudahnya kita melupakan.
Setiap kali bencana besar melanda banjir bandang yang meratakan kampung, gempa yang mengguncang Padang, tsunami kecil yang menggulung pesisir seluruh negeri seolah tersentak. Bantuan mengalir, pejabat berdatangan, kamera-kamera menangkap wajah-wajah yang kehilangan segalanya. Lalu seminggu berlalu. Sebulan berlalu. Dan perlahan-lahan, semua kembali seperti sedia kala. Izin baru diterbitkan. Proyek baru diresmikan. Hutan baru dibuka. Dan kita menunggu tagihan berikutnya tiba.
Sementara di kampung-kampung yang pernah terendam itu, orang-orang membangun kembali rumah mereka di tempat yang sama, bukan karena mereka tidak tahu bahayanya, tetapi karena mereka tidak punya pilihan lain. Karena tanah itu adalah satu-satunya warisan yang mereka miliki. Karena tidak ada program mitigasi yang sungguh-sungguh menjawab pertanyaan paling mendasar: ke mana mereka harus pergi, dan dengan apa mereka harus memulai?
Mitigasi bencana di Sumatera, seperti di banyak tempat lain di negeri ini, seringkali berhenti di tataran wacana. Peta rawan bencana ada, tetapi tata ruang tidak mengindahkannya. Early warning system dipasang, tetapi masyarakat tidak pernah dilatih sungguh-sungguh untuk meresponsnya. Dana penanggulangan bencana tersedia, tetapi sebagian besar terserap setelah bencana terjadi, bukan sebelumnya.
Padahal, sebagaimana yang dipahami oleh siapa pun yang pernah tinggal berdampingan dengan alam yang bergejolak: mencegah selalu lebih murah daripada memulihkan. Hutan yang dijaga tidak perlu direboisasi. Gambut yang tidak dikeringkan tidak perlu dipadamkan. Lereng yang tidak digunduli tidak perlu ditanggul dengan beton.
Tetapi logika ini tampaknya tidak kompatibel dengan cara kita menghitung kemajuan. Kita menghitung berapa kilometer jalan yang dibangun, bukan berapa hektar hutan yang diselamatkan. Kita bangga dengan berapa ton sawit yang diekspor, bukan dengan berapa meter kubik air yang masih tersimpan di gambut. Kita merayakan pertumbuhan ekonomi tanpa pernah menghitung berapa banyak yang telah hilang dari alam untuk membeli angka-angka pertumbuhan itu.
30 Hari Menulis Buruk
Hari Ke-10


.jpg)
.jpg)

.jpg)
