Pengikut

Kamis, 18 Juni 2020

SEGELAS KOPI UNTUK KAMU




Seseorang disana berteman dengan kesunyian..
Ia tetap tersenyum pada dunia tatkala hatinya tak mampu untuk tersenyum..
Ia tetap tertawa bersama seorang yang lain tatkala hatinya merasakan rayapan sunyi itu..
Sunyi itu terasa enggan pergi, terus menemani..
Sesekali menghilang dan kemudian datang lagi..
Sesekali merasakan keramaian, tapi tak lama sunyi kembali..

Ia yakin, sungguh yakin pada Tuhannya Yang Esa..
Tapi sunyi itu seolah mendatangkan keraguannya..
Malam itu, tangisnya pecah..
Suaranya menghantam udara..
Ia terlihat lelah, ia terlihat rapuh atas pintanya yang tak Dia beri..
Atas Dia yang tetap membiarkan sunyi itu mengintai sekelilingnya..
Atas Dia yang seolah tak menghiraukan berontakan hatinya..

Ia berjalan bersama sunyi itu, dengan ayunan kaki yang perlahan dan sesekali dipercepat..
Sampai langkah kakinya terhenti pada sebuah persimpangan..
Terlihat seorang yang lain tersenyum manis kepadanya..
Ia hanya menoleh, dan meneruskan langkah kakinya..
Di persimpangan berikutnya,
Lagi.. ia bertemu dengan seseorang..
Satu tangan orang itu menggenggam jemari lentik, dan tangan yang satu lagi mengulur padanya..
Ia tertunduk dan melanjutkan langkah kakinya..
Hingga pada suatu persimpangan, langkahnya melambat..
Ia menemukan seseorang sedang tertegun disana..
Orang itu nampak merasakan hal yang sama, sunyi..
Mata mereka bertemu pada satu titik, terdiam dan kemudian sama-sama tersenyum..
ia diam untuk beberapa saat, dan kemudian langkah kecilnya mengayun kembali..
ia duduk pada bangku taman dengan pandangan kosongnya..
ia tak tahu kemana kakinya harus melangkah lagi..

segera ia tersentak ketika seseorang duduk di sebelahnya sambil menyodorkan kopi..
“ambil..!! ” kata orang itu.. “lihat kopi ini bersama asap-asap riangnya.. tidakkah kau ingin seperti kopi ini?”
Ia menggelengkan kepalanya dan berkata, “aku tidak mampu seperti kopi itu..”
“kamu seperti kopi ini, tapi setelah udara melenyapkan asap-asapnya.. sisakan dingin dan ampas didalamnya..”
“lalu harus bagaimana aku ini?” tanyanya pada orang asing itu
“minumlah, nikmati saja walau sudah tak sedap.. sama seperti kesunyian, nikmati saja hadirnya walau menjengkelkan..
jangan diaduk, biarkan ampasnya mengendap.. jika kau isi lagi  air pada gelas dengan ampas itu, maka kau akan mendapatkan air keruh yang menyerupai kopi.. jangan diminum, buanglah..!! sama seperti kesunyianmu, akan terus membayangi jika kau masih berdiri pada tempat yang sama.. melangkahlah meski ragu, tinggalkanlah meski sunyi seolah enggan melepasmu..
buat atau terimalah kopi yang baru, yang masih panas dengan asap yang menari-nari dipermukaannya.. sama sepertimu, buatlah warna baru.. jika tidak, sambutlah warna indah yang hendak mengeluarkanmu dari kesunyian..

teguklah kopi itu perlahan, nikmati sedikit demi sedikit selagi asapnya masih terlihat.. sama seperti warna itu, kau pelajari, cari tahu, pertimbangkan dan sambutlah ia dengan tangan terbuka selagi masih terlihat cerah..
tahukah kau akhir dari kopi ini? Ada dua pilihan.. kopi ini habis, atau menjadi dingin karena tak habis.. tergantung pada caramu, akankah mengisinya lagi dengan air panas dan membubuhkan lagi bubuk kopi? atau kau isi lagi dan lagi airnya tanpa membubuhkan lagi bubuk kopi hingga airnya keruh dan kemudian bening?
Seperti kamu yang menemukan warna yang pas untuk mewarnai harimu, peliharalah, pupuklah.. jangan terlena dengannya hingga kemudian yang tersisa hanya 2 pilihan.. ditinggalkan atau meninggalkan..” ujar orang asing itu, panjang lebar.
Ia hanya tersenyum, seraya mengambil segelas kopi dari tangan orang ia temui itu..

Bersambung

SANG PENAKLUK
~J:H~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar